
Beberapa hari setelah kejadian itu, seseorang datang ke kediaman Al hendak memberikan surat, surat tersebut datang dari kepolisian,Al yang menerimanya sendiri langsung membukanya.
Sebuah surat panggilan, setelah membacanya Al meremas dan membuang surat tersebut berharap istrinya tidak mengetahui hal itu.
Alvi yang baru saja keluar dari kamar langsung menghampirinya.
" Ada Apa Bi,aku dengar tadi ada yang datang?" tanya nya.
" Tidak ada apa apa,cuma nganterin undangan,besok aku harus pergi,kamu baik baik di sini ya." Al mengusap kepala Alvi dengan lembut
" Pergi kemana? kenapa kamu bicara seperti itu seolah kamu akan pergi jauh." Alvi mengerutkan keningnya.
" Ada yang perlu aku selesaikan,tapi kamu tidak usah khawatir,aku akan menyeselesaikannya dengan cepat."
Alvi Mengangguk tidak ingin bertanya lebih lanjut,ia berfikir mungkin Al akan memberinya sebuah kejutan berupa pondok kayu yang pernah ia minta.
Tidak ada kegiatan apapun,Al dan Alvi menghabiskan waktu seharian di rumah,hanya menonton film atau sekedar berbincang membicarakan anak dalam kandungan yang masih belum di ketahui jenis kelaminnya,karena mereka sengaja untuk tidak mencari tau.Al merebahkan dirinya di atas sofa dengan paha Alvi sebagai bantalannya.Sementara Alvi memberi pijatan ringan di kening dan menyugar rambut suaminya itu,Al memejamkan mata menerima usapan halus dari Alvi.
" Jika anak kita perempuan, aku tidak akan membiarkan seorang pria menyentuhnya,hanya aku saja yang boleh." Al sudah mewanti wanti sejak dini.
Lalu bagaimana dengan Abi dan Bang Haikal tanya Alvi." tanya Alvi.
" Mereka boleh menyentuhnya setelah mendapat izin dariku."
Alvi langsung menggelengkan kepala tidak setuju.
" Kamu jangan perlakukan mereka seperti bapak memperlakukan aku,aku takut mereka membangkang sepertiku."
" Seorang ayah pasti menyayangi anaknya,bapak seperti itu karena menyayangi mu,mungkin hanya caranya saja yang salah,tapi aku pastikan anak anak ku tidak akan seperti mu.Walaupun aku tidak akan membiarkan mereka bebas semaunya,karena mereka seorang wanita,wanita adalah perhiasan bagi keluarga yang harus di jaga." balas Al masih kukuh dengan pendiriannya.
" Lalu kamu akan buat anak ku seperti siapa? mereka itu anak anak ku juga,jadi wajar saja jika mereka sepertiku." Alvi tidak terima,ia memijit hidung Al dengan gemas sampai Al mengaduh.
" Sayang mereka memang anak anak mu,tapi aku tidak akan biarkan kelakuannya sama seperti mu." jelas Al ,sambil mengusap hidung mancungnya.
Ia tidak mengerti dengan pemikiran Alvi yang seolah tidak ingin anaknya mengikuti sifatnya,tapi tidak terima jika anak anaknya tidak sepertinya.
" Lalu bagaimana kalo anak kita laki laki?" tanya Alvi lagi.
" Aku akan mengajari mereka layak nya laki laki,mereka harus bertanggung jawab,harus mampu menjadi pemimpin yang baik,harus bisa melindungi,tapi aku akan membebaskan mereka,aku akan selalu mendukung apa yang mereka inginkan,biarkan mereka berjalan sendiri sesuai keinginannya masing masing,tentunya di jalan yang benar." jawab Al dengan tegas,matanya berkaca kaca membayangkan anak anak kelak.
" Jika anak kita laki laki dan perempuan bagaimana,itu tidak adil untuk mereka,anak perempuan juga butuh kebebasan." Alvi masih tidak terima.
" Aku akan membebaskan mereka,tapi aku akan selalu mengawasinya,sedikit saja mereka tidak akan bisa lolos dari pandanganku ."
" Kamu gak adil,kenapa laki laki tidak pernah mengerti perasaan wanita." protes Alvi.
" Kanapa wanita juga tidak pernah mau menerima keputusan laki laki? padahal apa yang di lakukan laki laki hanya untuk kebaikannya juga." balas Al tak mau kalah.
" Iiiihh,,kamu nyebelin Bi." Alvi kesal ia menindih kepala Al yang masih berada di pangkuannya dengan bantal sofa.
Al terkekeh,di balik bantal yang menimpa wajahnya.
Perdebatan mereka terhenti setelah terdengar suara ketukan pintu , dengan segara Al beranjak hendak membukakan pintu.Setelah pintu terbuka nampak seorang wanita cantik tersenyum padanya.
" Viona?" Al memastikan indra penglihatannya.
" Hai Hikam,kamu masih ingat aku?" wanita cantik itu menerobos masuk begitu saja,dengan pakaian yang tidak layak untuk di kenakan di area pondok pesantren seperti itu.
Alvi segera menghampiri setelah mendengar nama yang di ucapkan suaminya tadi.
