
Al mengajak Alvi untuk segera pergi meninggalkan acara itu,semua tamu terlihat bingung dengan perkataan Al yang secara tiba tiba,begitu juga dengan para keluarga,mereka langsung mengikuti dari belakang setelah Al dan Alvi memasuki mobilnya.
" Bi,kamu marah ya?" tanya Alvi setelah melihat gurat wajah suaminya yang tidak seperti biasa.
Tidak ada jawaban Al mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Bi, maafin aku." lirihnya,yang sudah terisak.
" Aku tidak marah,hanya sedikit kecewa saja,aku merasa di bohongi oleh perlakuannya,aku fikir dia orang baik." Al terlihat mengepalkan tangan di stir mobil yang di pegangnya.
Alvi mengusap lengan sang suami,berusaha menenangkan.
" Apa kamu sudah kenal dia sebelumnya?kenapa dia bisa berbicara itu padamu?" tanya Al melirik sekilas ke arah istrinya pura pura tidak tau,berharap kejujuran dari istrinya.
Alvi mengangguk.
" Dia temen sekolah ku,setelah lulus bapak pernah bilang kalo dia sering datang ke rumah untuk melamar ku,tapi aku gak tau karena jarang ada di rumah." jawab Alvi jujur.
" Sial." umpat Al sambil memukul stir.
Alvi terperanjat, ia menggeser posisi duduknya,sangat takut berada di dekat Al yang kini benar benar menampakan wajah garangnya .
Orang pendiam dan juga ramah,bukan berarti tidak bisa marah,jangan remehkan orang pendiam karena bisa saja ia menjadi sniper tak bersuara tapi mematikan.Membisunya orang pendiam sesungguhnya jauh lebih menakutkan daripada murkanya orang pemarah.
" Aku benar benar ceroboh,anak itu memang sangat pandai,aku bahkan bisa di labuinya." racau Al.
" Bi,tenangkan dirimu,kamu membuatku takut." Al menempelkan tubuhnya ke pintu mobil,sangat enggan untuk mendekati unta arabnya itu.
Al membuang nafasnya dengan kasar,ia meraih tubuh istrinya itu dengan satu tangan.
" Maaf aku tidak bermaksud menakutimu." Al menggenggam tangan Alvi,mencari ketenangan dalam jiwa istrinya itu,bagaimana pun Alvi selalu bisa membuatnya merasa lebih nyaman.
" Dia sudah semarah itu pada Randy,bagaimana kalo dia tau kalo Randy berbuat tidak baik padaku."gumamnya dalam hati, tubuh Alvi menegang membayangkan bagaimana reaksi suaminya jika ia mengetahui perbuatan Randy padanya.
" Sayang..." lirih Al sambil mencium tangan Alvi yang di genggamnya.
" Iya." Alvi terkesiap mendengar suara Al yang terdengar menggema.
"Apa karena ini,selama ini kamu tidak pernah mau menerima nafkah lahir dariku?" Al menatap mata Alvi berusaha mencari kejujuran darinya.
Segera Alvi menggelengkan kepala.
" Bukan,aku punya penghasilan sendiri,aku hanya tidak ingin membebanimu,aku tau penghasilan dari dakwah tidak seberapa." balas Alvi dengan polosnya.
Benar saja,Alvi selalu membuatnya lebih tenang,Al terkekeh mendengar alasan dari istrinya itu.
"memang berapa penghasilan ku dari dakwah?" tanya Al.
" Aku tidak tau,tapi aku yakin tidak akan lebih dari 1 juta." jawab Alvi dengan yakin.
"Kenapa bisa seyakin itu?"
" Karena propesi bapak juga sama dengan mu,jadi aku tau bayarannya." jawab Alvi.
Al mengangguk,kemudian ia melanjutkan obrolannya
Alvi menatap suaminya,memperhatikan wajah yang kini kembali lembut selembut kapas.
" Lalu darimana kamu bisa mengembalikan uang para donatur,kamu bercanda kan Bi,bagaimana kalo semua para donatur itu menagihnya? 35milyar tiga kali lipat saja aku sudah tidak bisa membayangkannya.Bagaimana nasib anak anak panti nanti." Alvi mengeluarkan semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.Al tergelak sambil menyebut pipi gembil sang istri.
" Sayang,harta tidak akan habis jika kita pakai untuk bersedekah, insyaallah Allah pasti akan membantu memudahkannya."
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah,dua Al itu langsung membersihkan diri lalu mengganti pakaian.Alvi memilih untuk merebahkan tubuhnya yang kini lebih sering merasa kelelahan karena harus membopong dua bayi dalam kandungannya sekaligus.
Keluarga Al serta Satria juga telah sampai,mereka langsung menghampiri Al di rumahnya.
" Al,apa yang terjadi?kanapa kamu bicara seperti itu tadi." tanya Abi.
" Tidak ada apa apa Bi,aku memang ingin menyampaikan itu sejak dulu,tapi aku baru sempet sekarang."
" Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Bang Haikal ikut menimpali.
" Aku hanya mencari donatur yang benar benar ikhlas ingin membantu anak anak,bukan yang hanya mencari keuntungan sendiri dan haus dengan pujian."
Merekapun menganggukan kepala faham.
" Kamu yang sabar,orang seperti itu memang selalu ada,Makanya Abi memilih banting tulang mengurus perusahaan daripada harus berurusan dengan mereka,dan Abi menyerahkan itu semua padamu,karena Abi yakin kamu sanggup." Abi menepuk bahu Al.
Merekapun pergi dan hanya tersisa Satria yang sejak tadi hanya menyimak.
" Siapa orang yang kamu maksud?" tanya Satria setelah memastikan Abi dan Bang Haikal pergi.
" Randy." jawab Al malas.
Satria berdesis,sambil menyunggingkan senyum sinis.
" Sudah ku duga,anak tengil itu memang benar benar licik."
" Ku fikir dia tulus membantuku,tapi ternyata ada maksud tersebulung di balik ini semua." Al nampak lelah ,ia mendaratkan bokongnya di kursi teras.
" Aku yakin anak itu tidak akan tinggal diam setelah kejadian ini."
" Aku tidak perduli." Al mengangkat bahunya.
Saat Al menjauh dari Alvi dulu,ia memang menyuruh Satria untuk mengawasi Alvi secara diam diam, maka dari itu ia tau apa yang di lakukan Alvi dan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis incarannya itu,ia pun tau siapa saja orang yang berusaha mendapatkannya,termasuk Randy.
*
*
*
Di tempat lain seorang pria nampak berbaring lemas di atas brankar berbalut perban di kedua matanya.
Meraung raung dan membanting semua yang bisa di raihnya.
" Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang,jika aku tidak bisa memilikinya ,maka tidak akan ada seorang pun yang bisa memilikinya juga,lihat saja aku akan membuatmu menyesal karena berani menyakitiku." racaunya.