My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 29



Dalam surat annuur ayat 31 Allah bersabda: " Katakannlah *kepada wanita yang beriman. Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan jangan lah mereka menampakan perhiasanya kecuali yang (biasa) tampak dari padanya.


Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan jangan lah menampakan perhiasan nya kecuali pada suami mereka,atau ayah mereka, atau putra putra mereka, atau putra putra suami mereka, atau saudara laki laki mereka, atau putra saudara laki laki mereka ,atau putra saudara perempuan mereka, atau wanita wanita islam, atau budak budak yang mereka miliki,atau pelayan laki laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.


*


*


*


Sejak saat itu aku mulai membiasan diri,walaupun tidak bisa menjadi istri sholihah,setidaknya aku belajar menjadi istri yang baik.Namun ternyata untuk menjadi istri yang baik memang sangat sulit,bahkan untuk tidur satu ranjang pun aku masih enggan, apalagi melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri,sepertinya masih sangat memalukan bagi ku. Untungnya aku menikahi pria yang sangat baik dan pengertian dia tidak pernah penuntut ku sama sekali.


" Assalamu'alaikum." unta Arab ku baru pulang mengajar anak anak santri Seperti biasa di setiap paginya.


" Wa'alaikum salam." sambutku lalu menghampirinya dan mencium tangannya,dia pun membalas nya dengan mengecup kuning ku.Hal sederhana yang baru kita mulai, namun sudah mampu mengubah mood ku.


" Umi ngajak kita sarapan bareng,apa kamu mau?"


" Boleh,kebetulan aku belum tau rumah Umi."


" Menantu yang langka." ucapnya sambil terkekeh..


" Maksud kamu apa?" sahut ku yang sudah memasang wajah jutek .


" Hhheeee...Gak apa apa sayang,tunggu sebentar aku ganti baju dulu."


" Sayang...?" lirih ku,tanpa di sadari seulas menyuman tersungging dari bibir ku.


*


*


*


" Ayo duo Al ,,sini duduk." ajak Umi saat kami sudah berada di ruang makan tempat tinggal nya. Kami pun menurut dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Sudah ada Umi ,Abi ,Faiz ,Mbak Zahra juga suaminya di sana.


" Umi panggil kami apa?"


" Duo Al, nama panggilan kalian sama sama Al kan?"


" Panggilan yang keren Mi." sahut Faiz sambil mengacungkan jempolnya.


Aku pun terkekeh saat menyadarinya ternyata benar nama panggilan kami memang sama.


Ketidak pedulian ku terhadap apa yang aku benci memang membuatku buta dan tuli.


Kami pun mulai menyantap makanan kami masing masing tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


*


*


*


" Kita udah lama ya Mi gak ngumpul kaya gini." ucap Mbak Zahra.


" Iya, kalian samua terlalu sibuk.sampe mau ngumpul kaya gini aja susah,padahal rumah deketan."


" Maaf Mi, sekarang anggota keluarganya dah nambah,dan pastinya bakal tembah seru." sepertinya Mbak Zahra sedang berusaha mengibur Umi yang sedikit kesal.


" Iya,apalagi bentar lagi ada si kecil, waaaahh Umi udah gak sabar." ucapnya dengan tersenyum sambil mengusap perut buncit Mbak Zahra.


" Kalo Al gak sibuk sih Mi,tapi males aja kalo udah ngumpul kaya gini pasti Al yang di jadiin bahan bullyan." unta Arab ku menimpali obrolan mereka.


" Sekarang udah gak di bully dong bang,kan kambingnya udah dapet." sahut Faiz dan aku masih diam mencerna semua obrolan dari mereka.


" Tetep aja di bully kalo belum bisa bikin itu kambing bunting." sekarang Abi pun ikut menimpali.


" Kambing apa sih ,dari dulu tiap ngumpul kaya gini,yang di bahas pasti aja kambing." Bang Haikal yang tak lain adalah suami Mbak Zahra pun ikut mengeluarkan suaranya,yang terlihat bingung dengan obrolan mereka sama seperti ku.


Ku perhatikan ekpresi wajah mereka satu persatu,Faiz tertawa dengan kencangnya,Umi dan Abi hanya mengulum bibir berusaha menahan tawanya,sedangkan si unta Arab ku malah melirik ku sambil tersenyum. dan Mbak Zahra serta suaminya terlihat sama bengungnya dengan ku.


Obrolan sederhana pun harus di akhiri setelah mendengar Adzan dzuhur,kami pun membubar diri.


Aku sudah kembali ke rumah,sedangkan unta Arab ku ikut sholat berjama'ah setelah mengganti pakaiannya.


Tidak lama ia pun kembali dan langsung mengganti koko dan sarungnya dengan pakaian rumahan,lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.


" Aku gak apa apakan tidur di sini,rasanya sudah lama gak ngerasain tidur senyaman ini."


" Gak apa apa,itu kan kasur mu juga." ucap ku sambil duduk di tepi ranjang di sebelahnya.


" Kalo begitu kamu juga tidur di sini,kamu kan istri ku juga." ajaknya sambil menarik tangan ku dengan kuat,membuat aku terperanjak sampai menindih tubuhnya.Ia pun tersenyum dan mulai membuka jilbab ku.


" Kalau di kamar sebaiknya jilbabnya di buka aja ." ucapnya dengan hati hati dan aku pun tak berdaya untuk menolaknya.


Tangannya mulai membelai rambutku dan berhenti tepat di tengkuk ku,diapun kembali menarik tengkuk ku sampai mendekati wajahnya.Aku hanya mampu memejamkan mata berusaha menetralkan perasaan ku.sampai bibir ku menyentuh benda kenyal dan lembut,mata ku melebar sempurna ketika menyadari apa yang telah terjadi. Namun aku masih berusaha untuk diam dan menerima apa yang dia lakukan pada ku,aku tidak ingin membuatnya kecewa untuk yang ke sekian kalinya. bibir ku sudah di lahap habis olehnya,bahkan dia sempat mengigit sedikit bibirku mambuat ku meringis tanpa suara.dengan segera ia memasukan lidah dan memainkan lidahnya di dalam mulut ku.


Merasa tidak mendapat penolakan ia malah menjadi semakin liar,tangan satunya sudah berada di pinggangku dan dengan satu gerakan pun dia sudah membalikan posisi ku menjadi di bawahnya. Ia kembali mencium bibir ku dengan sangat lembut dan hati hati.


" Jangan sekarang." ucap ku dengan lantang saat ia ingin membuka pakaiannya.


" Kenapa?"


" Aku lagi dapet." lirih ku sambil memalingkan wajah ku.


Dia hanya terkekeh lalu mengecup kening ku.


" Pinggang ku gatal,tadi aku cuma pengen garuk doang." ucapnya tanpa rasa salah.


"Sial ,,gue kira mau buka baju." gumam ku dalam hati,akhirnya aku hanya bisa menenggelam kan wajah ku yang sudah memerah di balik selimut.