
Citra menggelengkan kepala seraya berjalan meninggalkan Satria,melanjutkan pekerjaannya,tanpa menghiraukan Suaminya yang kini telah mengekor dari belakang sambil menarik narik pakaiannya.
Membuat gadis itu kesal,ia kembali membalikan badanya,menatap suaminya sambil menahan emosi,tidak lama kemudian gadis itu kembali menarik sudut bibirnya saat melihat mimik wajah polos sang suami seperti anak kecil yang merajuk meminta di belikan mainan baru.Sangat menggemaskan.
" Mau apa sih,Bang?" tanya Citra sambil menahan kesal.
" Pulang yuk!" ajak Satria sambil menaik turunkan alisnya.
" Sebentar lagi,aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu." ujar Citra seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Raut wajah Satria mulai berubah,harangnya mengeras dengan wajah yang memerah menahan emosi,pria itu langsung menarik keranjang belanjaan yang berisi tumpukan roti dari tangan Citra dengan kasar,sontak membuat gadis terperanjat.
" Biar aku saja yang melakukannya." ujar Satria ketus,lalu pria kaku itu memasukan satu persatu roti dan kue yang siap untuk di jual,ke dalam etalase dengan asal,tanpa penataan yang rapi,Citra di buat kalang kabut karena kini kue dan roti nya berantakan,jika di biarkan terlalu lama seperti itu,sudah pasti toko kue nya akan hancur luluh lantah akibat beruang kutub yang mengamuk.
" Bang Satria!!!" teriaknya,ia menatap tajam ke arah suaminya.Dadanya naik turun dengan cepat,ia mengepalkan tangan menahan emosi yang siap meledak ledak.
"Ayo kita pulang!" gadis itu menarik tangan suaminya keluar,meninggalkan toko kue nya.
Satria mulai melajukan motornya menuju pondok tempat tinggalnya tanpa rasa bersalah,Tidak seperti biasanya,Citrapun hanya diam tanpa bersuara,tidak ada candaan ataupun godaan yang selalu ia lontarkan,membuat perjalanan menjadi membosankan dan terasa lebih lama.
Hingga tiga puluh menit berlalu, akhirnya merekapun tiba di halaman pondok.
Citra turun dari motor,masih dengan wajah tertekuk,menepis tangan Satria yang hendak membantunya melepas helm yang melindungi kepalanya.
Gadis itu melenggang begitu saja masuk ke dalam pondok tanpa mau menunggu sang suami,lalu masuk ke dalam kamar,setelah itu keluar berjalan menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti.
Satria mendaratkan bokongnya di sebuah kursi kayu yang berada di ruang tengah,seraya memperhatikan setiap gerak gerik sang istri yang seolah menyibukan diri,tanpa mau melihat wajahnya,pria itu tidak bisa tinggal diam ketika melihat sang istri mengacuhkannya.Pria itu mulai beranjak,lalu menyusul istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
" Mau apa?" Citra yang sudah melucuti pakaiannya nampak terkejut sambil menyilangkan tangan di depan dada.
" Mau mandi." sahut Satria,lalu pria itu mulai membuka pakaiannya,sambil menampakkan senyum menyeringai.
Gadis itu melilitkan handuk ke tubuhnya hendak keluar,namun Satria dengan cepat menarik tangannya lalu melepaskan handuknya kembali,pria itu langsung mendekap tubuh polos sang istri dengan sangat erat.
" Maafkan aku." lirihnya dengan suara berat.
Satria menatap dalam nanik mata cantik sang istri,perlahan mulai mendekatkan wajahnya,menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri,tidak mendapat nolakan,pria itu mulai menuntunya masuk ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat.
Citra mengeliat sambil menutup mata saat merasakan belaian lembut yang berikan Satria ke tubuhnya,berlanjut dengan menghujani sebuah kecupan di setiap ceruk leher jenjang sang istri.Tidak lupa iapun memberikan stempel merah tanda kepemilikannya.
