
Esok harinya,setelah selesai mengajar ,sebagai warga negara yang baik Al bersiap hendak memenuhi panggilan dari kepolisian,kasus yang menimpanya tidak bisa di remehkan,laporan penggelapan dana sosial telah di tuduhkan kepadanya.
Pihak dari keluarga tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya, karena ia sengaja untuk merahasiakannya,apalagi pada Alvi,ia tidak ingin membuat keluarganya resah.
" Bi,kamu ada undangan kemana? cepet pulang ya,perasaan ku tidak enak." Alvi mengantar kepergian sang suami sampai ke teras rumah.
" Iya sayang aku akan segera pulang,jaga diri baik baik,jangan pergi kemana kemana." Al memeluk istrinya cukup lama.
Tiba tiba Fiona datang menghampiri mereka,mengeluh tentang semua yang terjadi padanya yang baru satu hari tinggal di asrama,setelah kehilangan ponsel dan alat make up nya ,iapun harus di hadapkan dengan anak anak santriwati yang lainnnya yang membuatnya tidak nyaman,bagaimana bisa nyaman? ia bahkan harus mendapatkan siraman air yang sengaja di gunakan untuk membangunkannya.
" Hikam,aku ingin belajar mengaji dengan mu,bukan dengan wanita bercadar itu." ucapnya yang di tujukan untuk mbak Zahra yang memang di tugaskan untuk mengajar para santriwati.
" Aku tidak bisa karena tugasku hanya mengajar santriwan." Al menjawab dengan acuh.
" Aku juga tidak bisa tinggal di asrama,tempatnya sempit, panas ,pengap ,dan harus di isi beberapa orang,kasurnya pun kecil." rengeknya lagi
Membuat Alvi mengerlingkan mata jengah.
" Sepertinya kamu benar benar salah alamat,kalo kamu mencari tempat yang nyaman datang saja ke hotel,kamu akan mendapat tempat yang nyaman dan pelayanan yang memuaskan " balas Alvi dengan ketus.
Fiona menampakan wajah tidak sukanya kepada Alvi,begitupun Alvi yang seakan enggan untuk mengalah.
" Hikam ,apa kamu mau pergi? boleh aku ikut bersamamu,aku ingin membeli pakaian yang baru,aku tidak biasa memakai pakaian seperti ini,yang bahkan lebih bagus dari kain lap di rumahku." ucap Fiona masih dengan senyum yang menjengkelkan.
Alvi mengusap perutnya beberapa kali,bibirnya nampak komat Kamit entah apa yang ia ucapkan.
" Tidak, aku harus segera pergi,jika kamu mau pargi silahkan ,aku kasih kamu waktu dua jam,jika lebih dari itu,penjaga gerbang tidak akan membukakan pintu untuk mu lagi." Al yang tadinya berusaha sabar pun kini merasa risih.
" Tapi bagaimana bisa aku belanja hanya dengan waktu dua jam,biasanya aku bisa menghabiskan waktu seharian."
" Itu urusan Lu."
" Udah Bi, kamu berangkat aja nanti telat." Alvi sedikit mendorong tubuh Al agar segera pergi,ia tidak ingin berlama lama meladeni wanita tidak tau malu seperti Fiona.
Al pun menurutinya,ia kembali memeluk dan mencium seleruh wajah sang istri di hadapan Fiona,Alvi tersenyum menerima kecupan demi kecupan dari Al.
" Ya sudah aku pergi ya."
Setelah itu Al pun masuk ke dalam mobil,dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari gerbang pesantren.
Setelah memastikan Al pergi,Fiona mendekati Alvi hendak berkata sesuatu namun dengan cepat Alvi meninggalkannya dan masuk ke rumah dengan membanting pintu sedikit kencang.
Tanpa mereka sadari Satria yang sudah di tugaskan untuk mengawasi Alvi berdiri tak jauh dari tempat itu,dengan setia ia menunggu memastikan tidak terjadi apa apa pada istri sahabatnya itu.
*
*
*
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Al sampai di tempat tujuan tanpa di dampingi siapapun,beberapa orang berseragam menyambutnya,Al masih bersikap santai karena merasa tidak bersalah.Ia melakukan pemeriksaan hingga beberapa pertanyaan di lontarkan padanya,dengan santai ia menjawab sesuai dengan kenyataan.
