My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 85



Setelah memastikan mobil yang di tumpangi Al dan Satria menghilang,kedua gadis itu langsung berlarian berlomba siapa yang paling cepat sampai di kebun sayur yang sejak tadi mencuri perhatian mereka.


Mereka langsung memetik sayur sesuka hatinya,di sana sudah ada beberapa petani yang sedang memanen sayur juga.


Perhatian mereka langsung tertuju pada dua gadis yang sedang asyik mencari dan memilih sayur yang sudah matang dan siap untuk di panen.Pakaian rapi dan bersih yang mereka kenakan kini sudah tidak berujud,kotor dan sangat lusuh .


Terdengar bisik bisik dari para petani yang kebanyakan para ibu ibu paruh baya.Aktifitas mereka terhenti sejenak,beristirahat sambil menyantap bekel yang mereka bawa dari rumah masing masing.


Wajah mereka penuh tanda tanya. " Siapa mereka?" tanya si A kepada temannya si B. sambil menunjuk kepada dua gadis yang sedang berlarian di tengah perkebunan itu dengan sangat riang.


" Tidak tau,tapi wajah mereka tidak asing, sepertinya aku pernah melihat mereka sebelumnya." jawab si B.


" Kalo tidak salah mereka berdua pemilik toko roti yang terkenal itu,anak ku sudah langganan di tokonya." petani yang lain menimpali.


" Oh iya aku ingat,bukannya ustadz Al menikah dengan pemilik toko tersebut, apa mungkin bisa jadi wanita hamil itu istrinya?" tebak si A .sambil menunjuk ke arah Alvi.


" Ia benar,mereka pemilik toko kue yang terkenal itu,aku pernah melihat gadis itu saat mengantar kue yang ku pesan tempo hari." sahut Si B. Sambil menunjuk ke arah Citra.


"Tapi sedang apa mereka?mengapa mereka malah kotor kotoran seperti itu."


" Aku tidak tau ,nanti kita tanya saja sama Bu Sukma ."


Semua petani yang ada di sana masih membicara dua gadis itu, menggelengkan kepala melihat dua gadis yang terlihat konyol.


Sementara dua gadis itu masih asyik dengan aktifitasnya,di hiasi canda tawa seperti biasanya,Alvi terlihat senang karena bisa menjahili sahabatnya itu,ia dengan sengaja menggali tanah yang lembab lalu mencari cacing tanah dengan sebatang kayu ,setelah menemukannya ia meletakannya tepat di bahu Citra,sontak gadis pemberani itu terkejut dan menjerit histeris.


Semua kegiatan mereka tidak luput dari pandangan seseorang yang di tugaskan untuk mengawasi mereka ,Bu Sukma dengan sengaja merekam kegiatan mereka secara diam diam lalu mengirimkan videonya kepada Satria.


Satria tersenyum sambil melihat gawainya, memperhatikan dua gadis yang seakan lupa dengan usiannya, Citra menjerit histeris badannya menggeliat geli menghindari Alvi yang masih memegang cacing .


Sudah puas menjahili Citra,ibu hamil itu mengajak Citra berkeliling di sekitar sana.


Mereka perpindah tempat,kini giliran kebun buah yang mereka datangi,Alvi dan Citra memetik buah jeruk yang nampak segar dengan warna oranye yang sempurna, ekpresi dari wajah Citra yang sedang memejamkan mata dengan kening mengkerut saat mencoba mencicipi buah dengan rasa manis bercampur asam itu terlihat lucu,lagi lagi membuat pria yang berada jauh di sana menyunggingkan bibirnya.Ingin sekali ia terbahak,namun ia masih menahannya karena tidak ingin di ketahui oleh sahabatnya.


Berbeda dengan Alvi,ibu hamil itu sepertinya Sama sekali tidak merasakan kecut dari buah itu,terbukti dari wajah yang ia tunjukan sangat biasa saja.


Melihat pohon jambu air yang lebat dengan warna merah meronanya membuat ibu hamil itu menelan ludah,air liurnya seakan menetes.


Melihat kondisi badan yang sekarang,sangat tidak memungkinkan untuk ia bisa meraih buah jambu dengan pohon yang menjulang tinggi itu.


Alvi merengek sambil menarik pakaian Citra.


" Cit ambilin buah itu!!" rengeknya.


