My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 86



Setelah selesai menikmati rujak,Alvi merebahkan tubuhnya di teras pondok itu, dengan hanya beralas selembar tikar, cuaca yang sejuk serta angin sepoy sepoy seakan membelai menyuruhnya untuk tertidur.


Sementara itu,Citra menghampiri Bu Sukma yang masih sibuk di dapur,mencuci piring sambil menyiapkan makanan untuk kedua gadis itu.


" Masih belum selesai Bu?" tanya Citra basa basi, berharap bisa lebih dekat dengan wanita paruh baya itu,Citra memang terkenal lebih ramah kepada orang tua,hidup tanpa orangtua sejak kecil membuatnya haus akan kasih sayang,oleh sebab itu ia selalu merasa nyaman dan lebih mudah akrab dengan siapapun yang bergelar orangtua.


" Belum Neng." jawab Bu Sukma ramah sambil memberikan senyum hangatnya.


" Mau aku bantuin?"


" Tidak usah,sebentar lagi selesai." tolak Bu Sukma.


" Istrinya Nak Ustadz kenapa tidur di luar?suruh masuk saja neng." titah Bu Sukma.


" Gak apa apa lahh Bu Biarkan saja,dia udah nyenyak kasihan kalo di bangunin." Citra masih duduk santai di meja makan.


" Busuk sudah lama kerja sama bangsat?" tanya Citra penasaran.


" Bangsat siapa ya?" tanya Bu Sukma heran.


" Maksud ku Bang Satria." Citra pun terkekeh.


" Oalah,,ibu kira siapa,Neng Citra bisa aja ngatain orang." Bu Sukma pun ikut terkekeh.


" sebelum Nak Satria menjadi detektif ibu sudah bekerja di sini, sebenarnya ibu sudah menganggap Nak Satria anak ibu sendiri." jawab Bu Sukma.


"Bangsat pernah jadi detektif? Kalo boleh tau BangSat orangnya kayak gimana sih Bu,aku perhatikan dia orangnya gak bisa tebak,dingin gak banyak ngomong." Citra semakin penasaran.


"Iya Nak Satria pernah jadi detektif,tapi tidak berjalan lama karena resikonya terlalu tinggi,dan orang tua Nak Ustadz tidak menyetujuinya. Nak Satria anak yang baik,dermawan,sederhana,penuh kasih sayang,tapi ya itu tadi,dia tidak banyak bicara dan terkenal dingin."


" Lalu kemana orang tuanya,kenapa Umi bisa tidak menyetujui propesi bangSat?" Citra semakin penasaran.


" Ibu tidak tau orangtua kandungnya,setau ibu Nak Satria sudah tinggal di pondok dan tumbuh besar bersama orangtua Nak Ustadz."


" Pantas saja,mereka bisa sedekat itu,seperti bayangan yang selalu mengikuti raga." lirihnya ,ia tersenyum ketir,nasib BangSat hampir sama dengan yang di alaminya.


Sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan,namun melihat Bu Sukma yang masih sibuk ia tidak ingin menganggunya.


Ia pun beranjak kemudian ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Alvi yang masih terlelap.


Menjelang sore,Satria dan Al memutuskan pulang lebih cepat,ia tidak bisa meninggalkan istrinya menunggu lebih lama di tempat asing,apalagi melihat Alvi yang bergerak lincah seolah tidak menghiraukan keselamatan bayi dalam kandungannya membuat Al semakin khawatir.


****


Deru mesin mobil terdengar di pekarangan rumah,Citra dan Alvi mengerjapkan matanya bersamaan,perlahan matanya terbuka lalu berdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawa.


Matanya masih terasa berat,namun derap langkah dari kedua pria itu membuat mata keduanya segar seketika.


" Sudah pulang Bi?" Alvi menggeliat lalu beranjak menghampiri suaminya.


" Sayang kamu tidur di sini?" tanya Al tak habis fikir.


" Hmmmm." jawab Alvi sambil memeluk tubuh suaminya.


Al membulatkan mata,bisa bisanya istri tercintanya itu tidur di luar hanya dengan beralaskan selembar tikar tipis dengan hawa yang cukup dingin dan nyamuk yang dengan senang hati mengigit kulit mulusnya.


Satria melirik ke arah Bu Sukma yang berdiri di ambang pintu ikut menyambut kedatangan mereka.


" Maaf Nak,tadi bibi sudah menyuruh mereka tidur di dalam,tapi mereka tidak mau,lagipula ibu tidak berani menyuruh mereka tidur di dalam kamar,jika tidak ada izin atau perintah dari Nak Satria." Bu Sukma menundukan kepala.


" Udah lah Bi,gak apa apa aku senang kok,mau pulang sekarang?"


