My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
24



Hari mulai gelap, aktifitas dari dalam toko tersebut seperti tidak ada lelahnya, masih terlihat sibuk dan sangat ramai, Alvi sibuk dengan telponya yang tidak berhenti berbunyi menandakan banyaknya pesanan, bahkan ia harus mengutus satu karyawannya lagi untuk menjadi kurir yang bisa membantu Citra,banyak juga yang berkunjung langsung ke sana hanya untuk memilih kue pavorit mereka.


" Apa kamu lelah?" seorang pria menghampirinya sambil meletakan satu botol air mineral di atas meja kerja Alvi.


" Kenapa kamu masih di sini?" ucap gadis cantik itu dengan wajah datarnya.


" Bukanya kita mau ke rumah sakit."


" Hmmmm.."


Tidak lama Citra datang setelah mengantar kue pesanan pelanggannya, dengan langkah gontai ia langsung menyambar botol minuman yang barada di atas meja kerja sahabatnya itu, lalu meminumnya sampai tak tersisa.


" Masih banyak yang pesen gak Al?"


" Gak ada, kabel telponnya udah gue matiin."


" Good job,,cape banget gue." lirih Citra seraya mendaratkan bokongnya di lantai sambil memijat kakinya sendiri.


" Kerja kalian cukup melelahkan,sepertinya kalian butuh piknik, apa kalian mau jalan jalan ke pantai? biar aku urus semuannya." ucap seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dua sahabat itu.


" Pantai? waaahhh kayak nya seru juga." seru Citra dengan antusias.


" Baiklah,teman teman karena kalian sudah bekerja keras dengan baik, aku akan biar kan kalian istirahat , dan besok kalian bisa berlibur ke pantai GRATiS,ajak semua keluarga dan orang terdekat kalian juga!! " teriak pria itu pada semua karyawan toko tersebut dan langsung di sambut dengan sorak gembira dari mereka.


Membuat Alvi dan Citra membulatkan matanya dengan sempurna.


" Apa Gue gak salah denger? mana bisa kita menanggung mereka semua." bisik Citra di telingan sahabatnya.


" Enak saja,biarin aja si unta Arab itu yang menanggungnya."


*


*


*


*


Malam pun tiba, dengan suka cita mereka meninggalkan toko itu,terlihat senyum cerah tersungging di bibir mereka,bagaimana tidak,selama bekerja di sana mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan liburan bersama,dan sekarang mereka mendapatkannya dengan gratis bahkan mereka bisa mengajak keluarga dan orang terdekatnya untuk berlibur.


Sepertinya dengan kedatangan Ustadz tampan itu bemberikan dampak baik untuk mereka.


" Kita ke rumah sakit sekarang?" ajak Al pada istrinya saat sudah berada di dalam mobil.


" Pulang aja, aku cape."


" Ya sudah."


Ustadz muda itu pun langsung melajukan mobilnya menuruh ke pondok tempat tinggal nya.


" Apa kamu serius dengan ucapan mu tadi?" Untuk pertama kalinya seorang Alvi memulai pembicaraan.


Sepertinya langkah Al untuk mendapatkan hatinya sudah selangkah lebih maju.Buktinya ia mampu mengambil perhatian dari gadis itu dan membuat gadis dingin dan jutek itu mengeluarkan suaranya.


" Tentu saja,sesuai yang kamu dengar tadi."


" Bagaimana bisa kamu membiarkan mereka semua berlibur dengan gratis,kamu pikir pantai itu milik mu." ucap Alvi dengan mengerucutkan bibirnya,membuatnya semakin menggemaskan di mata suaminya.


" Kamu tenang saja,aku akan mengurus dan menanggung mereka semua." ujar Al dengan senyum manisnya.


" Ku harap kamu tidak akan membuat ku rugi." lirih Alvi dengan mata yang masih tertuju ke luar kaca jendela mobil.


Tidak lama mereka pun sampai di depan gerbang pondok mewah itu ,seorang pria membukakan gerbang tersebut dan langsung menyambut mereka dengan membungkukan sedikit badannya.


" Tidak usah bersikap seperti itu,kami bukan tuan dan nona muda." Alvi membuka sedikit kaca mobilnya dan berucap seperti itu pada pria tersebut.Al pun terkekeh dan menggelengkan kepalanya.Baginya istrinya itu sangat menggemaskan dan lebih banyak bicara di banding hari pertama saat mereka menikah.


Mereka pun sampai di pekarangan rumah,Al membantu membukakan pintu mobil .


" Perlu aku gendong lagi?" tawarnya.


" Gak usah. Aku bisa jalan sendiri." Al pun membiarkan istrinya untuk turun dan berjalan sendiri,namun kakinya benar benar tidak bisa di gerakan,akhirnya ia pun hanya mematung di ambang pintu mobil,tidak bisa berjalan dan sangat gengsi jika harus meminta bantuan.


