My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 38



Setelah selesai menyantap hidangan penutup Al membaringkan tubuhnya di sebelah Alvi. ia merentangkan sebelah tangannya dan Alvi menggeser posisinya mendaratkan kepala di lengan suaminya.


Al masih mendekap istrinya dan sesekali menciumi kepalanya.


" Sayang.."


" Hmmm.."


" Apa kamu mencintai ku?"


" Sepertinya begitu,emang kenapa?" Alvi mendongakan kepala.


" Gak apa apa, aku cuma ingin mendengar kamu mengatakannya." ucap Al sambil mengelus kepala Alvi.


" My hubby,,ana uhibukka fillah." lirih Alvi sambil menatap lekat pada manik mata suaminya, menggerakan tangan yang sejak tadi melingkar di perut suaminya, meraba perut sixpack itu lalu naik ke dada bidang suaminya yang masih bertelanjang,dan berakhir pada leher Al.


" Sayang.."


" Hmmmm.."


" Sejak kapan kamu pandai menggoda?"


" Ini bukan menggoda,ini terjadi secara alamiyah,insting seorang istri yang ingin menyenangkan suaminya. Bukanya sebaik baik istri adalah yang bisa menyenangkan suami." jawab Alvi yang terus menggerayangi tubuh suaminya.


" Istri yang cerdas." ucap Al sambil mengeratkan dekapannya.


" Bi.."


" Hmmm.." Sahut Al yang sedang memejamkan mata,merespon sentuhan lembut dari tangan istrinya.


" Biii.." tariak Alvi tidak terima saat Al menyahut seperti itu.Padahal ia sendiri juga sering seperti itu.


" Iya sayang." Al membuka matanya dan menatap pada istrinya itu karena merasa terkejut.


" Apa kamu senang,jika aku seperti ini?"


"


Tentu saja,tapi cuma sama aku aja."


" Iya lah,kamu fikir aku wanita apaan,masa mau godain orang lain." gerutunya sambil membalikan badannya.


" Sayang,maksud ku bukan begitu,maaf aku cuma bercanda,aku berkata seperti itu refleks,inting seorang suami yang gak mau kehilangan istrinya." bujuknya sambil memeluk istrinya dari belakang. Lalu menciumi punggung istrinya itu.


" Geli ih.." ucap Alvi yang masih cemberut sambil menyikut Al. Namun Al malah terus menciuminya lagi dan lagi sambil sesekali memberi tanda merah di punggung dan leher nya.


" Bii..geli."


" Aku gak mau berenti sebelum kamu maafin aku."


" Ya udah aku maafin." Alvi pun kembali menghadapnya. Dan mereka pun saling berpelukan di bawah selimut yang mereka pakai.Panas dari terik mata hari di luar sana terkalahkan dengan panasnya hawa di kamar itu.


" Astagrifullah,aku lupa sesuatu." Al menepuk keningnya,dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi,meninggalkan Alvi yang masih berbaring.


" dia kenapa?" gumam Alvi .


Tidak lama Al pun keluar dari kamar mandi,dan langsung memakai pekaiannya lagi.


" Mau kemana Bi?"


" Nemuin Faiz sebentar." jawabnya dan langsung melenggang begitu saja.


" Biii..." teriak Alvi saat Al hendak memutar gagang pintu.


" Iya sayang.." Al pun berbalik dan menggelengkan kepala , tersenyum setelah melihat istrinya sudah memanyunkan bibirnya,ia menghampiri istrinya kembali dan mencium bibirnya.


" Menggemaskan sekali." ucapnya ,dan kembali menciumi seluruh wajah istrinya itu.


" Udah ya." Al pun keluar setelah mendapat izin dari istrinya.


Setelah sampai di ruang tamu Al mengerutkan keningnya, melihat Adiknya itu sudah terbaring di atas sofa sambil menutup mata dengan tangannya.


" Faiz..." Al menggoyangkan bahu adiknya.


" Iya bang,udah beres nyantap makanan penutupnya." jawab Faiz dengan dengan posisi yang sama.


" Kamu tau?" tanya Al terkejut.


