
Satria dan Citra baru saja tiba di pondoknya,gadis itu nampak berbeda dari biasanya,ia turun dari motor dan langsung berjalan hendak masuk ke ke pondok tanpa menghiraukan Satria yang memperhatikannya.
Pria yang terlihat cuek itu sebenarnya memiliki kepekaan yang kuat,sehingga dengan mudah ia merasakan sesuatu yang tidak beres.
Setelah mengunci motornya,Satria ikut langsung masuk ke dalam rumah,dan ternyata Citra sudah duduk di meja makan sambil meneguk segelas air putih.Gadis itu masih diam membuat Satria semakin penasaran.
" Kamu kenapa?" tanya Satria sambil ikut duduk di hadapannya,Citra hanya menggelengkan kepala tanpa mau menjawab.
Satria mulai frustasi ia menghembuskan nafasnya dengan kasar,entah kenapa ia paling tidak bisa melihat istrinya diam seperti itu.
Pria itu pun beranjak,sesuai kebiasaannya Satria lebih nyaman bertelanjang dada jika berada di dalam rumah.
Pria itu masuk ke kamar dan membuka pakaiannya,melihat lengannya yang terluka akibat goresan benda tajam yang di layangkan anak buah Randy tadi,Satria pun hanya membersihkan darah tanpa mau mengobatinya.
Setelah itu ia kembali ke dapur dan memanaskan air hendak menyeduh kopi,sesekali melirik gadis di belakang yang masih terdiam sambil menopang dagunya.
Sesekali pria itu mencuri perhatian sang istri dengan menunjukan lukanya,berharap sang istri khawatir dan mau mengobatinya,namun lagi lagi Citra nampak acuh dan tak peduli.
Setelah selesai Satria kembali duduk sambil meletakan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja makan,aroma kopi tersebut tercium kuat menusuk indar penciuman.
Pria itu mengambil gawainya,membuka aplikasi pintar hendak mencari tau tentang apa yang membuat seorang wanita merasa kesal,setelah lama mencari,mengeser ke atas dan ke bawah layar ponsel,pria itu masih tidak menemukan jawaban.
" Tak berguna!!" gumam Satria seraya meletakan kembali ponselnya.
Wanita memang misterius dan tidak bisa di tebak,pria kaku itu nampak frustasi,sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Kamu kenapa?" tanya Satria lagi,dan lagi lagi Citra hanya menggelengkan kepala.
Satria mulai kesal,ia keluar hendak menemui bu Sukma yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang,pria itu duduk di sebuah batu besar sambil menunggu bu Sukma menyelesaikan tugas nya.
" Ada apa Nak Satria?" tanya Bu Sukma.
" Aku benar benar bingung Bu?"
" Bingung kenapa?"
" Aku masih belum mengerti dengan perasaan ku sendiri,tapi hatiku sakit saat dia mengacuhkan ku." Satria terdengar lirih,pria itu menekan dadanya yang terasa sakit serta mata yang mulai berkaca kaca.
" Itu tandanya nak Satria sudah mulai menerima kehadirannya,nak Satria takut dia pergi meninggalkan nak Satria?" tanya Bu Sukma,yang langsung di angguki oleh Satria.
Bu Sukma tersenyum sambil mengusap punggung majikan yang sudah di anggapnya anak sendiri.
" Sudah waktunya Nak Satria mengungkapkan perasaan cinta pada dia."
" Aku belum yakin jika ini cinta Bu,aku tidak mungkin suka pada wanita seperti itu." tolak Satria.
" Ragu adalah penyakit yang datang dari setan,harus di lawan." ujar Ibu.
" Aku bahkan tidak tau caranya mengungkap perasaan pada Gadis." Satria terkekeh.
" Ungkapkan sesuai apa kata hatimu dengan caramu sendiri." Bu Sukma menepuk bahu Satria hendak memberi dukungan.
Mereka memang sudah sangat dekat,Satria tidak pernah canggung untuk bercerita apapun masalahnya,besar kecil Bu Sukma pun tau sifat dan karakter Satria.
Bu Sukma kembali ke dapur lewat pintu belakang,sambil menenteng ember kosong bekas cucian.
