My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 106



Keesokan harinya,Alvi dan kedua bayinya sudah di perbolehkan untuk pulang,seminggu berada di rumah sakit rasanya sangat membosankan.


Duo Al itupun pulang di temani kedua ibunya,Citra juga Satria yang masing masing memiliki tugas.


Ibu dan Umi mengendong Shafa dan Marwah,sedangkan Citra membantu membawakan pakaian sementara Al membantu memapah istrinya,dan Satria yang menjadi supir.


Kehadiran mereka di sambut dengan suka cita oleh keluarga juga para santri dan anak anak panti,mereka berebut untuk saling menyalami serta mengambil kesempatan melihat dua bayi itu.


Setelah sampai di pekarangan rumah Umi,Mbak Zahra serta suaminya menyambut mereka dengan girang,begitu juga Abi.


" Akhirnya kalian datang juga!!" ujar Abi seraya menyalami semua orang dan memeluk Al dengan sangat erat.


" Selamat,pembullyan ini berakhir sampai di sini,kamu berhasil menunjukkan bahwa kamu bisa menghamili kambing betina mu,hingga melahirkan dua anak bayi sekaligus." Bisik Abi di telinga sang anak.Membuat Al gelagapan ia melirik semua orang di sana,berharap mereka tidak mendengar apa yang di ucapkan Abi.


" Masuk yuk,aku dan Bu Marni sudah menyiapkan makanan yang banyak." ajak Mbak Zahra.


Sebelum Bu Marni datang untuk menyiapkan makanan,,mbak Zahra menyiapkan minuman untuk mereka terlebih dulu,baby Azzam yang berada dalam gendongan ayahnya tertawa girang menampakan gusinya kala mendapat candaan dari Citra,bayi itu sangat tampan dengan hidung mancung dan mata bulatnya serta bulu mata yang tebal dan lentik, hingga Citra beberapa kali mencium dan mencubitnya dengan gemas.


Namun tiba tiba bayi itu mendadak rewel dan menangis saat Satria duduk di sebelahnya,Nampak Baby Azzam sangat ketakutan.


" Heii,,lihat anakku tidak nyaman berada di dekatmu."Bang Haikal menyenggol pria kaku itu dengan lututnya,sontak Satria melirik bayi itu, dan benar saja Azzam langsung menangis histeris sambil memalingkan wajahnya.


Satria tersenyum sinis,lalu beranjak dan berpindah tempat.


Saat itu juga Baby Azzam mulai tenang namun matanya masih tertuju pada Satria,Satria yang menyadari tatapan dari bayi itu langsung membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam,iapun berniat untuk kembali menakutinya dengan dua jari telunjuk yang seolah di colokan kematanya,setelahnya itu di arahkan juga ke mata bayi itu.Membuat Azzam histeris kembali.


" Yang benar saja,kamu menantang anak ku?" ledek Bang Haikal.


" Lihat saja,cucuku ini masih kecil saja sudah pandai mencuri perhatian dari lawas jenis." tambah Abi dengan bangga,sambil mengambil baby Azzam dari tangan Bang Haikal.


" Kamu harus segera mencari pendamping,sebelum Azzam tumbuh besar dan mengalahkan pesonamu." bang Haikal tak hentinya memojokan Satria.


Namun Satria tetap tenang,ia hanya tersenyum miring tanpa membalas ucapan dari bang Haikal.


" Iya Satria,sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu,menikah adalah ibadah paling lama,hidupmu akan lebih sempurna jika di dampingi seorang istri." sahut Umi.


" Maaf Umi,aku bukan tidak mau menikah,hanya saja aku tidak ingin mengecewakan para gadis yang mengagumiku,jika aku melabuhkan hati pada satu gadis,otomatis gadis yang lainya akan kecewa bukan?" balas Satria dengan percaya diri,membela dirinya.Citra yang mendengarnya pun langsung mencebikkan bibirnya lalu memutar bola matanya jengah.


Sementara dua Al tidak tertarik dengan obrolan itu,mereka masih asyik dengan dunia barunya,memperhatikan Shafa dan Marwah yang masih setia menutup matanya di dalam stroller,bayi kembar itu seolah tidak terganggu dengan suara bising di sekitarnya.


Hingga Bi Marni datang dengan membawa beberapa piring besar di tangannya,Ibu yang sedang menegak minuman langsung tersedak lalu dengan tidak sengaja ia menjatuhkan gelas yang di genggamnya hingga terpecah.


" Marni?" ucap Ibu dengan mimik wajah tak percaya.


Bi Marni yang merasa namanya terpanggil sontak melirik ke arah suara,dan saat itu juga ia menjatuhkan piring yang di bawanya.


" Mbak Ahmad?" balasnya.


" Kamu bener Marni kan?" Ibu beranjak lalu menghampirinya,dan langsung memeluk Iparnya itu dengan erat.


" Kamu kemana saja,kami menunggumu selama ini,lihat anakmu kini sudah tumbuh besar." ibu menunjuk Citra lalu mengguncang pundak wanita paruh baya itu untuk meminta jawaban,namun Bi Marni hanya menutup mulut sambil terisak.


" Ada apa Ini? tanya Abi,dan semua orangpun menghampiri mereka.


"Marni ini adik ipar dari almarhum Bapak,dia ibunya Citra, Citra lihat ini ! dia wanita yang selama ini kamu rindukan." ujar Ibu seraya mengajak Citra untuk mendekat,namun Citra menolak,ia malah melepaskan tangannya dari genggaman ibu


" Lihat Nak,ini ibumu,ternyata dia masih hidup,kamu senang kan?" ajak Ibu sambil berkaca kaca.


" Tidak Bu,dia bukan Ibuku." tolak Citra sambil menggelengkan kepalanya.


