My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 44



Tak terasa mereka bermain lalu berbincang dan bercerita kesana kemari hingga menjelang pagi.Kicauan burung dan Suara Ayam jago milik bapak pun sudah mulai terdengar.


" Yank,aku sampe gak tidur gara gara kamu." ucap Al sambil beranjak dari tempat tidurnya.


" Kok kamu nyalahin aku,bukanya kamu sendiri juga yang gangguin aku." seloroh Alvi tak mau kalah.


Al pun hanya terkekeh karena memang benar adanya,ia tidak membiarkan istrinya tertidur.


" Bi,mandi bareng yah." pinta Alvi yang ikut beranjak dan menyusul suaminya ke kamar mandi.


Mandi bersama yang sesekali di hiasi dengan melemparkan candaan dan godaan membuat ritual mandi bersama berubah menjadi main bersama.


" Bi,itu kamu pingsan lagi,apa perlu aku bantu nafas buatan lagi?" goda Alvi sambil terkekeh saat melihat Al membersihkan dirinya di bawah sower.


Al pun kembali masuk ke dalam bathtub dimana istrinya masih berendam.


" Dia lagi tidur yank,kecapean gara gara di ajak kerja rodi terus sama kamu,tapi kalo kamu masih kangen,bangunin aja." bisik Al yang langsung memeluk istrinya itu dari belakang,melingkarkan tangannya di perut Alvi dan meremas gundukan kembar paforitnya.


Lalu menciumi setiap jengkal ceruk leher dari gadis itu dan sedikit mengigitnya ,membuat gadis itu melenguh merasakan gairahnya kembali ,ia pun memejamkan mata dan mengigit bagian bawah bibirnya,menikmati sentuhan dan sapuan lembut dari bibir suaminya.Ia merasakan sesuatu yang sudah menonjol tegak menantang di belakang bokongnya.


gadis itu pun tersenyum dan membalikan badannya menghadap sang suami,memejamkan mata dan perlahan mendekatkan bibirnya ,Al menyambutnya dengan senang hati. Perlahan tapi pasti bibir mereka pun bertemu dengan sempurna. ******* dan kecupan tak luput darinya.


Alvi mengalungkan tangannya di leher Al,menarik tengkuh pria itu dan menyusupkan jemarinya pada rambut hitam milik sang suami,ciuman semakin memanas dan semakin menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Namun Al malah menghentikannya, ia lalu beranjak dan kembali membersihkan badan nya.


Alvi mengerutkan kening sambil terus menatap suaminya,ia terlihat kecewa atas apa yang di lakukan Al seakan merasa di tinggal pas lagi enak enaknya.


" Biii." lirih Alvi


" Iya sayang,ini sudah subuh,aku shalat di masjid ya,gak enak sama bapak." jawab Al tanpa dosa,ia pun menyudahi acara mandinya dan langsung melilitkan handuk pada bagian pinggangnya. " Nanti kita lanjutin kalo udah sampai di rumah." bisik Al pada Alvi,kemudian ia langsung melenggang ke luar sambil menahan tawa.


" iiiihhh,,,dasar unta arab nyebelin,awas Lu ya,gue gak mau bantu Lu buat kasih napas buatan lagi, biar mati aja sekalian!!" teriak Alvi sambil memukul busa yang menutupi seluruh tubuhnya,wajahnya kusut bak kertas kasbon.


*


*


*


Setelah shalat subuh Alvi keluar hendak menemui ibunya di dapur dengan wajah yang masih tertekuk.


" Neng kamu kenapa,muka kamu kayak pakean yang belum kena setrikaan." tanya ibu sambil terus memperhatikan wajah anak gadisnya.


" Gak apa apa Bu,bapak belum pulang?" Alvi tidak berani memberi tahu masalahnya ,dan mencoba mengalihkan penbicaraan.


" Belum,mungkin bentar lagi , siapin kopi dong buat suami kamu."


" Entar aja deh Bu,Alvi gak tau dia suka kopi apa enggak,lagian Alvi belum pernah liat dia minum kopi." ucap Alvi dengan jujur. Ibu hanya menggelengkan kepala.


Tidak lama setelah itu Al dan bapak pun pulang dengan tergesa gesa.


" Yank,kita ke rumah sakit sekarang, mbak Zahra mau melahirkan."


