
Setelah Alvi merasa tenang jenazah Bapak langsung di bawa ke mesjid untuk di shalatkan, kemudian setelah itu di bawa ke pemakaman tempat peristirahatan terakhirnya.
Pemakaman pun selesai,semua orang telah kembali,namun Alvi sepertinya belum bisa melepas kepergian Bapak begitu saja.
" Alvi masih gak percaya,bapak pergi secepat ini." ucap Alvi sambil terisak mengelus Nisan sang ayah masih di dampingi sang suami.
" Sayang udah yah,kita pulang,biarkan bapak istirahat dengan tenang." bujuk Al. Namun Alvi seolah tak mendengarkan,ia malah merebahkan tubuhnya di samping makan Bapak.
" Alvi mau tidur sama Bapak." Alvi memeluk gundukan tanah merah yang sudah di taburi bunga tersebut.Al yang sudah tidak bisa melihat sang istri terpuruk dalam kesedihannya seperti itu langsung mengangkat dan menggendongnya.
" Sayang hentikan,aku gak bisa lihat kamu seperti ini." Al pun membawa istrinya pulang.
Setelah sampai rumah, Al langsung membawa istrinya ke kamar untuk istirahat,sementara di luar Satria kalang kabut karena kehilangan motornya yang tadi terparkir di pekarangan rumah Alvi.
" Satria,Lu masih di sini, gue kira Lu udah pulang,makasih yah udah bantuin gue di sini." ucap Al setelah berhasil membuat istrinya istirahat dan tertidur.
" Gue udah mau pulang, tapi motor gue gak ada."
" Oh,,tadi di sini banyak orang ,jadi motor Lu gue pindahin ke depan rumah Citra.Rumah nya di belakang warna Cat nya biru." jelas Al tanpa dosa.
" Kenapa gak ngomong dari tadi." gumam Satria dengan kesal,ia pun segera pamit setelah memberi ucapan bela sungkawa kepada keluarga Alvi.
Saat ingin mengambil motornya yang terparkir di depan rumah Citra,ia mendengar Isak tangis yang begitu pilu di dalam salah satu rumah yang memang sangat padat penduduk. Satria menghampiri dan menguping satu persatu rumah yang berada di sana.Ia pun yakin suara tersebut berasal dari rumah Citra.
Tanpa menunggu lama pria tampan itu mendekati rumah itu dan segara mengetuk pintu.Tidak lama sang pemilik rumah pun membukakan pintu untuknya.
Seketika Citra mematung,melihat siapa yang telah mendatangi rumahnya,untuk pertama kalinya ia kedatangan tamu seorang pria.
" Bang Sat ada perlu apa ke sini?" tanya Citra dengan wajah terkejutnya
" Gak perlu apa apa,tadi gue cuma dengar orang nangis di sini,gue kira itu bukan Lu." sangkal Satria.
" Emang bukan aku." ucap Citra sambil memalingkan wajahnya.
" Benarkah ? tapi mata dan hidung Lu gak bisa bohong." Satria menunjuk mata dan hidung Citra yang sudah memerah,untuk sesaat tatapan mata mereka pun bertemu.
" Gue tau Lu gak punya siapa siapa.Karena gue lagi baik hati, hanya untuk sekarang gue izinin Lu nangis di bahu gue.Luapkan semua emosi dan kesedihan Lu." ucap Satria sambil menepuk bahunya sendiri ,ia pun langsung duduk di bangku rotan yang berada di teras rumah Citra.
" Kesempatan tidak akan datang dua kali,Apa Lu tau,kebanyakan orang gila itu berasal dari orang waras yang selalu memendam emosinya sendiri." canda Satria.
Dengan cepat Citra pun duduk di samping Satria dan melanjutkan tangisnya di bahu pria itu,tidak lupa ia pun meninggalkan cairan berlendir dari hidungnya di jaket yang di kenakan Satria.
" Sebenarnya aku tidak suka di kasihani,tapi ini karena Bang Sat yang memaksa." ujar Citra sambil terus terisak.
" Dari dulu Aku memang tidak punya siapa siapa,tapi aku gak merasa sekepian , orang tua Alvi sangat memperlakukan ku dengan baik,bahkan aku sudah menganggap mereka orang tua ku sendiri,aku memang terpukul atas kepergian Bapak yang mendadak,padahal bapak sudah berjanji dia akan mencarikan aku pria yang baik, dia juga bilang tidak akan meninggalkan kami sebelum melihat aku menikah dan bahagia." tangis Citra semakin terdengar sangat pilu,sambil terus meracau ia luapkan suluruh emosinya.
Satria hanya diam dengan jawab kakunya seperti biasa.
Setelah beberapa lama Citra pun merasa tenang, tangis nya mulai mereda. Ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi bersandar di bahu pria yang ia sukai.
" Makasih Bang,ku harap bahu mu bisa selalu ada di setiap aku membutuhkan nya.
" Jangan terlalu banyak berharap ." ujar Satria sambil beranjak.
" Kalo aku gak bisa dapetin Bang Sat,setidaknya aku bisa dapetin Bahu nya." seloroh Citra,
Satria berdecih sambil membuka jaket nya lalu melemparkannya tepat ke kepala Citra.
" Dasar gadis jorok, Gue ambil setelah jaket itu bersih, jangan sampai ada sedikit pun jejak Lu di situ." Satria pun berlalu, Citra pun sedikit bisa melupakan kesedihannya,ia senang atas perlakuan pria itu padanya saat itu. Walaupun tidak bisa mendapatkannya, Setidaknya ia bisa merasakan dekat dengan pria yang tak lain adalah cinta pertamanya.
"Jaket ini gak bakal gue cuci, biar wangi badannya gak ilang ." gumam Citra,ia pun merebahkan badannya sambil terus memeluk dan mencium jaket tersebut.
Kehilangan ayah dan ibu sejak kecil membuat gadis cantik itu menjadi sosok yang lebih tegar dan dewasa, ia pun tidak pernah berlama lama tenggelam dalam kesedihan,walaupun ia telah kehilangan seseorang yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri. Namun ia harus tetap melanjutkan hidupnya .
Tanpa terasa matanya terpejam dengan jaket yang masih dalam pelukannya.
*
*
*
Terima kasih buat kalian yang masih setia dengan ceritanya,mhon maaf kalo Thor gak bisa up tiap hari,mhon dukungannya dan jgn lupa kasih like komen dan votenya...😘😘😘