
Seorang pria di balik kaca mata hitamnya tengah meraung raung,tangannya mengepal dengan sangat kuat membuat urat rattnya manpak menonjol,membanting semua benda yang bisa ia raih,pecahan kaca tersebar di setiap lantai yang ia injak,akibat dari cipratan saos yang di berikan oleh bocah kecil itu kini membuat dampak buruk baginya.Sepasang matanya kini tidak berfungsi dengan baik.
Amarah semakin menggebu gebu mengingat semua rencananya tidak berjalan dengan mulus.
" AL,AKU AKAN MENGHANCURKAN MU!!" teriaknya.
*
*
*
Sementara itu,Alvi yang masih terlelap dari tidur siangnya,kembali terjaga mendengar teriakan Citra dari luar,dengan langkah berat ia pun membukakan pintu untuk sahabatnya itu.
" Ada apa?" tanya Alvi dengan suara khas bangun tidur dan menguap beberapa kali.
" Lu tidur?" tanya Citra.
" Hmmm,,badan sama hati gue rasanya capek banget." Alvi mendaratkan bokongnya di kursi teras sebelah Citra.
" Lu bawa apaan?" tanya lagi setelah menyadari bungkusan yang terongok di atas meja.
" Gak bawa apa apa,gue kira itu punya Lu." jawab Citra sambil melirik ke arah rujak yang sudah melambai lambai dari tadi.
" Alvi membuka bungkusan itu,lalu mengendusnya.
" Kayaknya masih baru,belum kecium basi,tapi siapa yang menaruhnya di sini?" Alvi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut halaman rumahnya.
" Apa wanita itu?" gumamnya dalam hati.
" Ah ya sudah,kita makan aja." Citra sudah siap mengambil rujak buah itu ,namun Alvi segera menepis tangannya.
" Jangan,ini terlalu mencurigakan,bisa saja ada yang sengaja menaruh racunnya di rujak ini."
" Tapi siapa yang berani berbuat jahat seperti itu di sini." tanya Citra
" Wanita itu,wanita yang pernah gue ceritain,dia sedang ada di sini sekarang,kelakuannya bikin gue emosi." jelas Alvi ,ia pun menceritakan semua kekesalannya.
" Gue jadi penasaran wajahnya seperti apa." pandangan Citra tertuju ke atas dengan jari telunjuk yang ia simpan di dagunya,seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Sama sekali tidak cantik jika tidak di dukung dengan makeup yang tebal." sahut Alvi ketus.
" Ya sudah,kalo begitu bagaimana kalo kita coba berikan rujak ini pada kucing,kalo memang ada racun kucing itu akan mati." ide cemerlang muncul ketika ia melihat seekor kucing di hadapannya,lalu ia memberikan beberapa potong buah untuknya.
" Heh sejak kapan kucing suka rujak." Alvi mendorong kepala Citra.
" Iya juga sih." Citra menggaruk kepalanya.
" Lu aja yang coba." Alvi menyerahkan bungkusan tersebut ke hadapan Citra.
" Enak saja,lu mau jadiin gue kelinci percobaan." Citra membalas mendorong kepala Alvi.
Semua yang mereka lakukan tidak lepas dari pengawasan Satria,tanpa terasa ia tersenyum dengan tingkah dari kedua gadis itu.
Ia pun berniat untuk melerai perdebatan dua gadis itu yang kini tengah sama sama menolak apa yang ada di tangannya.
" Udah Lu aja yang coba ,dikit doang gak bakal bikin Lu mati." Alvi memaksa Citra untuk mencicipinya,dengan tangan yang sudah berada di depan bibir Citra hendak menyuapi.
" Gak mau,gue belum nikah,kalo gue mati gimana?" tolak Citra sambil menutup mulutnya.
Tiba tiba Satria datang menemui mereka.
" Bang Satria ada perlu apa?" tanya Alvi.
" Aku mau menemui Al." jawabnya.
" Suami ku sedang tidak ada." ucap Alvi lagi,Satria pun mengangguk dan hendak pergi namun Alvi kembali memanggilnya.
"Bang Satria tolong coba rujak ini, pastikan bahwa rujak ini tidak terlalu pedas untuk kami." Alvi menyerahkan bungkusan itu ke hadapan Satria.
Citra nampak tidak setuju dengan apa yang di lakukan sahabatnya itu,ia menggelengkan kepala pada Satria,berusaha agar Satria mengerti dengan maksudnya.
" Jangan Bang." ucapnya tanpa suara sambil melambaikan tangannya.
namun tanpa berfikir panjang Satria pun mau menuruti apa yang di perintahkan Alvi,ia mengambil beberapa potong buah yang bercampur dengan saos manis asam pedas itu dan langsung memakannya.
Alvi dan Citra memperhatikan bibir Satria yang tengah mengunyah,memastikannya sampai ia menelan semuanya.
" Rasanya bagaimana?" tanya Alvi.
" Tidak terlalu pedas." Jawab Satria singkat.
" Apa ada rasa aneh yang mencurigakan?" Alvi kembali memastikan.
Satria hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
" Rasa yang aneh cuma gue yang rasain kalo ketemu Bang Sat." sahut Citra sambil terkekeh.
Satria dan Alvi tidak tidak menanggapinya.
" Ya sudah Aku pergi dulu,kalo Al datang bilang padanya aku menunggunya di rumah Abi." setelah itu Satria pergi,Alvi masih terus memperhatikan langkah Satria yang berjalan semakin menjauh darinya.
" Aman!!!" seru kedua gadis itu bersamaan.
