
" Bagaimana aku bisa menemui Citra dengan wajah seperti ini?" gumamnya ketika berdiri di depan cermin,Faiz terus menatap pantulan wajahnya yang masih nampak lebam.
" Faiz !! sarapan dulu Nak." teriak Umi dari balik pintu.
" Iya Mi,sebentar lagi." Balas Faiz dari dalam kamar,tidak lama ia pun keluar menuju dapur,sudah ada dua Al,mbak Zahra dan bang Haikal,serta Umi dan Abi.
" Hai boy!!" sapa Faiz pada keponakan laki laki nya ,pemuda itu mencubit gemas pipi gembil milik Azzam yang nampak anteng dengan makanannya tanpa merasa terganggu sedikitpun.
Setelah itu beralih pada anggota baru, keponakan kembarnya yang sudah berusia tiga bulan.
" Hai twin!!" Faiz mencoba mengangkat salah satu dari bayi tersebut.
" Mereka cantik,mirip sekali dengan Unta arab." celetuknya yang langsung mendapat tatapan tajam dari ayah si bayi,nampaknya bayi itu pun tidak terima,ia mengeluarkan cairan hangat mengenai tangan serta membasahi pakaian pamannya.
" Iuuuhhh,,,dia kencing." teriak Faiz sedikit berkidik,ia langsung merebahkan kembali bayi tersebut ke dalam stoller,membuat mereka yang berada di sana tergelak.
" Maaf, aku tidak memakaikannya popok." ujar Alvi merasa tidak enak.
" Good job girls,balasan yang tepat untuk paman Faiz." seru Al,Faiz kembali ke kamarnya hendak membersihkan diri dan mengganti pakaian,tidak lama iapun kembali bergabung.
" Faiz kamu kenapa?"
Bang Haikal dan Mbak Zahra baru menyadari wajah babak belur adiknya.
" Sambutan dari Abi." jawab Faiz sambil mendaratkan bokongnya di meja makan.
Sementara Al mengatupkan bibirnya sambil menahan tawa.
" Ketawa saja,Bang,tidak usah di tahan." ucap Faiz dengan santai.
" Abi kan tidak sengaja,lagian ada ada aja." Abi mencoba membela diri.
" Padahal sudah Abang peringati untuk tidak berlebihan." sahut Al sambil terkekeh.
" Ternyata Abi masih kuat." tambah Haikal ikut terkekeh.
" Tertawalah di atas penderitaan ku." lirih Faiz sambil menampakan wajah manjanya,ia melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu meminta perlindungan.
" Sudah,tidak usah mendengarkan mereka,mau makan apa?" tanya Umi dengan penuh kasih sayang.
Faiz menunjuk beberapa lauk yang terhidang di meja makan,Umi mengambilkan untuknya.
Suasana di pagi itu terasa lebih hangat,semua anggota keluarga berkumpul bersama menikmati sarapan.
" Umi,abi,Bang! bagaimana kalau Faiz melanjutkan program profesi dokter,ujian sertifikasi,dan melakukan internship di sini saja,setelah berhasil menjadi dokter umum dan mendapat izin praktek Faiz ingin membuka praktek di sebuah daerah terpencil." ujar Faiz,kini obrolan mereka mulai serius,semua tatapan tertuju pada calon dokter itu.
" Kenapa tidak membuka praktek di sini saja." Umi nampak keberatan.
" Di sini sudah banyak dokter yang lebih hebat dan berpengalaman,sedangkan jika di daerah terpencil tenaga medis masih jarang,Faiz ingin mengabdikan diri di sana,bukannya itu lebih baik,Faiz ingin sekali menjadi manusia berguna untuk semua orang." Pemuda itu tetap dengan pendiriannya.
" Jika itu memang sudah keputusan mu,Abi tidak bisa melarang,Abi akan selalu mendukung mu,selagi itu baik untuk mu." sahut Abi yang langsung di angguki oleh kedua kakaknya.
" Yang penting kamu bisa jaga diri,ingat setelah menjadi dokter,tanggung jawab mu semakin besar." tambah Haikal.
" Iya Bang,terimakasih." Faiz tersenyum sambil menganggukan kepala faham,ia begitu bahagia tumbuh dari keluarga yang selalu mendukung keinginannya,tanpa menuntut apapun darinya.
