My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
119



Satria beranjak dari tempat tidur,ia langsung berlari hendak mencuci mukanya,Citra membuang muka saat tidak sengaja berpapasan dengannya di dapur.


" Gak lucu." sungut Citra kesal.


Pria itu kembali menahan tawa,dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Citra berjalan ke teras rumah,ia duduk si sebuah bangku kayu dan tersenyum ramah ketika bertemu dengan para warga yang sedang berada di kebun sayur depan rumahnya.Satria pun ikut duduk di depannya,dengan masih bertelanjang dada, sambil menikmati secangkir kopi yang baru ia buat, dan sebatang rokok yang sudah mengepul terjepit sela sela jemarinya.


Citra memutar bola matanya,ia bangun dari duduknya dan mulai melangkah,namun saat melewati Satria,pria itu langsung menariknya hingga terduduk di atas pahanya.


" Apaan apaan kamu? lepasin gak!" teriak Citra sambil berusaha melepaskan diri.


" Jangan begitu dong sayang." goda Satria seraya menyandarkan kepalanya di dada sang istri,gadis itu terperanjat hingga membuat suasana hatinya menjadi gaduh.Satria menyeringai merasakan dengan jelas detakan jantungnya.


" Ihh,,,lepasin!" Citra mendorong kuat tubuh kekar itu.


" Tidak usah malu malu Neng,kalian kan sudah menikah." ucap salah satu warga yang melihat mereka.


" Iya kita kan sudah menikah." sahut Satria sambil menaik turunkan alisnya.


" Kamu kenapa? salah makan?atau jangan jangan otak mu bermasalah? apa waktu berantem tadi kepala mu terbentur?" tanya Citra masih dengan wajah yang datar.


" Aku begini karena kamu,kenapa kamu jadi dingin begitu,tidak biasanya." ujar Satria.


" Apa ada masalah?bilang padaku." tambah Satria.


" Kenapa aku harus bilang padamu,memang kamu siapa? tidak usah berpura pura perhatian,perlakuan mu padaku sangat menyakitkan." ucap Citra dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Perlakuan ku yang mana? " tanya Satria sambil menatap Citra dengan serius.


" Kamu tidak perlu tau." ujar Citra sambil berusaha melepaskan diri dari Satria.


Namun pria itu malah semakin mempererat pelukanya.


" Aku tidak akan melepaskan mu ,sebelum kamu mengatakannya." ucap Satria dengan tegas.


"Jangan pernah memberi harapan palsu lagi pada ku,kamu menjauh saat aku mengejarmu,tapi di saat aku diam kamu berharap perhatiaku,mau kamu apa? kamu memeluk ku dan menciumku,aku kira kamu sudah mau menerima ku dan sudah mulai mencintaiku,tapi ternyata semua itu salah,aku memang gadis bodoh,yang hanya kamu anggap sebagai ikan asin,apa tidak ada yang lebih bagus untuk ku,kenapa kamu mengibaratkan aku dengan seekor ikan asin?" jelas Citra sambil terisak.


" Bang yang kamu lakukan ke aku itu jahat!!" teriak Citra sambil memukul dada Satria beberapa kali.


Satria hanya terdiam tanpa melepaskan pelukanya,otaknya berusaha bekerja keras mengingat kapan ia menyebut gadis itu ikan asin.


Kasus ikan asin yang di lontarkan Al membuat perasaan gadis itu sedikit tercabik,hingga ia ikut terkena dampaknya.


" Aku tidak menyebut mu ikan asin." ucap Satria sungguh sungguh.


" Bang Al yang bilang begitu,tapi kamu menyetujuinya." ujar Citra,tangisnya semakin pilu ,membuat pipi dan hidungnya menjadi merah,gadis itu mengusap lendir yang keluar dari hidungnya dengan jilbab yang ia pakai.


" Sudahlah,tidak perlu di masukin ke hati." ucap Satria sambil mengangkat tubuh gadis yang berada di atas pahanya itu masuk ke dalam rumah.


" Apa yang kamu lakukan?" teriak Citra kaget,ia meronta ronta dalam gendongan suaminya.


" Aku ingin menikmati ikan asin." goda Al seraya berbisik,kemudian pria itu membawa istrinya ke dapur.


" Jangan macam macam." Citra membulatkan mata,sambil melayangkan jari telunjuknya di depan wajah suaminya.Satria mengerutkan keningnya tak mengerti.


" Memangnya kenapa?" tanya Satria bingung,iapun lalu membuka tudung saji di atas meja makan,sudah ada lauk pauk untuk makan siang yang sudah di siapkan bu Sukma.


" Sepertinya otak mu yang bermasalah karena benturan semalam." ucap Satria sambil menyendokan nasi kepiringnya,lalu beralih mengambil lauk, tidak ketinggalan juga ikan asin sambel pete kesukaannya.


