My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 87



Sampai di rumah Alvi terus merengek meminta di buatkan pondok kayu yang sama persis dengan milik Satria.Seperti anak kecil yang menginginkan mainan baru.


Alvi masih merajuk ,ia duduk di sofa ruang keluarga dengan melipat kedua tangannya di depan dada,Al berusaha membujuk dan menggoda Istrinya itu sambil terus menusuk nusuk pipinya yang mengembang.


" Sayang kau terlihat lucu."goda Al,yang lagi lagi menusuk pipi dengan satu jarinya,Alvi tidak terima ia menepis tangan itu dengan kasar.


* Jangan menggoda ku Bi,aku sedang marah." bentaknya,akhirnya Al menyerah ia lebih memilih masuk kamar meninggalkan istrinya itu sendirian.


" Bi,aku sedang marah kenapa kamu malah pergi,kamu tidak mau membujukku?" Alvi mendengus kesal sambil menghentakkan kaki melempar bantal sofa ke sembarang tempat.


" Dasar menyebalkan,kamu sudah tidak peduli sama aku ya,apa kamu sudah tidak mencintaiku." teriaknya saat mendapati suaminya terlihat cuek.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar,Al membersihkan tubuh lalu menunaikan shalat isya ,setelah itu ia kembali menemui istrinya yang telah berbaring dan memejamkan matanya di atas sofa.


Al berjongkok di depan wajah sang istri,tersenyum memandangi ukiran wajah cantik sempurna yang mampu meneduhkan hatinya.


"Aku sedang marah Jangan memandangiku seperti itu,aku tau aku cantik." seloroh Alvi sambil membulatkan matanya,sorot mata yang menyeramkan bak singa betina yang sedang mengincar mangsanya. sontak Al terperanjat dan tersungkur ke belakang.


" Sayang kau mengagetkanku.Aku kira kamu sudah tidur." Al mengusap dadanya yang kembang kempis.


" Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi Bi?apa kamu tidak ingin melihatku bahagia?apa permintaanku terlalu sulit untuk kamu turuti?" lirihnya, sorot mata yang tajam kini berubah menjadi sayu, wajahnya terlihat sedih membuat semua orang yang melihatnya akan merasa iba.


" Ada apa dengannya?wajahnya itu,,aaakkkhhh..." Al menjerit dalam hati ,ia hanya menggelengkan kepala.


Alvi memotar bola matanya jengah,ia membalikan tubuhnya,memunggungi sang suami, tidak ingin melihat wajah suaminya itu.Al menarik nafas berkali kali lalu menghembuskannya dengan kasar,ia harus tetap kuat menghadapi istri bar bar yang sedang mengandung buah hatinya itu.


yang terkadang sangat menguji mental dan kesabaran.


" Sayang beri aku waktu,aku ingin menyelesaikan pembangunan panti asuhan dulu,setelah itu baru akan aku usahakan." bisik Al setenang berbisik sambil mengusap kepala istrinya itu ,Seketika Alvi membalikan tubuhnya kembali,menatap sang suami dengan mata berbinar.


" Kamu seriuskan?" tanya Alvi ,Al langsung mengangguk.


" Insyaallah aku usahakan." ucapnya.


Alvi mengangkat tubuhnya kembali ke posisi duduk ,lalu meraih leher suaminya yang masih berlutut di hadapannya.Ia langsung mengalungkan tangannya di leher sang suami,menghujani kecupan bertubi tubi di wajahnya.


" Terimakasih ya Bi." kembali ke mode semula,seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya,padahal baru beberapa detik lalu ia enggan melihat suaminya,tapi kini ia malah menghujani seluruh wajah suaminya itu dengan kecupan sehingga tidak ada sedikitpun yang terlewatkan.Al tersenyum membalas kecupan dari sang istri,kecupan demi kecupan yang berujung dengan ciuman panas dan menggairahkan.