" Tidak mau,Lu aja yang manjat,Lu kan ahlinya manjat memanjat." tolak Citra sambil sedikit mendorong punggung sahabatnya itu.


" Ya sudah gue yang naik ,tapi gue titip dulu perut gue ya." sewot Alvi kesal.


" Sini kalo bisa." balas Citra.


" Lu ada ada aja sih Cit ,ayo dong ambilin,please gue mohon." Alvi memelas,mengatupkan dedua telapak tangannya dada,kali ini ia benar benar seperti ibu hamil yang sedang menginginkan sesuatu,yang harus di penuhi.


" Ya sudah lah."


Tidak tega melihat sahabatnya memohon,Citrapun mengalah,dengan cepat gadis itu memanjat pohon jambu air itu tanpa kesulitan.


Dari bawah Alvi antusias menerima lemparan buah dari Citra yang berada di atas,kali ini Citra membalas perlakuan sahabatnya itu dengan sengaja melemparkannya ke atas kepala Alvi membuat ibu hamil itu mengaduh sambil mengusap kepala yang terkena lemparan buah jambu.


" Woii sakit tau,lu sengaja ya." teriak Alvi


Citra terkekeh ,sambil terus melempari jambu air ke kepala Alvi.


" Pembalasan memang lebih menyakitkan." serunya.


Tak mau kalah Alvi pun membalas melemparkan buah itu ke atas.


Dan terjadilah aksi saling melempar satu sama lain.


Setelah merasa cukup puas,Alvi menyuruh sahabatnya itu turun,hasil panennya sudah cukup banyak memenuhi kantong kresek yang mereka bawa sebelumnya,mereka kembali ke pondok Satria. Bi Sukma segera menghampiri mereka sambil membawakan minuman.


" Terimakasih Bu." ucap Alvi seraya tersenyum.


" Siapa dia?" bisiknya pada Citra, setelah memastikan Bu Sukma berlalu.


" Asisten rumah tangganya BangSat." jawab Citra.


" Aku akan membawakan ini semua untuk ibu dan Mbak Siva." ucap Citra sambil menunjukan hasil panennya,Alvi menggangguk menyetujui.


" Bikin rujak enak kali." Alvi kembali menelan ludahnya.


" Busuk bisa minta tolong buatkan sambel rujak." pinta Citra pada wanita baruhbaya yang sedang berada tak jauh dengan mereka.Iapun mengangguk tanpa protes.


" Gue gak salah denger kan,tadi Lu panggil ibu itu busuk?" bisik Alvi meyakinkan.


" Lu enak banget ngatain orang,kalo dia gak terima gimana." tegur Alvi.


" Tenang aja abis ini gue minta persetujuannya." balas Citra santai.


Bu Sukma kembali dengan membawa sambel rujak yang di inginkan dua gadis itu,Bu Sukma duduk di antara mereka sambil membantu memotong buah jambu air yang mereka petik.


" Bu,gak apa apa kan, kalo aku panggil ibu busuk,biar lebih keliatan akrab gitu." ucap Citra barengi dengan kekehannya.


" Jangan mau Bu,enak saja nama sebagus itu masa di panggil busuk." sahut Alvi menimpali.


" Gak apa apa kan Bu,biar lebih gampang aja manggilnya." Citra sedikit memaksa.


" Ya sudah gak apa apa, gimana enaknya aja." jawab Bu Sukma.menengahi perdebatan dua makhluk itu.


Citra menjulurkan lidahnya pada Alvi seraya meledek.


" Ni anak emang ngelunjak." gumam Alvi tak terima.


*****


Di tempat lain Satria terkekeh sambil menutup mulutnya, ia terus menatap gawainya membuat Al yang tengah berada di dekatnya penasaran.


Kedua pria itu sedang memeriksa proyek pembangunan panti asuhan di temani oleh seorang arsitek muda yang di ketahui bernama Rendy yang bertanggung jawab sepenuhnya atas proyek tersebut.


" Kira kira berapa lama lagi proyek ini selesai." tanya Al pada Rendy.


" Seperti yang Anda lihat,bangunan akan selesai beberapa lari lagi ,tapi aku ingin membuatkan sebuah taman bermain di sana." jawab Rendy sambil menunjuk ke arah tanah kosong di sebelah bangunan.


