My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah

My Hubby ! Ana Uhibbuka Fillah
Bab 55



Setelah beberapa lama menunggu Alvi di atas,akhirnya Alvi pun mulai menampakan kakinya untuk turun.


Al , Citra dan juga Faiz yang sejak tadi menunggu di bawah hanya bisa menatap heran pada gadis yang baru menampakan kakinya ke tanah.


" Ada apa,kenapa kalian liat aku kayak gitu?" Alvi menatap satu persatu orang di hadapannya.


" Gak apa apa,udah kenyang makan mangga nya." Al berusaha menetralkan rasa kesalnya.


" Udah Bi,tapi besok kayaknya mau lagi." jawab Alvi sambil menampilkan deretan giginya.


Dan Al hanya menggelengkan kepala sambil berlalu begitu saja meninggalkan mereka bertiga. dan mereka menyusulnya dari belakang.


Tidak lama mereka pun sampai di kediaman sederhana milik Al, ustadz tampan itu langsung masuk masih tanpa memperdulikan istrinya,Faiz juga Citra.


" Bang Al kayaknya lagi kurang sajen , biar dia sendirian dulu , gue mau pamit pulang ." ucap Faiz setelah mereka sampai di teras rumah.


Dan dua gadis itu pun langsung menganggukan kepala.


" Gimana Al, soal BangSat gue." tanya Citra dengan antusias setelah memastikan Faiz tak terlihat lagi.


" Gimana apanya, gue belum sempet nanyain apa apa."


" Yah ,lu gimana sih."


" Ya,lu liat sendiri aja,laki gue kelakuannya lagi kayak gitu,gimana bisa di ajak ngobrol." Alvi pun memberikan alesan.


" Ya udah deh,ngomong ngomong besok kalian mau ke puncak?"


" Kok lu tau." tanya Alvi sambil mengerutkan keningnya.


" Tau lah,tadi Faiz ngajak gue sana , kalo gue sih,gimana bangsat aja,kalo dia ikut gue juga ikut."


" Gimana sih Lu,yang ngajak Faiz yang di harepin Bang Satria,lagian bang Satria mana bisa ikut,kan baru juga sembuh." jelas Alvi sambil menyenderkan punggungnya di senderan kursi di teras rumahnya.


" Kan ada Lu,lu bisa kan nyuruh laki lu buat ngajak dia." bujuk Citra sambil mengedip ngedipkan matanya. " Ya ya ya.." tambahnya.


" Gue gak bisa janji."


' Ya udah gak apa apa.".


Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka terdengar dari dalam sana,Al yang menguping dari dalam terlihat semakin prustasi,ia tau apa yang akan terjadi kedepannya.


Pagi yang di tunggu pun tiba,Alvi yang sudah siap dengan rok plisket serta jaket jeans dan sepatu sneakers nya, terlihat sangat segar dan bersemangat,bagaimana tidak, impiannya untuk pergi ke kebun teh dengan memakai motor telah berkabul . Walaupun


Tidak mudah membujuk sang suami untuk hal yang satu ini.


" Bi,bang Satria ikut kan?" tanya Alvi sambil menyiapkan keperluan untuk di sana.


" Iya, dia ikut." jawab Al dengan malas.


Alvi pun tersenyum sambil menghampiri suami nya,mambantu memasang jaket dan mengancingkan nya.


" Makasih ya Bi." ucap Alvi sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya lalu mengecup bibirnya sekilas.


" Iya sama sama." Al pun melepaskan tangan yang masih melingkar di tangannya dan berlalu begitu saja,sikapnya sangat terlihat dingin saat itu.


" Aku ambil motor dulu di garasi,kamu tunggu di depan gerbang aja, mereka pasti udah nungguin." ucap Al sebelum meninggalkan istrinya. Alvi pun hanya mengangguk.


Semua orang telah siap dengan memakai dua mobil, Umi dan Abi bersama dua pemuda ,Bang Satria dan juga Faiz, berada dalam satu mobil, sedangkan Mbak Zahra dan Bang Haikal bersama Citra dan juga Sarah. berada dalam satu mobil yang lainnya. Mereka telah siap untuk berangkat.


Dan tidak lama dua pasangan suami istri itu pun menghampiri mereka,dengan memakai motor sesuai keinginan Alvi.


