
Setelah kepergian Citra dan Satria,Al masuk ke dalam rumah menghampiri sang istri yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur,ia mengganti pakaian sebelum menyusul istrinya.
" Mereka sudah pulang Bi?" tanya Alvi saat menyadari kehadiran sang suami.
" Sudah, aku kira kamu sudah tidur."
" Aku gak bisa tidur,mereka terlalu aktif." rengek Alvi sambil mengelus perutnya.
" Benarkah? apa itu membuatmu sakit?" tanya Al sambil menghampiri istrinya.
" tidak." jawab Alvi,iapun langsung menghambur memeluk tubuh sang suami yang sudah menjadi candu untuknya.
"Anak anak ayah belum pada mau bobo ya,,jangan nakal ya,Biarkan ibu istirahat dulu." Al mengusap dan menciumi perut buncit Alvi seraya mengajaknya berbicara.
Belaian tangan Al di perut Alvi bisa memberikan sedikit kenyamanan,sehingga ibu hamil itu bisa memejamkan mata.
Al beralih ke atas mencari posisi nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya juga,ia menatap lama wajah wanitanya yang terlelap dengan damai ,cinta yang telah Allah berikan semakin hari semakin tumbuh bersemi di dalam hatinya,perasaan takut kelihangan sempat menghantui dirinya.
Iapun memejamkan mata sebelum memikirkan apa yang tidak ingin ia pikirkan.
Jam 03.00 diri hari Al sudah bangun , membersihkan diri,lalu memakai pakaian dan sarungnya,tidak lupa ia mengenakan peci sebagai pelengkap penampilannya,melaksanakan shalat tahajjud di sepertiga malam ,bermunajat kepada sang pencipta,mencurahkan semua isi hatinya,lalu di lanjutkan dengan tadarus.
Perlahan Alvi pun membuka mata,mendengar suara yang sudah biasa ia dengar , bibirnya tersunggir sempurna merasakan gerakan yang semakin aktif di dalam perutnya. Seakan merespon apa yang mereka dengar.Lantunan ayat suci Al-Quran yang di bacakan Al memang mempu membuat siapa saja yang mendengarnya terbuai.
Perlahan Alvi bangun dari tidurnya lalu menyandar punggung di senderan tempat tidur,sambil memperhatikan suami yang memunggungi.
"Kenapa aku dulu bodoh sekali, bisa bisanya aku menolak pria sempurna sepertinya." lirihnya dalam hati,mengingat kejadian beberapa tahun lalu,ia tersenyum getir dan tanpa di sengaja air matapun menetes ,Alvi semakin terisak .Entah mengapa kehamilan nya membuat mood gadis kaku itu menjadi berubah ubah,terkadang galak, menggemaskan,menyebalkan, dan tak jarang menjadi lemah dan cengeng .
" Sayang kau kenapa?" mendengar isakan yang begitu pilu dari istrinya.
Ia menghampiri sang istri lalu mendekapmya.
" Apa yang terjadi." tanya nya panik sambil memegang perut sang istri.
Namun Alvi menggelengkan kepala,ia masih terus terisak sambil terus meracau.
" Kenapa kau bisa sesempurna ini,aku bahkan sering berfikir kalo aku tidak pantas untuk mu,dan aku bahkan pernah menyianyiakan mu,aku memang bodoh." racau nya.Ia bahkan tidak akan pernah melupakan perlakuannya terhadap sang suami ,kenangan pahit yang kini telah berbuah manis.
Al mengerutkan keningnya,ia tidak mengerti apa yang di bicarakan sang istri.Mengapa tiba tiba istrinya berkata dramatis seperti itu,apa dia salah makan pikirnya.
" Sayang apa yang kau bicarakan ,mengapa tiba tiba seperti ini."
" Wajah mu,tubuh mu, penampilan mu ,sifat mu,perlakuan mu,dan suara mu itu membuat ku semakin jatuh cinta , sekaligus membuatku menyesal karena pernah menolakmu." racau nya lagi tanpa menghentikan isaknya.
Al menahan tawa mendengar celotehan dari sang istri yang menggemaskan.
" Aku kira kau kenapa."
" Ya sudah sebentar lagi adzan subuh,kamu bangun ya,kita shalat berjamaah." ajaknya sambil mengibaskan selimut yang menutupi separuh tubuh istrinya itu.
Setelah azdan subuh mereka melaksanakan shalat berjamaah,setelah itu Al keluar rumah hendak mengajar para santri,dan Alvi membereskan rumah lalu menemui Bi Marni di dapur umum.
Seperti biasa Alvi membantu Bi Marni memasak untuk sarapan para santri.
Selama membantu memasak mulutnya tidak berhenti bertanya,ia seperti anak kecil yang selalu ingin banyak tahu,ia berteriak kencang saat minyak panas yang di gunakan untuk menggoreng ikan menyiprat sedikit tepat mengenai tangannya.
