My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 109



Menjelang malam,semua aktifitas di toko semakin sibuk,para karyawan membereskan semua peralatan untuk membuat roti dan kue terlebih dulu sebelum mereka pulang.


Sementara Citra sibuk di balik mesin kasir,menghitung pendapatan hari ini,berapapun yang di dapat ia tidak lupa untuk mengucap syukur.


Setelah memastikan semua selesai ,para karyawan pamit untuk pulang,begitu juga Citra,dia lalu mengunci trolling door sebelum meninggalkan toko miliknya itu.


Kemudian ia pergi menggunakan motor matic kesayangannya.


Malam kian larut, waktu menunjukan pukul 20.00 wib,gadis itu pun sampai di pekarangan rumah.Ia mengerutkan kening kala melihat tempat tinggal yang tidak seperti biasanya,yang selalu senyap dan sepi,namun kini banyak para tetangga yang ramai mendatangi rumahnya.


" Ada apa ini?" gumamnya,setelah itu iapun masuk menerobos para tetangga yang berhimpitan di depan pintu,saling berebut untuk bisa masuk.


Wajah Citra berubah masam setelah memastikan apa yang terjadi,melihat Bi Marni sedang duduk di kursi di temani Ibu sambil menyapa para tetangga yang datang untuk menemuinya, tanpa basa basi iapun masuk ke kamarnya lalu membereskan pakaian dan semua kebutuhannya lalu memasukannya ke dalam tas ransel.Setelah itu ia kembali keluar dan siap untuk pergi.


" Citra mau kamana?" tanya Ibu seraya menghampirinya.


" Aku mau pergi Bu." sahut Citra sambil melenggang hendak keluar rumah.


" Citra makan dulu Nak,ibu sudah siapkan makanan." panggil Bi Marni,namun Citra tidak menggubrisnya.


Ia langsung menstater motornya lalu menancapkan gas.Tanpa bisa di cegah.


Kini Ia pergi tanpa arah dan tujuan,bercahaya kan rembulan dan berpayung kan awan hitam,ia terus melajukan motornya,membelah jalanan pedesaan yang tidak terlalu ramai,berusaha mencari tempat yang bisa ia jadikan tempat bernaung,berlindung dari dinginnya malam ini,namun usahanya sia sia,tinggal di perkampungan memang sulit,belum ada kontrakan maupun kostan,apalagi hotel.


Akhirnya iapun memutuskan untuk mendatangi sahabatnya,satu satunya harapan yang ia punya saat ini adalah Alvi,Gadis itu sampai di pondok pesantren pukul 22.30,seorang penjaga gerbang yang sedang mendengkur halus terperanjat kala mendengar suara klakson yang di bunyikan Citra,satpam itupun akhirnya terbangun,lalu menghampirinya,pria paruh baya yang memang sudah sering melihatnya nampak mengerutkan kening merasa heran ,karena tidak biasanya Citra bertamu di malam hari.


" Tumben Neng datang malam malam begini." tanya penjaga itu sambil memperhatikan tas yang di bawanya.


" Iya Pak,boleh aku masuk?" tanya Citra ragu,tanpa turun dari kendaraanya.


" Hmmm,,Neng sudah ada janji sama Neng Alvi?" satpam itu balik bertanya,Citra hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala.


" Sebentar ya Neng,saya tanyakan dulu,takutnya Neng Alvi sama Bang Al sudah istirahat." ucapnya lagi,sambil meraih benda pipih yang berada dalam saku celananya,lalu menelpon seseorang,namun setelah beberapa kali mencoba,tetap saja telponnya tidak di angkat.


Citra terlihat cemas,ia sudah tidak tau lagi harus pergi kemana selarut itu.


"Maaf Neng sepertinya mereka sudah tidur,tidak enak kalo di ganggu." ujarnya,dengan berat hati Citrapun tersenyum sambil mengangguk.


" Ya sudah Pak tidak apa apa,kalo begitu aku pergi dulu."


Citrapun menyalakan motornya kembali,namun belum sempat melaju,ia melihat sebuah motor sport menghadang dan berhenti tepat di depan.


" Siapa sih nih orang,gak liat apa orang mau jalan." gumamnya.karena minim penerangan Citra kesulitan untuk melihat siapa orang tersebut.


Satpam itu langsung menghampirinya.


" Ada perlu apa Bang?" tanyanya ramah.


" Aku hanya ingin mengantarkan ini saja." orang itupun menyerahkan kantung kresek berlogo minimarket kepada satpam itu,tanpa turun dari motornya.


" Tapi sepertinya Bang Al sudah tidur." ujarnya lagi merasa tidak enak.


