
Alvi mengalihkan pembicaraan, ia langsung membahas tentang Faiz.
" Oh ya,Faiz titip salam buat Lu." Alvi berusaha mencairkan suasana yang sempat menegang.
" Ah Faiz,,dia hanya menitip salam saja,padahal aku sangat merindukannya,bagaimana kabarnya,dia sama sekali tidak pernah menghubungiku." lirih Citra ,tiba tiba Satria terbatuk tenggorokannya terasa tercekak,hatinya berdenyut merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya,saat mendengar keluh Citra, terlihat senyum sinis dari bibirnya.
" Dasar gadis bar bar,apa yang sebenarnya yang ada dalam fikirannya,ia berusaha mendekatiku,tapi masih saja berharap pada pria lain." gumamnya dalam hati.
"Kabar nya baik,Tadi aku juga melihat Fiona,wanita yang mengaku pernah dekat dengan mu Bi." ucap Alvi beralih ke suaminya.
" Dimana?" tanya Al cuek namun masih mau menanggapi omongan istrinya.
" Di pesawat."
" Mungkin cuma mirip."
" Aku yakin dia Fiona Bi,mana mungkin aku lupa,wajah wanita cantik yang sudah aku muntahi,, rasanya puas sekali memberi pelajaran pada wanita itu,sebenarnya itu bukan mau ku,tapi anak anak ku." Alvi terkekeh sambil mengusap perut buncitnya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
Al pun tersenyum sambil menggelengkan kepala,ia memilih diam lalu memejamkan mata.
" Lu serius muntahin orang." tanya Citra tak habis fikir.
" He'em." balas Alvi sambil menampakan senyum devilnya.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan,mereka pun tiba di pondok,Umi dan Mbak Zahra sudah menyambutnya dengan girang,tanpa di dampingi Abi dan Bang Haikal yang memang sedang sibuk dengan bisnis mereka.
" Akhirnya kalian datang juga,bagaimana kabar kalian?" tanya Umi sambil memeluk anak dan menantunya.
" Kami baik baik saja Umi,umi dan dan Mbak Zahra apa kabar?" balas Alvi bergantian memeluk kakak iparnya.
" Kami juga baik."jawab Zahra.
" Haii baby boy,kau semakin gemoy saja." sapa Citra sambil mencubit gemas pipi bayi yang berada dalam gendongan Mbak Zahra.
" Haii bibi,,iya dong Azzam kan anak sehat." balas Mbak Zahra sambil menirukan suara bayi.
" Bagaimana kabar Faiz di sana?" tanya Umi lagi.
" Dia juga baik." jawab Al.
" Syukurlah,ya sudah ayo kita masuk!! umi sudah memasak makanan yang banyak buat kalian,kalian berdua juga ikut makan ya." ajak umi pada pada Citra juga Satria.
Mereka mengangguk enggan untuk menolak.
Setelah berada di meja makan,mereka menyantap hidangan masing masing sambil mengobrol ringan kesana kemari.
" Oh ya,,Di toko kue kalian ada parian baru gak? Mbak kangen banget ,sudah lama tidak makan kue dari toko kalian.Bang Haikal sibuk jadi tidak pernah sempet membelikannya." tanya Mbak Zahra yang memang sudah menjadi langganan sejak dulu.
" Belum Mbak, lagi kekurangan karyawan apa lagi Alvi jarang masuk." keluh Citra dengan jujur.
" Kenapa tidak pesen sama Aku aja,aku kan tiap hari ke sini." ucapnya lagi.
" Oh iya,Mbak tidak kepikiran,ya sudah besok tolong bawain ya,yang biasa,kamu tau kan?" Mbak Zahra memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan membuka sedikit cadarnya.Wanita itu memang tidak pernah menampakan wajah pada siapapun kecuali pada suaminya.
" Siap Mbak." Citra mengangkat tangan seperti sedang memberi hormat.
" Satria kalau tidak sibuk,mungkin bisa bantu di toko." Umi memberi pendapat yang langsung di tanggapi dengan girang oleh Citra.Ia menganggukkan kepala cepat.
" Aku lagi sibuk mengurus pembangunan panti asuhan yang di Bogor Mi." alasan dari Satria membuat Citra kembali kesal.
" Oh iya,kau benar Umi lupa,bagaimana perkembangan pembangunannya?" tanya Umi lagi.
" Alhamdulillah lancar Mi,mungkin beberapa hari lagi selesai."
" Alhamdulillah,Umi do'akan semoga semuanya berjalan dengan lancar."
" Aamiin." ucap semua orang yang berada di sana secara bersamaan.
Selesai makan Al dan istrinya pamit, di ikuti oleh sabahatnya masing masing.
Alvi mengajak Citra untuk turut masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Al dan Satria memilih ngobrol di teras rumah.
Alvi dan Citra sibuk membuka semua oleh oleh yang ia bawa dari Kairo,ia sudah memisahkan mana yang akan ia berikan untuk para karyawan dan untuk keluarganya.
" Gue titip ini buat Ibu,Mbak Siva dan Bang Fatur ya." Alvi menyodorkan beberapa box yang lumayan cukup besar kepada Citra.
