
Mereka memiliki wadah pembakaran dari besi. Tinggal memasukan arang dan menyalahkannya, setelah itu meletakan ayam atau daging di atas besi tersebut. Efraim sudah terbiasa melakukan hal tersebut, karena mereka suka membakar jagung pada acara tertentu.
Darel tidak kuat mencium bau masakan, jadi pindah kerja ke ruang tamu bersama Pak Darpha dan Mikha.
"Kenapa pindah ke sini." Tanya Mikha.
"Tidak tahan bau masakannya, jadi ingin makan." Ucap Darel sambil tersenyum.
Setelah ayamnya matang, Kandara membiarkanya sejenak sebelum di goreng dan dipanggang. Sedangkan soup kacang merah buatan Bu Selvine sudah mulai dibumbui. Baunya semakin menggiurkan.
Menjelang makan siang, Pak Darpha mendapat info bahwa, mereka sudah bisa berangkat ke Seoul. Pak Darpha memanggil Bu Richel untuk membicarakannya.
"Kapan Mommy mau balik ke Seoul.?" Tanya Pak Darpha.
"Besok sore saja, Dad.., biar hari Sabtu atau Minggu mereka sudah bisa menikah." Jawab Bu Richel. Pak Darpha mengangguk mengerti.
"Darel, kalian menikah di Gereja secara privat dulu ya, jadi tidak perlu ngundang orang lain. Nanti setelah itu baru kalian buat pesta dan mengundang saudara atau teman-teman kalian." Ucap Bu Richel.
"Baik, Mom.. untuk selanjutnya akan Darel bicarakan dengan Mikha. Tetapi untuk tanggal berangkat ke Seoul dan Hari pernikahan kita bicarakan dengan Dara dan Ma Selvine setelah makan siang. Jangan sampai mereka terkejut kalau terlalu cepat." Ucap Darel dan mereka bertiga mengangguk setuju.
Tidak lama kemudian, Efrima memanggil mereka semua untuk makan siang. Semua masakan sudah di tata di atas meja makan. Setelah Bu Richel berdoa, mereka menikmati makan siang bersama. Karena kursi meja makan terbatas, ada yang makan di ruang tamu.
Seperti tadi malam, Darel, Mikha dan kedua orang tuanya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi keluarga Kandara. Ketika Pak Darpha melihat soup kacang merah, beliau bertanya kepada Kandara.
Kandara menjelaskan dan menyarankan untuk mencicipi sedikit dulu. Kandara mengambil piring dan sedok kecil untuk Pak Darpha dan Bu Richel mencobanya.
Mereka langsung menganggukkan kepala. Darel melihat Bu Selvine dan tersenyum. Bu Selvine bernafas lega, karena Darel sekeluarga bisa menikmati masakan yang mereka masak.
*- Ada pepata; tak kenal, tak sayang. Begitupun dengan makanan -*
*((**))*
Setelah makan siang, Bu Richel membantu Bu Selvine bersih-bersih. Karena Darel mengajak bicara Kandara sebelum diadakan pembicaraan serius dengan keluarga yang lainnya.
Mereka ke kamar Efrima untuk berbicara.
Darel duduk di kursi belajar Efrima, sedangkan Kandara duduk di tepi tempat tidur. Sebelum berbicara, Darel memegang tangan Kandara dan menatapnya. Kandara tahu, ini adalah pembicaraan serius.
"Dara,., apakah semua surat untuk menikah sudah kau siapkan.?" Tanya Darel pelan.
"Iyaa, Darel,., sudah aku siapkan semua.." Jawab Kandara, dan Darel bernafas lega.
"Syukur., yang penting sudah kau siapkan. Begini, Dara.., kita akan berangkat ke Seoul besok sore. Hal ini akan dibicarakan setelah makan siang." Ucap Darel serius.
"Tetapi sebelum dibicarakan bersama, aku bicara denganmu dulu. Supaya nanti ketika Mommy dan Daddy bicarakan ini, kau tidak terkejut. Dan juga supaya kau bisa bantu meyakinkan Mama."
"Apakah harus secepat ini., Darel.? Kami belum siap apa-apa." Ucap Kandara mulai cemas. Inilah yang dikhawatirkan Darel, Kandara panik dan akan membuat Bu Selvine ragu-ragu.
"Bukan mengecilkanmu dan Mama, tetapi ini adalah tanggung jawabku. Kalian tidak perlu menyiapkan apa pun, yang penting semua surat untuk menikah sudah kau siapkan. Sedangkan yang lainnya itu bagianku." Ucap Darel sambil mengelus tangan Kandara.
Kandara masih diam mencerna ucapan Darel, dia memang sudah siap untuk menikah tetapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Kau bisa meminta cuti tambahan dari kantor seperti yang daddy katakan tadi malam.?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk mengiyakan.
"Coba kau bicarakan dengan guru atau kepala sekolah mereka. Kalau mereka tidak diijinkan, terpaksa anak-anak akan menundah 1 tahun pelajarannya." Ucap Darel., serius.
