My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 80



Setelah beberapa hari berada di kota Kairo dengan tujuan yang memang tidak jelas.Al dan Alvi memutuskan untuk kembali ke tanah air,dengan membawa banyak buah tangan pesanan Citra dan para karyawan nya.


" Hati hati ya bang,titip salam buat semua keluarga di sana,jangan lupa juga sampaikan salam ku untu Citra dan tolong jaga dia." Faiz memeluk sang kakak saat ia mengantarkan nya ke bandara.


" Iya,tapi Maaf Abang tidak bisa memenuhi keinginan mu untuk menjaga Citra,karena Abang punya ke sibukan sendiri,dan Abang juga punya tanggung jawab yang lebih penting dari pada harus menjaga Citra." Al cuek ,terlihat tidak senang saat adiknya itu membahas tentang Citra.


" Iya sudah tidak apa apa,Faiz mengerti,tapi setidaknya Abang jangan lupa untuk kabari Faiz jika terjadi sesuatu pada Citra." rengek Faiz yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.


Alvi hanya diam sambil memperhatikan gerak gerik kakak beradik itu saat akan berpisah.


berpelukan ,Terlihat jelas dari wajah keduanya yang sama sama berat untuk saling melepaskan walaupun mereka berusaha menyembunyikannya.


" Bi ayo!!" ajak Alvi setelah mendengar pengumuman bahwa pesawat yang di tumpanginya akan segera berangkat.


Al pun melepaskan pelukannya,kemudian mengusap kepala dengan sedikit mengacak rambut sang adik.


" Belajar yang benar ,Ingat pesan Abang dan jangan pernah ingkari janjimu." ucap Al sebelum pergi,yang di balas dengan anggukan kepala oleh Faiz.


" Faiz akan selalu ingat dengan pesan mu Bang,Faiz janji akan belajar dengan giat,dan tidak akan membuat kalian kecewa,dan selama di sini Faiz tidak akan menghubungi Citra yang akan membuat konsentrasi Faiz terganggu." lirihnya sambil memperhatikan punggung sang kakak yang pergi semakin menjauh sambil menggandeng tangan istrinya.


Syarat dari Al dan Janji yang ia ucap sendiri pada sang kakak sebelum pergi menuntut ilmu ke Kairo.


Membuatnya tersiksa karena harus menahan rindu pada sang pujaan hati.


" Cit,aku berharap kamu akan menunggu ku sampai impianku tercapai,sehingga aku pantas untuk mendapatkan mu." gumamnya lagi sebelum meninggalkan bandara.


_


_


_


Di tempat lain Citra masih sibuk mengejar cinta nya yang bahkan belum tentu ia dapat.Dengan semangat 45 ia terus berusaha mendekati Satria yang sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.


Di sela kesibukannya ia menyempatkan waktu untuk menemui Satria yang sedang melatih bela diri para santri di pondok pesantren milik orang tua Al,yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri,karena ia pun di besarkan di tempat itu, dan tentunya dengan kasih sayang dari Umi dan Abi.


Berbeda dengan Faiz yang di temukan tergeletak di depan gerbang pondok dengan hanya beralaskan kain,


Umi dan Abi sengaja membawa Satria dari sebuah panti asuhan milik mereka. Karena permintaan dari Al .


Saat itu Al masih berusia 5 tahun Abi dan Umi selalu mengajaknya berkunjung ke panti asuhan . Al kecil memang sangat aktif ketika umi dan Abi berbincang dengan ibu panti,Al diam diam pergi ke halaman belakang, terdapat banyak rumput liar yang sudah tumbuh tinggi di sana ,sepertinya memang jarang sekali di bersihkan ,


Al kecil melihat seekor ulat bulu yang ukurannya cukup besar merayap dari salah satu dedaunan, yang menurutnya menggemaskan hingga ia tidak merasa enggan untuk mengambilnya.


Tanpa ragu ia mengambil ulat tersebut dengan tangan kosong,lalu meletakannya di telapak tangan mungilnya. Tidak menunggu lama Al kecil merasakan gatal yang amat sangat ,lalu menggaruknya hingga terdapat bentol kemerahan,Al menangis merasakan panas dan gatal pada tangannya.


Satria yang melihat Al menangis segera menghampiri.


" Tangan ku."lirih Al sambil terisak memperlihatkan telapak tangannya yang memerah dan bengkak.


" Tangan mu kenapa? ayo aku antarkan kau kepada orang tua mu." Satria menarik tangan Al ,namun Al menolaknya sambil menggelengkan kepala.


" Aku tidak mau,Umi dan Abi pasti akan memarahiku."


" Tapi tangan mu harus di obati." Satria masih kukuh dan berusaha meraih tangan Al.


Namun Al kembali menggelengkan kepala.


" Aku tidak mau di obati,pasti rasanya lebih sakit,aku akan tetap di sini sampai sembuh." tolak Al.


Satria berdiam sejenak,terlihat sedang memikirkan sesuatu.


" Ya sudah,kau tunggu aku di sini." Satria bergegas untuk pergi menghiraukan teriakan dari Al.


" Heii,,kau mau kemana ,jangan bilang pada umi dan Abi,aku tidak mau di obati." teriak Al namun Satria tidak mendengarnya.


Tidak lama Satria datang membawa sebuah botol kecil berisi minyak.


" Sini tangan mu biar aku obati." Satria berusaha meraih tangan Al,namun lagi lagi Al menggelengkan kepala.


" Aku sudah bilang tidak mau di obati."


bentak Al.


" Tapi tangan mu harus di obati,kalau tidak aku akan beritahu orang tua mu." ancam Satria.Al langsung terdiam,tidak ada pilihan lain pikirnya kalau orang tuanya tau pasti mereka akan memarahinya.


Al pun pasrah lalu menyerahkan telapak tangannya untuk Satria obati,dengan hati hati Satria mengolesi telapak tangan Al dengan minyak yang ia bawa.


" Bagaimana ,tidak sakit kan?" tanya Satria sambil tersenyum.yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Al.


" Iya terimakasih, apa dengan cara ini gatalku akan sembuh?" tanya Al.


" Tunggu beberapa saat dulu." jawab Satria


" Jadi aku harus tetep di sini sampai beberapa saat." rengek Al.


" Kalo kamu mau ,kamu bisa menemui orang tua mu sekarang, pasti saat ini mereka sedang mencari mu."


" Tidak,orang tuaku akan sangat marah jika melihat aku terluka,aku akan diam di sini sampai sembuh."


" Baiklah,kalo begitu biar aku temani."


Dan setelah itu merekapun lebih sering bertemu dan bermain,bahkan Al kecil sering melarikan diri dari tempat tinggalnya hanya untuk menemui Satria di panti dan mengajaknya bermain bersama, bahkan saat ia mempunyai makanan ia tidak akan lupa untuk membagi pada sahabatnya itu. Melihat kedekatan Al dan Satria ,Umi dan Abi memutuskan untuk membawa Satria agar bisa tinggal di pondok bersama mereka,Dan di saat itu juga ia bisa merasakan kasih sayang orang tua.Yang tidak ia dapat sebelumnya.