My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 113



Akhirnya semua berjalan dengan lancar,para tamu undangan satu persatu meninggalkan acara.Alvi pamit untuk pulang lebih duluke rumahnya untuk menidurkan si kembar,begitu juga Citra yang ikut denganya hendak mengganti pakaian.


Dan kini hanya tinggal Satria dan Al juga para keluarga lainnya,mereka berbincang ringan hingga sebuah mobil mewah memasuki pondok pesantren itu. tidak lama beberapa orang keluar dari mobil tersebut,ternyata para sahabat yang sempat menolak untuk menolongnyapun hadir.


Satria melebarkan matanya merasa ada sesuatu yang janggal.


" Sepertinya ada yang tidak beres." Satria menatap curiga pada Al,namun ayah dua anak itu langsung mengangkat tangan sambil mangangat bahunya seolah tidak tau apa apa.


" Selamat,akhirnya kamu bisa melepas gelar bujang lapuk mu." ucap para sahabat.


" Aku tidak merasa bangga dengan hal ini." sahut Satria kembali ke mode singa.


" Jangan seperti itu,kamu akan mendapat imbalan yang setinpal atas perbuatanmu sekarang."


" Maksud mu apa?" Satria mengeryitkan dahinya.


" Kamu belum pernah memasukan burung unta mu ke sarangnya kan? tanya Roby.Satria semakin tidak mengerti apa yang di bicarakan sahabatnya itu.


" Aku yakin burung unta mu akan merasa lebih nyaman jika mempunyai sarang."tambahnya.


" Jangan macam macam,aku akan memberi kalian pelajaran sebelum kalian melakukan itu padaku."ancam Satria sambil metanap tajam pada semua sahabatnya.


" Memang apa yang kami lakukan?" tanya Al.


" Aku tau kelakuan konyol kalian." Satria masih mengira jika sahabatnya itu akan mengerjainya.Mungkin mereka akan memberi hadiah berupa seekor burung unta fikirnya.


Hingga membuat semua sahabatnya terkekeh karena keluguannya,gelak tawa mereka terdengar sampai ke kediaman Alvi.Membuat dua wanita itu penasaran dan mengintip dari balik jendela.


" Mereka siapa?" tanya Citra.


" Mungkin temannya Bang Satria." sahut Alvi cuek.


"Hmmm,,mereka terlihat ramah,tapi lihat pengantin pria itu,dia sama sekali tidak menunjukan kebahagiaannya." tunjuk Citra pada pria yang sekarang telah menjadi suaminya.


" Dia cuma butuh waktu,aku yakin suatu saat nanti kalian akan saling mencintai." ujar Alvi.


" Gue gak yakin,mungkin gue terlalu cepat mengambil keputusan." Raut wajah Citra berubah sendu.


" Mulai sekarang Lu harus bisa mengambil hati bang Satria,jadilah istri yang baik,jangan pernah melakukan apa yang bang Satria tidak suka,dan jangan terlalu banyak melarang,biarkan dia melakukan apapun yang dia suka,selama masih dalam hal yang benar." Alvi memberi sedikit wejangan sesuai pengalamannya.


" Hmmm,,ya gue ngerti."


Mereka berdua kembali ke kamar,lalu merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur.


Sementara para pria masih asyik menggoda Satria,walaupun pria itu selalu menunjukan wajah sangarnya ,namun tidak membuat para sahabatnya itu gentar.


" Jika kamu ingin segera melihat sarang burung unta,Sekarang kamu pulang ,jangan lupa bawa istri mu."


" Ya aku memang akan pulang,otak ku bisa tidak beres jika terlalu lama bicara dengan kalian." tanpa basi basi lagi pria itu langsung melangkahkan kakinya begitu saja hendak menemui sang istri.Al mengikutinya dari belakang.


" Waahhh,,dia benar benar tidak sabaran." seru Roby.


Setelah sampai di teras rumah Al langsung membukakan pintu,Satria langsung menerobos masuk sebelum di persilahkan.


" Sepertinya mereka sudah tidur." ucap Al sambil membuka pintu kamar,dan benar saja kedua wanita itu sudah sama sama terlelap.


Al mengusap lembut pipi istrinya dengan jemarinya,ia menyeringai melirik Satria yang masih mematung di ambang pintu.


