My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 59



Setelah beberapa hari Alvi keluar dari rumah sakit, Citra baru menyambanginya,setelah mendapat izin masuk dari penjaga pondok dengan langkah semangat gadis itu mulai melangkahkan kaki menuju teras rumah sahabatnya.


Senyum yang mengembang di wajahnya terus tersungging menambah kesan manis pada wajah gadis itu.


" Assalamualaikum." teriak Citra di depan pintu.


" Wa'alaikumsalam." jawab Alvi dari dalam rumahnya sambil membukakan pintu.


" Citra ? gue kira siapa." ucap Alvi sambil mempersilahkan sahabatnya masuk.


" Gimana kabar Lu sama ponakan gue?" tanya Citra tanpa basa basi.Sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu


" Kabar gue baik,ponakan Lu siapa?" tanya Alvi sambil mengerutkan keningnya.


" Siapa lagi kalo bukan si jabang bayi." seru Citra sambil mengusap perut rata sahabatnya.


" Jadi Lu dah tau,Inshaallah baik baik aja,gue belum sempet periksa lagi."


" Kenapa belum periksa?"


" Laki gue sibuk terus,tapi dia janji hari ini pulang dari undangan dakwahnya dia mau ngajakin gue periksa." jelas Alvi.


" Ya udah,mudah mudah ponakan gue baik baik aja."


Setelah lama berbincang,Alvi mengajak sahabatnya ke dapur umum, menemui Bi Marni hendak meminta sesuatu yang dia ingin kan.


Berjalan bersama menulusuri setiap bangunan mewah yang berjejer rapih, tak henti hentinya Citra berdecak kagum, untuk yang pertama kalinya ia memasuki pondok pesantren itu dan melihat lebih dalam seisi pondok tersebut.


" Waahhh,,kayaknya yang masuk ke pondok ini anak sultan semua ya Al, ini udah kayak hotel bukan pondok lagi." seru Citra sambil terus mengedarkan pandangannya. Sampai matanya menangkap sosok pria yang selalu ia mimpikan.


" Al,,! itu bangSat kan?" tanya Citra sambil menunjuk seseorang yang berada di tengah lapangan, melatih para santri beladiri.


" Iya, itu Bang Satria." jawab Alvi terlihat biasa saja.


" Ya ampun,kenapa makin sini, makin cakep aja sih itu orang,jadi makin emeeezzzzz ." lirih Citra sambil mengulurkan tangan ke arah orang tersebut,seraya meremas udara seakan meremas sesuatu yang menggemaskan.


Tanpa ia sadari Satria sudah melihat ke arahnya dan dengan repleks gadis itu menunjukan jari telunjuk dan jempol yang di satukan sehingga berbentuk love ke arahnya.


" Saranghaeyo." ucapnya dengan gaya genitnya. Sedangkan Satria yang melihatnya nampak biasa saja bahkan pura pura tidak melihatnya.Alvi yang memperhatikan mereka hanya bisa menggelengkan kepala apalagi saat melihat tingkah sahabatnya yang terlihat sangat memalukan.


" Udah, ayo jalan lagi ! " ajak Alvi sambil menarik tangan sahabatnya itu,dan kembali melangkah kan kaki menuju dapur umum.


Setelah sampai dapur umum ,Alvi mengedarkan pandanganya,mencari sosok yang ia perlukan saat ini.


" Assalamualaikum ." ucap Alvi dengan sedikit mengeraskan suaranya.


" Wa'alaikumsalam." jawab Bi Marni yang baru keluar dari pantry.


" Maaf Bi,kirain gak ada orang." ucap Alvi sambil menghampiri Bi Marni.


" Bibi tadi lagi ngambil sayuran,ada perlu apa neng?"


" Bisa bikinin Asinan buah gak Bi?"


" Bisa dong, tunggu ya,Neng Alvi duduk aja dulu." ucap Bi Marni yang dengan sigap langsung menyiapkan semua bahan untuk membuat sesuatu yang Alvi inginkan.


Alvi pun duduk bersebelahan dengan sahabatnya.


" Al ini tempat apa?" bisik Citra,matanya terus bekerja memperhatikan semua yang bisa ia lihat dengan matanya.


" Ini dapur umum,tempat anak anak santri makan." jawab Alvi.


