
Malam pun tiba,dengan berat hati aku harus pulang sendiri karena unta Arab ku tak kunjung menjemput.
" Lu yakin mau pulang sendiri?" tanya Citra dengan raut wajah yang khawatir.
" Yakin,bismillah aja."
" Balik bareng gue aja,ke rumah Bapak lu."
" Gak usah lah, gue duluan ya!!" pamit ku dan langsung menarik gas meninggalkan Citra yang mesih mematung di depan toko.
Di sepanjang perjalanan aku merasa dejavu,rasa trauma masih menghantui.namun aku tetap melajukan motor ku dengan kecepatan tinggi, menerobos gelap dinginnya malam.
Di tengah perjalanan,sebuah mobil menghadang ku, lima orang pria bertubuh besar keluar dari mobil tersebut. Mereka menyeretku dan membawa ku masuk kembali ke dalam mobil.
" Mau apa kalian,lepasin!!!" berontak berusaha membebaskan diri. Namun tenaga ku tak cukup kuat untuk melawan lima orang pria dewasa seperti mereka.
" Diam atau pisau ini akan melukai leher mu." ucap salah satu dari mereka yang sudah siap menodongkan pisau nya di leher ku. Mereka pun berhasil mengikat dan menyumpal mulutku lalu membawa ku masuk ke dalam mobil.
" Al ,tolong aku,jangan biarkan gue mati sekarang,gue belum sempet bilang cinta sama lu." lirik ku dalam hati,pikiran ku terus tertuju pada pria yang sudah menjadi suami ku. "Bagaimana aku bisa menjadi istri yang baik jika aku mati sekarang." hati ku meracau tak karuan.
Tiba tiba seseorang dengan mengendarai sepeda motor mengejar mobil yang mambawa ku.
"Ada yang dateng, jalankan Lebih cepat lagi." seru salah satu penculik yang terus memperhatikan orang di belakang kami.
Dan terjadilah aksi kejar kajaran.
Dan akhirnya harapan hidup ku kembali setelah pria itu berhasil menghadang dan menutup jalan yang akan di lalui para penculik itu. Mereka semua turun dan menghampiri orang tersebut.
" Siapa pun orang itu,aku akan sangat berterima kasih." gumam ku dalam hati pada pria yang sekarang sedang baku hantam melawan para penculik itu.
Tiba tiba seseorang membuka pintu mobil dengan tergesa gesa.
" Sayang,kamu gak apa apa?" tanyanya sambil membawa ku keluar lalu melepaskan semua tali yang mengikat kaki ,tangan dan juga mulut ku.
" Aku gak apa apa,bantu dia." titah ku sambil menunjuk pria yang masih sibuk menghajar para penculik itu. Tanpa menunggu lama unta Arab ku pun ikut menghajar dan melumpuhkan mereka.
" Makasih yah." ucap unta Arab ku pada pria tersebut sambil menepuk bahunya,pria itu pun berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.
" Tunggu,kita akan mengantar mu ke rumah sakit." aku berusaha mencegahnya saat ia hendak pergi.
" Gak apa apa,ini belum seberapa." ucapnya dengan santai,padahal lukanya sudah cukup parah.
" Ya udah kita pulang sekarang." ajak unta Arab ku.
" Tapi orang itu." aku masih mencemaskan orang yang tadi membantu menolong ku,dan aku merasa pernah melihatnya.
" Nanti akan aku urus." ucapnya sambil membawa ku masuk ke dalam mobilnya.
Di sepanjang perjalanan kami hanya diam,aku mencoba melirik ke arahnya,dia sama sekali tidak bergeming,dan malah tetap fokus pada jalanan di depannya. Ku lihat luka lebam di pipi dan sudut bibirnya.
Aku pun memberanikan diri untuk menyentuh dan sedikit membelai pipi itu.
" Apa ini sakit?" tanya ku dengan hati hati dan dia hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala.
Aku merasa ada yang aneh dengan nya.
dengan segera aku pun menyusulnya ke dalam rumah.
" Kamu kenapa?" tanya ku seraya duduk di sampingnya.
" Maafin aku."
" Maaf kenapa?"
" Aku gak bisa jaga kamu dengan baik." ucapnya dengan raut wajah bersalahnya.
" Kamu datang di waktu yang tepat,kamu selalu ada di saat aku membutuhkan mu." ucap ku sambil mengoleskan salep di lukanya.
" Bukan aku,tapi pria itu yang datang di waktu yang tepat."
" Kamu juga sama, aku senang kamu menolong ku." ucap ku sambil menyandarkan kepala ku di bahunya dan berusaha menghiburnya.
Ku lihat dengan sangat jelas wajah penyesalannya,membuat hati ku ikut merasakan sakit.
" Seandainya aku bisa jemput kamu tepat waktu,kamu gak mungkin ngalamin hal semacam ini untuk yang ke dua kalinya."
" Ke dua kalinya?"
Aku pun mengadahkan wajahku seraya memicingkan mata menelisik kebenaran yang membuatku penasaran.
" Aku tau dulu kamu bukan di serang begal." ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
" Tau dari mana?"
" Itu tidak penting,yang penting mulai sekarang aku tidak akan lengah sedetik pun untuk menjaga mu."
" Tapi aku tidak mau kamu mengekang ku." protes ku. Karna aku tidak ingin terkekang seperti dulu saat masih tinggal bersama orang tua ku.
" Baik lah aku tidak akan mengekang mu,tapi aku minta apa pun yang terjadi cerita kan pada ku."
" Hmmm.." aku pun kembali bersandar di pundak nya,tempat ternyaman yang kini menjadi tempat paforit ku,sambil melingkarkan tangan ku di perutnya.
Dia pun merangkul dan memeluk ku dengan sangat erat,sambil sesekali menciumi kepala ku.
*
*
*
***Lagi gak enak badan ,,ngetiknya jadi kurang fokus,mohon maaf kalau kurang memuaskan. Jangan lupa like komen dan votenya...
terima kasih...🤗🤗***