Seolah memberi contoh cara untuk membangunkan seorang istri yang tertidur.


" Wanita itu butuh kelembutan." ujar Al.


" Sayang !!!" bisik Al di telinga Alvi.


" Sayang!!" tarikan nafasnya terasa hangat di telinga Alvi sampai ibu muda itu perlahan mengerjapkan matanya.


" Ada apa Bi?" tanya Alvi, saat membuka mata ia melihat Al yang berada dekat di wajahnya.


Ibu muda itu tersenyum,tanpa di duga ia menarik tengkuk sang suami hingga semakin mendekat hingga bibir mereka menempel sempurna,tanpa menyadari satu pasang mata memperhatikan kelakuan mereka.


Satria memutar bola matanya jengah,ia mendesah sambil mengusap wajahnya kasar.


Alvi langsung melepaskan pangutannya saat menyadari keberadaannya.


" Bang Satria sejak kapan di sini?" tanya Alvi gelagapan,ia langsung beranjak dari tidurnya.


" Sejak kamu tidur." jawab Satria cuek.


" Jadi bang Satria melihatnya?" tanya Alvi kaget.


Namun Satria tidak menjawab.


" Harap di maklum ya Bang,suami istri memang sewajarnya seperti ini,bang Satria juga nanti akan mengalaminya." ucap Alvi.


Membuat Satria kembali memutar bola matanya.


"Kelakuan Suami istri ini tidak ada bedanya." gumamnya dalam hati.


" Bangunkan dia!" titah Satria sambil menunjuk ke arah Citra yang masih terlelap.


" Dia siapa?" tanya Alvi pura pura tidak tau.


" Dia." ucap Satria dengan wajah yang sudah nampak menahan emosi.


" Hmmm,,maaf bangunkan sendiri saja,aku harus membuatkan susu untuk si kembar." Alvi langsung keluar dari kamar itu sambil menarik tangan suaminya.


"Membuatkan susu untuk si kembar,apa memberi susu untuk ayahnya." lirih Satria sambil melirik ke arah box bayi, nampak bayi kembar itu masih terlelap dan tidak membutuhkan susu


Satria beberapa kali menggoyangkan tubuh Citra,berharap gadis itu segera membuka matanya,namun ternyata sulit juga,gadis itu malah sama sekali tidak bergerak.


" Hei bangun,kamu tidur apa pingsan?" tanya Satria.


" Apa dia pingsan karena kelelahan?" gumamnya dalam hati hingga terlintas pikiran untuk memberinya nafas buatan.


Satria mulai mendekatkan wajahnya,jarak mulai terkikis sedikit demi sedikit,namun akal sehatnya mulai tersadar,ia mengangkat kembali wajahnya.


" Masih ada cara lain,kenapa aku harus menciumnya,jika dia bangun dan melihatku menciumnya,harga diriku akan hancurnya." gumamnya lagi.


Perlahan gadis itu pun mengerjapkan matanya,Satria langsung menarik tangannya kembali.


" Hei,,ayo bangun." ajak Satria sambil mengguncang tubuh Citra.


" Hhhhmmmm..." Citra menyahut,sedikit demi sedikit ia membuka matanya mengumpulkan nyawanya terlebih dulu.


" Cepat,aku mau pulang,kamu mau ikut tidak." Satria beranjak keluar dari kamar itu.


Citra langsung turun dari tempat tidur dan mengekornua dari belakang.


Dan ternyata di luar teras sudah ada Roby dan kawan kawan,


"mereka masih belum pulang juga." gumamnya.


Karena lelah iapun memutuskan untuk pulang lebih dulu,tidak lupa untuk mengajak istrinya ikut serta bersamanya.


" Jangan lupa untuk memasukan burung untamu." teriak Al.


" Aku tidak suka burung unta." sahut Satria sambil menyalakan motor miliknya.


" Ya karena burung unta mu jelek dan keriput." ledek Roby,membuat gelak tawa mereka kembali terdengar.


...****************...


Setelah sampai di depan pondok milik Satria,penganti baru itupun langsung masuk.


Satria memasuki kamarnya di ikuti Citra.


" Aku merasa terjebak." ucap Satria sambil menatap tajam ke arah istrinya.