Tangannya pun sudah tidak bisa tinggal diam,ia kembali menggerayangi dua benda kenyal dan padat,desiran gairah semakin membuncah,menuntut keduanya untuk melakukan hal yang lebih.
" Kita coba lagi." pinta Satria sambil memegang senjata tumpul miliknya siap hendak menyerang.
Citra pun mengangguk kecil,tidak menunggu lama,Satria langsung menancapkan Senjatanya ke lubang yang tersedia.
" Tahan sebentar." ucap Satria dengan sorot wajah di selimuti nafsu yang menggebu,seolah tidak mau usahanya gagal lagi kali ini.
Lagi lagi Citra hanya mengangguk,berusaha menahan nyeri di bagian intimnya.
Satria mulai memainkan burung untanya keluar masuk dan berputar dengan riang di dalam sarangnya.
" Aaakkhhh.." Citra mengangat kepalanya,merasakan burung untuk milik sang suami yang semakin tak tau diri di dalam sarangnya, semakin lama semakin liar dan lincah dengan beberapa jurus yang ia keluarkan,setelah beberapa jam akhirnya burung untanya pun mabuk dan kelelahan hingga menemuntahkan cairan putih yang kental di sarangnya.
Erangan keras keluar dari mulut Satria.
" Terimakasih,aku mencintai mu."lirih Satria,sambil melingkarkan tangannya, memeluk tubuh polos Citra,dengan nafas yang masih tersenggal.
Gadis itu menyunggingkan senyuman terindahnya sambil membalas dekapan sang suami,hatinya menari nari,seperti mendapat hujan bunga di sejuknya angin pantai,seperti masuk ke istana bunga,atau seperti surfing di lautan bunga.( hah memang Citra bisa surfing?)
Tidak bisa di gambarkan dengan jelas,namun yang jelas hatinya sangat bahagia,mendengar kata cinta dari seorang pria yang selama ini ia harapkan.Sungguh ia merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Satria meraup wajah Citra dengan gemas,lalu mendaratkan kecupan di setiap inci wajah cantiknya,setelah itu,ia beranjak hendak membersihkan diri di bawah guyuran shower,tidak lupa iapun membantu Citra melakukan hal yang sama.
Selesai membersihkan diri,Satria membantu memasangkan handuk,lalu menggendong tubuh kecil istrinya dan membawanya ke dalam kamar.
" Mau pakai baju yang nama?" tanya Satria sambil membuka tas ransel yang berisi pakaian Citra.
" Biar aku saja yang mencarinya." ujar Citra sambil berusaha beranjak dari duduk.
" Tidak,biar aku saja." cegah Satria,terpaksa gadis itu pun mengalah,ia kembali duduk di atas tempat tidur.
" Yang mana saja." sahut Citra,karena memang tidak banyak pakaian yang ia punya saat ini,karena sebagian pakaiannya masih tertinggal di rumah lamanya.
Satria memilih pakaian rumah,lengkap dengan CD dan penutup gunungnya,sontak membuat Citra menutup wajahnya yang bersemu.
" Mau aku bantu memakainya juga?" tawar Satria yang langsung mendapat gelengan kepala dari Citra.
" Baiklah kalau begitu." Satria pun mulai membuka lemari pakaian hendak mengambil pakaiannya.
Selesai memakai pakaian,Satria menghampiri Citra di atas tempat tidur,ia merebahkan tubuhnya dengan paha sang istri sebagai bantalannya.
Citra tersenyum sambil menyugar rambut prianya,ia masih tak percaya dengan kejadian yang terjadi beberapa menit lalu,dimana dirinya sudah resmi menjadi seorang istri dari pria yang selama ini ia cintai,sungguh ia tidak mengerti,kebaikan apa yang pernah ia lakukan sehingga mendapat balasan seindah ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya,,,selamat ya Bangsat udh berhasil dapetin sarang burung untanya,thor tunggu komisinya ya.😅😅buat pembaca setia,jangan lupa kasih vote komen dan like nya juga buat thor.terimakasih..😚😚😚