" Bukan Bu, Bi Marni sudah lama tinggal di sini?Jika dia benar ibuku dia pasti menemuiku sejak dulu." ujar Citra


Ibu kembali menatap Bi Marni.


" Marni kenapa kamu tidak pernah menemui kami semenjak kamu pergi dengan alasan untuk menjadi TKW keluar negeri?aku fikir kamu memang ke sana,tapi ternyata kamu di sini."


" Maaf ,aku memang sempat pergi ke Qairo untuk menjadi TKW,tapi aku selalu mendapat prilaku tidak baik dari majikanku,aku burusaha untuk kabur dari sana,dan akhirnya aku bertemu dengan keluarga Umi dan mereka membawa ku kesini." jelas Bi Marni.


" Lalu kenapa kamu tidak pernah menemui kami?" tanya Ibu,namun Bi Marni tidak menjawab ia hanya menunduk tidak sanggup mengangkat wajahnya,sampai ibu berteriak.


" Jawab Marni!!"


" Maafkan aku,aku tidak bisa menemui kalian,karena aku sudah merasa nyaman tinggal di sini." terang Bi Marni.


" Tidak mungkin hanya karena alasan itu Bi Marni sampai lupa dengan anak sendiri,apa ada sesuatu yang membuat Bi Marni sama sekali tidak pernah menemui Citra?" kali ini Bang Haikal membuka suaranya.


" Aku sudah sering bertanya pada Bi Marni tentang keluarganya,tapi dia bilang sudah tidak punya siapa siapa,jika kenyataanya seperti ini,Kami tidak akan menerima Bi Marni lagi di sini,sebaiknya Bi Marni kembali ke rumah dan temani Citra." tambah Abi.


" Tidak,dia lebih nyaman tinggal di sini di banding tinggal denganku bukan? dia tidak menginginkanku,dia sama sekali tidak pernah memikirkan ku." Citra berusaha menolak kenyataan.


" Bi Marni coba jelaskan pada kami,kenapa Bi Marni bersikap seolah tidak perduli pada Citra,itu sama saja dengan mendzolimi anak sendiri." desak Al.


Membuat Bi Marni kembali terisak,dan akhirnya iapun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Aku tinggal di sini karena Faiz,aku merasa berdosa padanya karena aku telah membuangnya di tempat ini,selama ini aku selalu di hantui rasa bersalah,hingga aku memutuskan untuk tinggal di sini dan menyakinkan bahwa Faiz akan hidup dengan baik di sini." jelas Bi Marni.


" Apa hubungannya dengan Faiz?" tanya Umi dengan kesal.


" Dia anak ku,karena kesalahanku yang terlena dan terlalu percaya dengan ucapan seorang pria ,sehingga aku mau menyerahkan kesucian ku,dan pada akhirnya aku mengandung,tapi pria itu tidak mau bertanggung jawab, aku terpaksa membuang Faiz di sini karena keluargaku tidak menginginkannya, dia lahir sebelum aku bertemu dengan Ayah Citra." jelas Bi Marni panjang lebar,membuat semua orang terkejut,Umi sempat tersentak,tubuhnya limbung ,dan untungnya Al dengan sigap meraih tubuh Umi lalu membawanya duduk di sofa.


" Tidak mungkin." lirih Umi,rahasia yang selama ini keluarga itu sembunyikan kini terungkap,bahkan Umi tidak pernah mengingat kejadian itu,ia sudah sangat menyayangi Faiz seperti anaknya sendiri.


" Ini tidak mungkin, Faiz itu anak ku!!" bentak Umi masih mencoba menyangkal.


" Ini memang tidak mungkin,aku tidak mau mempunyai ibu macam dia,dia bukan hanya menelantarkan ku,tapi dia juga tega membuang bayinya ." Citra mundur beberapa langkah dengan dada yang terlihat kembang kempis menahan emosi.


" Citra jangan seperti itu,dia ibumu,tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu." tegur Ibu.


" Ibu macam apa dia?dia bahkan tidak pernah mendidik ku untuk menjadi anak yang baik,lalu aku harus bersikap seperti apa padanya?dia tidak pantas mendapat perlakuan baik dariku." teriak Citra ,setelah itu dia pergi melarikan diri entah kemana,Alvi berusaha mencegahnya,namun kondisinya sekarang sangat tidak memungkinkan untuknya bisa mengejar Citra.


Dan dengan terpaksa ia hanya berdiri dengan perasaan yang tidak tenang.


" Bi tolong kejar Citra!!" minta Alvi pada suaminya.


" Biarkan dia pergi,mungkin dia butuh waktu untuk menyendiri,aku akan menyuruh Satria untuk memastikan bahwa Citra akan baik baik saja." balas Al.


Perasaanya menjadi hancur saat mengetahui bahwa Citra dan Faiz bersaudara,ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan adiknya nanti kala mengetahui kenyataan ini,namun ia masih berfikir positif,kali ini ia mengizinkan Satria untuk mendekati gadis malang itu, jika Faiz tidak bisa memiliki Citra,setidaknya Citra bisa berlabuh di hati Satria,karena Satria dan Faiz memiliki posisi yang sama di hati Al,mereka berdua salahsatu orang terpenting di hidupnya,dia yakin Citra gadis yang tepat untuk Satria.


******


***terimakasih banyak Thor ucapkan untuk kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita dua Al.


Maaf kalo harapan kalian untuk menjodohkan Citra dan Faiz tidak terkabul,karena kenyataan yang Thor juga tidak tahu ,kenapa bisa seperti ini??😭


Tapi Thor berharap vote like dan komen yang banyak, biar Thor kasih Faiz jodoh yang tepat...😁😁***