" Maksud mu apa?" tanya Citra


" Apa kalian sengaja bersekongkol melakukan ini semua untuk mengerjaiku?"


" Maksud mu apa? jangan berfikir aku akan melakukan itu,walaupun aku menyukaimu aku tidak mungkin berbuat licik seperti itu,aku jiga ikut menjadi korban jika benar ini semua sebuah jebakan." balas Citra tak terima.


" Ya sudah,nasi sudah menjadi bubur,aku tidak mungkin mempermainkan ijab kabul yang sudah aku ucapkan." Satria menyeringai dengan tatapan yang sulit di fahami.


Ia lalu membuka kancing kemejanya satu persatu hingga menampilkan otot otot perutnya.


" Jangan macam macam,aku tau kamu hanya ingin mengerjaiku." ucap sambil mendaratkan bokongnya di tepi ranjang,gadis itu masih nampak santai.


Namun Satria masih terus menggodanya,ia berjalan mendekati Citra sambil melucuti semua pakaiannya,hingga menyisakan celana pendeknya.


" Apa yang kamu lakukan?" teriak Citra sambil menutup matanya.


" Kamu serius tidak menginginkannya." goda Satria.Yang langsung di jawab cepat dengan gelengan kepala.


Gadis itu mundur beberapa langkah menghindari Satria saat pria itu semakin mendekatinya.


Karena tidak hati hati kaki gadis itu tersangkut dan terjengkang ke belakang hingga kepalanya terbentur keras ke sudut meja.


Bersamaan dengan itu ponsel milik Satria berdering,pria itu langsung mengangkatnya,tanpa memastikan siapa yang menelponnya selarut itu.


Satria langsung melempar ponselnya ke sembarang arah saat melihat Citra meringis menahan nyeri di belakang kepalanya.


" Berdarah!!" seru Satria panik ,saat ia melihat cairan berwarna merah keluar dari balik jilbab yang Citra pakai.


Ia lalu membuka jilbab itu dengan kasar.


Ia langsung membelikan tubuh gadis itu,dan mulai menyibak rambut lebatnya.


Citra terdengar mengaduh.


"Ssssttt...pelan pelan."


" Jorok sekali,kenapa kamu menjilatnya?" tanya Citra ,karena refleks pria itu menjilat luka yang terdapat di belakang kepala Citra.


" Katanya jilatan bisa menyembuhkan luka." jawab Satria.


Citra kembali meringis saat pria itu membantunya mengusapkan obat pada lukanya.


" Akkhhh,,,pelan pelan,jangan terlalu di teken."


" Tahan sebentar,ini tidak akan lama."


" Tapi ini sakit,apa darahnya masih keluar?" rintihan Citra terdengar seakan sebuah *******,yang mengakibatkan kesalahpahaman bagi orang yang masih berada di dalam sambungan telpon.


" Ya,Darahnya masih keluar,kau diam saja jangan banyak bergerak.aku akan lebih hati hati mengusapnya."


" robek,sepertinya perlu di jahit."


" Tidak mau." teriak Citra.


" Aauuuhhhh,,,aaakkkhhhh,,sakit."


" Sudah diam!! tahan sedikit,sebentar lagi selesai."


Karena merasa lelah Satria menghembuskan nafasnya hingga menimbulkan sebuah di *******.


" Sudah selesai." ucap Satria saat berhasil memasang perban pada lukanya.


Semua orang yang masih berada di sambungan telepon,semakin menajamkan indra pendengarannya,bahkan mereka sengaja mengencangkan volumenya.


" Dia gercep juga sampai merobek sarang burung untanya,dia pasti mengeluarkan semua tenaganya,aku jadi kasian pada istrinya." lirih Roby saat mendengar rintihan dan ******* yang keluar dari mulut Citra di sambungan telepon.


" Tapi dia bodoh juga,mana bisa luka robek akibat amukan burung untanya bisa di jahit." Frans terkekeh seraya membayangkannya.


"Aku jadi kangen istriku." ujar Roby


" Aku juga." balas balas Frans.


" Kalian masih beruntung,sedangkan aku masih harus berpuasa." sahut Al.


Mereka semua menjadi saksi malam pertama Satria dan Citra.