
Setelah berbincang sejenak,Citra pamit kepada mbak Zahra hendak menemui sahabatnya Alvi,gadis itu mulai melangkahkan kaki menuju tempat tinggal Alvi.
" Assalamualaikum." sapanya sambil mengetuk pintu beberapa kali,namun belum juga ada sahutan,ia memberanikan diri memutar handle pintu,untungnya tidak terkunci,Citra pun masuk dan langsung di kagetkan oleh suara tangisan seorang bayi.Ia bergegas menuju kamar dengan pintu yang terlihat terbuka lebar.
" Al!!" teriaknya,namun masih tidak ada sahutan,gadis itu mulai memberanikan diri untuk masuk dan melihat ke arah dimana bayi itu berada,matanya terbelalak karna hanya ada satu bayi yang di lihat nya,kemudian gadis itu menggendongnya dan membawanya ke luar.
Hingga Akhirnya wanita yang ia caripun muncul dari dapur,sambil mengondong satu bayinya,dan sebuah botol susu tangannya.
" Gue fikir lu kemana?" ujar Citra seraya meraih botol susu yang di berikan Alvi,lalu memberikannya pada bayi dalam gendonganya.
" Maaf,tadi gue lagi bikin susu di dapur." ujar Alvi sambil mengajaknya duduk di sofa ruang tamu,Alvi menyendarkan punggung sambil menghembuskan nafas kasar,masih dengan menggendong satu bayinya.Nampak raut wajah lelah dengan lingkaran hitam di area matanya.
" Bang Al mana?" tanya Citra merasa prihatin.
" Masih ngajar di madrasah." balas Alvi.
" Hmmm,sorry Al gue mau nanya sama Lu." ucap Citra ragu.
" Ngomong aja,sejak kapan lu mau nanya izin dulu?" Alvi melirik sekilas pada Citra setelah itu ia kembali memejamkan matanya.
" Maaf kalo gue lancang,tapi gue mau nanya, Lu masih bahagiakan dengan rumah tangga Lu?" tanya Citra,Membuat Alvi kembali menegakan tubuhnya,memicingkan mata,menatap Citra dengan penuh tanda tanya.
" Maksud lu apa?" tanyanya
" Tidak apa apa,gue cuma ngerasa prihatin,lihat kondisi lu yang seperti ini." Citra nampak tidak enak hati,ia menundukan kepala sambil memperhatikan bayi yang berada dalam gendongannya, nampak lahap menyedot susu di dalam dot.
" Gue bahagia,bahkan sangat bahagia,walaupun mungkin masih sedikit repot karena harus mengurus dua bayi sekaligus seperti ini,tapi lu gak usah khawatir,gue cukup menikmati ini semua,momen seperti ini tidak akan lama,dan Gue tau ini semua tidak akan bisa terulang lagi.sudah kudrat wanita menjadi seorang istri dan ibu untuk anak anaknya." Alvi nampaknya tau dari maksud Citra.Ibu dua bayi itu menatap lekat bayi yang di gendonganya dengan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.
" Semenjak kehadiran mereka,gue jadi lebih banyak belajar,belajar sabar, belajar mencintai dengan sepenuh hati,belajar iklhas hingga belajar berkorban demi kebahagian dan keselamatan anaknya,selain itu menjadi ibu banyak juga keistimewaannya." Alvi tersenyum sambil terus mengusap lembut kepala bayi yang tengah kembali terlelap.
" Maaf Al,gue sempat berfikir yang tidak tidak." Citra semakin menundukan kepalanya.
" Tidak apa apa,gue ngerti." Alvi menghampiri Citra dan duduk di sebelahnya.
" Lu akan merasakannya setelah Lu mempunyai anak." Bisik Alvi membuat Citra mengangkat kepalanya dan menatap Alvi,terasa panas di bagian wajah hingga timbul keremerahan, Gadis tersenyum malu sambil kembali menundukan kepala.
