
Sementara itu Faiz dengan cekatan membantu Citra dari mulai menata kue dan roti ke etalase,sampai mengantar pesanan, tentu saja ia melakukan dengan tidak cuma cuma,ada maksud tertentu di balik semua yang di lakukannya.
Ia benar benar manaruh perasaan kepada gadis yang bernasib sama dengannya,namun sampai saat ini ia belum mengetahui yang sebenarnya,gadis yang tidak pernah mengeluh dan selalu terlihat ceria,sudah berhasil memikat hati nya.
ia pun berharap bisa mendapatkan nya.
Namun untuk saat ini masih tidak ada respon sama sekali dari gadis itu,ia masih menganggapnya hanya sebatas teman.
" Faiz,Lu udah kerja keras,gue jadi gak enak." ucap Citra sambil menyerah kan sebotol minuman pada Faiz yang baru pulang mengantar pesanan.
" Terimakasih,gak apa apa gue gak keberatan kok." ujar Faiz sambil menerima minuman yang Citra beri dengan senang hati.
" Kenapa Lu gak mau di bayar sih,padahal Lu kan sama sama kerja di sini." Citra memicingkan mata seolah merajuk. Faiz hanya terkekeh.
" Gue bukan karyawan lu,gue cuma pengen bantu lu biar kerjaan lu gak terlalu berat,dan kerjaan lu cepet kelar, jadi gue bisa ngabisin waktu lebih lama sama Lu." ucap Faiz dengan jujur.
" Emang Lu gak bosen ketemu gue tiap hari,gue kan berisik,bawel, cerewet gak mau diem,pecicilan." sahut Citra dengan gaya bicara yang terlihat sangat mengemaskan.
Faiz kembali terkekeh sambil mencubit pipi Citra dengan gemas.
" Gue gak pernah bosen ketemu sama Lu,gue malah suka sama lu yang cerewet.
" Ya ya ya,,kalo gitu gue tlaktir makan siang aja,mau yah,gak boleh nolak."
" Ok,tapi abis makan gue mau ngajak lu ke rumah sakit,mau yah gak boleh nolak."
balas Faiz.
" Emang kenapa? Lu sakit?"
" Gue mau jemput temen Bang Al, dia baru keluar dari rumah sakit."
" Gak mau ah,entar di sono cowok semua dong?"
" Gue mau nyuruh bang Al ajak Alvi juga,kalo Alvi ikut,lu juga ikut yah?" bujuk Al.
" Ya udah kalo gitu, kebetulan gue udah lama gak ketemu Alvi,Bang Al benar benar rebut dia dari gue." lirih Citra dengan mimik wajah sedihnya. Faiz pun kembali tertawa di buatnya.
Setelah jam makan siang tiba,mereka berdua pun pergi meninggalkan toko hendak makan siang bersama.
*
*
*
Di tempat lain dua makhluk bucin masih menggulung diri di balik selimut yang sama,dengan tubuh yang sama sama polos tanpa sehelai benang.
Alvi dengan posesifnya melingkarkan tangan di tubuh unta arabnya dan membenamkan wajahnya di dada sang suami. dengan menggunakan lengan Al sebagai bantalnya.
" Bi,aku udah kasih kamu menu penutup,sekarang jawab pertanyaan ku tadi." ucap Alvi sambil mengangkat wajahnya, menatap wajah sang suami yang semakin hari semakin terlihat tampan.
Al menarik nafas dalam dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang mungkin saja bisa membuat wanitanya kecewa.
Sebelum memberi menu penutup Alvi menanyakan apa makanan yang selalu ia buat untuknya tidak enak?
Pertanyaan sederhana namun terlalu sulit untuk di jawab.
mengingat konsikuensi yang akan di terimanya,jika ia berkata jujur istri nya pasti kecewa dan jika berbohong tetap saja Alvi akan kecewa dan tentunya akan marah juga.
Al pun hanya terdiam ,matanya menatap ke langit langit,mencari kata kata yang pas untuk di ucapkan agar tidak membuat istri kaku nya itu murka.
" Bi,aku tanya kenapa malah diem aja?" Alvi sudah menampakan wajah garangnya.
" Iya sayang,masakan kamu enak,tapi kamu masih harus banyak belajar." ucap Al dengan hati hati.
" Jadi masakan ku gak enak?"
" Bukan gak enak,tapi kamu masih harus banyak belajar,biar masakan mu lebih enak."
" Itu tandanya masakan ku gak enak." sahut Alvi sedikit meninggikan nada suaranya.
" Iya masakan kamu gak enak." ucap Al sambil beranjak dan berlari menuju kamar mandi,menghindari apapun yang akan di lakukan Alvi padanya.
" Tadi bilangnya enak,sekarang gak enak." teriak Alvi sambil melempar bantal ke arahnya.
Al menutup pintu kamar mandi dengan cepat,nafasnya masih memburu tak beraturan.
" Aduhh dasar bodoh.kenapa aku malah ngomong gitu sih." gumam Al dalam hati,ia merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu Alvi masih setia di posisinya,sampai panggilan dari ponsel suaminya membuyarkan lamunannya.
Ia meraih ponsel yang terletak di atas nakas tak jauh darinya,lalu dengan cepat mengangkat panggilannya setelah memastikan siapa yang menghubungi.
"Assalamualaikum."
" Wa'alaikumsalam,Alvi?"
" Iya ini aku,ada perlu apa?"
" Aku ada perlu sama bang Al."
" Dia lagi di kamar mandi."
" Ya sudah,kalo bang Al udah keluar,bilang telpon balik ke sini."
" Ya udah."
Mereka pun menutup panggilannya secara persamaan.
Tidak lama Al keluar dengan ragu ragu,ia menatap Alvi yang sama sekali tidak menghiraukannya.
" Yank kamu marah yah?" tanya Al ketika gadis itu beranjak dan langsung berjalan munuju kamar mandi.
" Tadi Faiz nelpon,katanya suruh telpon balik." ujar Alvi yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai memakai pakaian,Al langsung menelpon Faiz sesuai yang di ucapkan istrinya tadi.
Al pun mengakhiri panggilannya bersamaan dengan keluarnya Alvi dari kamar mandi. Alvi masih saja diam.Ia seolah tidak melihat siapapun di sana.
" Yank kamu mau ikut gak?"
" Gak." ucap Alvi sebelum mendengar ucapan Al selanjutnya.
" Yank,,Citra di rumah sakit,dia pengen ketemu kamu."
" Citra kenapa?" tanya Alvi dengan menampakan wajah khawatirnya.
" Yank,dengerin aku dulu,aku belum selesai ngomong." ucap Al sambil meraup kedua pipi istrinya dengan gemas.
" Ya udah kamu mau ngomong apa?"
" Citra sama Faiz lagi di rumah sakit,jemput Satria,kamu mau ikut gak?"
" Iya aku ikut,ngomong dong dari tadi." sahut Alvi masih dengan nada jutek nya,Al hanya menarik nafasnya dengan kasar.
" Wanita memang sangat unik." lirihnya.sambil merebahkan dirinya di sofa menunggu sang istri memakai pakaiannya.
*
*
*
***Makasih guys,,sudah setia ikutin ceritanya,jangan lupa like komen dan votenya.
Tolong ya jgn membuyarkan kehaluan Thor dengan mengatakan " masa di pesantren ada pelakor?"
Hello ,,Asal Kelian tau ya, pelakor ada di mana mana***.