Al mengangguk,ia merasa beruntung masih banyak donatur yang membantu meringankan bebannya,memberikan separuh rizki untuk anak anak di panti asuhan milik Abi,yang kini di kelola olehnya.Termasuk Rendy ia salah satu donatur yang paling sering memberikan donasi yang bahkan sudah tak terhitung lagi jumlahnya,ia juga memberikan hasil desainnya secara sekarala.


" Ya sudah ,terimakasih atas bantuannya,aku percayakan semuanya padamu." Al tersenyum puas sambil menepuk bahu pria muda di depannya itu.


Rendy memang masih sangat muda ,namun di usiannya yang kini baru menginjak 23 tahun ia sudah menjadi arsitek terbaik,banyak pengusaha yang tertarik dengan rancangan dan desain sebuah bangunan yang ia hasilkan.


Lama berbincang ,akhirnya Al dan Satria pamit,Al sudah di hantui rasa penasaran sejak tadi,melihat sahabat yang selalu dingin dengan wajah datar tanpa ekpresi itu kini bisa menarik bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


"Tertawalah, sebelum tertawa itu di larang " sindir Al


"tidak usah di tahan begitu, aku mau tau apa yang membuatmu bahagia?" tanya Al setelah melihat temennya itu hanya menggulum bibir.


" Aku memang sudah bahagia dari dulu,aku beruntung memiliki sahabat ,dan orang tua yang selalu ada untuk ku,itu sudah cukup membuatku bahagia." Satria berusaha menyangkal.


" Bukan itu maksud ku,jika memang kau bahagia sejak dulu,kenapa aku baru menyadarinya sekarang? selama ini aku juga jarang melihatmu tersenyum tidak jelas seperti itu." cara Al bertanya kini seolah sedang mengintrogasi.


" Tidak ada yang bisa membuatku bahagia selain itu."


" Kau bohong,apa kau tidak mau membagikan kebahagiaanmu padaku." perkataan Al membuat benteng pertahanan dari Satria roboh,ia lalu menyerahkan ponselnya kepada Al,lalu memperlihatkan beberapa video yang di kirim Bu Sukma.


Al ikut tertawa,melihat dua gadis dalam video tersebut.


" Apa kau tertawa karena ini?" tanya Al.


" Iya." jawab Satria tegas.


Al menyunggingkan senyumnya seraya seolah. meledek.


"Hanya karena video ini kau bisa sebahagia itu."


" Aku tidak bahagia,hanya saja kelakuan konyol mereka terlihat sangat lucu,bukannya kau juga ikut tertawa."


" Ya ,aku tertawa karena aku bahagia melihat istriku yang sangat ku cintai bahagia seperti ini,apa kau juga merasakan hal yang sama dengan ku." Al memicingkan mata,menatap tajam pada sahabatnya,melihat dengan jelas gurat wajah kalangkabut seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.


" Ya aku bahagai melihat istrimu bahagia." jawab Satria gelagapan,tidak seperti biasa yang selalu terlihat lebih santai dalam situasi menegangkan sekalipun.


" Kau bahagia melihat istriku bahagia? apa kau mempunyai perasaan pada istriku." tebak Al.


" Bukan itu maksud ku,jika istrimu bahagia maka kau juga bahagia bukan,dan aku ikut serta dalam hal itu,kebahagiaanmu ada pada istrimu,dan kebahagiaan ku ada padamu." jelas Satria seperti orang bodoh.


" Hai kau sudah pandai berbohong padaku ya ,kau berbohong untuk menutupi kebohongan mu yang lain,aku tau kau tertawa bukan karena istriku tapi karena gadis ini." tebak Al sambil menunjukan wajah Citra yang sedang tertawa lebar.


Satria terlihat salah tingkah,ia berusaha menyangkalnya,namun Al sudah yakin dan itu tidak bisa di ganggu gugat lagi.


" Sudah lah kau akui saja perasaanmu,bukannya Citra juga menyukaimu,jangan pikirkan egomu,atau kau akan menyesal." ucap Al, kini pikirannya tertuju pada Faiz yang berada jauh di sana,sepertinya perjuangannya selama ini untuk mendapatkan Cinta dari Citra akan sia sia.


_


_


_


Terimakasih buat kalian yang masih setia dengan cerita duo Al, mohon dukungannya ya guys,,,love you All...😍😍😍