My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 97



Sesampainya di pondok,Al memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah,lalu keluar dan berjalan dengan langkah gontai,tanpa melirik atau menyapa Alvi dan Citra yang sedang duduk di bangku teras rumah,sontak membuat dua gadis itu saling lirik,merasakan perubahan aneh pada diri Al yang tidak biasanya .Al terlihat acuh dan cuek bahkan pada istrinya.


" Kayaknya laki gue lagi ada masalah." ucap Alvi sambil bangkit dari duduknya hendak menemui suaminya.


Sementara Citra memilih untuk pamit karena tidak ingin mengganggu masalah frivasi sahabatnya.


" Capek ya Bi?" tanya Alvi basa basi sambil meletakan secangkir teh hangat di atas meja.


" Hmmm.." Al memijat pangkal hidungnya berkali kali,menghembuskan nafas dengan kasar sambil menyenderkan punggungnya di sofa.


" Aku pijitin ya." Alvi berjalan ke belakang tubuh Al hendak memijat pundak suaminya.


" Makasih sayang." ucap Al lemah,ia memejamkan mata menerima sentuhan sentuhan dari tangan wanita yang selalu membuatnya lebih merasa nyaman,ia mendongakan kepalanya menatap sang pujaan hati dengan tatapan takjub.


" Kenapa? jangan melihat aku seperti itu." Alvi mencubit hidung suaminya gemas, dengan wajah yang sudah bersemu merah.


" Kamu memang sangat cantik."


Al tersenyum,mengangkat tangannya hendak meraih tengkuk sang istri,Alvi mengerti ia langsung menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah sang unta Arab,sampai jarak di antara merekapun terkikis habis,Alvi mendaratkan kecupan hangat di bibir Al,terasa kenyal dan lembut membuat keduanya memejamkan mata,menikmati permainan lidah yang saling berbelit.


pautan terlepas setelah keduanya tersengal kehabisan nafas.


Mereka pun terkekeh bersama dengan wajah yang semakin merona.


Alvi berpindah tempat,kini ia duduk di sebelah Al meraih kaki suaminya itu dan meletakanya di atas paha,lalu mulai memijatnya.


" Tadi bang Satria kesini,katanya dia nungguin kamu di rumah Umi." jelas Alvi tanpa menghentikan aktivitas nya.


Al mengerutkan keningnya,lalu dengan segera ia meraih ponselnya hendak mengirim pesan kepada Satria.


Satria yang kini sedang berada di ruang laboratorium hendak memeriksa sampel rujak yang di bawa Fiona, meraih ponsel yang berdering,tidak menunggu lama iapun membalasnya dan menjelaskan apa yang terjadi saat ia menemui Alvi dan Citra dengan alasan untuk menemui Al.


Setelah selesai berkirim pesan Al pun meletakan ponselnya kembali.


" Ada apa Bi?" tanya Alvi penasaran.


" Tidak apa apa,kamu tadi makan rujak dari mana?" tanya Al.


" Gak tau,tadi Citra kesini,kita lihat ada rujak di atas meja,kebetulan aku memang lagi pengen rujak,jadi ya udah kita makan aja,rasanya enak banget loh Bi." jawab Alvi antusias.


" Terus kamu tau darimana?" Alvi memicingkan mata.


Al hanya menggeleng tanpa memberi jawaban.


" Lain kali jangan makan sembarangan,apalagi kita tidak tau makanan itu aman apa tidak." Al menurunkan kakinya,lalu meraih tubuh Alvi dan mendekapnya.


" Maaf Bi,aku khilaf aku tergoda dengan rujak itu." balas Alvi manja,membuat Al terkekeh.


" Kamu kan bisa minta siapa aja untuk membelikannya."


" Iya iya Bi,maaf." Alvi memeluk Al sambil memainkan kancing kemaja yang di kenakan suaminya itu.


" Ya sudah kamu tunggu di sini,aku harus menemui Satria dulu sebentar."


" Aku ikut." Alvi menarik tangan Al yang telah beranjak.


" Aku bosan di rumah terus,aku ingin menemui Umi." tambah Alvi saat melihat wajah Al yang seolah keberatan.


Setelah itu Al pun tersenyum lalu mengangguk.


Merekapun berjalan keluar rumah hendak pergi ke rumah Umi,menyusuri gang sempit dengan bangunan megah yang berdiri kokoh di sisi kanan kirinya,para santri terlihat ramai berlalu lalang.


" Maaf Ya aku belum bisa membawa mu jalan jalan." ucap Al sambil menggenggam tangan Alvi.


" Tidak apa apa Bi,lagi pula rasanya terlalu malas jalan jalan dengan perut besar seperti ini." balas Al.


" Kalo mau kamu boleh pergi ke toko,tapi jangan melakukan sesuatu yang akan membuatmu lelah."


" Tidak perlu Bi,aku di sini saja,lagian Citra juga selalu datang ke sini untuk menemaniku."


Tidak lama mereka pun sampai di rumah Umi.


" Assalamualaikum.." sapa dua Al.