" Simpan saja di meja teras rumahnya." titah pria yang suaranya tidak asing lagi di telinga Citra.


" Oh,,baik Bang kalo begitu." sahut satpamnya lagi sambil menerima bungkusan tersebut.


" Kalo begitu aku langsung pulang saja, Assalamualaikum." pamitnya pada satpam itu, tanpa melirik ke arah gadis yang masih mematung di sana.


" Wa'alaikumsalam,,hati hati bang." satpam itupun langsung pergi membawa bungkusan yang Satria berikan.


" Apa dia sama sekali tidak melihatku." gumam Citra


setelah itu ia pun menyalakan motornya kembali,dan berhenti di sebuah warung remang remang yang cukup ramai,banyak para wanita berpakaian seksi juga di sana,tanpa fikir panjang iapun turun dari motornya dan berjalan menuju warung tersebut,ia memesan segelas susu jahe untuk menghangatkan tubuhnya.


Ia tidak menyadari tempat apa yang ia kunjungi,hingga akhirnya tiga orang pria hidung belang menghampirinya dan berusaha menggodanya.


" Anak baru ya Neng?" tanya salah satu pria itu,dan langsung duduk di sebelahnya tanpa permisi.


" Maksudnya apa ya Bang?" tanya Citra.


" Jualan juga?" tanya pria itu lagi.


" Iya Bang, saya jualan." jawab Citra dengan polosnya.


" Waaaahhh,,boleh dong!!" seru pria itu dengan girang ,di ikuti oleh teman temannya.


" Boleh bang,datang saja besok ke toko saya." balas Citra.


" Kenapa nunggu besok,kalo sekarang aja gimana?" pria itu langsung menggeser posisi duduknya dan merangkul pundak Citra,namun Citra segera menepisnya.


" Jangan kurang ajar ya! " ucap Citra ,lalu beranjak dan melayangkan tamparanya tepat mengenai pipi pria itu.


" Berani sekali kamu ya." geram pria tersebut,lalu menyuruh para temannya itu untuk menangkap Citra yang kini berlari berusaha untuk kabur,Namun pria itu berhasil menangkapnya lalu membawanya ke dalam sebuah kamar,gadis itu berontak berusaha melepaskan diri namun tenaganya kalah kuat di banding tiga pria bertubuh kekar yang memegangnya.Orang orang yang berada di sanapun nampak acuh seolah tidak perduli.


" Tolong!!!" teriaknya.


" Teriak saja,tidak akan ada yang bisa menolongmu di sini." ujar pria itu sambil menyeringai.


Lalu ia menarik paksa jilbab yang di kenakan Citra,dan merobek pakaian bagian lengan gadis itu,hingga nampak kulit putih mulus yang selama ini ia tutupi.


" Apa yang kalian lakukan?" geram Citra sambil terus memberontak.


Tiba tiba seorang pria datang ,tanpa aba aba ia menendang tubuh salah satu pria itu dari belakang hingga tersengkur,kemudian beralih melawan dua orang temannya,Pria tersebut kembali menyerangnya dengan membawa botol minuman keras di tangannya,namun Satria segera menangkisnya,lalu metutar tangannya kebelakang dan menendang bokongnya hingga tersengkur dan menabrak sebuah meja yang banyak terdapat botol botol minuman keras di sana,sampai semuanya hancur berantakan.


Satria mundur beberapa langkah saat kedua pria yang lainya itu kembali menyerang dengan membawa senjata tajam di tangannya.


Setelah berada di dekat motor milik Citra ,Satria langsung menendang motor tersebut hingga ambruk tepat mengenai kaki mereka.


Sontak membuat Citra berteriak histeris, lalu menutup melutnya yang terbuka lebar lebar.


Kemudian Satria menarik tangan Citra untuk segara pergi.


" Tapi motorku ." ujar Citra.


Namun Satria sama sekali tidak memperdulikannya,ia terus menarik tangan Citra dan menyuruhnya untuk segera naik ke motor sport miliknya.Satria mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi,hingga terpaksa Citra harus memeluknya erat agar tidak terjatuh.


" Dasar gadis bodoh,apa yang kamu lakukan di tempat itu selarut ini,apa kamu berniat untuk alih provesi." Satria terus menggerutu,namun tidak ada sahutan,karena terlalu lelah gadis itu malah tertidur pulas di balik punggung Satria.


Satria membawa Citra pulang ke rumahnya,setelah sampai pria di pekarangan pria itu langsung turun,membuat Citra tersungkur ke depan hingga keningnya mengenai tangki bensin.Citrapun terbangun sambil meringis meraba kening yang terasa sakit


" Bang,bisa tidak berbuat lembut sidikit saja." lirihnya,kemudian ia turun dari dari motor tersebut.


