My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 98



" Assalamualaikum." sapa Al saat masuk keruang laboratorium,lanjut menghampiri sahabatnya itu.


"Wa'alaikumsalam." balas Satria yang masih sibuk di balik meja laboratorium,pemeriksaan telah selesai,ia sudah mengantongi bukti bahwa makanan yang di bawa Fiona memang mengandung bahan berbahaya.


" Satria,apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Al heran.


" Aku sedang memeriksa sampel makanan yang di bawa wanita itu tadi,dan ternyata dugaanku benar,dia menaruh racun dalam rujak itu,untung saja aku melihatnya." Satria menunjukan hasil pemeriksaanya pada Al, sontak membuat Al terkejut hingga mengepalkan tangan dan mengebrak meja di hadapannya dengan kencang.


" Ini tidak bisa di biarkan,berani beraninya dia berbuat seperti itu untuk mencelakai istriku." geram Al.


" Sabar dulu,kita belum tau tujuannya apa,dan apa ada orang lain di balik ini semua." ucap Satria sambil menepuk bahu Al.


" Tapi aku tidak bisa diam saja,nyawa istriku terancam."


" Aku tau,tapi aku masih perlu banyak bukti untuk mencebloskannya kepenjara,urusan Alvi biar aku yang bertanggung jawab,aku sudah lama mengawasinya,jadi kamu tidak usah khawatir percayakan semuanya padaku." ucap Satria sungguh sungguh.


Al diam sejenak,nafasnya memburu tak beraturan,kemampuan Satria dalam menjaga dan mengawasi Alvi memang tidak bisa di ragukan,namun tetap saja ancaman di depan mata dan akan datang kapan saja tanpa di duga.


" Aaakkkhhh." Al meninju tembok dan mengusap rambutnya kasar,benar benar membuatnya frustasi.


" Bagaimana,apa tadi pemeriksaan di kepolisian lancar?" tanya Satria mencoba mencari topik lain.


" Lancar,aku tidak mengira jika Roby dan Frans akan datang untuk membelaku." jawab Al malas.


"Syukurlah ,Aku yang memberi tahunya tadi."


Satria mengajak Al untuk keluar dari ruang laboratorium,dan berjalan menuju sebuah bangku kecil di sisi taman.


Lalu merogoh kantung celana hendak mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.


Al menggeleng cepat ketika Satria menyodorkan sebungkus rokok padanya.


" Merokok dapat menyebabkan kanker,serangan jantung, impotensi,dan gangguan kehamilan dan jamin." seloroh Al,membuat Satria menyunggingkan sudut bibirnya.


" Hanya sekedar asap,namun mampu membuat orang lupa berbagai masalah,ada banyak hal sederhana di dunia ini yang sebenarnya mampu membuat kita melupakan sejenak tuntutan kehidupan." balas Satria.


Lagi lagi Al hanya menggelengkan kepala.


" Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu." Al mentap Satria dengan serius.


" Apa?" tanya Satria penasaran


" Aku sudah menemukan orang yang sudah mencalakai bapak." lirihnya.


" Lalu ,apa yang kamu lakukan?" tanya Satria lagi.


" Aku tidak melakukan apa apa,aku memang sempat geram dan ingin sekali memasukannya ke penjara,tapi setelah di fikir fikir aku merasa sedikit iba karena dia hanya orang suruhan yang bahkan tidak mengenal siapa yang menyuruhnya,dia melakukan itu semua hanya karena ingin menyelamatkan istrinya." jelasnya,dengan pasrah.


" Darimana kamu tau hal itu."Satria kini nampak menahan emosi,rahangnya mengeras serta wajah yang sudah memerah.


" Dia sendiri yang mengakuinya,dia meminta maaf sampai berlutut padaku."


" Kamu terlalu baik,apapun alasannya dia tetap salah." Satria sedikit meninggikan suaranya.Ia tidak habis fikir dengan sahabatnya itu yang seolah memaafkan begitu saja.


" Dia harus mendapat hukuman yang setimpal." tambahnya lagi.