" Kamu yakin mau pake motor,gak naik mobil aja sama Citra." tanya Al pada sang istri sebelum melajukan motornya.


" Yakin Bi,aku pengen pake motor,aku pengen liat pemandangan kebun teh secara langsung,merasakan segarnya udara di sana." jawab Alvi dengan Antusias. dengan mata yang sudah berbinar.


Tidak ingin banyak bicara Al pun mulai melajukan motornya setelah membaca doa,kemudian di susul oleh dua mobil di belakangnya.


Perjalanan tiga jam tidak terlalu berat untuk mereka, Alvi tak pernah berhenti menyunggingkan senyumnya saat melihat hamparan tak berujung daun hijau yang sangat menyejukkan mata.


Sementara di mobil yang di kendarai Faiz ,umi dan Abi sibuk membicarakan rencana untuk


pendidikan anak bungsunya.


" Umi sama Abi gak usah khawatir,Faiz udah punya rencana,dan udah di urus sama Bang Al." sahut Faiz di sela sela obrolannya.


" Syukur lah kalo begitu,Abi pikir kamu masih seneng main main." ucap Abi sambil mengusap kepala anaknya dari bangku belakang.Dan Faiz pun hanya terkekeh,namun seperti biasa Satria terlihat lebih banyak diam,ia tidak akan bicara jika tidak di ajak bicara.


Sedangkan dalam mobil yang di kendarai bang Haikal mereka berempat pun lebih banyak diam hanya suara rengekan dari si kecil Azzam yang sering terdengar.


Setelah hampir sampai, Alvi menepuk bahu suaminya,memintanya untuk menepi sejenak,melihat raut wajah yang memucat serta keringat dingin membanjiri seluruh wajah cantik itu,Al pun menuruti perintah sang istri,ia menepikan motornya,dan tidak lama dari itu Alvi pun turun dari motor lalu memuntahkan seisi perutnya. di semak semak perkebunan yang mereka lewati. Namun hanya cairan bening saja yang keluar dari mulutnya.


" Yank, kamu kenapa?" Al terlihat sangat panik sambil terus membantu mengusap pundak istrinya.


Tanpa menjawab sang suami,Alvi terus menunduk berusaha mengeluarkan sesuatu yang membuatnya merasa mual.


" Minum dulu." titah Al sambil menyodorkan Botol air mineral setelah memastikan istrinya membaik.


" Makasih Bi." Alvi pun menerima dan meminumnya.


" Kita tunggu yang lain ya, kamu ikut mobil mereka aja." pinta Al sambil mengusap kening sang istri yang masih berkeringat ,Alvi yang sudah terlihat lelah pun hanya mampu mengangguk.


Tidak lama mobil rombongan Faiz pun berhenti saat melihat Al dan Alvi di sana.


" Kenapa Bang?" Tanya Faiz sambil membukakan kaca jendela mobilnya.


" Alvi muntah muntah,kayaknya dia masuk angin." jawab Al.


" Ya udah kita jalan sedikit lagi ke depan, ada warung di sana,kita istirahat dulu di sana." saran dari Faiz dan langsung di angguki oleh Al.


" Al, masuk sini,kamu sama umi aja." ajak Umi yang ikut membuka kaca jendela.


" Iya Mi." Alvi pun masuk setelah Umi menggeser posisinya. Sedangkan Abi pun mengalah dan pindah ke kursi paling belakang.


mereka pun mulai melanjutkan perjalanan nya kembali.


Setelah beberapa menit mereka sampai di warung yang di maksud. Mereka semua langsung memesan minuman hangat dan gorengan sebagai pengganjal perut.


" Lu kenapa Al?" Citra menghampiri sahabatnya yang masih terlihat lemas.


" Gak apa apa,kayaknya cuma masuk angin." jawab Alvi sekenannya.


sedangkan Al masih terlihat cuek pada istrinya karena ia masih kesal dengan perubahan tingkah Alvi dan keinginanya untuk mendekatkan sahabatnya pada Bang Satria.membuat Al bersikap dingin padanya.


Setelah di rasa cukup untuk beristirahat,mereka pun melanjutkan perjalanan nya.