" Kenapa masih di situ?" tanya Al yang sebenarnya tau keadaan istrinya itu.Namun Alvi tetap tidak bergeming.Tanpa aba aba Al pun kembali menghampirinya dan langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah.


" Apa yang kamu lakukan?" teriak Alvi saat masih dalam gendongan suaminya.


" Malu bertanya sesat di jalan ,malu minta tolong tidur di luar." ucap Al dengan santainya.


Al pun langsung merebahkan istrinya di atad kasur, dan membukakan sepatu yang di kenakan gadis cantik itu.


" Gak usah lebay,besok juga sembuh." timpal Alvi dengan nada super juteknya.


" Ya udah,apa kamu perlu sesuatu."


" Gak."


" Ya udah, aku harus ke madrasah ngajar anak anak,aku akan minta seseorang buat nemenin kamu di sini."Dengan terpaksa Al pun meninggalkan istrinya sendiri di rumah.


Alvi pun hanya terdiam memperhatikan punggung suaminya yang semakin menjauh.


Gadis itu pun berusaha untuk bangun dan berjalan menuju kamar mandi dengan perpegangan pada apa pun yang bisa ia gapai.


Setelah selesai ia pun berjalan dengan tertatih menuju ke ruang keluarga, ia duduk berlunjur di atas sofa.


Dan mulai meraih ponselnya hendak memesan makanan.


Tiba tiba seseorang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


" Assalamu'alaikum.."


" Wa'alaikum salam."


" Alvi kamu di sini, Maaf umi kira kamu lagi tidur jadi umi masuk saja."


" Iya Mi ,gak apa apa." jawab Alvi dengan menunjukan senyum manisnya.


" Tadi Al bilang kamu sakit, maaf ya umi baru tau, akhir akhir ini Umi sibuk nyiapin keperluan bayinya mbak Zahra,ini Umi bawain makanan buat kamu." ujar Umi sambil meletakan rantang di atas meja di ruang tersebut.


" Coba Sini Umi liat kakinya." umi pun mulai duduk di sebelah menantunya itu. Gadis itu pun memperlihatkan kaki bengkaknya.


" Astagfirullah..Kenapa bisa gini."


" Kemarin Alvi kena begal Mi."


" Tapi mereka gak ngapa ngapain kamu kan, apa masih ada luka yang lain." tanya Umi dengan khawatir.


" Gak kok Umi."


" Ya udah kamu makan dulu ,Umi mau ambil minyak urut."tanpa menunggu persetujuan dari Alvi Umi pun keluar dari rumah itu.


Tidak lama Umi pun kembali dengan membawa minyak urut di tangannya.


" Kenapa kamu belum makan,nanti makanan nya dingin." ucap Umi yang melihat makanannya belum di sentuh sama sekali.


" Nanti saja Mi. Alvi nunggu Al dulu." alasan yang di berikan Alvi membuat mertuanya itu tersenyum.


" Ya udah sini biar Umi urut kaki nya."


" Gak usah Mi." gadis itu menolak karena merasa tidak enak.


" Kenapa?"


" Alvi jadi gak enak." lirihnya,umi pun tersenyum dan mengusap kepala menantunya itu dengan sayang.


" Jangan merasa sungkan,anggap saja umi ini sebagai orang tua kamu sendiri,Umi juga sayang kamu sama seperti umi menyayangi anak anak umi sendiri." ucap umi membuat gadis itu terenyuh.


Umi pun mulai mengoleskan minyak dan mengurutnya dengan lembut dan hati hati.


Alvi pun memejamkan matanya merasa sedikit lebih nyaman dengan sentuhan tangan dari mertuanya itu.


" Apa selama kalian menikah Al bersikap baik sama kamu." tanya umi di sela sela kegiatan mengurutnya.


" Iya Mi, dia sangat baik." dengan jujur gadis itu menjawab tanpa menyadari ucapannya sendiri.


" Syukurlah, Umi yakin dia akan memperlakukan mu dengan baik, karena dia sangat mencintai mu,bahkan rela menunggu mu salama beberapa tahun."


Alvi pun tersenyum menanggapi ucapan dari ibunya,namun saat ini ia terlihat sedikit berbeda, biasanya gadis akan sangat kesal ketika membicarakan seseorang yang sangat ia benci.


" Umi tau kamu belum bisa menerimanya,tapi umi mohon sama kamu tolong buka sedikit hatimu buat dia." lirih umi membuat gadis itu terlonjak dan langsung menatap pada mertuanya itu.


Iapun menyadari selama ini sikapnya sangat buruk terhadap pria itu.


Dan Sepertinya ia harus mulai berdamai dan menerima takdirnya.


Mungkin dengan cara ini hatinya akan sedikit lebih tenang dan tidak selalu di hantui oleh kebencian.