" Mbak Zahra mau lahiran? kenapa kamu yang panik." gumam Alvi kesal namun tetap menurut.


" Neng, gak sarapan dulu." ucap ibu saat mereka pamit


" Gak bu,nanti aja." tolak Alvi sambil mencomot pisang goreng untuk Bapak yang berada di tangan ibunya. Alvi pun langsung berlari menyusul sang suami yang sudah berada di dalam mobil.


" Kebiasaannya belum hilang." gerutu ibu .


*


*


*


Di sepanjang perjalanan Alvi sama sekali tidak mengeluarkan suaranya,ia masih kesal karena kejahilan Al,dan sampai sekarang Al pun belum meminta maaf,Al melirik sekilas pada istrinya yang masih memalingkan wajah ke arah luar jendela. Al pun mengusap paha namun Alvi langsung menepisnya.


" Sayang.." goda Al sambil kembali mengusap paha Alvi namun lagi lagi tangan nya di tepis.


" Diem ih,aku males ngomong sama kamu." ucap Alvi tanpa melihat ke arah suaminya.


" Yank jangan gitu dong,aku minta maaf tadi waktunya gak tepat,nanti kita lanjutin di rumah,puas puasin sampe kamu minta ampun." bujuk Al.


" Gak mau,aku maunya tadi." sahut Alvi masih dengan posisi yang sama.


" Yakin gak mau?" goda Al sambil melepas seatbelt saat berhenti di lampu merah,lalu meraih lengan istrinya agar lebih mendekat padanya.


" Hmmm.."


" Jangan gitu dong yank,,bisa bisa kita malah nyampe di hotel bukan ke rumah sakit." bisik Al saat ia berhasil membawa istrinya ke dalam dekapannya.


" Emang mau ngapain ke hotel?" tanya Alvi sambil mengangkat kepalanya menatap sang suami.


" Ngapain lagi kalo bukan lanjutin yang tadi."


" Jangan harap." ucap Alvi sambil melepaskan diri,ia pun kembali ke posisinya semula, jiwa sombong dan angkuhnya benar benar susah di taklukan,Al pun menggelengkan kepala,melanjutkan perjalanannya saat lampu hijau mulai menyala.


Saat sampai di rumah sakit,mereka langsung menuju ruangan yang sudah Umi kasih tau sebelumnya. di mana Mbak Zahra berada.


" Yank jangan gitu dong,kalo kamu di belakang,aku gak bakal tau kalo nanti kamu di tarik masuk ke kamar mayat." ucap Al sambil menunjuk sebuah ruangan.


" Aku gak takut,mending di tarik setan daripada di gandeng kamu." sungut Alvi dengan melipat tanganya di dada dan memalingkan wajahnya.


" Ya ampun,,ternyata gitu ya kalo gak di kasih jatah." goda Al sambil mengedipkan sebelah mata.


" Bukan gara gara gak di kasih,tapi kamu nyebelin ninggalin aku pas lagi enak enaknya." sahut Alvi dengan suara yang lebih tinggi,membuat orang yang berlalu lalang di sana meliriknya.


Al menggelengkan kepala sambil menahan tawa,lalu menarik tangan sang istri yang membuatnya merasa gemas.


" Itu belum seberapa sayang,nanti aku kasih yang lebih enak." bisik Al,lalu mengangkat tubuh istrinya tanpa permisi,membuat sang punya raga terperanjat.


" Bi ngapain sih, turunin gak?" teriak Alvi


" Ssssuuttt,,jangan teriak teriak nanti mereka bangun." ucap Al saat ia berjalan melewati ruang jenazah . " aku gak mau turunin kamu, kalo kamu malah jalan di belakang ku."


Akhirnya Al pun mengendong sang istri ala bridal style sampai ke kamar bersalin.


Di lihatnya dari jauh hanya ada Umi dan seorang wanita berada di luar,menunggu proses persalinan.


Al dan Alvi pun segera menghampirinya.


" Al,Alvi kenapa?" tanya Umi panik saat melihat Al yang baru menurunkan Alvi.


" Lagi pengen di manja." jawab Al sekenanya, dan langsung pendapat pukulan di lengan kanan kiri nya dari Alvi dan Umi bersamaan.


" Umi gimana keadaan Mbak Zahra." tanya Alvi yang memelih duduk di samping kiri Umi,sedangkan Al duduk di samping kanan. Dan gadis yang beberapa kali Alvi temui di dapur umum duduk sendiri di kursi tunggu yang bersebrangan dengan mereka.


