My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 69



Sementara itu Al dan juga Satria masih membicarakan kecelakaan yang menimpa Bapak, sepertinya Dalam pandangan Satria kasus yang menimpa Bapak bukan kecelakaan biasa. Namun sampai sekarang mereka belum menemukan titik terang.


Al mendesah frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


" Bagaimana bisa orang seperti Bapak mempunyai musuh?"


" Bukan hanya musuh,bisa saja ada orang yang iri atau dendam pada Bapak." jawab Satria.


" Tapi siapa orang yang tega berbuat seperti itu."


Untuk saat ini Satria hanya mampu menggelengkan kepala.


Karena terlalu fokus dengan perbincangannya.Tanpa mereka sadari dua gadis itu telah menghampiri mereka, mengajaknya untuk segera pulang kerena hari sudah mulai petang.


Setelah sampai di rumah Citra menyerahkan hasil panennya kepada ibu, sedangkan Al dan Alvi segera membersihkan diri, sementara itu Satria duduk menunggu di teras rumah.


" Maaf ya Bang,jaket yang kemarin belum sempat aku cuci." Citra menghampirinya sambil duduk di kursi sebelah Satria.dengan secangkir teh di tangannya.


Satria tidak menimpali,ia masih sibuk dengan ponsel di tangannya.


Karena merasa di abaikan Citra pun beranjak hendak menghampiri si Kojek burung peliharaan milik Bapak, Citra bersiul sambil memainkan jari nya hingga menimbulkan suara.


Perhatian Satria pun teralihkan,pandangan nya mulai tertuju pada gadis yang selama ini sering membuatnya kesal.


Dalam hati Citra masih merasa berkabung, sehingga untuk saat ini Citra terlihat lebih kalem dan tidak bertingkah konyol sehingga Satria pun merasa penasaran.


Tanpa terduga seulas senyuman terukir dari sudut bibirnya.


" Kenapa senyum sendiri." Al yang baru datang menghampirinya langsung menepuk bahunya dengan kencang.


" Gak apa apa?" Satria langsung memalingkan wajahnya gelagapan.


" Kenapa,Lu kayak orang kepergok nyolong." canda Al sambil memperhatikan wajah sahabatnya yang sudah memerah.


Lagi lagi Satria hanya menggelengkan kepala.


Tidak lama Alvi keluar, ia pun menghampiri sahabatnya yang masih bermain dengan si Kojek, Al yang sejak tadi tidak menyadari kehadiran Citra di sana langsung memicingkan mata menatap pada Satria.


" Jadi Lu dari tadi senyum senyum sendiri,merhatiin Citra." tanya Al dengan mata penuh selidik.


" Enggak." sangkal Satria.


" Lu suka sama dia?" tanya Al kembali masih dengan tatapan menyelidik nya,Namun lagi lagi Satria menyangkal, dengan senyum sinisnya ia menggelengkan kepala.


" Mana mungkin gue suka sama bocah ingusan kayak dia."


" Dia bukan bocah ingusan,dia seumuran bini gue.Kalo Lu ngatain dia bocah ingusan,sama aja Lu ngatain bini gue." sahut Al dengan kesal.


Satria pun terbahak.


"Gadis barbar kayak gitu bukan tipe gue."


" Jangan salah yang barbar itu mengemaskan." goda Al,ia ingin tahu bagaimana perasaan Satria pada Citra.Jika Satria mempunyai perasaan yang sama, sudah jelas tidak akan ada kesempatan untuk Faiz mendapatkan cinta dari Citra.


Sedangkan Satria masih menggelengkan kepala,ia pun masih belum mengerti dengan perasaanya,yang terkadang ingin menjauh,namun semakin menjauh semakin rindu pula perasaannya terhadap gadis sebatang kara itu.


*


*


*


" Sudah Neng,gak usah khawatir,ibu akan baik baik aja, di sini juga masih ada Citra,mbak Siva sama bang Fatur." ucap ibu setelah melihat anaknya begitu khawatir saat ingin meninggalkan ibunya.