" Wa'alaikumsalam." balas Umi dan Mbak Zahra yang kebetulan berada di rumah Umi sambil memomong baby Azzam.


" Umi,Satria dimana?" tanya Al langsung.


" Tadi sih Umi lihat lagi di ruang lab." jawab umi.


Saat mereka berbincang,tiba tiba seorang wanita menghampiri mereka tanpa tau malu.


" Hai Hikam,aku ingin memberimu sesuatu,aku sengaja membelinya untuk mu tadi." Fiona memberikan sebuah paper bag kepada berisi jam tangan tangan mewah dengan harga fantastis. Al Terpaksa menerimanya berharap wanita itu segera pergi.


" Aku harap kau senang dengan hadiahnya dan mau memakainya,aku yakin kamu akan terlihat lebih tampan." ujarnya lagi seraya meraih tangan Al,namun lagi lagi Al segera menepisnya.


" Sesama muslim,Biasakan untuk memberi salam terlebih dulu." tegur Umi nampak tidak suka.


Fiona hanya tersenyum sinis tanpa menghiraukannya,ia pun pergi begitu saja.


Umi menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis yang baru di kenalnya dari Mbak Zahra.


" Umi tidak menyangka kamu bisa mempunyai teman seperti dia." ucap Umi sambil melirik tajam pada putranya.


" Dia bukan temanku,aku hanya sekedar kenal saja karena dulu dia kekasih temanku." Al membela dirinya ketika melihat tatapan yang menyeramkan dari umi.


" Mbak rasa dia tidak bersungguh sungguh untuk belajar di sini,sebaiknya kamu segera melakukan sesuatu sebelum berdampak buruk bagi anak anak yang lain." timpal mbak Zahra.Yang beberapa kali memergoki tingkah Fiona yang tidak baik untuk di tiru.


Di antaranya memperlihatkan auratnya di depan banyak orang dan menggoda para santriwan yang bahkan usianya jauh lebih muda darinya.


" Lagipula alasan dia masuk ke sini tidak masuk akal,sangat memalukan sekali bertahun tahun tinggal di Kairo tapi tidak bisa membaca Alqur'an,umi rasa dia punya maksud tertentu."sahut Umi, Alvi mengangguk setuju.


" Kalian tenang saja,aku sudah memikirkan itu lebih dulu jadi kalian tidak usah khawatir." terang Al.


" Lalu kamu akan memakai barang pemberian dia?" Alvi terlihat sinis.


" Tentu tidak sayang,aku akan menjualnya nanti,dan hasilnya akan aku berikan pada Bi Marni untuk belanja dapur." Al mengusap kepala istrinya lembut untuk meluluhkan hatinya.


" Ya sudah kamu harus segera bertindak,sebelum apa yang tidak kita inginkan terjadi." Umi menepuk bahu Al.


" Siap umi." sahut Al,ia pun pamit untuk segera menemui Satria,setelah memberi kecupan di kening sang istri.


Al berjalan menuju ruang laboratorium yang masih berada di kawasan pondok.


" Aku rasa wanita itu menyukai suamiku." ucap Alvi pada Umi.


Setelah memastikan suaminya itu tidak akan mendengar pembicaraannya.


" Umi rasa juga begitu,tapi kamu tenang saja,Al tidak akan mudah tergoda karena dia sangat mencintaimu." Umi mengusap punggung menantunya dengan penuh kasih sayang.


" Jangan terlalu di fikirkan,itu akan berpengaruh pada kandunganmu,sebaiknya kita do'akan saja,semoga Allah selalu melindungi rumah tangga kita." tambah Mbak Zahra yang lebih lama menjalani mahligai rumah tangga.


apalagi ia selalu di tinggal jauh dengan waktu yang lama oleh Bang Haikal yang harus mengurus beberapa perusahan,membuatnya tidak mempunyai banyak waktu untuk keluarga,tetapi mereka masih bisa menjaga rumah tangganya agar tetap harmonis.


Umi mengangguk setuju sambil beralih mengusap punggung menantu tertuanya.


" Umi akan salalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian."


" Aku juga selalu mendo'akan semoga Umi dan Abi di beri umur panjang dan selalu diberi kesehatan." tambah Alvi.


Umi pun memeluk kedua menantunya itu bersamaan.


" Terimakasih,kalian memang anak anak Umi yang paling baik."


Kebersamaan antara mertua dan menantu itu memang patut menjadi contoh yang baik,Umi yang salalu menyayangi menantu layaknya seorang ibu kepada Anak.Membuat menantunya pun membalasnya dengan memperlakukan Umi sebagai orang tua sendiri.


" Terimakasih Umi,karena sudah menyayangiku seperti bang Haikal mengasihi ku,aku beruntung mempunyai mertua yang baik, sabar, dan tidak membeda bedakan,setiap detik adalah nilai tak terhingga,maka menjadi menantu dan pasangan dari anakmu adalah hal yang berharga." ucap Mbak Zahra yang membuat Umi dan Alvi yang mendengarnya menangis haru.