
Setelah kejadian itu ,semua anggota keluarga memutuskan untuk membubarkan diri,Ibu pamit pulang tidak lupa mengajak Bi Marni juga.
Citrapun kembali ke pondok hendak berpamitan untuk pergi ke toko miliknya,seolah tidak terjadi apa apa padanya,walaupun perasaanya masih hancur,namun ia masih berusaha untuk menyembunyikannya.
" Cit, lu gak apa apakan?" tanya Alvi khawatir,Citra langsung menjawabnya dengan gelengan kepala seraya menampakan senyum indah.
"Gue gak apa apa, Lu gak usah khawatir gue baik baik aja." ujar Citra.
" Gue pamit ke toko ya." pamit Citra sambil memeluk Alvi lalu mencium Shafa dan Marwah.
" Ya udah,hati hati ya."
"Iya."
Setelah Citra pergi,Dua Al pun memasuki rumahnya.
Alvi membulatkan matanya saat masuk ke dalam kamarnya, ruangan tersebut nampak berbeda,tidak seperti yang ia lihat terakhir kali.
Kamar tersebut telah di sulap bak kamar Barbie yang feminim,dengan desain warna merah jambu bercorak putih polkadot bergambar hallo Kitty.
Serta banyak terdapat boneka,mainan dan lemari pakaian bayi, juga box bayi yang di letakan tak jauh dari tempat tidur yang kini beralas sprei berwarna pink juga.
Alvi mengucek matanya beberapa kali,lalu manatap tajam pada sang suami setelah memastikan Indra penglihatannya masih berfungsi dengan baik.
" Bi,apa-apaan ini? sejak kapan kita menjadi se cuite ini?" protes Alvi.
" Kenapa, kamu tidak suka?" tanya Al bingung
" Maaf Bi,warna itu tidak cocok untukku,aku merasa mual melihatnya."
" Tapi aku menyiapkan ini semua untuk Shafa dan Marwah."
" Lalu aku?" protes Alvi dengan kesal seraya menunjuk dirinya sendiri.
" Hmmm,,maaf sayang,untuk sementara waktu kita mengalah dulu ya!" bujuk Al seraya menunjukan deretan giginya.
Alvi tak habis fikir,ia benar benar kesal,lalu ia pergi keluar dari kamar tersebut dengan membanting pintu.
" Sayang!!!" teriak Al ,sambil mengejarnya.
Alvi duduk di sofa depan televisi sambil melipat kedua tangannya.
" Usia Shafa dan Marwah belum genap satu bulan,tapi posisiku sudah tersingkir." gumamnya.
" Maaf sayang,aku tidak bermaksud seperti itu,aku akan buatkan satu kamar yang lebih luas lagi untuk kita,tapi sementara kita tempati kamar yang itu dulu ya." bujuk Al seraya memeluk istrinya itu yang kini sedang merajuk.
" Tapi itu kamar kita,seharusnya kamu membuatkan kamar yang baru untuk mereka,bukan malah mengusirku." sungut Alvi,seperti istri tua yang tidak terima untuk di madu.
" Iya,tapi sekarang ada Shafa dan Marwah juga kan,mereka masih bayi,belum saatnya untuk pisah kamar,aku tidak bermaksud untuk mengusirmu." Al berusaha membela diri,namun bagaimanapun wanita tetap selalu benar.
" Kamu sudah merubah semuanya,secara tidak langsung kamu sudah mengusirku." Alvi mulai terisak,ia mengambil beberapa lembar tissue yang berada di dekatnya untuk mengelap air matanya.
" Sayang,maaf aku memang salah." Al kembali memeluk tubuh istrinya itu dan mengusap punggungnya dengan lembut.
" Aku akan mengembalikan semua itu ke bentuk semula." Al mencium kening Alvi lalu beranjak.
" Tidak perlu!" ucap Alvi ketus,membuat Al semakin serba salah.
Al hanya diam memperhatikan setiap gerak gerik istrinya itu,yang seolah dirinya merasa tersaingi oleh kedua anak perempuannya.
" Masih bayi saja kamu sudah seperti itu,apalagi kalau sudah besar,perhatianmu pasti akan tertuju pada mereka semua." Alvi terus menggerutu sambil mengeringkan rambut panjang hitamnya,dengan mulut yang di majukan beberapa senti.
Membuat Al merasa gemas,ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Kamu cemburu?" Al mendekati istrinya itu,lalu memeluknya dari belakang dengan pelan dan hati hati karena tidak ingin menyakiti perut yang masih menyisakan luka jahitan.