" Iya udah kalo gitu,Alvi pamit ya Bu,Alvi bakal sering sering Dateng ke sini." pamit Alvi sambil memeluk ibunya . Ibunya pun membalas pelukan dari sang buah hati sambil mengelus kepalanya.


" Hati hati ya, inget jaga diri dan calon cucu ibu baik baik." pesan ibu sebelum Alvi pulang,Alvi pun membalasnya dengan anggukan kepala.


Tak lupa Al pun mencium tangan ibu mertuanya sebelum pergi.


Tidak memakan waktu lama,mereka pun sampai di pondok tempat tinggalnya,sudah ada Umi ,Abi bang Haikal dan juga Mbak Zahra yang menyambutnya.


Umi langsung berhambur memeluk menantunya.


" Umi turut berduka Cita ya Al,maaf Umi sama Abi gak bisa Dateng ke sana, kami baru pulang mengunjungi Faiz , Umi harap kamu bisa tegar atas kepergian Bapak."


Alvi pun mengangguk sambil tersenyum.


" Insha Allah ,Alvi udah bisa Nerima kepergian Bapak."


Begitupun Mbak Zahra yang memeluknya sambil mengucapkan belasungkawa,dan meminta maaf karena tidak bisa datang ke kediaman Alvi karena kesibukan bang Haikal. Alvi pun memakluminya .


Setelah itu Umi mengajak semua masuk untuk makan bersama.


" Bagaimana kabar Faiz?" tanya Al di sela sela makannya.


" Kabarnya baik,dia sangat sibuk sampai sampai tidak bisa berlama lama diam di rumah." jawab Abi.


" Pantas aja,dia jarang ngasih kabar."


" Oh iya,Dia nitipin sesuatu buat Citra,nanti kalo ada kesempatan tolong kasihin ya." Umi beranjak mengambil sesuatu di kamarnya.


" Buat Citra doang,buat keponakannya mana?" gumam Alvi dalam hati.


Tidak lama Umi kembali sambil menenteng sesuatu di tangannya dan menyerahkanya kepada Alvi. Alvi menerimanya sambil melirik kesal pada sang suami.


Setelah selesai makan Al dan Alvi pamit untuk pulang,Alvi segera menjatuhkan dirinya di atas kasur nya setelah sampai rumah, sekian lama meninggalkan tempat ternyaman nya itu membuatnya merasa rindu.


" Biii.." Rengek Alvi sambil merentangkan tangannya mengajak sang suami agar menghampirinya.


" Sebentar Yank,ganti baju dulu." tolak Al sambil berlenggang masuk ke kamar mandi.


Alvi mengendus kesal seraya beranjak dan memperhatikan bungkusan yang di titipkan Faiz untuk sahabatnya.


"Kenapa Yank?" Al yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri istrinya.


" Faiz tega banget sih,masa cuma ngasih buat Citra , kan aku juga mau ." ucap Alvi seraya memajukan bibirnya,Al hanya tersenyum sambil mengusap kepala istrinya.


" Mungkin Faiz cuma inget sama Citra ,selama Faiz di sini kan mereka sering bersama." jelas Al,Alvi mengangguk masih dengan bibir yang di tekuk.


" Kalo gak inget aku,seenggaknya dia inget calon ponakanya." rengek Alvi.


" Iya sayang,nanti aku bilangin,emang nya anak anak ayah pengen apa sih dari om Faiz?" goda Al sambil menciumi perut istrinya itu dengan gemas,membuat Alvi terkekeh.


" Mereka kayaknya pengen sepasang unta,bisa kan Bi Faiz bawain ke sini buat Dedek bayi."


Permintaan Alvi membuat Al tak bisa berkata apa apa,ia terperangah sambil membulatkan mata,permintaanya sangat di luar dugaan. Al pun menelan ludahnya dengan susah payah setelah melihat raut wajah Alvi yang penuh harap.