" Udah Neng ,biar bibi saja yang goreng,Neng Alvi bantuin bibi memotong sayur saja." titah Bi Marni.Namun Alvi menggelengkan kepala.
" Gak apa apa Bi,aku selesaikan dulu menggoreng ikannya." kukuh Alvi.
" Tapi minyaknya bisa melukai tangan Neng Alvi." Bi Marni merasa tidak enak.
" Gak apa apa Bi,sudah resiko." balas Alvi.
" Ya Bi."
Setelah selesai ia terlihat senang ,bertepuk tangan untuk dirinya sendiri karena telah berhasil menggoreng ikan dengan sangat baik tanpa gosong maupun hancur.Itu sudah termasuk pencapaian yang luar biasa yang patut di banggakan.
" Gimana Bi hasil masakan saya,bagus kan?" tanya nya bangga.
" Iya Neng bagus,udah mulai banyak kemajuan." bi Narni turut senang dengan itu.
" Tolong cicipi rasanya Bi."
" Mantap Neng,bumbunya pas." puji bi Marni.
Membuat ibu hamil itu melompat kegirangan.
" Besok masak apa lagi Bi?" tanya Alvi antusias.
" Hmmmm,,,biar nanti Bibi pifirkan dulu." jawab Bi Marni.
gadis itupun mengganguk,senyumnya terus tersungging ia tidak sabar untuk memberikannya pada sang suami,iapun bergegas membungkus ikan yang ia goreng sendiri lalu membawanya pulang.
" Gak sekalian bawa sayurnya juga neng?" tanya Bi Marni saat melihat Alvi hanya membawa beberapa ekor ikan goreng saja.
" Gak usah Bi,ini aja sudah cukup kayaknya. Makasih ya bi atas bantuannya,besok aku kesini lagi, assalamualaikum." Alvi pamit dengan terburu buru.
Sampai di rumah,ia mendapati suaminya telah rapi dan hendak pergi,Alvi memicingkan mata melihat penampilan sang suami yang memang selalu tampil sempurna .
" Mau kemana Bi?" tanya Alvi.
" Sayang maaf aku lupa memberitahumu,aku harus ke Bogor,melihat proyek pembangunan panti asuhan." jelas Al.
" Sama siapa?" tanyanya lagi.
" Sama Satria."
" Mana dia?" ia tidak berhenti bertanya,jiwa keponya meronta ronta.
" Dia masih di rumahnya,aku yang akan menjemputnya di sana."
" Tapi kamu belum makan sarapan kan? sebaiknya sarapan dulu,aku sudah buatkan ikan goreng buat mu." Alvi tersenyum saat memamerkan hasil masakannya.
Al pun menurutinya,namun ia mengerutkan kening saat melihat hanya ikan goreng saja yang tertata di meja makan.
" Memangnya Bi Marni gak masak yang lain,kenapa cuma ikan saja." protesnya.
" Maaf Bi, bi Marni memang masak banyak tapi aku hanya membawa ikan goreng saja,karena ini hasil masakan ku sendiri,aku ingin menunjukannya pada mu,kalo kamu gak suka ya sudah,aku akan kembali ke dapur umum untuk mengambil makanan yang lain." Alvi menundukan kepala,moodnya berubah,wajahnya di buat sesedih mungkin membuat Al merasa tidak enak.
" Maaf sayang bukan begitu maksud ku,ku fikir Bi Marni hanya memasak ikan goreng saja untuk anak anak,padahal kami sekeluarga sudah menyuruh bi Marni untuk memasak makanan yang layak mereka ." jelas Al.
" Gak kok Bi,Bi Marni masak banyak untuk para santri,aku sengaja hanya membawa ini saja untuk mu,agar ksmu bisa merasakan hasil masakan ku,aku tidak mau kamu memakan masakan orang lain." lirih Alvi yang masih menundukan kepalanya.
" Ya sudah kau tidak perlu bersedih,sini aku mau mencobanya." hibur Al.Seketika itu juga Alvi kembali tersenyum sambil menyerahkan sepiring nasi.
" Wajah itu,kenapa gampang sekali ia merubahnya." gumam Al dalam hati saat melihat wajah istrinya yang kembali cerah padalah beberapa detik yang lalu wajah itu terlihat muram.
" Enak sayang,aku suka,tapi kamu masih harus sering belajar,besok besok buatkan aku makanan yang lain lagi." titah Al sambil melahap makanannya hingga tuntas.
" Siap Bi." balas Alvi dengan semangat.
Setelah sarapan Al pun pamit untuk segera pergi,Alvi mencium tangan suaminya,Alvi melepas kepergian sang suami dengan berat hati,sepertinya masa masa ini yang paling sulit ia jalani ketika harus berpisah jauh dengan suaminya bahkan hanya untuk beberapa waktu saja.
" Jangan cemberut gitu,aku akan segera pulang." ucap Al sambil mengecup seluruh wajah sang istri sebelum ia masuk ke dalam mobil.