
Setelah cukup puas mengeluarkan isi hatinya di hadapan sang maha kuasa ,Al kembali ke tempat di mana istrinya berada,sebelum itu ia menyempatkan waktu untuk melihat kondisi Satria,sebelum masuk ia mengintip dari balik dinding kaca,Satria dan Citra nampak semakin akrab ,terbukti dari cara mereka berbicara dan saling melempar ejekan.Walaupun Satria masih bersikap dingin namun sesekali ia pun terlihat menyunggingkan senyum kakunya saat mendengar apa yang di ucapkan Citra,entah apa yang mereka bicarakan.
Mereka berhenti berbincang kala mendengar suara ketukan pintu dan tidak lama Al muncul dari balik pintu tersebut.
" Maaf aku sudah menganggu kalian." ucap Al tanpa rasa bersalah.
Satria menggeleng seraya menyuruhnya masuk.
" Bagaimana keadaan kalian?" tanya Al sambil mendaratkan bokongnya di atas brankar yang di tempati Satria.
" Aku baik baik saja." sahut Citra.
" Syukurlah." balas Al.iapun kembali menatap Satria.
" Bagaimana keadaan anak anak?" tanya nya lagi.
"Mereka baik baik saja, Bang Haikal sudah mengurusnya." jawab Satria.
Al mengangguk,entah apa yang harus ia lakukan sekarang,rasanya ingin sekali ia memastikan keadaan anak anak asuhnya,namun di sisi lain ia tidak mungkin bisa meninggalkan istrinya begitu saja.
" Kamu tidak usah khawatir,aku akan menangani masalah ini,kamu hanya fokus pada kesembuhan istrimu saja." tambah Satria,menyadari apa yang sahabatnya itu rasakan saat ini.
" Maaf aku selalu merepotkan mu,dan aku selalu melibatkan mu dalam masalahku." Al menundukan kepala,ia benar benar merasa tak berguna,Satria seketika menepuk bahunya beberapa kali.
" Jangan begitu,aku samasekali tidak pernah keberatan,apa yang aku lakukan sekarang tidak sebanding dengan apa yang sudah keluargamu lakukan untukku." imbuhnya.
Citra hanya sebagai penyimak , keberadaannya sama sekali tidak di hiraukan,ia begitu terharu menyaksikan antara kedua sahabat itu.Memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukan Satria dalam caranya menenangkan Al yang lemah terlihat sangat manis.
" Aku tidak menyangka dia bisa selembut itu." gumamnya dalam hati.
" Bagaimana keadaan Alvi sekarang?" tanya Satria.
Al hanya menggelengkan kepala.
" Aku bahkan tidak tau harus bersikap seperti apa,apa aku harus bahagia atau bersedih,anak anak anaku sudah berhasil di selamatkan,tapi keadaan mereka masih sangat menghawatirkan,aku bahkan belum di izinkan untuk melihatnya,sementara istriku belum ada tanda tanda untuk membaik." jelasnya seraya kembali terisak.
" Sepertinya aku harus kembali,lebih baik kalian istirahat agar segera pulih." Al menyeka air matanya berusaha untuk tegar.
Satria dan Citra mengangguk.
Setelah Al keluar,Citra membalikan tubuhnya membelakangi Satria,melihat Al yang terisak membuat pertahanannya roboh seketika ,iapun kembali ikut terisak,ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib bayi itu jika harus kehilangan seorang ibu yang bahkan di saat mereka belum sempat melihatnya.
" Al, lu harus selamat!!." lirihnya.
Satria memperhatikan punggung Citra yang bergetar,ia tau gadis itu sedang menyembunyikan air matanya.
" Hei,kamu menangis?" tanya Satria seraya mengejek,namun tidak ada sahutan.
" Aku tidak menyangka gadis sepertimu bisa menangis juga." tambahnya,lagi lagi Citra tidak menghiraukannya.
"Aku tidak suka wanita cengeng, Aku fikir kamu gadis yang kuat dan tidak mudah menangis,aku bahkan sempat menyukai sifatmu itu." Satria terus mengoceh berusaha mencairkan suasana.
" Tapi ternyata Aku salah menilai mu,kamu sama saja dengan wanita wanita yang lainnya."
" Hentikan,kamu sudah terlalu banyak bicara,aku fikir kamu pria dingin yang hemat untuk mengeluarkan suara,tapi ternyata kamu bawel juga.Mulutmu sudah seperti mulut netizen." balas Citra seraya membalikan tubuhnya,iapun bangkit dari tidurnya, menatap Satria tidak suka.