Dan tidak lama mereka pun sampai di tempat tujuan,sebuah villa megah milik kiyai Abdul Mahfudz.Yang berdiri kokoh di tengah tengah perkebunan teh.


Alvi yang masih terlihat lemas pun seketika tersenyum,melihat pemandangan indah yang sangat menyejukkan mata. mengedarkan pandanganya pada hamparan hijau yang tiada ujungnya. Alvi masih berdiri di luar seakan enggan meninggalkan pemandangan yang tak bosan untuk di kagumi.


" Yank, lebih baik kamu istirahat dulu." ucap Al sambil menggandeng istrinya masuk.


" Iya Bi." sahut Alvi sambil menampakan senyum cerahnya .


Setelah sampai kamar Al langsung berlalu masuk ke kamar mandi,sedangkan Alvi merebahkan tubuhnya di kasur.Ia masih tidak mengerti dengan sikap dingin suaminya,namun ia pun tidak berani untuk bertanya.


Tidak lama Al pun keluar dari kamar mandi ,dan bersiap untuk pergi kembali.


" Bi, mau kemana?" Alvi beranjak dan menghampiri suaminya.


" Aku mau belanja sama Faiz, nanti malam kita pesta barbeque. kamu istirahat aja." ucap Al, namun bukanya mengizinkan Alvi malah menabrakkan tubuhnya pada dada bidang sang suami.memeluknya erat seakan enggan untuk melepaskan.


" Bi,maafin aku ya,kalo aku punya salah." lirih Alvi sambil terus melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


" Iya gak apa apa." Al pun membalas pelukannya dan mencium bibir gadis itu cukup lama.


" Ya udah,aku pergi sebentar ya,kamu istirahat aja." Al pun meninggalkan sang istri di kamar.


Malam pun tiba , suasana hangat terasa nyata di dinginnya langit puncak. Semua keluarga berada di luar belakang villa menyalakan api dan menyiapkan semua hidangan.


Sepanjang acara Citra masih saja tidak berhenti mencuri dan mencari perhatian Satria.


" Bi ,gak ada jagungnya?" tanya Alvi saat membantu menata daging dan seafood yang akan di bakar.


Al dan Faiz hanya saling menatap.


" Aku lupa tadi gak beli."


" Aku pengen jagung Bi." rengek Alvi


" Yank, jagung nya besok lagi aja ya,sekarang kita makan yang ada aja." Al berusaha membujuk sang istri.


" Tapi Bi , aku pengen jagung sekarang!!!" rengek Alvi sambil menaikan nada suaranya.


" Yank,jam segini mau cari jagung di mana, tadi aja aku belanja ini jauh."


" Udah gini aja, kita suruh Mang Asep aja cari jagung,Abang liat tadi banyak kebun jagung di jalan." akhirnya Haikal menengahi.


" Ya udah aku cari Mang Asep dulu." Al pun beranjak dengan sedikit kesal.Hendak mencari seseorang yang biasa menjaga villa nya.


Setelah menunggu lama akhirnya jagung yang di inginkan pun datang,dan tak tanggung tanggung Mang Asep membawakannya 3 karung besar.


" Makasih ya Mang.Maaf repotin." ucap Al pada pria paruh baya itu.


" Sama sama Den."


Melihat tumpukan jagung yang menggunung mata Alvi seketika berbinar ia langsung menghampiri tumpukan jagung tersebut dengan antusias,namun setelah itu juga ia menjadi muram.


" Bi..."


" Hmmmm.."


" Koko jagung nya pada botak semua,gak ada rambutnya?"


" Ya emang gitu kali."


" Tapi Bi aku pengennya jagung yang masih punya rambut."


rengek Alvi sambil memajukan bibirnya.Membuat Al memutar bola matanya, ia tidak bisa menahan kekesalannya lagi.


" Jangan konyol Alvi,yang mau kamu makan jagungnya apa rambutnya,kita udah capek capek cariin kamu jagung." bentak Al pada istrinya di hadapan semua orang membuat mereka terperanjat.


Alvi pun hanya menundukkan kepalanya, butiran bening sudah mulai keluar dari pelupuk matanya.


" Al jaga nada bicara mu,gak seharusnya kamu membentak istri di depan umum." tegur Abi.