Al mengangguk,namun Satria melarangnya,mereka di ajak makan malam terlebih dahulu karena Bu Sukma telah selesai menyiapkan makanan.


" Sebaikny kita makan malam dulu,Bu Sukma sudah menyiapkannya,kasian kalo tidak di makan." Satria menyuruh mereka masuk kedalam rumahnya.


Pondok kayu jati minimalis itu terlihat sangat indah dan nyaman.Hanya terdapat satu kamar ,ruang tamu serta dapur kecil yang langsung terhubung dengan kamar mandi.Jauh dari kata mewah,seandainya Satria mau,ia bisa saja membangun rumah yang layak di tengah perkotaan,namun ia tidak mau karena lebih nyaman tinggal sendiri di tengah hutan,yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan.


Alvi memutar bola matanya,memperhatikan setiap sudut ruangan itu,sebenarnya dulu iapun mendambakan tempat tinggal seperti itu.Hidup damai tanpa mendengar gosip dan nyinyiran para tetangga.


" Bi,buatkan aku juga tempat seperti ini." rengek Alvi seraya mendaratkan bokongnya di meja makan.


" Aku juga suka tempat ini,seandainya nanti kita menikah aku akan lebih senang tinggal di sini." ucap Citra sambil melirik Satria dengan senyum malu malu.


" Memamg siapa yang akan mengajak mu menikah dan mengizinkan mu tinggal di sini?" balas Satria.


" Kalo kita memang tidak jodoh,aku akan meminta pada suami ku untuk di buatkan pondok seperti ini di sini,setidaknya kita masih bisa jadi tetangga,agar BangSat tidak tinggal sendiri,karena bagaimanapun keberadaan tetangga itu penting,apalagi jauh dari saudara." seloroh Citra yang langsung di setujui oleh Alvi.


" Citra benar,buatkan aku pondok seperti ini juga di sini Bi.Kasian Bang Satria tinggal sendiri di sini." rengek Alvi sambil bergelayut manja di lengan sang suami.Perkataannya terdengar Sangat konyol.


" Cihh." Satria hanya menyunggingkan sedikit bibirnya lalu ia menggelengkan kepala.


" Wanita memang merepotkan." lirihnya dalam hati.


Tidak mungkin ia mempunyai perasaan pada Citra, wanita yang kelakuannya hampir sama dengan istri sahabatnya itu,benar benar bukan tipenya.


" Sayang,kamu tenang saja,Satria baik baik saja di sini,dia tidak perlu di kasihani." tolaknya.


Alvi mencebikkan bibirnya,ia tidak berselera untuk makan sehingga makanan di hadapannya hanya ia mainkan.


Selesai menikmati makan malam Al dan Alvi pamit untuk pulang,begitu juga Citra. Bu Sukma pun telah pamit pulang sejak selesai meyiapkan makanan tadi.


Satria mengantar sampai ke depan, malam kian larut suara binatang binatang malam terdengar jelas saling bersahutan.Suara dari daun yang saling bergesekan saat di terpa angin membuat kesan yang mencekam.


" Yakin Bang Satria berani tinggal di sini sendiri." Alvi kembali bertanya.


" Sayang,Satria sudah lama tinggal di sini dan dia akan baik baik saja."


Al meraih pundak sang istri ,mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.


" bukannya BangSat sudah memiliki teman di sini,di sana wanita bergaun putih berambut panjang,di sana ada anak kecil,dan di sana ada sosok hitam berbulu lebat." ucap Citra sambil menunjuk ke setiap sudut mengikuti ucapan Satria pada mereka sewaktu siang tadi.


"Jadi tidak perlu khawatir,bangSat sudah biasa dengan makhluk seperti itu,dia tidak akan takut yang ada malah makhluk itu yang takut dengan BangSat." tambahnya lagi.


Al mengangguk dengan cepat,kali ini ia menutujui ucapan dari sahabat istrinya itu.


" Ya sudah kalo begitu,titip salam buat mereka ya Bang.aku akan lebih sering berkunjung ke sini." ucap Alvi tanpa meminta tersetujuan dari Al,Akhirnya Alvipun bisa meninggalkan tempat itu dengan tenang.


Citra lebih memilih pulang dengan mengendarai motornya yang tadi ia bawa,walaupun Alvi sudah melarang dan mengajaknya untuk ikut bersamanya,namun dengan keras kepalanya ia menolak,ia pergi setelah berpelukan dengan sahabatnya itu.


" Gue langsung pulang ya." ucapnya.


" Iya Lu hati hati." balas Alvi.


Tanpa sepengetahuannya, seseorang telah mengikutinya dari belakang,memastikan bahwa ia selamat sampai tujuan.