" Umi belum tahu,mudah mudah gak terjadi apa apa." jawab Umi yang langsung melirik ruangan di mana Mbak Zahra di tangan ni.


" Faiz ,Bang Haikal sama Abi kemana?" tanya Al baru menyadari ke tidak hadiran anggota keluarganya.


" Bang Haikal di dalam nemenin Mbak Zahra,Faiz sma Abi jenguk Satria."


" Astagfirullah,,aku lupa Satria juga lagi di rawat di sini." gumam Al sambil mengusap jawahnya dengan kasar.


Selama menunggu Alvi hanya terdiam,dan sesekali melirik ke arah gadis di depannya, sejak awal mereka bertemu memang terlihat sangat tidak menyukainya itu mencuri curi pandang ke pada sang suami, Alvi pun kembali melirik sang suami yang masih sibuk dengan ponselnya.


Alvi menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan kasar,lalu memberanikan diri berbisik pada sang mertua untuk bertukar posisi. Umi pun menurutinya.


Kini Alvi berada di tengah tengah mertua dan suaminya.


Ia lalu melingkarkan tangannya di lengen Al, lalu menyandarkan kepala di bahu sang unta Arabnya.


Al pun terkejut dengan perlakuan yang tiba tiba dari sang istri sampai menjatuh kan ponselnya ke lantai.


" Kenapa Yank,udah kangen ya padahal cuma terhalang Umi doang." goda Al sambil mengusap kepala istrinya itu.


" Berisik ah,aku mencium bau aroma aroma pelakor di sini." ucap Alvi sambil menatap tajam pada gadis di depannya.gadis itu pun membalas tatapan nya tak kalah tajam,seolah terdapat aliran listrik yang terpancar dari mata mereka masing masing. siap untuk menyerang.


Al hanya terkekeh dengan ocehan sang istri,sementara Umi yang terlihat tegang pun di buat tersenyum sambil mengelengkan kepala,ia memang tahu yang sebenarnya tentang gadis itu.


Tak lama Haikal keluar dengan rambut dan wajah yang kusut , serta tangan yang terlihat memerah juga terdapat banyak luka cakar dan gigitan.bersamaan dengan Faiz dan Abi yang baru datang.


" Gimana bang?" tanya Umi yang langsung berhambur kepada bang Haikal dan di susul oleh yang lainnya.


" Alhamdulillah dua duanya selamat,bayi nya cowok." jawab bang Haikal dengan senyum yang mengembang.


" Alhamdulillah...." ucap semua yang berada di sana secara bersamaan. Mereka pun memberi ucapan selamat pada Bang Haikal.


" Umi boleh lihat sekarang?" tanya Umi dengan antusias.


" Nanti Mi kalo udah di pindahin ke ruang rawat." jawab Haikal yang sudah terkulai lemas,ia pun langsung terduduk di lantai sambil menjulurkan kakinya ke depan.


" Bang,abang ngapain aja di dalam,bantuin ngeden ?" tanya Faiz sambil memperhatikan penampilan Bang Haikal dari ujung kaki hingga ujung kepala yang terlihat sangat kusut.


" Gak ngapa ngapain,cuma bantu support aja." jawab Bang Haikal.


" Kok mbak Zahra yang lahiran,abang yang keliatan lelah." tanya Faiz yang selalu tidak puas dengan satu jawaban.


" Ternyata wanita yang sedang melahirkan memang tenaganya sangat kuat,Abang kira mereka akan lemah." ucap Haikal saat mengingat perjuangan istrinya melahirkan sambil menyiksanya dengan cakaran,gigitan serta jambakan,bahkan peci yang selalu melekat di kepalanya di lempar begitu saja.


" Emang kenapa." tanya Al yang ikut penasaran.


" Udah nanti juga kamu bakal tau,makanya cepetan bikin bunting kambing nya." ucap Abi sambil menepuk bahu Al,Alvi yang mendengarnya langsung membulatkan mata,Ayah macam apa yang menyuruh anaknya menghamili kambing pikirnya.


*


*


*


***Terima kasih dari thor buat kalian yang selalu setia dengan cerita yang gabut ini.


mohon bantuanya juga dengan cara like komen dan vote sebanyak banyaknya..🤗🤗🤗***