Wanita yang beberapa lalu dilihatnya di bandara ternyata benar.
" Ada perlu apa kamu kesini." Alvi nampak tidak suka.
" Hikam,aku kesini untuk belajar mengaji,apa kamu mau mengajariku." Fiona tidak memperdulikan Alvi yang kini sudah menunjukan kekesalannya.
" Aku yang bertanya, kenapa kamu malah menatap pada suamiku?"
Sepertinya ini urusan perempuan,Al memilih diam sampai istrinya itu berhenti bertanya.
" Dia suamiku,urusannya urusanku juga." suara Alvi sudah meninggi beberapa oktaf.
" Sudah ku bilang,aku ke sini mau belajar mengaji."
" Cih,,aku tidak yakin." Alvi menyunggingkan sudut bibirnya seraya memalingkan wajah.
" Kenapa? apa orang sepertiku tidak boleh belajar mengaji? Hikam kenapa kamu diam saja." Fiona berusaha meraih tangan Al hendak meminta pembelaan,namun Al langsung menepisnya.
" Maaf Aku harus bicarakan ini dulu pada istriku." Al lalu mengajak istrinya masuk ke kamar.
" Bi,aku tidak mau dia ada di sini." rengek Alvi.
" Tapi sayang,kita tidak bisa menolak maksud baiknya."
" Maksud baik apa? aku yakin dia datang kesini punya maksud tertentu,mana ada orang datang ke tempat seperti dengan pakaian seperti itu,kenapa penjaga gerbang di depan membiarkan dia masuk." Alvi sudah mulai tidak bisa menahan emosinya.
" Mungkin dia belum tau pelaturan di sini." sahut Al.
" Iya dia memang belum tau pelaturan di sini,tapi seharusnya dia sadar tempat apa yang dia kunjungi,tidak mungkin juga dia datang ke bar dengan memakai piyama.Dia itu lebih tua dariku,pendidikannya juga lebih tinggi dariku,apa dia sudah tidak punya otak." geram Alvi,suara mereka masih terdengar jelas dari luar.
" Sayang sudahlah,biarkan saja dia berada di sini,aku yakin dia tidak akan bisa tertahan lama di sini."
" Terserah kamu saja lah." Alvi pergi begitu saja meninggalkan Al begitu saja.
Fiona tersenyum senang karena berhasil membuat suami istri itu bertengkar karenanya.
Al dan Alvi kembali menemui Fiona yang masih setia menunggu mereka.
" Jika kamu benar benar ingin belajar di sini,ada beberapa pelaturan yang harus kamu patuhi." ujar Al yang langsung di angguki oleh Fiona.
" Di antaranya,ganti pakaian mu,di larang membawa ponsel,di larang keluar masuk pondok tanpa seizin ku,di larang membawa orang luar tanpa seizin ku,dan satu lagi jangan membawa peralatan kosmetik." tambah Al yang membuat Fiona tercengang.
" Tapi Al bagaimana bisa aku hidup tanpa ponsel dan makeup ku." protesnya.
" Mau ngaji apa demo kosmetik." desis Alvi,dengan wajah yang kembali kaku.
" Itu memang pelaturannya,jika kamu tidak sanggup tidak apa apa,kamu bisa pergi sekarang." Al masih berusaha bersikap baik.
" Ya sudah aku sanggup." Fiona terlihat pasrah.
" Kalo begitu silahkan ganti pakaian mu setelah itu aku akan meminta seseorang untuk mengantar mu ke asrama."
" Tapi kenapa dengan pakaianku,ku fikir tidak ada yang salah,dan aku tidak mau tinggal di asrama."
" Maaf nona sepertinya kamu salah alamat,ini pondok pesantren bukan klub malam,lagian jika tidak mau tinggal di asrama kamu mau tinggal dimana?" Alvi kembali meracau,emosinya sudah naik ke ubun ubun,ingin sekali ia mencakar dan menendang wanita di hadapannya itu.
" Tapi aku tidak mempunyai pakaian seperti dia." Lagi lagi Fiona berkata pada Al,dan menghiraukan ocehan Alvi,membuat ibu hamil itu meremas pakaiannya beberapa kali dengan sekuat tenaga menahan amarah yang membuat otaknya mendidih.
Alvi beranjak hendak mengambil sesuatu,setelah itu kembali dengan membawa beberapa helai pakaian miliknya.
" Pakai ini." Alvi melempar pakaian tersebut tepat mengenai wajah Fiona.
Fiona nampak tidak terima,namun ia begitu pandai membuat sandiwara sehingga wajahnya nampak biasa saja,Fiona masih tersenyum menerima pakaian dari Alvi.
" Terimakasih aku akan segera mengembalikannya."
" Tidak usah di kembalikan,aku tidak terbiasa memakai bekas orang lain." sergah Alvi.
" Pakai sekarang juga,setelah itu kamu bisa pergi ke asrama." titah Alvi,dengan wajah yang nampak tidak bersahabat,watak sombong dan angkuhnya memang tidak bisa di hilangkan.
Sedangkan Al masih terlihat santai,namun otaknya tidak berhenti bekerja menyadari ancaman telah di depan mata,ia harus lebih hati hati .