" Ya ampun,udah mirip restoran bintang lima ya?" ucap Citra dengan antusias.


" Gue pernah liat di tv." sahut Citra tidak mau kalah,Alvi pun semakin terkekeh.


" Dasar P'A." ucap Alvi sambil beranjak meninggalkan sahabatnya, lalu menghampiri Bi Marni yang terlihat sibuk menyiapkan Asinan buah yang di inginkan menantu dari majikannya.


" Tumben sendirian aja Bi,Sarah mana?" tanya Alvi basa basi.


" Sarah udah lama gak di sini, semenjak Nak Satria ngajak dia pergi." jawab Bi Marni.


" Pergi kemana?" tanya Alvi penasaran.


" Bibi juga gak tau Neng."


Setelah mendengar pernyataan dari Bi Marni Alvi dan Citra saling pandang, seakan merasakan hal yang sama, Citra langsung membisikan sesuatu dan Alvi pun langsung menyutujuinya.Setelah mendapat persetujuan dari Alvi,Citra langsung pergi berniat menemui Bang Satria yang kebetulan pemuda itu sudah membubarkan para muridnya,duduk sendiri di bangku pinggir lapangan sambil mengusap keringat yang masih menetes di keningnya dengan sapu tangan.


" Cape ya Bang?" tanya Citra sambil menyerahkan sebotol air meneral.


" Gue udah punya." Dengan wajah dinginnya,Satria pun memperlihatkan minuman miliknya.


" Yang ini beda Bang, ada manis manis nya." Citra bersikeras agar Satria mau manarima minumannya,karena tidak ingin repot repot melayani gadis itu,dengan terpaksa Satria pun menerimanya.


" Gue masih sibuk,gue harus pergi." Satria pun beranjak.


" BangSat tunggu." cegah Citra, yang langsung mendapat tatapan tajam dari pemuda di hadapannya.


" Lu manggil gue apa?" tanya Satria dengan tatapan yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.


" Maaf,maksud ku Bang Satria." cicit Citra


" Ada yang mau aku tanyain,sebenarnya ada hubungan apa bangSat sama Sarah,dan BangSat bawa dia kemana?" tanya Citra ragu ragu.


" Bukan urusan Lu.dan ingat nama gue Satria." Satria pun berlalu bergitu saja tanpa memperdulikan gadis yang masih mematung dengan memajukan bibirnya kesal.


Citra pun kembali ke dapur umum dengan langkah gontai,namun sudah tidak Alvi di sana,Citra pun menghampiri Bi Marni hendak menanyakan keberadaan sahabatnya itu.


" Eh,,ini temennya Neng Alvi yang tadi kan, Neng Alvi nya udah pulang." jawab Bi Marni.


Citra pun mengangguk.


" Ya udah kalo gitu saya permisi dulu, terimakasih Assalamualaikum." pamit Citra.


" Wa'alaikumsalam." Bi Marni masih saja terus menatap Citra sampai gadis itu hilang tak terlihat lagi. setelah wanita paruh baya itu melihatnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.Entah apa yang di rasakan Bi Marni.


" Cit gimana Bang Satria kasih tau gak dia bawa Sarah kemana?" tanya Alvi setelah Citra menemuinya di rumahnya.


" Boro boro, dia gak pernah ada manis manisnya kalo ngomong sama gue." lirih Citra seraya duduk di sebelah sahabatnya dan langsung menyambar asinan yang sedang di nikmati Alvi.


" Udah gue duga,kayaknya bang Satria memang susah di deketin,udah lu mundur aja,kayak gak ada cowok yang lain aja."


" Hati gue udah mentok ke dia Al,susah buat berpaling lagi."


" Yah, gue sih cuma ngasih tau aja,sebelum lu sakit hati nantinya." ucap Alvi sambil mengambil kembali asinannya.


Setelah lama berbincang,membicarakan bang Satria yang sulit di taklukan layaknya singa jantan,tanpa mereka sadari Al sudah kembali,dan mendengar semua pembicaraan mereka,membuat perasaan Al ikut merasakan sakit mengingat adiknya yang sedang berjuang di sana demi cintanya.


*


*


*


mana nih guys dukungannya,jgn bosen bosen ya ,ikutin terus kelanjutan ceritanya.😊😊😊