Tidak menunggu waktu lama merekapun langsung memakan buah rujak yang sempat membuat mereka resah.
*
*
*
Dalam perjalan pulang ,Al mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang,otaknya masih berfikir keras siapa orang yang berani menganggu ketentraman hidupnya.
Kini perjalanannya mendapat sedikit kendala,kemacetan parah menanti di depan mata,Al pun melambatkan mobilnya.tidak ada yang tahu penyebab kemacetan tersebut,Al semakin melambatkan laju mobilnya,sedikit demi sedikit mobil telah berpindah tempat,hingga ia mendapati
Ternyata truk pengangkut telur yang telah menambrak pohon besar hingga mobil tersebut terguling yang membuat kemacetan tersebut,puluhan warga berhamburan ke tengah jalan menyelamatkan ribuan telur yang masih utuh,sementara telor yang sudah pecah sangat menganggu Indra penciumannya.
Al keluar dengan memakai masker,menghampiri seorang pria seusianya tengah duduk di tepi jalan dengan wajah lelah dan nampak bingung.
" Ada apa?" tanya Al pada orang tersebut yang ternyata supir dari mobil truk tersebut.
Supir truk itupun langsung menceritakan masalahnya,ia kini harus mengganti semua kerugian yang menimpanya.
Mobil yang sudah tidak berujud serta ratusan ribu butir telur,entah harus berapa banyak yang harus ia keluarkan untuk menggantinya.
" Jangankan untuk ganti rugi,untuk makan sehari hari saja aku bahkan tidak punya,di tambah lagi aku baru mengalami musibah yang membuat istriku meninggal dan meninggalkan dua anak yang masih kecil." keluhnya.
Al sedikit iba mengendar keluhannya.
" kalo begitu ikuti aku, insyaallah Allah bisa menolongmu." ajak Al,lalu ia membawanya ke dalam mobil.
Tidak lama Al sampai di sebuah minimarket yang menyediakan mesin ATM.
" Silahkan ambil yang anda perlu!" titahnya,masker masih melekat menutupi sebagian wajahnya,sehingga orang itu tidak mengenalnya.
Orang itu nampak kaget,matanya berkaca kaca,badanya bergetar menahan haru hingga kakinya tidak mampu menopang berat badanya,pria itupun ambruk di hadapan Al sambil berlutut .
" Terimakasih tuan.terimakasih." orang itu memeluk kaki Al,dengan segera Al mengangkat tubuhnya agar bisa berdiri kembali .
" Jangan seperti itu." tolak Al.
" Silahkan ambil yang anda dan anak anak butuhkan." imbuhnya lagi.Lalu ia berjalan hendak mengambil beberapa uang yang ada dalam mesin ATM.
Cukup lama menunggu,akhirnya pria itupun selesai membawa apa yang ia butuhkan,beberapa karung beras,minyak,gula,mie instan dan sembako lainnya telah memenuhi beberapa keranjang.
Al segera membayarnya.
" Terimakasih ustadz Al." ucap seorang kasir yang melayaninya,wajah yang telah di tutupi masker sepertinya tidak berbengaruh,kasir itu begitu mengenali wajah tampan yang sering di lihatnya di televisi.
Al mengangguk seraya mengacungkan terlunjuknya di bibir,meminta agar kasir itu tidak membuka suara lagi.
Namun pria itu mendengarnya.
Al sudah berada di luar Minimarket masih dengan pria itu.
" Ini ada sedikit rezeki untuk anda,mungkin bisa sedikit mengurangi beban,dan ini juga untuk mengganti semua kerugian,saya harap ini cukup." Al menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang lumayan tebal,ia memang tidak sempat memasukannya pada amplop.
" Terimalah." ucapnya lagi dan pria itu pun menerimanya,Al kakinya melangkah hendak berjalan menuju mobil,namun lagi lagi pria itu berlutut padanya sambil memegang kakinya.
" Maaf,maafkan saya ustadz." lirihnya.
" Maaf untuk apa?" Al tersentak dengan perlakuan pria itu yang kini tengah berlutut padanya.
" Maafkan saya ustadz,karena saya yang menyebabkan bapak mertua Anda meninggal."
ujarnya dengan bergetar.
" Apa maksud kamu?" Al meraih pundak pria itu untuk berdiri.
Mencengkram kuat pundak laki laki itu dengan tatapan yang menusuk tajam.
Pria itu mengatupkan kedua telapak tangannya memohon ampun.
" Cepat katakan apa maksud kamu!!!"Al mengguncang pundak pria itu dengan keras.
" Maafkan saya,saya hanya menjalankan perintah dari seseorang,saya melakukan itu karena saya terpaksa,saya membutuhkan biaya untuk membawa istri saya ke rumah sakit." jelasnya.
" Siapa orang yang kamu maksud." wajah lembut yang baru terlihat kini seterika berubah menjadi wajah menyeramkan,bahkan tidak akan ada yang mampu membalas tatapannya.Wajahnya merah menahan emosi.
" Sa--saya tidak mengenalnya." jawab pria itu terbata bata.
" Maafkan saya ustadz." pria itu masih memohon.Namun cekelan Al dari pundaknya semakin erat.
" Siapa namamu,dan dimana rumahmu?" tanya Al dengan suara berat
pria itupun menyebutkan namanya dan memberitahu di mana tempat tinggalnya.
Al membanting tubuh pria hingga tersungkur ke tanah.
"Pergi dari sini sekarang juga atau aku akan menghajarmu." imbuhnya sambil membanting semua kantung sembako yang di belinya,hingga menimpa tubuh pria itu.