" Tenang aja bang,Faiz pura pura gak denger kok."


" Bangun kamu." ucap Al sambil menepuk bahu Faiz,dan Faiz pun menurutinya.


" Sejak kapan kamu di sini?"


" Sejak tadi."


" Kenapa gak langsung manggil abang?"


" Takut ganggu."


" Ya udah lah,bagaimana si brengsek itu?" Al mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan sesuatu yang memang ingin ia bicarakan.


" Udah di serahkan ke polisi, kayaknya bakal dapat hukuman berat,karena kasus penculikan,pelecehan dan pembunuhan berencana."


" Pembunuhan berencana?"


" Iya,dia merencanakan untuk membunuh bang Satria,karena selalu menggagalkan rencananya."


" Terus gimana kabar Satria." Al terlihat panik saat mendengar kabar sahabat yang selalu membantunya untuk menjaga dan menolong istrinya,dan menggagalkan penculikan yang di alami Alvi beberapa minggu lalu.


Ia tahu betul kondisi terakhir saat ia mengubungi sahabatnya itu.


" Bang Satria masih di rumah sakit,dia mengalami luka cukup parah." jelas Faiz.


" Terus anak anak gimana, apa ada yang luka?"


" Ada ,tapi gak terlalu parah,cuma lebam lebam dikit."


" Udah di bawa ke rumah sakit?"


" Gak, cuma di obatin di asrama aja."


" Kamu sendiri gimana?"


" Seperti yang abang liat sekarang."


" Ya udah sepertinya kamu baik baik aja." ucapnya sambil menepuk bahu adiknya itu.


" Mata Faiz sadikit masalah bang." lirihnya.


" Kenapa?" Al penik seketika


" Abis liat adegan horor tadi di dapur."


" Adegan apa?" ucap Al yang sudah menjepit leher adiknya itu dengan lengannya.


" Hheeehee..Ampun bang jago." Faiz pun berlari setelah Al melepaskan lengannya.


Tidak lama Alvi keluar dengan hanya memakai handuk dan rambut yang masih basah, ia segera memakai baju dan mengeringkan rambutnya lalu keluar menyusul suaminya.


Saat di luar Alvi memicingkan mata menatap seseorang yang menghampirinya dengan mengendarai motor gedenya.


Alvi semakin mengerutkan keningnya menelisik siapa orang di balik helm itu,ia merasa pernah melihat sebelumnya. dan ia mengingat sosok laki laki yang pernah ia lihat di perapatan lampu merah dulu,tempat mereka pertama kali bertemu.


" Bii..?" ucap Alvi saat menyadari siapa orang tersebut,Al membuka helm nya dan tersenyum.


" Heyy,,cewek ikut abang yuk !!" goda Al sambil menyedipkan sebelah matanya.


" Diihh, genit." Alvi memutar bola matanya dan menggelengkan kapala.


" Ayo ikut."


" kemana?"


" Kencan."


Mendengar kata itu mata Alvi menjadi berbinar,ia memang belum pernah merasakan momen itu sebelumnya,jangan kan bisa kencan punya pacar aja belum pernah.


" Naik motor?"


" Iya sayang,biar kamu bisa peluk aku dari belakang,kan lebih romantis."


" Iya juga sih..tapi motornya kegedean,aku gak bisa naik,masih sakit." bisik Alvi sambil melirik pada bagian bawahnya.


" Naik motor matic mau gak?"


" Boleh." jawab Alvi dengan semangat.


Mau tidak mau Al membawa motor gadenya kembali ke garasi,dan mengambil motor matic.


Tidak lama Al kembali menjemput Alvi di depan rumahnya dengan mengendarai motor matic.Alvi menggulum bibirnya menahan tawa saat melihat suaminya yang bertubuh atletis memakai motor matic yang tidak pas dengan ukuran tubuhnya.


" Ayo naik,kenapa malah diam?"


" Kita pake motor yang gede aja Bi,kamu gak pantes pake motor itu,kaya gajah sirkus naik sepeda." ledek Alvi sambil terbahak sampai memegang perutnya.


