My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 89



Selesai mengurus administrasi ibu kembali menghampiri Citra, di susul oleh Alvi juga Al,mereka masih menunggu di luar dengan harap harap cemas,sesekali melirik lampu yang masih menyala di atas pintu ruang oprasi.Suasana menjadi tegang,tidak ada yang berani bersuara,sibuk dengan pikiran masing masing.


" Bi, apa nanti juga aku akan seperti ini?" bisik Alvi dengan wajah yang sudah pucat.


Al mengusap punggung Alvi,ia tau apa yang di rasakan istrinya itu sekarang.


" Kamu tidak usah khawatir ,semua akan baik baik saja." ujar Al.


Setelah itu lampu yang sejak lama menyala akhirnya padam juga,bertanda bahwa proses operasi telah selesai,tidak lama seorang dokter laki laki keluar bernafas lega sambil membuka kaca matanya,walaupun ruangan full AC namun keringat masih terlihat deras di keningnya,ia mengabarkan bahwa semua berjalan dengan lancar,bayi dan ibunya selamat.Akhirnya semua bisa bernafas lega.


Mbak Siva telah di pindahkan ke ruang rawat,ia masih sedikit lemas pasca operasi Caesar.Namun melihat Bayi laki laki yang sedang di susuinya membuat ibu muda itu lupa akan rasa sakitnya.


Kelahiran anak pertama di kehidupannya membawa kebahagiaan bagi seluruh keluarga,Alvi dan Citra turut serta dalam hal itu,mereka saling berebut untuk mengendong bayi mungil yang baru lahir itu.


" Uuuhhh,,,gemesnya!!" seru Alvi saat berhasil mengendong bayi tersebut dari pangkuan Mbak Siva.


" Udah dong gantian gendongnya." Citra merebutnya.


" Lu kan nanti bisa ketemu tiap hari Cit." Alvi tidak terima ia menggerutu sambil mendudukkan tubuhnya di sofa berukuran panjang, karena belum puas mengendong keponakan yang baru terlahir ke dunia itu.


" Lu jangan lama lama gendongnya,bayi dalam perut Lu bisa kegencet." Balas Citra membuat Alvi memutar bola matanya.


" Awas saja nanti kalo bayi gue udah lahir,gue gak bakal biarin lu gendong mereka." ancam Alvi.


" Bayi Lu kan dua,emang Lu bisa gendong dua duanya,Lu pasti bakal butuh bantuan gue." Citra menjulurkan lidah seraya mengejek.


Semua orang yang berada di ruangan itu hanya memperhatikan berdebatan dua sahabat itu.


" Mbak bagaimana rasanya melahirkan?"


malas berdebat, Alvi beralih menghampiri mbak Siva dan duduk di tepi ranjang,


"Kalau Lu tadi lihat bagaimana Mbak Siva kesakitan,gue gak bisa bayangin sakitnya kayak gimana,gue pernah denger sakitnya sampai setengah mati." Citra menyahut ,tatapannya nanar membayangkan kembali saat saat menegangkan tadi.


" Rasanya memang sakit,tapi ketika sudah melihat anak kita selamat dengan sehat tanpa kekurangan apapun maka semua rasa sakit itu tidak ada apa apanya." ucap Mbak Siva.


" Aku jadi tidak sabar." Alvi mengusap perutnya dengan senyum yang mengembang.


" Melahirkan memang sudah kudrat wanita,pengorbanan seorang ibu bukan hanya saat melahirkan ,melaikan di saat mengandung ,menyusui bahkan mengurus dan membesarkannya,maka dari itu perjuangan seorang ibu tidak akan bisa tergantikan oleh apapun." ibu membuka suaranya.


" Tidak semua ibu seperti itu." balas Citra sambil menggelengkan kepala.Ia tersenyum getir berusaha menahan air matanya.


