My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 100



" Sayang,,ku mohon bertahan lah." ucap Al ketika melihat Alvi semakin melemah sambil memegang perutnya.


Mereka masih dalam perjalanan menuju rumah sakit,Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi,hingga akhirnya merekapun sampai di tempat tujuan.


Para petugas langsung membawanya ke ruang UGD,sementara Al yang tidak di izinkan untuk ikut serta terpaksa harus menunggu di luar,sambil mengusap wajahnya kasar,matanya mulai berkabut,berkali kali ia membenturkan kepalanya ke dinding,merasa bersalah karena lagi lagi ia gagal melindungi istri tercintanya.


Ia mulai terisak ,sambil menundukan kepala tubuhnya ambruk ke lantai dengan punggung yang menempel ke dinding.


Kondisi rumah sakit yang tenang dan sepi,membuatnya terdengar sangat jelas suara isakan pilu dari pria yang kini terlihat sangat rapuh,bagai sebuah rumah tanpa tiang penyangga.


" Apa yang terjadi apa Alvi?" Umi sekeluarga datang dengan wajah panik,mereka datang setelah mendengar kabar dari Satria yang kini sedang berada di kantor polisi.


Al tidak menjawab,isakannya semakin tak terkendali,ia memeluk Umi dengan sangat erat menunjukan bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja,mencari kekuatan dari sang Ibu.


Umipun membalas pelukannya sambil mengusap punggung sang buah hati yang kini telah tumbuh lebih besar dari tubuhnya sendiri,berusaha untuk tegar demi menguatkan anaknya,walaupun dalam hati ia sama sama merasakan apa yang Al rasakan.


" Aku memang payah,aku tidak bisa menjaga istriku sendiri." lirih Al.


" Kamu harus sabar ini bukan salahmu." balas Umi.


" Kita do'akan saja,semoga tidak terjadi apa apa pada Alvi dan bayinya." tambah Abi sambil ikut memeluk Al.


Setelah beberapa jam seorang dokter wanita dan beberapa perawat yang memang sudah sering memeriksa kandungan Alvi keluar dari ruang UGD,Al langsung berhambur menghampirinya.


"Bu Alvi masih belum sadar,ia kehabisan banyak darah dan Luka di perutnya cukup serius, sepertinya kami harus segera menyelamatkan bayi dalam kandungannya."


" Tapi ini belum waktunya,usianya masih kurang dari delapan bulan." sahut Al.


" Maaf pak ustadz,tapi ini jalan satu satunya yang bisa kami lakukan sekarang." tambah dokter itu lagi.


" Lakukan yang terbaik,selamatkan menantu dan cucu cucu ku." titah Abi dengan tegas.


" Baik, kami akan berusaha semampu kami,tapi kami tidak bisa menjamin hidup dan matinya seseorang,sebaiknya kita do'akan bersama sama agar semua berjalan dengan lancar dan selamat." jelasnya,dokter itupun lalu mengangguk,ia menyuruh para perawat untuk segera menyiapkan semua peralatan yang di butuhkan untuk melakukan tindakan oprasi.


Al kembali terisak,memikirkan nasib istri dan anak anaknya yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati,dalam kendisi seperti ini ia bahkan tidak bisa berbuat apa apa,andai saja ini bisa terjadi ia ingin sekali menukar posisinya.


Tidak lama setelah itu Keluarga Alvipun datang,Ibu nampak panik,melihat Al yang nampak rapuh,ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anaknya kini.


Lidahnya seolah kelu,bahkan untuk bertanyapun rasanya sangat berat,ibu hanya bisa menangis dalam dekapan bang Fatur dan berharap yang terbaik untuk anaknya itu.


Begitu juga Citra,ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya,ia tidak menyangka dengan apa yang di alami oleh sahabatnya itu,ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan,duduk di bangku sebelah Mbak Zahra dan Mbak Siva.


*


*


*


Satria yang baru menyelesaikan tugasnya kini masih dalam perjalanan menuju rumah sakit,masih di balik kemudi tiba tiba ia di kejutkan oleh suara ponsel yang terdengar nyaring.Iapun langsung mengangkat panggilannya dan tak kalah mengejutkan saat ia mendengar kabar bahwa panti asuhan telah mengalami kebakaran.


" Sial !!!" umpatnya sambil memukul kemudi.


Iapun langsung berbalik arah menuju panti asuhan.


*


*


*


Ia langsung melempar benda pipih itu dengan kesal ke sembarang arah .


" Al ,apa yang terjadi?" tanya Bang Haikal.