" Tapi itu semua tidak cukup." bentak Satria,


Dia benar benar tidak terima dan ikut emosi,karena bagaimanapun bapak adalah salahsatu orang terdekat Citra,karena kepergian bapak lah yang membuat gadis yang selama ini ia lindungi secara diam diam itu harus menangis setiap malam.


" Lalu kita bagaimana sekarang?" Al benar benar frustasi dan nampak lelah karena masalah yang ia hadapi seharian ini.


" Besok kita datangi dia di rumahnya,jangan lupa bawa Alvi juga kesana."


" Kanapa harus membawa istriku?" lagi lagi Al bertanya seperti orang bodoh.


" Karena dia juga berhak mengetahui nya." sahut Satria gemas.


*


*


*


*


Sementara itu Alvi sedang berada di sebuah taman belakang rumah Umi,bersama Mbak Zahra dan juga Umi sambil memperhatikan baby Azzam yang kini mulai belajar berjalan,mereka tertawa bersama ketika melihat Azzam yang berkali kali terjatuh namun pantang untuk menyerah membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


" Azzam begitu bersemangat,Umi jadi ingat saat anak anak Umi masih kecil,sangat mirip dengannya." ucap Umi antusias.


" Iya aku masih bisa melihatnya sampai sekarang,dari mulai bang Haikal hingga Faiz,kerja keras mereka dalam meraih apa yang mereka inginkan memang tidak ada duanya." balas Mbak Zahra bangga.


" Apa lagi Al,dia selalu berbuat apa saja demi untuk mendapatkan apa yang dia mau,bahkan waktu kecil ia pernah menaiki pohon tinggi hanya untuk mengambil layangan, padahal Umi sudah membujuknya agar segera turun dan membeli yang baru,tapi dia tetap tidak mau,dan saat dia berhasil mengambilnya dia malah terjatuh dan layangannyapun robek." jelas Umi membuat Alvi tergelak,membayangkan betapa gemasnya suaminya dulu.


" Umi benar,bahkan dia memaksaku untuk menjebak Alvi,Maaf ya Al dulu mbak berbohong sama kamu." Mbak Zahra menggenggam tangan Alvi merasa tidak enak.


" Tidak apa apa Mbak,sebenarnya aku juga tau kalo itu hanya akal akalan dia,aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk memberi pelajaran padanya,tapi aku tidak menyangka jika akhirnya aku juga mencintainya,malah sekarang aku berterimakasih sama Mbak karena sudah menjebak ku." Avi terkekeh mengingat kejadian masa lalunya.


Dimana Mbak Zahra dan bang Haikal memohon padanya agar bersedia menerima Al,karena jika ia menolaknya mbak Zahra akan di pulangkan ke negaranya di Kairo.


Saat kejadian itu mbak Zahra berpura pura terkena hukuman karena mengajak orang asing masuk ke area pondok pesantren tanpa seizin Abi selaku pemilik.Dan karena Alvi telah lancang memasuki area asrama putra.


" Aku mohon padamu tolong bantu aku,aku sedang mengandung,aku tidak mau di pulangkan dengan keadaan seperti ini,apa kamu tega memisahkan ayah dengan anak yang bahkan belum lahir ini?" ucap Mbak Zahra sambil terisak saat itu.


" Terimalah adik ku,maka kami akan terlepas dari hukuman itu,nasib rumah tangga kami ada padamu sekarang." tambah bang Haikal.


Yang membuat Alvi dengan terpaksa menyetujui pernikahannya dengan Al.


" Jika di fikir fikir memang tidak masuk akal." mbak Zahra terkekeh mengingat kembali kejadian itu.


" Tapi aku salut pada Mbak Zahra,aktingnya sungguh luar biasa sepertinya layak untuk di beri penghargaan." balas Alvi,mereka pun terkekeh bersama.


Hingga tak terasa hari sudah mulai petang,terpaksa mereka pun harus pamit pada Umi.


" Sering sering main kasini,biar gak bosen,jalan jalan sebentar agar kakimu tidak bengkak." pesan umi untuk Alvi ketika mengantar kedua menantunya itu sampai ke teras .


" Iya mi." balas Alvi seraya mengangguk.


Alvipun pamit setelah Al menghampirinya untuk mengajaknya pulang.