
" Bapak.." Alvi berhambur memeluk Bapak dan mencium tangannya.
" Neng,gimana kabarnya?" Bapak membalas pelukan Anak gadis satu satunya itu.
" Kabar Alvi baik ,bapak gimana."
" Bapak juga baik." melepas pelukannya,lalu mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
" Kamu dah besar,gak kerasa dulu bapak peluk kamu masih bisa sambil gendong,sekarang kamu malah mau ngejar bapak tingginya." bapak tersenyum masih menatap sambil memperhatikan anaknya itu.
" Maaf Pak, setelah Alvi besar malah sama sekali gak pernah peluk bapak. Malah selalu ngehindar setiap liat bapak." lirih Alvi sambil menundukan kepala mengingat perlakuannya dulu kepada orang tuanya.
" Apa sekarang kamu faham kenapa bapak melalukan ini semua sama kamu."
" Iya Pak,Maaf Alvi gak pernah nurut sama bapak."
" Gak apa apa,maaf juga bapak terlalu keras sama kamu,ya udah istirahat kalian pasti cape." bapak melirik kepada Al yang masih berdiri memperhatikan momen haru istri dengan mertuanya.
Alvi pun mengajak Suaminya untuk istirahat di kamarnya.
Al membuka jaket kulit dan celana jeans nya, menyisakan celana pendek dan kaos putih polos ketat yang pas mencetak bagian perut dan dada serta lengannya.
Lalu merebahkan badan di atas kasur samping istrinya dengan kaki yang masih menjuntai ke bawah.
Alvi melirik suaminya,ia memperhatikan maha karya luar biasa yang telah memejamkan mata.
Matanya terus menyusuri tiap jengkal bagian wajah, hidung mancung,alis tebal serta bulu mata yang lentik,sampai turun ke bibir, leher dan dada bidang suaminya. Tidak ada yang cacat sedikitpun.
Ia pun tersenyum dan merasa sangat senang , beruntung karena pria tampan itu adalah suaminya.
" Dia terlihat seksi jika seperti ini." gumamnya.
Mendekati suaminya, menyentuh kening dan turun ke bawah menyusuri setiap inci wajah suaminya itu dengan jari tulunjuknya.
" Yank, kamu udah bangunin dia." ucap Al masih terpejam.
" Bangunin siapa?" Alvi terus memainkan jarinya ke dada dan perut suaminya.
Al menggenggam tangan Alvi yang barada di atas perutnya,lalu menarik tangan itu membawanya menyentuh bagian bawahnya yang sudah mengeras dan menonjol.
" Iiissshhh.." Alvi yang kaget dengan repleks memukul benda itu dengan keras.
" aaauuuuhhhh...." Al teriak dan langsung bangun memegangi barang berharganya. Wajahnya meringis menahan rasa yang tak karuan ngilu dan mulas menjadi satu.
Alvi yang melihatnya menjadi panik.
" Ya ampun Bi,,maaf aku gak sengaja."
" Yank,,aset berhargaku." lirih Al masih terus meringis.
" Bi maaf,aku gak sengaja." Alvi memberanikan diri mencoba memegang kembali aset berharga milik Al.
" Bi,kok gak gede kayak tadi?" tanya Alvi dengan polosnya.
" Mati kali yank,gak bisa bangun lagi." ucap Al menyender di senderan tempat tidur,sambil menggulum bibirnya melihat Alvi yang sudah berkaca kaca.
" Kalo lemes kayak gini masih bisa di masukin gak? tanya Alvi kembali,yang di bales dengan gelengan kepala.
" Biiii..." Alvi terisak,bulir air mata tak bisa ia tahan lagi.
" Coba kasih napas buatan?"
" Gimana caranya,emang bisa di kasih napas buatan."
" Coba aja dulu." Al pun membuka sedikit celananya dan mengeluarkan burung untanya.
" Aku gak bisa,gimana caranya?"
" Kayak jilat eskrim, kayak ngemut permen,bantu pake tangan juga." titah Al,dan Alvi pun menurutinya sesuai yang Al arahkan.
Mata Al terpejam saat miliknya di masukan ke dalam mulut Alvi,tidak menunggu waktu lama burung untanya merespon, jilatan dan hisapan dari Alvi mampu membangunkan burung unta yang menurutnya sedang tak sadarkan diri.