Wanita paruh baya itu tersenyum kala melihat Citra tertidur sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.
" Pindahkan dia ke kamar Nak!!" titah Bu Sukma saat Satria ikut masuk ke dapur.Pria itu pun mengangguk.
Dalam hitungan detik tubuh gadis itu sudah berada di dalam gendongan Satria.
" Apa benar aku mencintainya?" gumamnya dalam hati.
Perdebatan antara hati dan fikiran membuatnya sangat lelah,iapun ikut merebahkan dirinya di samping Sang istri,dan mulai memejamkan matanya.
Hawa sejuk dengan hembusan angin yang menyelinap di sela sela dinding bambu membuat gadis itu semakin nyaman,Citra masih lelap terpejam,hingga ia tak sadar tangannya sudah melingkar indah di perut sang Suami,aroma maskulin tercium kuat di hidungnya,gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum ia tersadar.
Citra langsung terbangun,ketika menyadari posisinya yang sedang memeluk erat sang suami dengan kaki yang menindih sesuatu yang menonjol dan keras.Gadis itu beranjak namun Satria dengan cepat menarik tangannya hingga Citra tersungkur dan menimpanya.
" Kamu benar benar tidak peduli padaku." lirih Satria dengan suara berat.
" Memang kenapa?" tanya Citra heran.
" Tanganku terluka." balas Satria dengan manja.
" Lalu aku harus bagaimana? apa perlu aku panggilan ambulan?" tanya Citra dengan wajah yang masih datar.
Satria memalingkan wajahnya sambil mendesis ia langsung terbangun dan meraih kotak P3K yang di simpannya di atas meja,lalu pria itu menyerahkan kotak obat tersebut ke hadapan Citra.
" Obati aku!!" titah Satria.
" Kenapa tidak bilang dari tadi." gumam Citra,lalu gadis itu segera mengobatinya.
" Jilat luka ku?" titah Satria.
" Apa?" Citra nampak membulatkan matanya.
" Jilatan bisa mengobati luka dengan cepat." sahut Satria tanpa rasa bersalah.
Dengan berat hati Citra pun menurutinya,Satria memejamkan mata merasakan hangat dari sentuhan benda takbertulang itu.
Setelah itu Citra meneteskan obat tetes luka dan berakhir dengan memasangkan perban.
" Sudah selesai." ujar Citra,gadis itu bergerak hendak pergi,namun Satria dengan cepat menahannya.
" Ada apa?" tanya Citra masih dengan memasang mode senyap.Dan dingin.
" Jangan tinggalkan aku sendiri." lirih Satria.
" Kenapa orang ini?" Citra merasa ada yang aneh,ia menggerakan sedikit bibirnya,berkomat kamit membaca ayat suci alqur'an yang ia bisa,berharap makhluk halus yang suka merubah wujud itu takut dan hilang dengan sendirinya.
Satria menyeringai ,sifat jahilnya seketika meronta ronta,ia menutup telinganya sambil meraung raung,mengacak acak tempat tidur dan menghancurkan semua bantal hingga kapasnya berhamburan.
Citra panik,ia berteriak memanggil Bu Sukma,tapi ternyata bu Sukma sudah pulang setelah menjemur pakaian tadi.
Gadis itu berlari menuju dapur hendak mencari sesuatu yang di percaya bisa mengusir makhluk halus.
Setelah mendapatkannya,ia kembali ke kamar dan langsung mengoleskan bawang putih yang sudah ia tumbuk ke wajah sang suami.
Namun usahanya sia sia,pria itu semakin berteriak karena aroma dari bawang putih yang menyengat.
Gadis menangis semakit ketakutan,dan akhirnya Satria tidak bisa menahan tawa lagi,ia tergelak sampai memegang perutnya.
" Kamu punya rasa takut juga." ujar Satria masih dengan kekehannya,Citra semakin di buat kesal olehnya,hidungnya kembang kempis menahan emosi.
" Kamu lebih menakutkan di banding hantu." balas Citra seraya melayangkan bantal yang tepat mengenai kepala suaminya.
Gadis itu langsung keluar sambil membanting pintu kamar,namun Satria belum juga bisa menghentikan tawanya.