Al pun hanya menarik nafasnya dalam dalam. dan mengusap wajahnya dengan kasar.


melihat sang istri yang masih terisak,ia pun membawanya ke dalam.


" Yank, maafin aku." lirih Al sambil memeluk erat istrinya itu. meraup wajah cantik itu dan mengusap air yang mambasahinya.


" Maafin Aku." Al kembali memeluk istrinya dan berusaha menenangkanya.


Setelah mereka tenang,mereka berdua pun kembali keluar,ikut menyantap hidangan yang mereka buat.


Dan pesta barbeque pun selesai,semua telah kembali ke kamar,dan hanya menyisakan para pria di sana.


" Apa yang sebenarnya terjadi.Abi lihat hubungan kalian sedang tidak baik." tanya Abi pada Al .


" Kami baik baik saja Bi, hanya saja akhir akhir ini tingkahnya sering banget bikin Al kesal." jawab Al.


" Kayaknya kamu belum paham bagaimana ngadepin wanita ngidam." Bang Haikal menimpali.


" Ngidam?" Al mengerutkan keningnya.


" Iya, Abang yakin istri kamu lagi hamil."


Seketika mata Al berbinar, senyum di wajahnya mengembang membayangkan benih cintanya bersama sang istri telah bersemayam di rahim istrinya.


" Lebih baik pulang dari sini kamu bawa istri mu ke dokter." saran Abi sebelum beranjak.


" Iya Bi." sahut Al.


" Kamu harus bisa sabar menghadapi wanita hamil,kadang tingkah dan permintaannya memang sangat konyol." tambah Bang Haikal.


Al hanya menganggukan kepala ia pun beranjak dan pergi ke kamarnya.


Di lihat sang istri sudah terlelap, Al pun ikut berbaring di samping nya,memandangi wajah polos itu, seketika senyum pun kembali terukir di wajah tampannya.


" Sayang maafin aku, seandainya apa yang di katakan Abi dan Bang Haikal benar,aku akan sangat bahagia." Al pun mendaratkan kecupan di kening sang istri. Dan memeluknya dengan sangat erat sampai ia pun ikut terlelap.


Pagi menjelang, hawa dingin terasa menusuk ke tulang. Semua orang telah berada di meja makan untuk sarapan bersama, hanya menunggu Alvi dan juga suaminya yang masih belum menampakan batang hidungnya.


"Sarah tolong panggil duo Al ke sini yah." titah Umi pada Sarah.


" Baik Umi." Sarah pun menurutinya.


Sementara di kamar Alvi sudah siap hanya saja ia menunggu sang suaminya yang masih membersihkan diri.


" Sayang Kok masih di sini,bukannya langsung ke bawah." ucap Al yang baru keluar dari kamar mandi.


" Bareng aja Bi."


" Duluan aja,pasti yang lain udah nunggu nanti aku nyusul." ucap Al dan Alvi pun tidak bisa membantahnya .


" Ya udah deh Bi, Aku ke bawah duluannya." ucap Alvi sambil melingkarkan tangannya di pinggang suaminya,dan mengecup sekilas bibirnya Al .


" Aku sayang kamu bi." ucap Alvi sebelum melepaskan pelukannya.


Al pun tersenyum.


" Aku juga sayang kamu." sambil meraup wajah istrinya dan menciumi seluruhnya.


" Aku duluan ke bawah ya Bi."


Dan ketika Alvi sudah berada di luar pintu kamar ,ia berpapasan dengan Sarah yang memang di perintah untuk memanggilnya.


" Semua udah nunggu di bawah." ucap Sarah dengan mata elangnya.


" Iya." sahut Alvi seraya berlalu tanpa menghiraukan orang di hadapannya.


Setelah menampakan kakinya di anak tangga dengan sengaja Sarah menginjak bagian bawah gamis Alvi yang menjuntai. Dan karena tidak seimbang Alv pun tersungkur dan berguling di tangga.


" Aaaaagggghhhh" teriakan Alvi menggema di seluruh ruangan itu.


" Alvi .." teriak Sarah


Semua berhambur menghampiri suara tersebut,dan saat itu juga Alvi sudah terkapar berlumuran darah.


Dan mohon dukungannya dengan memberikan like komen dan votenya...terimakasih...😘😘😘😘***