" Iya, Buat gue mana?" tanya Citra.
Citra pun antusias mengambil apa saja yang ia mau.
" Jangan lupa bawakan juga untuk anak anak." ucap Alvi.
" Siap, Lu tenang aja."
Setelah itu mereka kembali memberesakannya,memasukannya kembali ke dalam box.Citra lalu pamit untuk segera pulang karena hari sudah menjelang sore.
" Lu yakin bisa bawa box ini semua? kalo gak bisa biar besok aja gue yang bawa ke toko " Mata Alvi membulat sempurna setelah melihat tumpukan box di hadapannya.
" Gue yakin, Lu kayak gak kenal gue aja.Citra si wonder women." serunya bangga.Sambil menata dan mengikat rapi box box berisi oleh oleh untuk karyawan dan keluarganya,dengan menggunakan motor matic yang di pinjamkan Alvi.
Tidak di ragukan lagi Citra memang sudah biasa mengerjakannya,membawa barang dalam jumlah besar memang sudah rutinitasnya sehari hari.
Al dan Satria hanya memperhatikannya dari dekat.
" Ini sudah sore,sebaiknya tunggu besok saja,malam ini Lu tidur di sini." Alvi terlihat khawatir.
" Gak mau,bisa bisa entar gue malah denger ******* Lu." tolak Citra.
" Gue gak pernah mendesah,paling cuma oh yes ,oh no." balas Alvi kesal dengan sikap Citra yang memang sama sama keras kepala.
Al dan Satria mengulum bibirnya masing masing ,menahan tawa sambil terus memperhatikan perdebatan dua gadis di dekatnya.
" Mereka ternyata bisa bertengkar juga." Gumam Al pelan namun masih bisa terdengar oleh Satria.
" Bi,kok kamu malah diem,bukannya bantuin Citra." bentak Alvi pada suaminya sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Sayang Citra aja gak keberatan kok malah kamu yang marah." ucap Al santai.
" Menyebalkan sekali,ya udah lah Lu hati hati, barang barang itu semua mahal,jangan sampai jatuh dan rusak,kalo lu sendiri yang jatuh sih gue gak peduli." bentak Alvi pada Citra.Ia pun masuk meninggalkan Citra yang sudah siap untuk pergi.
" Hormon ibu hamil." lirih Citra ,ia pun langsung menyalakan motornya.
" Kamu beneran bisa bawa itu semua? kalo ada apa apa sama kamu ,aku gak tanggung jawab ya." kali ini Al yang meragukan kemampuan Citra.
" Bang Al tenang aja,bismillah pasti bisa kok,ya udah aku pamit ya, assalamualaikum."
" wa'alaikumsalam,,kalo ada apa apa cepet hubungi aku ya." Al merasa khawatir dengan sabahat istrinya itu.
Mau tak mau iapun menyuruh Satria untuk membantunya,namun Satria malah menolak.
" Daripada aku membantunya ,lebih baik aku pulang saja." ucap Satria ,ia pun pamit pada Al,lalu pergi menggunakan motor miliknya.
-
-
-
Dalam perjalanan menuju toko yang memang jaraknya lumayan cukup jauh,Citra membawa barang tersebut dengan hati hati,ia melajukan motornya dengan sangat pelan.
Mentari mulai menyusup,haripun menjadi gelap,menyusuri jalanan sepi dan terlihat mencekam pohon pohon besar di sisi kanan kirinya membuat bulu kuduk merinding.Hawa dingin pun menyusup menembus kulit.
Perasaan tidak enak menghampirinya setelah melihat cahaya dari lampu motor yang mengikutinya dari belakang.
Ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat Alvi bercerita bahwa dirinya pernah di begal di tempat yang itu.
Ia berusaha setenang mungkin, lalu membawa motornya ketepian ,memberikan jalan agar motor yang di belakang bisa mendahuluinya,namun pengendara motor yang di belakangnya malah ikut berhenti,Citra pun mulai panik ia tidak bisa melihat dan mengenali siapa pengendara motor tersebut.Karena cahaya dari lampu motor yang menyorot wajahnya membuat matanya silau.
" Habislah Aku."
Citra mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi,perasaan kacau membuat perjalanannya terasa semakin jauh . Dan akhirnya Citra pun sampai di toko di sambut oleh para karyawan yang sengaja menunggunya di sana sejak tadi.
" Huh...akhirnya sampai juga." Citra turun dari motor lalu membuka helmnya.Para karyawan membantu menurunkan box yang di bawanya.Lalu membukanya langsung dengan antusias
"Wahhh,,,bagus sekali ,Teh Citra kenapa,mukanya kayak tegang gitu?" tanya salah satu karyawan nya.
" Abis di kejar setan." jawab Citra asal.
" Setelah selesai jangan lupa kunci tokonya,aku pulang duluan." Ucap Citra setelah memastikan jalanan aman dan terlihat ramai.
Pengendara motor di belakangnya memang sengaja mengikutimya tanpa berniat jahat, sedikit bermain main dengan si wonder women sepertinya menyenangkan pikirnya.
Ia merasa puas setelah melihat wajah gadis yang ia buntuti terlihat panik.
Namun keberaniannya memang patut di acungi jempol.