My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 73



Tidak lama Al keluar dari kamar mandi,keningnya seketika mengerut melihat sang istri yang tengah tertawa sendiri tanpa memperdulikan keberadaanya.Ia pun hanya menggelengkan kepala seraya memakai pakaian hendak pergi ke madrasah tempatnya mengajar para santri.


" Sayang berhenti berhayal!" ucap Al setelah selesai memakai pakaiannya dan siap untuk pergi.


" Kenapa?" tanya Alvi sambil menghampiri suaminya itu.


" Aku hanya takut kamu kecewa,aku takut ketika kita sampai di sana ,namun tidak sesuai yang kamu bayangin."


" Tenang aja Bi, aku sudah mengatur rencana apa yang akan kita lakukan di sana.dan apa yang aku rencana kan harus di lakukan." ucap Alvi dengan penuh penekanan,sambil mengantar suaminya sampai ke teras rumah.


" Ya sudah kalau begitu terserah kamu saja,aku ngajar anak anak dulu." Al pergi setelah memberikan kecupan di kening sang istri.


Setelah itu Alvi pun kembali masuk dan bersiap untuk menyiapkan makan malam.Namun satu pesan dari Umi membuat ia mengurungkan niatnya,gadis itu pun tersenyum lalu berlenggang menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk memenuhi ajakan Umi.


Setelah selesai membersihkan diri gadis itu keluar dari kamar mandi sambil bersiul ria, fikiran nya masih tertuju pada apa yang dia inginkan yang sebentar lagi akan dia dapatkan. Namun wajahnya seketika berubah ketika ia berdiri di depan kaca.Membolak balikan badan sambil memegang perut yang sudah mulai terlihat menonjol. Lalu memegang pipinya yang terlihat lebih gembul.


" Dengan badan yang seperti ini apa unta Arab ku masih tertarik?" gumamnya dengan wajah yang tertekuk.Kemudian Ia pun segera memilih pakaian yang akan dia kenakan setelah mendengar suara sang suami dari luar sana.


" Assalamualaikum.." sapa Al.


" Wa'alaikum salam." masih dengan memakai handuk Alvi menghampiri suaminya dan mencium tangannya.Lalu kembali menuju lemari pakaiannya.


" Sayang kamu kenapa?" Al yang selalu menyadari perubahan dari sikap sang istri langsung menghampiri istrinya yang masih sibuk memilih pakaian,dengan mesra ustadz tampan itu mendekap nya dari belakang.


" Bi, badan ku jadi gemuk,gak ada lagi pakaian yang bisa aku pakai." rengek Alvi sambil membalikan badannya menghadap sang suami.


" O ya? jadi sayang sayangnya ayah udah mulai tumbuh besar ya? " Al tidak menanggapi keluhan istrinya,ia malah berlutut sambil menciumi perut sang istri.


" Bi,kamu denger gak sih gak ada lagi pakaian yang bisa aku pakai." Alvi sudah mulai meninggikan suaranya.


" Iya sayang maaf,gini aja kamu udah cantik kok." goda Al.


" Oh,,ya udah kalo gitu aku mau keluar dengan memakai handuk ini." Alvi berjalan hendak keluar ,namun Al langsung mencegahnya.


" Aku Bercanda sayang,ini aku kasih kartu ATM, besok kamu beli apa yang kamu butuhin ya." ucap Al sambil menyerahkan salah satu kartu ATM nya.Namun dengan cepat gadis itu menggelengkan kepala.


Entah mengapa ibu hamil itu memang selalu menolak uang pemberian dari suaminya.


" Gak usah Bi,aku masih punya kok,kalo gitu besok aku mau belanja,tapi kamu harus temenin aku."


" kenapa kamu gak pernah mau aku kasih uang?" Al menampakan wajah kecewanya.


Namun Alvi segera menghiburnya dengan bergelayut manja sambil memberikan kecupan mesra di bibir sang unta Arab.


" Gak apa apa,lagian aku punya uang sendiri,jadi uang kamu bisa di tabung,siapa tau nanti kita bisa beli pulau pribadi kalau gak pesawat pribadi." alesan Alvi membuat Al terkekeh.


"Aamiin,, Ya sudah kalo gitu ,sekarang aku laper."


Setelah selesai dengan drama soal pakaian, mereka pun pergi bersama hendak menemui Umi di rumahnya.


Berjalan bersama beriringan sambil bergandengan tangan sudah menjadi kebiasaan mereka,keromantisannya membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri.Begitu pun dengan para santri yang kala itu masih berlalu lalang.


" Assalamualaikum." ucap mereka berdua saat sudah sampai di tempat Umi.


" Wa'alaikum salam." jawab Abi ,Bang Haikal dan Mbak Zahra yang sudah lebih dulu berada di rumah Umi.


" Hay jagoan,,makin tembem aja deh kamu." ucap Alvi pada baby Azam yang terlihat bergerak aktif dalam gendongan Mbak Zahra.


" Hay juga Bibi Cantik,bibi juga gak kalah tembem dari Azam." sahut Mbak Zahra sambil menirukan suara bayi.


Perkataan tak sengaja dari Mbak Zahra membuat mood ibu hamil itu menjadi buruk,namun Alvi masih bisa mengontrolnya.


Karena merasa tidak enak pada Abi dan yang lainnya.


" Kalian sudah datang,ayo duduk Umi sudah siapkan makanan spesial buat kalian." ajak Umi seraya menata makanan di atas meja makan.Mereka berdua pun ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.


" Wah,,,Umi masak daging Unta ya?" Mbak Zahra yang sudah sangat familiar dengan wangi khas dari daging unta terlihat sangat antusias.Sedangkan Alvi hanya bergeming sambil membulatkan matanya.


" Iya,Umi sengaja bawa dari Kairo,kita udah lama gak makan daging unta." sahut Umi dan Mbak Zahra pun hanya mengangguk mengiyakan.


" Al kamu harus coba,Umi yakin ini pasti kali pertamanya kamu makan daging unta.Kamu pasti suka." Umi memberikan piring berisi daging unta itu ke hadapan Alvi.


Ibu hamil itu hanya mematung sambil terus menatap jijik pada hidangan di hadapannya,tiba tiba kepalanya menjadi pusing dan perut nya terasa mual,ia pun berlari begitu saja seraya menutup mulutnya.


" Sayang kamu kenapa?" Al langsung menyusul istrinya ke toilet.


" Yang benar saja,masa gue harus makan daging Unta,gue jadi ngerasa makan daging suami sendiri." lirih nya dalam hati,setelah berhasil memuntahkan semua isi perutnya.


" Sayang kamu gak apa apa kan." Al terlihat sangat khawatir sambil mengusap punggung sang istri.


" Aku gak apa apa kok Bi,cuma daging itu bikin aku mual."


" Ya sudah,mungkin kamu belum terbiasa." Al pun mengajak istrinya untuk kembali bergabung melanjutkan makan malam bersamanya.


" Al kamu kenapa?" tanya Umi yang ikut khawatir juga.


" Aku gak apa apa Umi,cuma sedikit mual saja,maaf aku gak bisa makan daging itu."


" Oh,ya udah gak apa apa gak usah di paksain,mungkin ini masih terlihat asing buat kamu,kamu makan yang lain saja ya." ajak Umi,Alvi pun hanya mengangguk.


" Makasih Umi." ucap Alvi,dan mereka pun melanjutkan makan malam bersama sambil di barengi obrolan ringan tentang aktifitas dan pekerjaan mereka masing masing.