My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
bab 111



" Lebih baik aku pergi dari sini daripada harus menikah denganmu." ujar Satria, sambil terus berusaha mencoba menghubungi satu persatu sahabatnya,berharap salahsatu dari mereka Sudi untuk membantu memberi tumpangan atau mencari sebuah tempat tinggal yang bisa ia huni setelah keluar dari tempat tinggalnya itu.


Namun usahanya nihil,tidak ada satu orangpun yang bisa ia andalkan.Semua menolak dengan alasan yang hampir sama.


" Maaf Satria,untuk saat ini aku tidak bisa membantumu,karena aku sedang berada di luar kota,sebaiknya tanyakan pada yang lain,siapa tau mereka bisa membantu." ucap dari salah satu sahabatnya di sebrang telpon.


Satria mulai frustasi,mencari sebuah tempat tinggal dengan waktu singkat memang sulit,apalagi di daerah perkampungan seperti ini,dan akhirnya Satria menghubungi Al,satu satunya Sahabat yang paling dekat dengannya saat ini.


" Assalamualaikum!!!" suara Al dari sambungan telpon.


" Wa"alaikumsalam,apa kamu sibuk?" tanya Satria.


" Ya,aku sedang membantu istriku memandikan si kembar." sahutnya.


" Ada yang ingin aku bicarakan." ucapnya lagi.


" Datang saja ke sini." balas Al,setelah itu ia menutup sambungan telponnya secara sepihak.


Al tersenyum devil,menampakan seringainya,ia tahu apa maksud dari Satria.


"Aku yakin apa yang aku lakukan sekarang adalah cara yang tepat untuk mempersatukan mereka,ya Allah maafkan aku,aku bukan bermaksud untuk memfitnahnya." batinnya.


" Bi!!" teriak Alvi membuatnya terhentak dalam lamunan.


" Kamu melamun." Alvi memicingkan matanya curiga.


" Gak kok sayang." sergahnya,kemudian ia melanjutkan aktifitasnya membantu Alvi memakaikan pakaian kepada dua anak kembarnya yang baru selesai di mandikan.


" Waaaahhh,,anak ayah sudah cantik." seru Al kepada Shafa sambil menciumi pipi mungilnya, berusaha menyembunyikan kegugupannya,ia melirik sang istri yang masih menatapnya dengan curiga.


" Aku buatkan susu ya." Al berusaha menghindar dari tatapan membunuh Alvi.


Ia keluar setelah memasukan Shafa ke dalam box bayi.


Satria meraih kunci motornya,ia lalu melenggang begitu saja tanpa memperdulikan Citra yang masih memperhatikan gerak geriknya.


" Bang,mau kemana?" teriak Citra sambil mengekor dari belakang,ia panik saat Pria itu mulai menyalakan motornya.


" Aku mau pergi." sahutnya ketus.


" Terus aku?" tunjuk Citra pada dirinya sendiri.


" Kamu boleh pergi sekarang."


" Bagaimana bisa aku pergi tanpa jilbab dengan pakaian seperti ini." lirihnya.


" Terserah,kamu mau pergi atau tetap di sini." ujarnya lagi,setelah itu ia pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan dari Citra.


Citra menghentakkan kakinya kesal,ia kembali ke dalam pondok tersebut ,lalu mendaratkan bokongnya lagi di sebuah kursi kayu,sambil memutar bola matanya,melihat setiap sudut rumah tersebut,ia baru menyadari jika tempat itu sedikit menyeramkan,di tambah lagi ia tinggal seorang diri di sana.


Semalaman tidak tertidur akhirnya membuat mata gadis itu terasa sepet,ia beranjak lalu masuk ke dalam kamar Satria dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran cukup besar.Ia tersenyum geli saat fikiran liarnya traveling kemana mana,memikirkan jika kasur tersebut akan menjadi salahsatu saksi bisu kemesraannya bersama pria yang ia cintai.


Hingga ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah album foto tersimpan di atas sebuah meja yang tak jauh dari tempat tidur nya,kemudian ia kembali terbangun,dengan rasa kepo yang sudah mulai meronta ronta ia memberanikan diri untuk membuka satu persatu jilid dalam album foto tersebut,yang akhirnya berhasil membuatnya ternganga hingga membulatkan matanya dengan sempurna. Gambar dirinya nampak memenuhi semua jilid dari album foto tersebut ,dari mulai foto saat ia masih di bangku sekolah hingga sekarang terpampang di dalam album foto yang berukuran cukup tebal.


" Apa yang dia lakukan ,kenapa dia mengambil fotoku secara diam diam seperti ini." gumamnya dalam hati.


Hingga suara teriakan keras terdengar dari balik punggungnya.


" Apa yang kamu lakukan?" bentak Satria sambil merebut album foto tersebut dengan kasar.