Al mengeraskan rahangnya,giginya gemertak menahan kekesalan,karena tidak mau merusak suasana hati istrinya ia pun kembali membawa motor gedenya. Dan akhirnya mereka pun pergi bersama dengan berboncengan,Alvi melingkarkan tangannya di perut Al dan semakin mengeratkan pelukannya saat Al mulai melajukan motornya.


*


*


" Kita mau kamana?" tanya Alvi saat dalam perjalanan


" Kamu maunya kemana?"


" Aku sih maunya ke tempat yang sejuk dan sepi."


" Ke gunung?"


" Gak harus ke gunung juga kali." protes Alvi sambil memukul kecil punggung suaminya itu.


Al pun terkekeh.


*


*


*


Dan tidak lama mereka pun sampai di tempat yang sesuai dengan keinginan Alvi. Sebuah bukit dengan rumput hijau yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan, hembusan angin yang menerpa mereka,terasa begitu sejuk dan menenangkan pikiran. Alvi memang suka dengan hal berbau daun dan bunga,ia malah lebih senang di ajak ke kebun dari pada ke mall.


Alvi turun dari motor,merentangkan otot otot tangan nya sambil menyirup udara dalam dalam.


" Waahhh,,,bagus banget Bi." Alvi berlari ke tengah rerumputan dan langsung duduk di sana sambil merentangkan kakinya.


" Kamu suka?" tanya Al yang ikut duduk di sebelahnya. Dan langsung di jawab dengan anggukan kepala.


" Suka banget,aku gak nyangka ada tempat secantik ini di sini."


" Kamu belum pernah ke sini?"


Alvi hanya menggelengkan kepala.


" Padahal tempat ini gak jauh dari kampung kamu."


" Iya, tapi kamu tau sendiri kan Bapak ku kayak gimana?" tanya Alvi dengan lirih,Al pun meraih pundaknya.Dan membawanya dalam dekapannya.


" Iya ,aku tau,dan kalo aku jadi bapak aku bakal ngelakuin hal yang sama."


" Kenapa?"


" Karena kamu terlalu berharga untuk di biarkan bebas begitu saja, kamu lihat sendiri jangan kan masih gadis,sudah punya suami aja masih banyak yang mau, gimana kabarnya kalo dulu kamu di lepas begitu saja seperti wanita di luar sana." jelas Al,Alvi pun termenung.


" Tapi cara bapak jaga aku salah Bi,dia terlalu mengekang,aku gak bisa nerima itu."


" Tapi maksud bapak kan baik sayang." ucap Al sambil mengelus kepala itu.


" Iya deh, Bi aku udah lama gak menuin bapak sama ibu,kata Citra Mbak Siva lagi hamil muda,aku pengen ke sana."


" Iya, abis ini kita ke sana."


" Beneran?"


" Iya ."


" Makasih Bi." ucap Alvi sambil memeluk suaminya itu.


" Sama sama sayang."


" Bi.."


" Hmmmm.."


" Biiii...!!!"


" Iya sayang."


" Aku pengen ngelakuin hal yang belum pernah aku lakuin dulu."


" Apa?"


" Dulu aku sering dengar temen temen bilang kalo kencan itu seru,dan paling seru ketika curi curi cium." Alvi tersenyum mulai membayangkan apa yang temannya dulu ceritakan.


" Curi curi cium kaya gimana?"


Al mengerutkan keningnya,Alvi menengok ke kanan dan ke kiri semastikan tidak ada satu orang pun di sana.Dan Cup.. Alvi mengecup bibir Al sekilas.


" Kaya gitu Bi.." ucap Alvi sambil tertawa.


" Ada ada saja, untung kamu lakuin nya sama suami sendiri." Al menggelengkan kepalanya. Mereka pun tertawa bersama. Dan menghabiskan waktu bersama,setelah itu mereka berniat akan mengunjungi orang tua Alvi.


Terima kasih buat semua leader yang setia baca karya halu ku.tanpa mu apa jadinya aku, semoga kalian selalu di beri kesehatan,ingat selalu pesan ibu...ingat juga pesan thor like komen dan vote..🤗🤗🤗😘😘😘