" Kamu tidak bisa bandingkan mana orang yang banyak bicara ,dan mana orang yang terpaksa harus banyak bicara hanya untuk berusaha menghiburmu." Satria membalas tatapan Citra.
Citra menyunggingkan senyum sinisnya.
" Kamu menghiburku? aku gak butuh." Citra berdesis sambil menggelengkan kepala.
" Seharusnya kamu bisa belajar menghargai seseorang." balas Satria yang nampak kesal.
" Oh ya? baiklah ,aku sangat menghargai usaha mu dan terimakasih sudah menghiburku,aku sangat terhibur." Citra tertawa seolah di paksakan.
" Kamu mengejekku!!!" bentak Satria,sambil melempar bantal miliknya tepat mengenai wajah Citra.
Citrapun membalas melemparkan bantal tersebut ke sembarang arah.
" Ya,karena kamu sudah mengejekku juga,kenapa? untuk apa kamu menghiburku? apa aku tidak pantas untuk menangis? aku juga manusia,aku punya hati dan perasaan,aku bisa menangis,apa kamu tidak punya rasa iba melihat Sahabat mu yang nampak rapuh itu? bahkan seorang pria pun bisa meneteskan air mata." balas Citra dengan suara nyaring nya.
" Kamu memang manusia batu,tidak bisa mengekspresikan perasaan,atau jangan jangan kamu memang tidak punya perasaan." tambahnya lagi.
" Hatiku sakit melihat orang terdekatku terbaring tak berdaya seperti itu,berjuang antara hidup dan mati,bagaimana dengan nasib anak anak dan suaminya nanti,aku tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi,aku sudah banyak kehilangan orang orang yang aku sayang,aku tidak siap jika harus kehilanganya lagi,hanya dia yang aku punya sekarang." racaunya.
Satria pun terdiam,ia menatap gadis di hadapannya itu,tanpa ia sadari iapun ikut meneteskan air mata.
Satria beranjak,ia meraih cairan infus yang tergantung di tiang infusan,lalu membawanya mendekat ke arah Citra.
Tanpa permisi ia pun mendekap Citra yang masih terisak hingga tubuhnya bergetar,munutup mulut dan menekan dadanya agar suaranya tidak terlalu terdengar.
" Maafkan aku." lirihnya.
"Kita mempunyai nasib yang sama,seharusnya kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan,tidak sepantasnya kamu mengejekku seperti itu,sampai sampai menyamakan ku dengan wanita lain." lirihnya.
" Iya aku memang salah,aku tidak tau caranya menghibur seseorang,aku tidak akan mengejekmu seperti itu lagi,sekarang menangis lah,jika itu akan membuatmu lebih tenang." ujar Satria merasa bersalah.
" Kenapa kamu malah bersikap seperti ini sekarang?" Citra melepaskan diri dari dekapan pria itu,ia mengangkat wajahnya menatap wajah pria tampan di hadapannya.
" Kenapa ? apa ada yang salah?" tanya Satria heran.
" Kamu bersikap baik padaku,Apa kamu benar benar menyukaiku?" tanya Citra dengan tatapan penuh harap.
Satria tersenyum miring sambil menggelengkan kepala.
" Bukannya sudah aku bilang,aku hanya ingin menghiburmu, jadi tidak perlu di ambil hati."
" Tapi kamu sudah memeluk ku beberapa kali,kamu juga tidak menampakan wajah kakumu lagi."
" Apa itu bisa di artikan sebuah rasa suka,aku mendekapmu hanya untuk membuatmu tenang dan tidak menangis lagi,karena suaramu itu sangat menganggu telingaku." alasan Satria membuat gadis di hadapannya itu tercengang .
" Mulutmu memang benar benar seperti mulut netizen,lebih baik kamu diam dan menampakan wajah ratamu saja ,dari pada banyak bicara seperti itu,aku menyesal telah menyukaimu." Cicit Citra sambil mendorong tubuh kekar itu dan kembali membalikan tubuhnya lagi.
" Heii,,ambilkan bantalku dulu." Satia mendorong punggung Citra beberapa kali ,sambil menunjuk bantal yang terlempar ke sudut kamar itu.
" Ambil saja sendiri,aku gak perduli." sahut Citra dengan ketus.