" Panti asuhan ku terbakar." ucap Al lemah,dalam keadaan seperti ini ia tidak tau apa yang harus di lakukan.perasaan kalut membuatnya tak bisa berfikir dengan baik,masalah demi masalah masih bisa ia tangani dengan mudah,namun jika masalah ini berhubungan dengan istrinya ia tidak sanggup untuk memikirkan masalah yang lain.


"Kamu tidak usah khawatir, Abang akan kesana sekarang." ujar Bang Haikal yang langsung pamit pada semua orang di sana.


Citra mengangkat wajahnya, ikut tercengang kala mendengar apa yang di ucapkan Al,ia memotar bola matanya mencari sosok pria pujaan hatinya yang kini tidak terlihat berada di sana.


Sambil menunggu Alvi,ia berjalan kesana kamari tak enak diam,duduk sebentar lalu berdiri ,pikirannya terbagi menjadi dua.


Ia tidak bisa tinggal diam,hingga akhirnya iapun memutuskan untuk pamit.


" Mbak aku harus pergi,jika terjadi sesuatu pada Alvi tolong kabari aku." ucapnya pada Mbak Siva.


*


*


*


Di tempat lain,semua penghuni panti telah berhambur ke luar bangunan guna menyelamatkan diri,kobaran api yang begitu besar telah melalap habis sebagian bangunan yang berdiri kokoh itu,anak anak terdengar menangis histeris kala melihat tempat mereka tinggal kini telah menjadi bara,beberapa mobil pemadam kebakaran pun telah di kerahkan.


" Apa yang terjadi, kenapa bisa begini?" tanya Satria pada salah satu pengurus panti.


" Aku juga tidak tau,tolong selamatkan bayi yang masih tertinggal di dalam sana." ucap pengurus itu sambil menunjuk pada bangunan yang kini tak nampak ujud aslinya.


Satria bergeming,tidak tau apa yang harus dilakukan,melihat kobaran api yang melambai lambai di udara,namun ia tidak bisa diam saja membayangkan bagaimana nasib seorang bayi tak berdosa di dalam sana.


Iapun dengan segera menerobos kilatan Api tersebut,menghalau setiap puing yang berjatuhan dengan tangannya.


Saat itu juga Citra telah sampai di TKP,nafas nya masih tersengal namun setelah mendengar teriakan dari para pengurus panti yang berkata bahwa Satria berada di dalam untuk menyelamatkan seorang bayi,ia langsung berlari menerobos dinding Api tanpa memikirkan nasibnya sendiri,menurutnya jika ia harus meninggal di tempat itu,setidaknya ia meninggal dalam keadaan baik guna menyelamatkan nyawa seseorang dan membuktikan bahwa dia rela berkorban untuk orang yang di cintanya.


Satria masih membuka satu persatu kamar mencari dimana bayi itu berada,panas api dan Asap menganggu indra penglihatannya,dan nafasnya pun terganggu hingga beberapa kali ia terbatuk, dan akhirnya ia mendengar tangisan dari seorang bayi yang berada dalam box bayi,iapun bisa bernafas lega,namun tiba tiba ia kembali bergeming,bagaimana cara membawanya? bahkan untuk mengendong seorang bayi saja dia belum pernah.


Ia masih bergeming menatap bayi yang meronta ronta dalam dalam box bayi tersebut."apa kita akan mati bersama di sini." lirihnya.


Tiba tiba Citra datang menghampirinya dengan nafas tersengal sambil memegang dadanya karena menghisap banyak asap.


" Bang,kanapa malah diam?"tanya Citra,yang langsung mengendong bayi itu, Satria terhentak ,ia bergeming menatap Citra dengan wajah terkejut.


" Kanapa malah diam,kamu mau mati di sini?" bentak Citra yang langsung menarik tangan Satria agar segera keluar dari tempat itu.


Merekapun langsung berlari,mencari jalan yang bisa mereka lalui ,Satria mendekap Citra saat puing yang berjatuhan hampir mengenainya.Citra sempat tersenyum ketika berada dalam dekapan pria pujaan hatinya itu,dan setelah lama mencari jalan akhirnya merekapun menemukannya,Satria masih mendekap Citra hingga mereka berhasil keluar dan selamat.


Beberapa orang pengurus panti menghampiri mereka,Citra langsung menyerahkan bayi tersebut.


" Kamu sudah gila ya, apa kamu mau mati?" bentak Satria pada gadis yang masih di barada dalam dekapannya itu,namun tidak ada sahutan , iapun melirik Citra yang sudah terlihat lemas dengan mata yang sudah setengah terpejam.


" Tidak masalah jika aku harus mati sekarang,setidaknya aku mati dalam dekapan mu." lirih Citra sambil tersenyum kemudian ia pun terkulai tak sadarkan diri.