Memiliki orang tua yang selalu menyayanginya tanpa melihat usianya yang sudah bukan anak kecil lagi,serta kedua kakak yang selalu berdiri paling depan untuk membelanya.Meskipun tidak ada ikatan darah di antara mereka,bahkan dari segi wajah pun,Faiz terlihat beda dari kedua kakaknya.Jika bang Haikal dan Al memiliki wajah yang banyak mengambil gen dari Umi,sedangkan Faiz.....entahlah!!
Tapi itu semua tidak mengurangi rasa sayang mereka terhadap adik kecilnya itu,begitu juga dengan Umi dan Abi yang tidak pernah membedakan anak kandung ataupun anak angkat.
bagi mereka semuanya sama,jika sudah tinggal dan tumbuh di area pesantren miliknya dengan didikan yang mereka ajari,maka itu adalah anak yang menjadi tanggung jawabnya.
" Bang Satria mana,tumben belum datang." tanya Faiz merasa heran,karena biasanya pria kaku itu sudah datang sejak pagi buta.
" Datangnya agak siangan,,dia harus mengantar..." ucapan Al tergantung ketika mendapat sebuah cubitan di pahanya dari sang istri.
" Hmmm,,,mengantar..." Al terlihat memikirkan sesuatu,semua orang menatap padanya.
" Mengantar anak anak panti sekolah." tambah Alvi, yang berhasil membuat semua orang beralih menatapnya,dengan tatapan heran.
" Oh,,iya mengantar anak anak sekolah." Al berusaha menyakinkan.
" Oh..." Faiz menganggukan kepala,tanpa terasa makanan telah habis,pemuda itu pamit duluan lalu masuk ke dalam kamarnya lagi.
Setelah ketiadaan Faiz di sana,semua orang kembali menatap dua Al,mencari jawaban tentang ucapan yang barusan mereka katakan tentang Satria.
" Bukannya Satria harus mengantar istrinya dulu?" tanya Bang Haikal.
" Maaf,tadi Al berbohong,sebenarnya Faiz belum mengetahui pernikahan Satria dan Citra,Al sengaja merahasiakan darinya,Al takut dia kecewa karena kita tidak memberitahunya sejak lama saat acara pernikahan dadakan itu,Satria berencana akan mengadakan resepsi pernikahan setelah Faiz pulang,paling tidak Faiz bisa ikut merasakan kebahagian Satria sekarang."alasan Al membuat semua keluarga mengangguk.
Padahal bukan itu tujuan Al merahasiakannya.
" Baiklah,Umi juga berharap tidak ada yang memberitahu tentang kenyataan ini,anggap semua itu tidak pernah terjadi,sampai kapan pun dia tetap adik kalian,jangan pernah membahas masalalunya." lirih Umi dengan mata yang mulai berkaca kaca.
" Al faham mi,tidak akan ada yang berubah,Al akan tetap menyayanginya seperti dulu."
" Aku juga." tambah Haikal.
" Terimakasih,,kalian memang kakak yang paling hebat." Umi tersenyum bangga pada kedua anaknya,yang tidak pernah merasa iri atas kasih sayang yang orang tuanya bagi.
Di dalam sebuah kamar,Faiz terus saja bergumam sendiri, ia faham betul dengan gerak gerik Al yang tak biasanya saat membahas tentang Satria.
Ingatannya kembali pada sebuah kalung yang melingkar di leher Satria.
" Aku tau bang Satria,dia tidak akan mau memakai kalung seperti itu." lirihnya mengingat kalung yang di pakai Satria yang terlihat cantik dan berkilau,tidak pantas di pakai pria sangar sepertinya,namun Satria terlihat percaya diri dengan kalung itu.
" Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?" gumamnya lagi.
Pemuda itu memejamkan mata,berusaha menghilangkan kecurigaannya,bagaimana pun Al dan Satria adalah orang terdekatnya,apapun masalahnya mereka akan selalu terbuka padanya.
" Aku tau Bang Al dan Bang Satria,dia tidak akan pernah menyembunyikan apapun dari ku,bahkan aku menjadi orang pertama yang mengetahui perasaan bang Al pada Alvi." ucapnya berusaha menyakinkan dirinya sendiri.