
Setelah meninggalkan sahabatnya,Alvi naik ke lantai dua hendak menemui sang suami,yang berada di dalam kamar tempatnya dulu sering menghabiskan waktu.
" Kok gak tidur Bi?" tanya Alvi setelah masuk ke kamar tersebut.
" Belum ngantuk Yank." jawab Al yang sedang merebahkan tubuhnya di atas karpet berbulu tebal.Sambil merentangkan tangannya menyambut sang istri.
Alvi pun langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping sang suami dengan lengan Al sabagai bantalannya.
" Nyaman juga tiduran di sini." ucap Al dengan mata yang masih menatap ke langit langit.
" Tentu saja,kamar ini memang tempat paling nyaman, walaupun cuma tidur dengan beralaskan karpet,tapi aku sanggup berdiam diri seharian di sini." Balas Alvi.
" Kamar ini saksi di mana aku pernah merasa membenci bapak." lirih Alvi dengan nafas yang sudah terasa berat.
" Kenapa?" Al melirik istrinya dengan mengerutkan kening.
" Karena bapak sering membahas tentang kamu dan pernikahan, aku tidak menyukainya,semenjak ada kamar ini,aku jadi malas pulang ke rumah, dan lebih betah tinggal di sini." ucap Alvi dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca menatap langit langit.Menerawang jauh mengingat masa lalu nya.
" Aku nyesel pernah berlaku kasar pada Bapak, seandainya aku tau lebih awal kamu memang terbaik buat aku,aku gak akan pernah nolak kamu." lirih Alvi sambil menatap sang suami.
Al pun tersenyum sambil mengusap pipi istrinya yang sudah di basahi air mata.
"Jika akhirnya akan seperti ini,di tolak ratusan kali pun aku ikhlas." ucap Al dengan tatapan bersungguh sungguh.
" Maaf Bi,aku juga pernah berkata kasar sama kamu." Alvi pun melingkar kan tangannya di pinggang sang suami.
" Gak apa apa sayang,aku ngerti."
" Kalau saja aku tau akan sebahagia ini,aku akan menerima kamu sedari dulu,dan minta kamu buat nikahin aku secepatnya." seloroh Alvi membuat Al terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
" Waktu itu kamu masih kecil, Mana mau aku menikahi gadis di bawah umur." goda Al yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
" Enak aja,walaupun masih kecil tapi kamu menyukai ku kan?" sahut Alvi dengan kesal.
" Iya sayang,gadis kecil ku yang jutek." ucap Al dengan gemas, mereka pun tertawa dalam pelukan ,menyalurkan perasaan cinta yang entah sejak kapan mulai memasuki hati gadis itu.
" Aku sayang kamu Bi." ucap Alvi di sela sela pelukannya.
" Aku juga sayang kamu." balas Al sambil mengecup seluruh wajah istrinya.
" Makasih ya Bi udah mau merima aku,aku pikir gak bakal ada cowok yang mau sama cewek kayak aku."
" Bukanya banyak cowok yang suka sama kamu ?" selidik Al
" Iya sih,tapi mereka gak gentleman.Gak berani bilang sama Bapak.Cuma kamu satu satunya cowok yang berani terus terang sama bapak."
" Jadi aku gentleman dong. " goda Al dengan bangga sambil menaik turun kan alisnya.
" Iya kamu memang paling gentleman,buktinya baru beberapa bulan udah bisa bikin anak orang bunting 2 sekaligus." seloroh Alvi ,Al semakin terbahak mendengar ocehan sang istri yang menurut nya sangat menggemaskan.
" Ayok Bi ,udah siang ,aku pengen cepet cepet ketemu bapak sama ibu,aku pengen peluk mereka,kalo boleh aku pengen tidur bareng sama mereka."
ucap setelah Alvi menyadari niatnya kemari untuk menemui orang tuanya.
Al pun mengangguk sambil beranjak,dan membantu istrinya bangun.