Citra di buat salah tingkah,gadis itu terkekeh menahan malu,karena fikiran mesumnya yang tiba tiba datang tanpa permisi,padahal dia sudah berharap Satria akan menggendongnya dan membawanya ke atas kasur lalu menindihnya, membujuk istri yang sedang marah memang harusnya seperti itu bukan?


" Hmmm.." sahut Satria karena mulutnya sudah penuh dengan makanan.


Citra menganggukan kepala,gadis itu sedikit demi sedikit mulai tau kebiasaan apa saja yang sering di lakukan suaminya,dan ternyata masih seperti manusia biasa,tidak seperti yang pernah ia bayangkan,pria kaku tanpa ekspresi, bahkan ia pernah mengira suaminya itu sebagai robot bernyawa yang tak perlu di beri makan.


Gadis itu marah ketika di samakan dengan ikan asin,tapi dirinya sendiri dengan entengnya malah mengibarakat suaminya sebuah robot, apa itu adil?


" Kamu tidak makan?" tanya Satria.


" Tidak,kamu sudah menyuruhku makan terlalu banyak tadi pagi." jawab Citra.


" Ya sudah." balas Satria.


Gadis itu tersenyum,sambil memperhatikan Satria yang masih lahap dengan hidangan sederhana di hadapannya.Ia masih tidak menyangka akan bisa sedekat ini dengan pria pujaan hatinya,tidur dan makan bersama tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Namun Seketika senyumnya memudar,kala mengingat posisi dirinya yang tidak jelas di hati sang suami,bisa saja ia di tendang suatu saat nanti jika Satria sudah menemukan wanita yang bisa mengambil hatinya.


" Bang,apa aku boleh bertanya sesuatu?" ujar Citra ragu ragu.


" Apa?" sahut Satria sambil membasuh tangannya di wastafel.


" Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Citra tanpa basa basi.


" Maksud mu?" Satria duduk berhadapan dengan Citra.


Dan merekapun mulai berbicara dengan serius.


" Aku hanya ingin memastikan perasaanmu saja,sebenarnya aku sudah lelah dengan posisi ini,aku sudah berusaha mendapatkan hatimu,tapi sampai sekarang kamu tidak bisa memberi jawaban yang jelas,tidak masalah jika seandainya kamu tidak bisa membalas perasaanku,aku akan menerimanya dengan lapang dada,akan aku akhiri semua agar kamu bisa lebih tenang,kita akan berpisah secara baik baik,dan aku akan pergi dari sini,dan kita bisa melanjutkan hidup kita masing masing." ucap Citra dengan tegas,membuat Satria bergeming,hatinya terasa ngilu saat mendengar kata perpisahan.


" Kamu kira pernikahan ini lelucon?" tanya Satria dengan memberi tatapan tajam pada gadis di depannya.


" Tapi ini hati bang!!bukan warung kopi,yang hanya bisa kamu singgahi saat kamu butuh." Citra menekan dadanya kuat kuat.


" Aku wanita,butuh kepastian,jika seandainya kamu tidak bisa menerima ku ya sudah,aku tidak akan memaksamu." balas Citra.


" Sebenarnya aku sudah bisa menerima mu , aku merasa nyaman dengan mu,beri aku waktu sedikit saja untuk lebih meyakinkan kan perasaanku,jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku." ucap Satria sungguh sungguh,sambil menggenggam tangan Citra yang berada di atas meja dengan sangat erat.


" Baiklah,aku kasih kamu waktu satu bulan." ujar Citra sambil menganggukan kepalanya.


" Jangan ada jarak di antara kita,biarkan semuanya berjalan dengan semestinya,aku yakin cinta ini akan tumbuh dengan sendirinya." pinta Satria membuat Citra memicingkan mata.


" Aku tidak mau melepas kesucianku sebelum kamu mengatakan cinta padaku." seloroh Citra membuat Satria tergelak.


" Kamu fikir aku akan melepas keperjakaan pada wanita yang tidak aku cintai." balas Satria masih dengan gelak tawanya.


" Tenang saja,aku hanya akan menyentuhmu di sini,di sini dan di sini saja, boleh kan?"


ujar Satria sambil menunjuk kening,pipi,lalu sedikit mengusap bibir istrinya itu.


" Baiklah,terpaksa aku harus menyetujuinya,karena memang sudah terlanjur kamu nodai." Citra pasrah,sambil menghembuskan nafas kasar.


"tapi aku masih berharap kamu mau memberikan bonus untuk ku." goda Satria sambil mengedipkan sebelah matanya.


Citra menggelengkan kepala, sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jgn lupa tinggalkan jejak,kasih like,komen dan votenya..