Alvi mendesah ,saat Al mengusai gunung kembarnya.Memejamkan mata merasakan sentuhan lembut dan hangat yang membuatnya kehilangan Akal sehat.


Sentuhan dari Al membuatnya semakin bergairah,lantas ibu hamil itu membukakan satu persatu kancing baju yang di kenakan suaminya lalu melemparkannya ke sambarang,terpampang sudah dada bidang yang berotok dengan perut sixpack membuatnya semakin ingin lebih dari itu.


"aaakkhh Bi.." desahnya,,wajahnya merah merasakan gairah yang sudah memuncak,namun dengan sengaja Al memperlambat permainannya,ia masih asyik bermain dengan gunung kembar paforitnya.


Alvi barusaha bangun,mengambil alih posisi,kini ia berada di atas menindih suaminya,membalas serangan dengan memberikan kecupan di ceruk leher dan memberi tanda merah di sana.Ia tertawa geli saat melihat hasil karyanya .


Al tersenyum,dengan senang hati ia menerima serangan pembalasan dari istrinya itu,dan tanpa malu Alvi membuka seluruh pakaiannya,namun Al terlihat ragu setelah melihat perut istrinya yang sudah semakin membesar.


" Sayang,,aku khawatir dengan keselamatan anak anak kita." cegahnya,saat Alvi sudah siap menerkamnya.


" Kita lakukan secara perlahan Bi." pinta Alvi,dengan sorot mata penuh gairah,Al mengangguk menyetujuinya.Merekapun melakukanya dengan hati hati,tanpa menyakiti bayi dalam kandungan nya.


******


Di tempat lain,Citra baru sampai di pekarangan rumahnya,ia memarkirkan motornya di tempat biasa, perasaan tidak enak menghantuinya,saat mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya sejak tadi,sebelum memasuki rumah ia kembali menoleh kebelakang.


Bernafas lega setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan,ia pun langsung masuk dan kembali mengunci pintunya.


Setelah sampai rumah,perasaan sepi kembali menghantui,rumah satu satunya peninggalan orangtua,saksi bisu atas segala hal yang di alaminya selama ini,gadis yang selalu menampakan senyum dan terlihat ceria itu memang pandai menyembunyikan kesedihannya,ia hanya bisa meluapkannya saat sendiri,butiran air dari matanya menetes begitu saja saat teringat kedua orang tuanya.


" Ayah...Citra kangen." lirihnya pada sang ayah sama sekali tidak pernah di kenalnya,karena sang ayah telah meninggalkannya sebelum dirinya terlahir.


" Bapak,,,Citra juga kangen." mengingat sosok orang tua yang selama ini telah menyayangi dan membesarkannya.


" Ibu....Di manapun ibu berada Citra do'akan semoga ibu baik baik saja,dan andai ibu sudah tidak ada,semoga ibu di tempatkan di tempat yang indah,Citra hanya berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu." Citra memegang sebuah foto yang sudah terlihat lusuh,satu satunya bukti bahwa ia pernah memiliki seorang ibu yang kini tidak di ketahui keberadaanya.


Tangisnya semakin terdengar pilu,Seorang pria yang diam diam setia berjaga di luar rumahnya ikut merasakan sakit,ingin sekali ia merengkuh dan menenangkan gadis itu,namun apalah daya,ia hanya bisa menjaganya dari jauh.


Tidak faham akan perasaanya sendiri membuatnya frustasi,di sisi lain ia menolak,namun hati kecilnya tidak sependapat, persetan dengan perasaan,kini yang ingin ia lakukan hanya melindungi dan memastikan gadis itu baik baik saja hingga suara adzan subuh terdengar dan Isak tangis dari dalam kamar menghilang ia baru bisa pergi.


*******


Terima kasih guys buat kalian yang selalu setia nunggu dan baca cerita dari Thor yang tidak seberapa ini,mohon dukungannya juga,jgn lupa kasih vote like dan komen,biar Thor tambah semangat.