" Jaketnya pake Bi, aku gak mau mareka lihat roti sobek kamu." pesan Alvi ketika Al memang dengan sengaja membuka jaketnya karena kepanasan.
" Iya deh sayang." Al pun menurut dengan pasrah,sambil menerima jaket yang Alvi serahkan.
Setelah itu mereka pamit pada Citra dan semua penghuni toko,Al kembali membuka jaketnya saat berada di dalam mobil.Menyisakan kaos polos pas body yang membuatnya terlihat semakin seksi.
Saat dalam perjalanan tidak biasanya Alvi terlihat murung, dan tidak se antusias sebelumnya.
" Kamu kenapa Yank?" tanya Al yang sedari tadi memperhatikan nya.
" Aku gak tau Bi,perasaan ku jadi gak enak." jawab Alvi dengan wajah yang terlihat cemas.
" Apa mungkin akan terjadi sesuatu ya Bi?" tebak Alvi. yang langsung mendapat gelengan kepala dari Al.
" Sayang,,itu cuma perasaan kamu aja.Kamu tenang ya,jangan banyak fikiran,kasian Dedek bayinya." ujar Al berusaha menenangkan.
Alvi pun menarik nafas dalam dalam berusaha menenangkan perasaannya sendiri .
Setelah menempuh jarak yang tidak begitu jauh,kini kemacetan panjang menghambat perjalanan mereka. Al melambatkan laju kendaraanya.
" Tumben macet ,kenapa ya Bi?" tanya Alvi dengan cemas sambil menurunkan sedikit kaca mobilnya.
" Lagi ada perbaikan jalan kali Yank." jawab Al.
" Kayaknya jalanan sini masih mulus." ucap Alvi dengan kepala yang sudah menengok ke luar.
" Sayang jangan gitu bahaya." Peringatan dari Al , gadis itu pun langsung kembali ke posisinya semula.
" Bisa jadi." jawab Al sekenanya.
Jalanan semakin padat merayap ,belum ada yang tau penyebab dari kemacetan tersebut,setelah beberapa jam terjebak di sana akhirnya mereka bisa melihat kumpulan orang di depan sana yang membabkan kemacetan tersebut.
Dengan rasa penasaran Alvi membuka sedikit kaca jendela mobilnya,dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang berada di sana,dan alangkah terkejutnya,bagaikan tersambar petir di siang bolong saat mengetahui apa yang terjadi.
" Berhenti Bi !!! " teriak Alvi
" Iya sayang kita berhenti di depan." ucap Al dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
" Bi, itu Ibu cepet berhenti." teriak Alvi saat melihat ibunya menangis di tepi jurang di pegangi mbak Siva dan beberapa warga lainnya.
" Sayang hati hati." teriak Al saat Alvi membuka pintu mobil tersebut dan dengan cepat ia berlari menghampiri ibunya.
" Ibu..!!!" teriak Alvi sambil ikut berlutut di hadapan ibunya,ibunya pun langsung memeluknya dan kembali menangis sambil memanggil nama Bapak.
" Ba...Bapak masuk ---" ibu tidak berani melanjutkan ucapannya, ia hanya menunjuk pada jurang terjal dengan ketinggian puluhan meter di hadapannya.
" Bapak..!!!" teriak Alvi , secara refleks ia ingin meloncat namun Al dengan sigap langsung menarik dan mendekapnya.
" Sayang ,apa yang kamu lakukan?"
" Bapak Bi." lirih Alvi dengan deraian air mata yang tidak mampu Al lihat.
" Kamu tenang dulu,aku akan ke bawah bantuin mereka nyari Bapak." ujar Al sambil menunjuk beberapa warga dan polisi yang sudah sedari tadi mencari keberadaan Bapak di bawah sana.
" Jangan Bi." cegah Alvi dengan wajah cemas mengingatkan curamnya jurang tersebut.