Pria itu masih berdiri sambil memperhatikan penampilan Citra yang berantakan,dengan rambut acak acakan dan pakaian yang robek.


Lalu ia menghembus nafas kasar seraya menggelengkan kepala.


" Ayo masuk." titah Satria dan langsung berjalan menuju pondoknya,Citrapun mengekor dari belakang.


Gadis itu duduk di sebuah kursi kayu,ia melihat penampilannya dari pantulan kaca lemari ,seketika ia memegang kepalanya,lalu melirik rambut yang menjuntai di bahunya.


" Jilbab Ku." lirihnya panik,sambil mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk menutupi rambutnya.


" Telat,aku sudah melihatnya." ucap Satria seraya menghampirinya,terpaksa Citrapun pasrah tanpa bisa berbuat apa apa.


" Tas ku tertinggal di sana." ucap Citra panik.


" Terus ,kamu mau kembali ke tempat itu?" Satria menatap tajam gadis di hadapannya itu.


" Ganti bajumu!!" Satria menyerahkan pakaian miliknya ,dan terpaksa Citra pun menerimanya.


" Aku harus ganti pakaian di mana?" tanya Citra.


" Di kamar saja." tunjuk Satria,lalu gadis itupun menganggukan kepala.


Setelah berada di dalam kamar,iapun mulai membuka baju,namun seketika ia baru teringat sesuatu.


" Aku belum sempat mandi ." gumamnya sambil mengendus bagian ketiaknya,iapun mulai memutar bola matanya mencari kamar mandi di dalam kamar tersebut,namun kamar itu memang sempit dan hanya cukup untuk tempat tidur dan sebuah lemari pakaian saja.


Iapun memutuskan untuk bertanya pada sang punya rumah,dengan hanya mengintip dari balik pintu kamar.


" Bang kamar mandinya di mana?" tanyanya.


" Di dapur ." Sahut Santria sambil menunjuk ke arah dapur tanpa mengalihkan pandangannya ke layar handphone.


Gadis itu melirik mengikuti arah yang di tunjuk Satria.seketika matanya membulat sempurna melihat suasana dapur yang gelap,saat itu juga ia mengingat ucapan Satria tentang makhluk halus yang menempati pondok tersebut.


" Antar aku ke sana." pinta Citra ragu ragu,masih dengan kepala yang mengintip dari balik pintu.


Satria meletakan ponselnya ,lalu menatap gadis itu yang kini sedang mengedipkan mata mencoba membujuknya.


" Ya sudah." Satria mulai beranjak,Citra kembali menutup pintu kamar tersebut dan dengan segera ia memakai pakaiannya kembali.


Akhirnya Citrapun mulai membersihkan dirinya,dan tidak lama ia keluar dengan mengenakan kaos polos berlengan panjang serta celana Joker milik Satria yang terlihat longgar di badannya.


Satria bergeming,serta menelan ludahnya dengan susah payah,menatap intens wajah cantik Citra dengan rambut hitam lebat yang di gulung keatas dengan asal,menampakan leher jenjang yang putih mulus,yang belum pernah ia lihat sebelumnya,lalu ia mengulum bibirnya saat melihat penampilan Citra yang terlihat lucu dan menggemaskan menurutnya.


" Kenapa." tanya Citra curiga.


" Tidak apa apa." sahut Satria sambil meletakan secangkir teh di atas meja makan.


" Aku lucu kan?" tanya Citra dengan percaya diri.


" Ya,kamu memang lucu." jawab Satria membuat Citra teesenyum bangga.


" Bahkan kamu sangat lucu,selucu boneka." tambah Satria sambil menutup mulutnya.


" Boneka apa?" tanya Citra penasaran.


" Boneka jelangkung." Sahut Satria,seraya terbahak sambil memegang perutnya yang terasa keram.


Membuat Citra terbelalak ,lalu memalingkan wajahnya jengah.


Ia lalu ikut duduk di meja makan,sambil meminum teh yang Satria siapkan.


" Kamu memang tidak tau terimakasih." ucap Satria santai,membuat Citra langsung meletakan cangkir tehnya ke atas meja dengan kasar.


" Terimakasih banyak BangSat." ucapnya dengan penuh penekanan.


" Apa yang membuatmu keluyuran di tengah malam begini." tanya Satria serius.


" Aku pergi dari rumah,aku tidak mau tinggal serumah dengan wanita itu." jawab Citra dengan ketus,kemudian mereka pun berbincang,menghabiskan malam hingga menjelang pagi dan terdengar suara adzan subuh.