" Awas saja,aku akan membalasnya,kamu akan merasakan apa yang aku rasakan sekarang setelah nanti aku memiliki anak laki laki." ancamnya.Al pun tersenyum dan memberikan kecupan di leher sang istri.
" Memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk hamil lagi? luka mu masih belum sembuh dan anak anak kita belum bisa apa apa,tapi kamu sudah memikirkan anak lagi." ledek Al, membuat Alvi semakin kesal lalu mendorong tubuh kekar suaminya itu untuk menjauh.
Namun rasa kesalnya itu hilang seketika saat mendengar rengekan buah hatinya,ia dengan cepat menghampiri kedua bayinya yang terbaring di dalam box bayi,lalu dengan segera ia meraih tubuh kecil Shafa dan memberikannya Asi.
" Sayang,,kamu lapar ya?" tanya Alvi pada Shafa,seraya menirukan suara anak kecil,seberapa kesalnya seorang ibu tetap saja ia akan menjadi orang paling pertama yang perduli pada anaknya.Sementara Marwah masih terlelap dan hanya sesekali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Al kembali tersenyum sambil berjalan menghampirinya,mengusap lembut punggung Alvi lalu menumpuk beberapa bantal di belakanganya agar Alvi bisa menyenderkan punggungnya.
" Makasih Bi." ucapnya seraya menampilkan senyum cerahnya,seakan lupa dengan kejadian sebelumnya.
Al mengangguk lalu keluar dari kamar tersebut hendak pergi ke dapur untuk membuatkan sesuatu.
Dengan bahan seadanya yang tersedia di dalam lemari pendingin,pria itu membuatkan semangkuk sup untuk sang istri yang memang belum makan sesuatu sejak pagi.
Karena Kejadian di rumah Umi tadi membuat mereka hilang selera makan.
Tidak lama Al kembali ke kamar dengan sebuah nampan di tangannya,lalu meletakanya di atas nakas,setelah melihat Alvi memejamkan mata dengan posisi menyandar ke senderan tempat tidur.
" Sayang makan dulu yuk!" ajaknya ,lalu meraih Shafa yang kembali terlelap setelah mendapat asupan ASI dari sang Ibu,kemudian menidurkannya di samping Marwah.
Alvi mengerjap sambil menguap beberapa kali,lalu turun dari tempat tidur.
Semenjak memiliki bayi,perutnya memang cepat lapar,porsi makannya pun berubah dua kali lipat lebih banyak.
Air liurnya seakan menetes, kala melihat semangkuk sup yang masih mengepul membawa aroma sedap yang menusuk Indra penciumannya.
" Kamu yang masak Bi?" tanya Alvi,dengan sendok yang sudah di genggamnya.
Al pun menjawabnya dengan anggukan kepala.
Dengan antusias Alvipun menyendokan sup tersebut,namun sebelum berhasil menyuapkan supnya,ia sudah mendengar rengekan Marwah,niatnya terpaksa harus di urungkan,kemudian meletakan kembali sendoknya dan segera menghampiri bayi itu.
" Sini aku saja yang gendong Marwah,kamu terusin aja makannya." pinta Al sambil mengulurkan tangannya,namun Alvi dengan cepat menggelengkan kepala.
" Makannya nanti aja Bi,aku susuin Marwah dulu,kasian dia." ujar Alvi kembali duduk di atas tempat tidur untuk menyusui bayinya.
Al pun ikut duduk di tepi ranjang,dengan membawa sup tersebut,dan mulai menyuapi istrinya.
" Kamu harus banyak makan." ujar Al,seraya terus menyuapinya hingga supnya tandas,Alvipun menanggapinya dengan anggukan kepala setuju,ia memang merasa harus lebih banyak makan karena tanggung jawab kepada kedua anaknya,tidak peduli jika harus kehilangan tubuh rampingnya,yang terpenting sekarang adalah kedua anaknya,ia sama sekali tidak memikirkan kondisi badannya kelak,yang mungkin akan tumbuh lebih subur.
Namun ia masih takut jika suaminya tidak akan sependapat dengannya.
" Bagaimana kalo aku gemuk Bi?" tanya Alvi ragu ragu.
" Aku tidak perduli,dimata ku kamu adalah wanita paling cantik,bagaimanapun kondisimu aku akan tetap mencintaimu." Al tersenyum seraya mengusap sudut bibir Alvi.