" Harusnya aku yang bertanya,maksudnya apa? kenapa kamu bisa diam diam mengambil fotoku." balas Citra tak mau kalah.


" Bukan urusanmu ,kamu tidak perlu tau." Satria memalingkan wajahnya.


" Kenapa? kamu mengambil gambarku tanpa izin,itu termasuk tindak pidana,aku bisa melaporkan mu ke polisi." ancam Citra,membuat Satria bergeming,lalu tidak lama iapun menyunggingkan senyum sinis.


" Laporkan saja,aku tidak takut." balasnya ,kemudian ia meletakan sebuah paper bag di atas tempat tidurnya.


" Pakai ini ,setelah itu ikut aku ke pondok." titahnya ,lalu ia langsung keluar dari kamar tersebut.


" Ternyata dia tau seleraku." gumamnya, kemudian iapun langsung memakainya.


Ia mematung di depan cermin,melihat pantulan dirinya sendiri yang nampak begitu manis dengan pakaian yang pas serta warna yang cocok melekat di tubuh rampingnya.


Tidak lama ia keluar dengan senyum yang terus mengembang dari bibirnya.


" Bajunya bagus,aku suka,ternyata kamu tau juga selera pakaian ku." ucap Citra.


" Tidak usah terlalu percaya diri,bukan aku yang memilihkannya." sahut Satria cuek.


" Lalu siapa?" tanya Citra penasaran.


" pemilik toko." jawab Satria.


Merekapun mulai meninggalkan rumah tersebut hendak pergi ke pondok pesantren untuk menemui Al.


Setengah jam berlalu,mereka sampai di pekarangan rumah Al.


Al yang sedang menjemur bayi kembarnya langsung menghampiri mereka.


" Waahh,,ada angin apa ini?kenapa kalian bisa datang kesini bersama sama,semua orang pasti akan mengira kalian sepasang kekasih." goda Al.


Membuat Citra tersenyum malu,lalu ia masuk ke dalam rumah menemui sahabatnya,sementara Satria nampak acuh.


" Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Al sambil mengajak Satria untuk duduk di kursi teras rumahnya.


" Ada masalah besar,aku tidak tau harus bagaimana."


" Masalah apa?biasanya kamu bisa mengatasi setiap masalah dengan mudah." tanya Al pura pura tidak tau.


" Niatku untuk menolong gadis itu malah membuat masalah besar,para warga mendatangi rumah ku ,dan memaksaku untuk menikahinya tanpa mau mendengar penjelasan ku." sahut Satria frustasi.


"Apa yang membuatmu merasa keberatan,menurutku itu hal mudah,kamu pria dewasa ,secara finansial kamu sudah mapan,sudah seharusnya kamu selepas masa lajangmu."


" Tapi aku tidak bisa menikahi gadis yang tidak aku cintai." Alasan Satria membuat Al terbahak.


" Aku sudah terlalu sering mendengar alasanmu itu,menunggu wanita yang kamu cintai sama hal dengan menunggu ular tumbuh berbulu." ledek Al.


" Sudahlah,jodoh ,rezeki dan maut sudah ada yang mengatur,mungkin ini memang sudah saatnya kamu menikah,aku yakin Citra gadis baik baik yang pantas untuk mu,soalnya cinta dia akan datang dengan sendirinya." Al berusaha membujuk sahabatnya dan sedikit mengomporinya.


" Baiklah,aku tidak punya pilihan lain."tutur pasrah Satria sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi.


" good job boy." saru Al dengan girang.


" Serahkan semuanya padaku,aku akan mengurus semuanya." Al nampak bersemangat,ia lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam kamar dengan setengah berlari.


" Bi,ada apa?" tanya Alvi .


" Bersiaplah sayang, kita akan menyelenggarakan pesta pernikahan Citra dan Satria." jawabnya dengan semangat, Alvi dan Citra berhasil di buat binggung olehnya.


Al kembali menemui Satria,ia langsung menghubungi semua orang yang bertanggung jawab untuk membantu menyiapkan semua kebutuhan pesta pernikahan.


" Siapkan semuanya sekarang juga,aku ingin semuanya selesai kurang dari 24 jam." titah Al pada seseorang di sebrang telpon.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Satria panik.


" Sudahlah kamu tenang saja,siapkan saja mentalmu dan hafalkan ijab kabul,aku ingin kamu mengingatnya sebelum malam nanti." titah Al dengan antusias.


" Apa apaan ini." lirih Satria.


" Bukannya kamu sudah menyetujui untuk menikah?"


" Secepat ini?" tanya Satria kaget.


" Labih cepat lebih baik." sahut Al,membuat Satria semakin frustasi,ia mengusap wajahnya dengan kasar.