My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 126



" Kamu gak berangkat ke toko?" tanya Satria ketika sarapan.


" Tidak." jawab Citra cepat.


" Kenapa?" Satria nampak mengerutkan kening,heran,karena biasanya Citra selalu bersemangat jika masalah toko.


" Tidak apa aku hanya sedikit tidak enak badan." ujar Citra nampak ragu.


" Kamu sakit?" Satria mulai panik,pria itu menempelkan punggung tangannya di kening Citra,memastikan suhu tubuhnya.


" Aku tidak sakit,hanya sedikit lemas saja." lirih Citra sambil menunduk malu,Satria pun tersenyum, ia baru faham akan maksud istrinya.


" Oh,,Maaf ya,karena aku kamu jadi gini." pria itu mengusap pipi Citra dengan menampakan wajah bersalahnya.


" Tidak apa apa." Citra tersenyum sambil menggenggam tangan Satria yang menempel di pipinya.


" Ya sudah kalau begitu,tapi maaf aku harus meninggalkan mu,aku harus ke pondok menemui Al,kamu tidak apa apakan tinggal di sini?" ucap Satria ragu.


" Tidak apa apa." Balas Citra dengan yakin.


" Ya sudah,aku pergi dulu,kamu istirahat saja,aku akan menyuruh bu Sukma menemani mu di sini." Satria mulai beranjak dari duduknya hendak mengambil kunci motor di dalam kamarnya.


" Hati hati." ucap Citra sambil mengantarnya ke depan rumah.


" Kamu istirahat ya,aku akan cepat pulang." Satria memeluk dan memberi kecupan di seluruh wajah istrinya sebelum pergi.


" Hmmm.." Citra memilih pasrah menerimanya,karena itu memang yang selama ini ia harapkan.


Raut wajah Citra nampak berubah saat memperhatikan punggung Satria yang semakin menjauh,seolah sebagian jiwanya hilang bersamaan dengan kepergian suaminya,ia menghembuskan nafas kasar, menetralkan perasaannya yang terasa hampa,Gadis itu kembali ke dalam dan membantu Bu Sukma yang tengah mencuci pakaian.


" Loh !! neng Citra,ibu kira ikut pergi." ujar Bu Sukma saat melihat istri tuannya itu tengah membersihkan dapur.


" Tidak Bu." ucap Citra lemas masih dengan langkah tertatih dan nampak tidak seperti biasanya,semua gerak geriknya tidak luput dari perhatian Bu Sukma,wanita paruh baya itu memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Sudah,biar ibu yang bersihkan,kayaknya neng Citra butuh istirahat." bi Sukma melarang Citra saat gadis itu hendak mencuci piring.


" Tidak apa apa Bu,mumpung lagi di rumah." tolak Citra lembut.


" Neng Citra di sini kan untuk istirahat,bukan untuk beres beres.Nanti ibu buatkan jamu,biar lebih seger,Nak Satria pasti sudah bikin neng Citra kelelahan."goda Bi Sukma,sambil berusaha merebut piring dalam genggaman Citra,Gadis itu menunduk malu,dan terpaksa harus mengalah ,ia kembali duduk di meja makan sambil memperhatikan punggung wanita paruh baya itu.


" Namanya pengantin baru memang seperti itu,tidak perlu malu dan sungkan,kita sama sama wanita,ibu juga sudah pernah mengalaminya." Bu Sukma terkekeh melirik Citra yang kini tengah menahan panas di pipinya karena malu.


"Iya Bu,Ibu di sini tinggal sama siapa?" tanya Citra basa basi dengan maksud mengalihkan pembahasan.


" Berdua sama Nizam,cucu ibu." balas bu Sukma.


" Terus suami dan anak ibu?" tanya Citra lagi,mulai penasaran dengan kehidupan orang yang selama ini pengabdi pada suaminya.


Bu Sukma tersenyum lirih,sambil merilik Citra yang berada di belakangnya,kemudian wanita paruh baya itu duduk berseberangan dengan Citra setelah selesai mencuci piring.


" Ibu mempunyai suami dan satu anak laki laki,tapi mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu,saat mereka bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit,suami ibu menjadi seorang supir truk pengangkut kepala sawit,dan anak ibu menjadi kondekturnya,entah lah ibupun tidak tau kejadian yang menyebabkan mereka kecelakaan saat hendak mengantar kepala sawit ke sebuah pabrik minyak,anak ibu meninggalkan seorang istri dan juga seorang putra yang kini sudah menginjak tujuh tahun." terang Bu Sukma,nampak raut sedih dari wajah tuanya.