" Beruntung sekali anak yang terlahir dari ibu seperti itu,tidak seperti aku yang tinggalkan begitu saja sebelum aku bisa berbicara,sebelum aku bisa berjalan,seandainya ibu meninggalkan ku setalah aku bisa berbicara dan berjalan,mungkin aku akan melarangnya,memanggilnya dan mengejarnya." tambahnya lagi,ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.Menahan luapan emosi yang susah memuncak.


Ia memberikan bayi yang berada dalam gendongannya ke mbak Siva ,lalu ia keluar ke luar begitu saja tanpa permisi.


" Biarkan dia pergi,dia butuh sendiri,biarkan dia menangis,meluapkan semua emosinya,itu akan membuatnya lebih tenang nanti." ucap ibu lalu mengajak Alvi untuk duduk kembali.


" Citra memang tidak bisa menunjukan kesedihannya di depan semua orang,jadi biarkan dia sendiri dulu." bang Fatur ikut menimpali.


Kini ruangan itu pun hening,sesekali hanya terdengar rengekan dari si bayi laki laki yang baru di beri nama Fattah.


Satria yang sejak tadi hanya diam,ikut merasakan sakit juga,berkali kali ia mengepalkan tangan dan membenturkan kepalanya ke dinding,ia benar benar telah di permainan kan oleh perasaannya sendiri,ia belum yakin akan perasaanya,namun pria itu tidak bisa melihat Citra terluka dan bersedih , ia juga tidak bisa mengakui perasaannya.


*****


Citra meninggalkan rumah sakit,ia memilih untuk pergi ke toko,duo Al serta Satria pun ikut pamit.


Sampai di rumah Alvi lebih banyak diam,Al yang menyadari perubahan dari istrinya itu langsung mendekapnya.


" Sayang apa yang terjadi?" tanya nya.


" Bi,aku takut melahirkan,bukannya melahirkan itu taruhannya nyawa,jika melahirkan satu bayi sakitnya setengah mati,apa melahirkan dua bayi akan mati total?" ucap Alvi dengan wajah panik.


Al tersenyum seraya mengeratkan pelukannya


" Kamu tenang saja,Tidak akan terjadi apa apa,Aku akan selalu ada untuk mu,berfikir positif itu akan membuatmu lebih baik."


" Kalo aku meninggal,apa kamu akan menikah lagi?" Alvi mengangkat kepalanya ,ia menatap wajah sang suami.


Al menggelengkan kepala.


" Jangan bicara seperti itu." Al membalas tatapannya.


" Jawab saja." Alvi meinggikan suaranya.


" Tentu saja aku akan menikah lagi,aku tidak akan bisa mengurus dua bayi sendirian dan bayi kita membutuhkan ibu." goda Al,sontak membuat Alvi membulatkan mata ia memukul lengan sang suami berkali kali.


"Jahat banget kamu Bi,padahal aku sudah mengira kamu akan bilang kalo kamu tidak akan menikah dan mencari pengganti ku.kalo kamu sampai menikah lagi ,aku tidak akan membiarkan mu hidup tanang Bi,aku tidak mau anak anak ku di urus oleh ibu tiri." Alvi terus memukul suaminya ,Al terbahak mendengar racauan istrinya itu,ia lebih senang ketika mendapat Omelan dari Alvi dari pada harus melihat istrinya itu diam.


" Makannya jangan bicara seperti itu,kamu harus tetap hidup,kita akan hidup bersama selamaya menjaga dan mengurus anak anak kita sampai mereka besar.jika kamu pengorbanan hidupmu untuk melahirkan mereka ,maka aku juga akan mengorbankan hidupku untuk menjagamu dan menjaga mereka." Al menahan tangan Alvi,ia menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku, Tetaplah bersamaku." ucapnya lagi.


Alvi tersenyum sambil menganggukkan kepala.


" Aku tidak akan meninggalkan mu,aku mencintaimu."


" Aku juga sangat mencintaimu." Al memeluk kembali istrinya itu dengan sangat erat,seakan enggan untuk melepaskan.