" Gak apa apa, do'ain aja,tolong hubungi Satria dan suruh dia ke sini." Al pun menyerah kan ponselnya, dan langsung turun dengan bantuan Alat seadanya yang warga gunakan.
Tak henti henti Alvi menangis di temani ibu yang kini berusaha tegar demi menenangkan sang buah hati yang terlihat sangat begitu hancur.
" Kenapa bisa begini Bu."
" Bapak ter ...tertabrak mobil dari belakang, sampai terpental dan masuk ke jurang." jawab ibu terbata bata.
Tidak lama Satria tiba dengan mengendarai motor gedenya terlihat sangat gagah sesuai dengan fostur tubuhnya, ia mampu mengalihkan perhatian warga untuk sesaat.
Satria langsung menghampiri Alvi dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Tolong Bapak Bang,Bapak ku masuk ke sana." tunjuk Alvi dan dengan segera Satria pun ikut turun, dengan arahan dari para warga di sana.
Tidak lama Bapak pun di temukan dengan kondisi mengenaskan cucuran darah terlihat deras di beberapa bagian tubuhnya., licin dan terjalnya jurang tersebut membuat proses evakuasi mengalami kesulitan. Bahkan beberapa warga yang membantu mencari Bapak menyerah dan kembali ke atas memberi kabar bahwa beliau telah di temukan.
Namun Al dan Satria serta Bang Fatur yang sudah lebih awal di sana tidak menyerah begitu saja,mereka bertiga berusaha untuk bisa membawa Bapak ke atas agar dapat segera di tangani.
Citra yang baru mendapat kabar pun langsung pergi tanpa pamit kepada para menghuni toko,ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi,dan tidak memakan waktu lama Citra sampai di tempat kejadian dan langsung berhambur memeluk ibu dan Alvi yang sudah terlihat pasrah tak berdaya,antara sadar dan tidak. di tenangkan oleh mbak Siva dan para warga yang ikut prihatin dengan musibah ini.
Citra kembali mematung sambil menatap jurang di depannya.Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi paman sekarang, yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
Akhirnya dengan alat seadanya mereka pun berhasil membawa bapak ke atas, dan langsung di masukan ke dalam mobil ambulance.
Aksi heroik yang di lakukan dua pria tampan itu mendapat pujian dari pada warga,apalagi saat melihat Al yang hanya mengenakan kaos pas body dengan cucuran keringat dan darah yang menempel pada bagian tubuh dan pakaiannya menambah kesan tampan dan gagah di mata para warga,persis seperti melihat para aktor Hollywood di film action,namun Al sama sekali tidak menghiraukan tatapan takjub dari mereka.Ia pun langsung menghampiri sang istri tercintanya .
" Bapak....!!!" teriak Ibu dan Alvi bersamaan.
Citra langsung berlari mengambil motornya ,dan dengan sigap ia mengawal ambulance tersebut dari depan.
Ibu langsung di bawa Satria untuk masuk ke dalam mobil Al. Mbak Siva dan Bang Fatur mengekor dari belakang ambulance tersebut dengan membawa motor milik Satria.
Sementara Alvi yang Melihat Al terlihat lunglai dan berlumuran darah di pakaiannya ,tubuhnya menjadi semakin bergetar,kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Akhirnya ia pun limbung namun dengan sigap Al mendekapnya.
" Sayang kamu gak apa apa kan?"
" Kamu gak apa apa kan Bi." tanya Alvi balik
" Aku gak apa apa." jawab Al sambil meraih tubuh dan menggendong gadis yang sudah terlihat lemah itu.
" Apa ini darah bapak?" tanya Alvi sambil menatap sang suami.
Al hanya mengangguk kecil. Setelah itu Alvi pun terkulai tak sadarkan diri dalam gendongan sang suami.
*
*
*
Makasih buat kalian yang sudah setia nunggu up-nya,dan jangan lupa dukungannya juga..😘😘😘