" Udah bangun Bi."
" Belum bangun sepenuhnya Yank, lebih lama lagi." Alvi pun kembali menurutinya dengan semangat 45 dengan harapan untuk membuat burung unta milik unta Arabnya hidup kembali.
Al masih memejamkan mata,manikmati lincahnya permainan lidah dari Alvi. Tangan nya menggapai tubuh Alvi dan menyusupkannya di balik gamis yang Alvi pakai, menggerayangi setiap inci dari tubuh mulus istrinya, dan berakhir di dua buah gunung yang menjuntai ke bawah karna posisi Alvi yang menungging .
" Hhhhmmmm..Yank kayaknya harus di uji coba,masih berfungsi apa enggak?ucap Al dengan wajah yang sudah siap menyerang.
Tanpa menunggu persetujuan Al pun merubah posisinya,kini ia tengah menindih istrinya itu.Alvi tersenyum di bawah kungkungan Al,menciumi seluruh wajah istrinya itu dengan lembut namun penuh gairah, nafasnya semakin memburu,kecupan pun turun ke leher dan sampai ke bukit kembar pavoritnya.
Alvi mengejang ,melenguh, dan mengerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri,tangannya menyusup di sela sela rambut bagian belakang Al.
Desahan dan erangan tak bisa mereka hindari.Rasa nikmat yang seakan membuat mereka terbang harus putus di tengah jalan sebelum mencapai puncaknya,setelah sebuah ketukan pintu . Mereka pun baru tersadar dan saling pandang.
" Nak Al,waktunya shalat Maghrib mau berangkat ke mesjid bareng?" seru dari balik pintu.
" Aku shalat di sini aja pak." jawab Al tanpa membuka kan pintu.
" Kita lanjut di kamar mandi." ajak Al sambil menggendong Alvi masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka pun menuntaskan urusannya di sana dengan cepat,dan lanjut mandi bersama. Karena waktu shalat maghrib tidak banyak.
*
*
*
"Bi ,kamu gak bawa baju ganti?"
" Gak yank,kan kita gak niat mau ke sini." jawab Al masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya hanya menutupi burung untanya.
" Ya udah sebentar, Aku ke bang Fatur dulu." Alvi pun keluar kamar menemui abangnya untuk meminjam baju.
Tidak lama Alvi kembali membawa baju untuk suaminya,dan mereka pun langsung menumaikan shalat maghrib menjelang shalat isya.
*
*
*
Setelah shalat Isya,mereka semua kumpul di meja makan, menikmati santapan sederhana buatan ibu yang di bantu Alvi,karena sudah pisah rumah , Bang Fatur dan Mbak Siva pun sengaja di undang ibu makan malam bersama di sana.
" Mbak Siva hamil berapa bulan?" tanya Alvi.
" Mau empat bulan,nanti syukuran empat bulanan ke sini lagi ya Al." jawab Mbak Siva sambil mengusap perutnya.
" Iya,inshaallah.."
" Kamu belum ada tanda tanda mau nyusul dek?" tanya Fatur menggoda adiknya
" Nyusul kemana bang?" wajab Alvi dengan muka polosnya.
" Nyusul Mbak Siva lah."
" Maksud abang hamil?" tanya Alvi sambil melirik abang dan suaminya bergantian,
Dan di angguki oleh bang Fatur.
" Belum lah bang,masih proses,mbak Siva aja yang udah lama baru hamil,apa lagi Alvi yang baru beberapa kali......"
" Uhuuukk...uhukkk.." ucapan Alvi terhenti letika Al tersedak.
" Minum dulu Bi." Alvi memberikan gelas sambil mengusap punggung suamianya dengan panik.
" Makan nya pelan pelan aja." ucap Alvi sambil terus mengusap punggung suaminya itu,sedangkan Al menunduk tak sanggup menampakan wajahnya yang sudah memerah.
Mereka yang berada di sana hanya menggulum bibirnya menahan tawa memperhatikan dua manusia itu.
*
*
*
*
terima kasih zeeyeenngg udah mau baca novel gabut ini..
tolong ***kesih like dan vote dulu sebelum minta lanjut ceritanya...
(maaf banyak typo nya.)😅😅