
Menjelang pagi,Citra memulai aktifitas barunya sebagai seorang istri,ia menyiapkan sarapan lalu membereskan pondok kecil itu sampai semua selesai.
Ia lalu membersihkan diri hendak pergi ke toko,saat gadis itu kini berada dalam kamar mandi, seperti biasa bu Sukma selalu datang setiap pagi untuk melakukan tugasnya.
Bu Sukma tersenyum seraya membungkukan sedikit tubuhnya saat melihat istri majikannya itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya mengenakan sehelai handuk di tubuhnya.
Citra nampak terkejut ,ia langsung menyilangkan tangan di depan dada saat mengetahui keberadaan Bu Sukma.
Gadis itu merutuki kelakuannya sendiri yang begitu ceroboh,tidak membawa pakaian ganti yang bisa ia kenakan sebelum keluar dari kamar mandi.Hingga ia harus memperlihatkan bagian dadanya.
" Bu Sukma,aku kira tidak ada orang." Citra terkekeh malu.
" Maaf Neng,ibu datangnya telat, karena ibu fikir Neng Citra Sama Nak Satria akan bangun siang." ujar Bu Sukma ragu,mengingat majikannya itu baru saja melangsungkan pernikahan dan mereka pasti perlu waktu untuk berdua.
" Tidak apa apa Bu,aku sudah masak,tolong hidangkan makanannya di atas meja." ucap Citra seraya menunjuk makanan yang masih berada di dalam panci.
Bu Sukma pun mengangguk ,ia lalu menyendok makanan tersebut dan memindahkannya ke dalam sebuah mangkok.
Citra masuk ke dalam kamar dengan mengendap endap,ia tidak ingin membangunkan seekor macam yang tengah tertidur.
Satria memang kembali tertidur setelah melaksanakan shalat subuh.
Perlahan ia membuka sebuah tas ransel berisi beberapa pakaian yang di siapkan Al sebagai hantaran pernikahannya kemarin.
Kamar itu memang sempit,tidak ada ruang ganti ataupun semacamnya,dan terpaksa ia harus memasangkan pakaiannya di sana juga,karena tidak mungkin ia harus kembali ke kamar mandi.
Gadis itu masih tidak menyadari pria yang sedang menatapnya hingga menelan ludah dengan susah payah,melihat lekukan tubuh putih mulus yang terekspose sempurna di depan matanya.
" Lancang sekali gadis ini,dia berani bersikap seperti ini di rumah ku sendiri." gumamnya,sambil berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.
Setelah selesai,Citra berdiri di depan cermin sambil memperhatikan kepala bagian samping yang masih terbalut kain perban yang sudah basah akibat siraman dari air saat ia mandi.
Ia melirik Satria yang masih terbaring di atas ranjang.
" Kamu sudah bangun?" tanya Citra
" Hhhmmmm.." jawab Satria sedikit gugup sambil memalingkan wajah,merasa salah tingkah karena kepergok telah memandangi gadis di hadapannya.
" Sejak kapan?" tanya Citra mulai panik.
" Belum lama." sahutnya lagi.
Citra bernafas lega,ia merangkak naik ke atas kasur dan duduk di sebelah Satria.
" Boleh aku minta tolong?" pinta.
" Apa?"
" Gantikan perban ku!" titahnya secara menyerahkan sebuah kotak P3K.
Satria meraihnya ia mulai membuka perban di kepalanya.
" Aauuu,,hati hati,ini sakit." Citra meringis.
" Tahan sedikit,rambut mu sangat menganggu."
"Aaakkkhh,,Usap pelan pelan,Jangan terlalu di teken." Citra terus merengek, ketika Satria mulai membersihkan bercak darah yang masih tersisa dengan cairan alkohol.
" Ini sudah pelan,jangan banyak bicara."
" Jilat lagi!!" pinta Citra sambil terkekeh manja.
" Rupanya kamu Ketagihan dengan jilatanku." goda Satria.
" Iiissshhh." Citra mendesis
" Bukannya kamu bilang jilatan bisa mempercepat penyembuhan luka?" ujarnya lagi.
" Hhhmmmm,,sakit." lirihnya lagi saat Satria mulai meneteskan obat tetes di lukanya.
" Masukan yang benar,jangan sampai berceceran kemana mana."
Rintihan yang keluar dari mulut Citra berhasil membuat kesalahpahaman lagi bagi Bu Sukma yang mendengarnya dari dapur,karena memang posisi kamar dan dapur,hanya terhalang dinding kayu saja.
Bu Sukma menggelengkan kepala seraya mengulum bibirnya.