"Baiklah,, besok pagi aku akan ke sekolah untuk berbicara dengan guru dan kepala sekolah mereka. Yang penting kau sudah setuju kalau sampai mereka tertinggal kelas. Nanti kau bicarakan dengan anak-anak, supaya jangan sampai mereka merasa minder dari teman-temannya." Ucap Kandara, dan Darel mengangguk setuju. Darel mengajaknya berdiri untuk turun dan berbicara dengan yang lain.
"Thank u.., telah membuatnya lebih mudah bagiku." Ucap Darel sambil memeluk Kandara dan mengusap punggungnya. Kandara mengangguk diam dalam pelukan Darel.
Setelah turun, Kandara mencari mamanya yang ternyata ada di kamar. Dia menyampaikan rencana yang akan dibicarakan dan mohon pengertian Mamanya. Bu Selvine mengangguk mengerti apa yang disampaikan Darel kepada Kandara.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Bu Selvine diketuk dan Efraim masuk dan mengatakan Oma dan Mommy telah di tunggu di ruang tamu. Mereka segera keluar bersama-sama dengan Efraim.
Setelah mereka semua telah berkumpul, Pak Darpha memulai pembicaraan.
"Begini Bu Selvine dan Dara., semua surat untuk keperluan berangkat sudah OK., jadi kami berencana besok sore, kita semua akan berangkat ke Seoul. Kita akan melakukan apa yang kita rencanakan tadi malam mengenai pernikahan Darel dan Dara." Ucap Pak Darpha, dan semua diam.
"Mengenai tanggal pernikahan, nanti Mommy dan Bu Selvine bicarakan bersama Darel dan Dara. Itu bisa di bicarakan dalam penerbangan. Yang penting sekarang, Dara mengurus cutinya dan libur anak-anak. Serta Bu Selvine untuk butiknya yang akan ditinggal beberapa waktu." Ucap Pak Darpha lagi.
"Oooh iyaa.., Untuk berangkat besok,; Bu Selvine, Dara dan anak-anak tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Hanya surat-surat dan obat-obatan kalau ada. Untuk pakain, tidak usah di bawa. Semuanya akan diurus oleh Darel dan Mikha." Ucap Pak Darpha, Kandara melihat wajah Darel dengan tidak mengerti. Darel memberikan kode untuk tenang.
"Begini,, besok itu,, Mama, Dara dan anak-anak tidak perlu membawa baju. Untuk semua keperluan itu nanti di sana baru kita disiapkan. Seperti kata Daddy, nanti Darel, Mikha dan Mommy akan membantu menyiapkan bersama." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengiyakan melihat kode Darel agar dia menyetujuinya.
Kandara berdiri ke dapur untuk menenangkan hatinya dengan mengambil buah-buahan. Karena hal yang dikatakan itu, tidak pernah terpikirkan olehnya. Tiba-tiba telpon Kandara yang terletak di atas bufet bergetar.
"Mommy, Pani Toby telpon." Ucap Efrima., ketika melihat ponsel Kandara.
Kandara sedang ke dapur untuk mengambil puding dan buah-buahan untuk disajikan., sehingga Efrima menerima telponnya. Darel menggelengkan kepalanya., melihat apa yang dilakukan oleh Efrima.
"Allooo, Pani Toby.." Sapa Efrima, kepada Papa rohaninya.
Allooo, Efri.., Mommy lagi sibuk.?" Tanya Toby.
"Lumayan, Pani..,." Jawab Efrima.
"Kalau begitu, Efri tolong spiker dan dekatkan ponsel dekat ke Mommy,, ya.." Ucap Toby, serius.
"Iyaa Pani,, ini sudah." Ucap Efrima sambil mendekatkan ponselnya kepada Kandara. Karena sudah terlanjur dispiker, dia tidak enak mematikannya.
"Ok, cantik..,thank u.. Allooo, Dara.. Aplikasinya sudah selesai.?" Tanya Toby.
"Sudah, Mas.." Jawab Kandara, terkejut.
"Ooh,, syukur deh.., kau lupa ada janji dengan Pak Jinwoo, yaa..?" Tanya Toby.
"Astagaaa,, maaf Mas.. aku benar-benar lupa. Apakah beliau jadi meeting hari ini.?" Tanya Kandara cemas.
"Bukan hanya hari ini, tapi sekarang. Beliau sudah tiba di Jakarta tadi pagi dan minta meetingnya sekarang. Aku kira beliau sudah memberi tahumu." Ucap Toby, merasa heran. Karena dirinya dan Mala sudah diemail sebelumnya.
"Mungkin sudah, Mas. Tapi aku belum periksa emailku." Ucap Kandara cemas. Darel memperhatikan kecemasan Kandara dan menanyakan Efraim. Karena dia kurang mengerti pembicaraan mereka yang cepat. Darel sudah mulai belajar bahasa Indonesia, tetapi masih standart.
*- Sesuatu yang tidak terduga, bisa menyenangkan atau menguatirkan -*