Semua bukti telah ia tunjukan,hasil donasi yang terkumpul selama ini tidak luput dari pemeriksaan,tanpa di duga Roby yang kini sudah menjadi seorang pengacara datang untuk membelanya,Al sedikit terkejut atas kedatangannya yang secara tiba tiba,tidak hanya Roby bahkan ada beberapa orang lagi yang bersedia untuk menjadi saksi.
" Saya yakin usatadz Al sekeluarga tidak akan berbuat seperti itu,karena saya tau hasil donasi tidak ada apa apanya di banding harta kekayaannya,saya yang hanya anak yatim piatu bisa seperti ini berkat keluarganya." jelas Roby yang langsung di setujui oleh sahabat sahabatnya yang lain.
" Saya tidak akan membiarkan orang baik sepertinya menekan di penjara karena tuduhan yang tidak dia lakukan,sampai kapanpun akan saya cari orang yang berani memfitnahnya." tambah Frans selaku kuasa hukum.
" Kami bersedia menjadi saksi jika masalah ini sampai berlanjut." Seseorang ikut menimpali.
Kini Al di kawal tiga orang yang berperan penting dalam masalah ini.
Memang tidak ada bukti kuat untuk menyudutkan bahwa Al bersalah,oleh sebab itu,kepolisian membebaskan Al dengan beberapa syarat,selesai pemeriksaan Al keluar dengan hati tenang semua masalah yang menimpanya telah teratasi.
Al memeluk Roby dan sahabat sahabat yang lainnya secara bergantian,ia merasa senang karena mereka selalu ada di saatnya membutuhkan bahkan tanpa ia minta.
" Terimakasih sudah menolongku,aku tidak tau nasibku jika tidak ada kalian." ucap Al.
" Tidak usah sungkan,kita bisa seperti ini juga berkat keluargamu,apa yang kita lakukan sekarang tidak ada apa apanya di banding dengan apa yang sudah keluargamu berikan,anggaplah ini sebagai balas Budi kami." balas Frans
" Aku yakin orang baik akan di kelilingi orang baik juga." tambah Roby.
" Aku akan mencari siapa dalang di balik ini semua." ucap teman yang lainnya.
Yang langsung di angguki oleh semua.
Karena masih banyak yang harus di kerjakan,akhirnya merekapun berpisah.
*
*
*
Di tempat lain Satria masih setia mengawasi setiap gerak gerik yang di lakukan Alvi,ia berdiam diri di sebuah aula yang langsung berhadapan dengan kediaman Al.Kemampuannya sebagai mata mata dapat di acungi jempol bahkan keberadaannya sama sekali tidak di sadari oleh siapapun.
Fiona datang mengendap ngendap,setelah berhasil keluar dari pesantren berkat izin yang Al berikan tadi, sambil membawa sesuatu yang terbungkus kantung plastik di tangannya,lalu ia menaruhnya di atas meja teras begitu saja,kemudian iapun pergi sebelum seseorang memergokinya.
Setelah memastikan Fiona pergi,dengan segera Satria memeriksa apa yang sudah Fiona taruh di atas meja,
Hanya sebungkus rujak buah? Satria memicingkan mata,apa yang di lakukan Fiona sangat mencurigakan,jika hanya sebungkus rujak mengapa dia harus mengendap endap seperti seorang pencuri.
Satria mengendus,memanfaatkan Indra penciumannya,memang ada yang tidak beres,dengan segera ia membawanya ke ruang lab,dan menggantinya dengan rujak buah yang sudah di pastikan aman.
Tidak lama Citra datang dan langsung memarkirkan motor di halaman rumah Al.
" Assalamualaikum,,Alvi!" sapanya dari luar,ia lalu mendaratkan bokongnya nya di kursi teras sambil menunggu sang empunya rumah membukakan pintu untuknya.
Melirik sebuah bungkusan di atas meja dekatnya,lalu ia membukanya,air liur seolah menetes begitu saja saat melihat rujak buah yang terlihat sangat segar,tangannya sudah bergerak hendak mencomot rujak tersebut,namun ia segera menggelengkan kepala sambil menampar pipinya sendiri,buru buru ia menutupnya kembali,Satria hanya menggulum bibir saat melihat tingkah Citra yang nampak konyol..