" Sudah selesai." ucap Satria sambil sedikit mendorong tubuh Citra agar bisa menggeser posisinya saat ia ingin beranjak.
" Kasar sekali." sungut Citra,ia turun dari tempat tidur itu,lalu memasangkan jilbabnya,dan bersiap untuk hendak berangkat ke toko kue miliknya.
" Heehh!!"
" Hmmm.."
" Hei!! aku memanggil mu." bentak Satria kesal karena merasa di acuhkan.
" Nama ku bukan Hei !! sebut namaku dengan benar." sahut Citra tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah cermin.
" Benar benar tidak tau terimakasih." gumam Satria sambil melemparkan sebuah bantal tepat mengenai punggung istrinya,lalu ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.
" Terimakasih suami,sayang ku,cinta ku,beruang kutub ku." Racau Citra sedikit berteriak.
" Menggemaskan sekali anak anak ini." gumam Bu Sukma yang masih mendengar perdebatan antara pengantin baru itu.
Citra kini tengah duduk manis di meja makan menunggu sang suami yang masih berada di dalam kamar mandi,gemericik air yang turun dari shower terdengar jelas olehnya.
Sambil berbincang sedikit dengan Bu Sukma yang tengah mencuci perabotan masak bekas di pakai Citra untuk memasak tadi.
" Ibu senang,sekarang Nak Satria sudah punya pendamping,jadi dia tidak kesepian lagi."
" Ibu sempat khawatir dengan usianya yang sudah matang tapi belum mendapat jodoh juga,ternyata allah sudah merencanakan sesuatu yang indah,dengan memberikan seorang istri yang baik dan juga cantik." ujar Bu Sukma berhasil membuat pipi gadis itu merona.
Citra hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Bu Sukma ,hingga akhirnya Satria ke luar dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.
Ini memang bukan kali pertama Citra melihat pria itu bertelanjang dada,namun tetap saja itu berhasil membuatnya salah tingkah.
" Antarkan aku ke toko." ujar Citra sambil memalingkan wajahnya berusaha menghindari fikiran mesumnya.
Satria tidak menjawab,ia langsung berjalan menuju kamarnya lagi.
" Jika seperti ini terus,gue bisa khilaf,apa memperkosa suami sendiri bisa termasuk kriminal?" gumamnya dalam hati.
Tidak lama Satria kembali ke dapur dengan penampilan sederhananya,serta rambut yang di sisir ke belakang,dan wangi parfum yang menggoda,bahkan bisa membuat bidadari lupa diri,persis seperti dalam iklan produk parfum.
" Kenapa dia bisa setampan ini? walau tidak memakai kemeja,serta jas dan dasi seperti para CEO yang sempat aku baca di dalam novel,tapi aku yakin ketampanannya tidak akan kalah dengan mereka." gumam Citra seraya menatap suaminya itu dengan lekat.
" Apa dengan hanya memandangku akan membuat mu kenyang?" ujar Satria,sepertinya pria itu sudah pandai menggoda.
Sontak membuat Citra gelagapan,ia langsung menyendokan nasi serta lauk pauknua ke dalam piring.
" Siapa yang memasak?tanya Satria saat melihat hidangan di atas meja berbeda dari biasanya.
" Aku sahut." sahut Citra percaya diri.
" Habisi semuanya sendiri,aku tidak pernah sarapan sebanyak ini." titah Satria,lalu pria itu menyuruh Bu Sukma untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya, roti selai kacang dengan susu hangat.
" Yang benar saja,masa aku harus menghabiskan ini semua." lirih Citra sambil menatap beberapa lauk yang sengaja ia masak.
Kemudian ia terkekeh saat melihat Satria yang sedang meneguk susu hangat hingga menyisakan sedikit di area bibirnya,kemudian dengan repleks ia langsung mengelap sisaan susu tersebut dengan lengannya.
" Aku fikir kamu pria dewasa,tapi ternyata seperti bocah juga,bahkan minum susu saja masih berantakan,jika seperti itu lebih baik kamu meminumnya di dalam dot." cibir Citra seraya menyerahkan beberapa tissue padanya.
"Jangankan dot,Kalau mau aku bisa menyedot susu dari sumbernya langsung." sahut Satria ketus sambil menerima tissue tersebut dengan kasar.
...****************...
...****************...
Temen temen,,karena cerita Dua Al sudah selesai sampai mereka punya anak,mulai sekarang thor lebih fokus dengan cerita Satria dan Citra,,tetep kasih dukungan ya,,jgn lupa juga kasih like komen dan votenya..terimakasih,,love you all