" Lalu menantu ibu?"


" Dua bulan setelah kepergian suaminya,dia menitipkan anaknya, dan pamit pada ibu untuk mencari pekerjaan di kota,tapi sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali darinya,entahlah ibu sudah tidak punya lagi cara untuk mencari keberadaannya,namun yang jelas ibu masih selalu mendoakannya,dimanapun dia berada, semoga allah selalu melindunginya." Bu Sukma sempat menitikan air mata,namun ia langsung mengusapnya,Citra menggenggam tangan bu Sukma berusaha menenangkan.


" Ibu yang sabar,Maaf aku sudah membuat ibu sedih,dan membuat ibu mengingat kejadian yang mungkin sudah berusaha ibu lupakan." Citra merasa tidak enak,sepertinya gadis itu memulai pembahasan yang tidak tepat.


Citra beranjak,hendak mendekatkan diri pada bu Sukma lalu merangkulnya.


" Ibu tidak apa apa,ibu sudah menerima takdir ibu,hanya saja ibu kasihan pada Nizam,ibu takut jika umur ibu pendek,siapa yang akan menjaganya ." tangis bu Sukma akhirnya pecah.Seolah meluapkan semua keluhan dan kesedihan yang selama ini ia pendam sendiri di hadapan Citra.


Tanpa terasa setetes air bening menetes dari pelupuk matanya.Citra ikut merasakan apa yang bu Sukma rasakan,ia terus mendekap bu Sukma hingga sebuah teriakan terdengar dari balik pintu belakang.


" Nenek!!" suara anak kecil terdengar di ikuti oleh ketukan pintu.


" Itu pasti Nizam." bu Sukma mengusap air matanya,lalu beranjak hendak membuka pintu.


Citra ikut menghampiri,dan tersenyum saat melihat bocah kecil berumur tujuh tahun yang masih mengenakan seragam merah putih itu menatapnya heran.


" Nizam, ada apa?" tanya Bu Sukma.


" Tidak apa apa,Nizam hanya mau pamit pergi sekolah." bocah itu mengulurkan tangannya, hendak menyalami Neneknya sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.


" Nenek sudah bilang,tidak usah menemui nenek,nanti kamu kesiangan." ujar Bu Sukma sambil membalas uluran tangan kecil cucunya.


" Tapi Nizam harus mendapat do'a restu dulu dari nenek,agar Nizam bisa mendapat ilmu yang bermanfaat, dan menjadi anak pintar."


Bu Sukma terkekeh sambil mencubit gemas hidung Nizam.


" Tanpa kamu minta Nenek selalu mendoakan mu,ya sudah kamu berangkat ya,nanti telat." Bu Sukma mencium kedua pipi Nizam.


Nizam pun mengangguk sambil terus menatap pada Citra yang mungkin baru pertama kali ia lihat di tempat itu.


" Tunggu dulu!" Citra merogoh saku bajunya saat Nizam mulai melangkahkan kaki,ia lalu mengeluarkan selembar uang 20 ribuan.


" Buat jajannya." Citra menyerahkan uang tersebut pada Nizam,seketika bocah itu terdiam sambil melirik Bu Sukma.


"Aku tidak berhak menerimanya." tolak Nizam sambil menggelengkan kepala.


" Kenapa?" Citra mengerutkan kening,menatap heran pada bocah di depannya.


" Nenek selalu bilang untuk tidak mengemis pada siapapun."


" Kamu tidak mengemis,aku iklas memberimu,tidak baik menolak rizki." Citra masih kukuh dengan keras kepalanya, tanpa mau mengalah dari perdebatannya dengan bocah di depannya.


Hingga bocah kecil itu melirik kembali ke arah neneknya,kemudian menerima uang tersebut dari tangan Citra, setelah mendapat anggukan kepala dari Bu Sukma.


" Terima kasih bibi." Nizam kembali menampakan lubang pipinya yang terlihat sangat menggemaskan.


" Sama sama,belajar yang baik,agar kelak kamu bisa menjadi orang sukses." Citra membungkukkan badannya, mensejajarkan tubuhnya,lalu mengusap kepala Nizam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih buat kalian yang masih berharap kelanjutannya,jangan lupa juga dukungannya dengan kasih vote like dan komen...


Kisah Faiz sudah ada beberapa bab di lapak lain yang berjudul " I WILL NEVER LET'S TOU GO.",,silahkan mampir dan ramaikan..