" Keberadaan mereka juga mampu membuat gue lebih kuat, merasa lebih berguna,dan merasa lebih di butuhkan,Lu pasti sering mendengar kalimat surga berada di telapak kaki ibu?adapun yang di maksud dalam kalimat tersebut ialah sosok seorang ibu yang merupakan wanita mulia yang di dalam ridhonya terdapat surga bagi anak anaknya."
" Gue yakin,keberadaan mereka bisa mempererat jalinan hubungan antara suami istri,menyempurnakan sebuah rumah tangga." tambah Alvi seraya beranjak lalu kembali merebahkan tubuh bayi kecil yang sudah terlelap itu,begitu juga dengan Citra.
Setelah itu mereka berjalan hendak ke dapur,Citra nampak membulatkan mata ketika melihat semangkuk mie instan tanpa kuah,sepertinya sudah terlalu lama di biarkan hingga terlihat tidak menggoda selera.Namun Alvi masih lahap memakannya.
Citra menatap wajah Alvi yang nampak berbeda,jauh lebih sabar dan dewasa,lebih bisa menerima keadaan,dengan tidak egois dan mementingkan dirinya sendiri.
Hingga terdengar suara yang berhasil mengejutkan keduanya.
Al berjalan menghampiri mereka,ia melihat apa yang di makan istrinya,seketika wajahnya berubah.
" Maaf Bi,Tapi aku sudah terlalu lapar,dan tidak sempat memasak." rengek Alvi sambil berusaha mengambil makanannya kembali,namun Al lebih dulu membuangnya.
" Aku sudah bilang, tinggal minta pada Umi,dan tidak perlu memasak."
" Tapi aku malu Bi !!"
" Siapa yang akan mempermalukanmu?" Al sedikit meninggikan suaranya karena Alvi terus saja membantah.
" Dengar sayang,mie instan tidak baik untuk kesehatan mu,apalagi kamu sedang menyusui,Umi pasti akan marah jika mengetahui ini semua." ujar Al sambil meraih pundak istrinya, setelah itu dia pun kembali keluar.
Alvi kembali duduk di meja makan,dengan bersungut sungut.
" Dia selalu seperti itu,padalah gue malu jika harus meminta makan pada Umi terus, gue tau Umi selalu menyambut kedatangan gue dengan ramah,walaupun gue datang cuma minta makan." gerutunya, Citra nampak tersenyum,kekhawatiran yang pernah singgah di hatinya ternyata sama sekali tidak nyata.
" Padahal gue sempat mengira jika suami dan mertua Lu gak perduli sama Lu,ternyata gue salah." gumam Citra.
Sontak membuat Alvi menggelengkan kepala dengan cepat.
" Lu gak perlu khawatir,mereka selalu perduli dan sayang masa gue."
" Syukurlah,semoga allah selalu menanamkan cinta dan kasih sayang yang tulus pada kita semua."
" Aamiin.."
Tidak berselang lama,Al kembali datang dengan membawa beberapa rantang,berisi nasi dan beberapa lauk yang lengkap,lalu menatanya di atas meja makan.
" Makanlah yang banyak!!" titah Al sambil menyembunyikan kekesalannya,karena masih ada Citra di sana.
Kemudian ia membalikan tubuhnya hendak melangkah namun Alvi segera menarik tangannya.
" Mau kemana lagi,kamu gak ikut makan?"
" Makanlah bersama Citra,aku akan makan bersama para tukang." jawab Al yang langsung melangkahkan kakinya.
Melihat gelagat sang suami yang tidak biasa,dengan segera Alvi pun mengejarnya.
" Bii..!!" panggil nya.
" Hmmm.." Al menghentikan langkahnya,lalu membalikan tubuhnya hendak melirik sang istri.
" Maafkan aku,aku memang salah." lirih Alvi sambil memeluk tubuhnya dengan sangat erat,melihat ini semua pertahanan Al mulai goyah,ia membalas pelukanya dan mencium kening Alvi .
" Maafkan aku juga karena sudah membentakmu,ingatlah ini semua karena aku menyayangimu." balas Al, setelah itu, ia kembali pergi saat Alvi menganggukan kepala.