Me And You For Us

Me And You For Us
Darel.



Flash back


Entah sudah berapa lama Kandara tertidur atau tidak sadarkan diri. Hanya malam dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi dengannya. Tenggorokan Kandara yang kering mengganggunya, membuat dia tersadar dan membuka matanya perlahan untuk bangun mencari minuman.


Ketika melihat ada orang di sampingnya, Kandara terkejut hampir berteriak. Tetapi kesadarannya dengan cepat kembali dan mengingat apa yang telah terjadi dengannya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Dipandangnya wajah Darel yang tertidur pulas disampingnya. Wajah tampannya begitu tenang dan damai. Sangat menenangkan hati yang melihatnya.


Kandara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan dan pelan. Seketika, rasa kecewa, amarah dan sakit hatinya berangsur-angsur surut.


Hati dan pikiran Kandara bersahut-sahutan:


'Engkau lelaki pertama yang menyentuhku, Darel.'  Kandara membatin sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah yang begitu dikagumi, 'bias'nya.


Wajah yang sangat berbeda dengan wajah yang dilihatnya tadi malam. Wajah inilah yang dikaguminya selama ini. Wajah yang sering dijuluki 'wajah sejuta pesona' oleh banyak orang terutama para Melons.


'Wajah tenang dan mempesona inilah yang membuatku dengan sepenuh hati mau membantumu di lift tadi malam.' Ucap Kandara dalam hati, sambil terus menatap wajah Darel.


Kandara menarik kembali tangannya karena jarinya mulai bergetar seiring dengan jantungnya yang berdegup kencang. Kandara khawatir bisa membangunkan Darel jika menyentuhnya.


Sambil memegang dada, ditatapnya sekali lagi wajah Darel. Matanya mulai memanas dan berembun. 'Aku tahu yang terjadi denganmu, aku memaafkanmu'. Ucap Kandara dalam hatinya.


Disingkapkan perlahan selimutnya dan tanpa suara, Kandara turun dari tempat tidur. Sambil menahan sakit di bagian bawah tubuhnya, Kandara berjalan jinjit pelan ke meja tempat air minum.


Dia mengambil air minum yang dituangnya tadi malam untuk Darel, dan meneguknya pelan untuk melegakan tenggorokannya yang kering dan serak.


Setelah itu, Kandara memungut pakaiannya satu persatu dan mengenakannya. Karena baju bagian atasnya telah robek, Kandara mengambil jacket Darel yang dikenakan tadi malam dan mengenakannya untuk menutupi bajunya.


Kemudian Kandara membuka tas dan mengambil ponselnya dari dalam tas, untuk melihat waktu saat ini. Tetapi  ponselnya telah lowbat/mati. Hal itu membuatnya panik, karena tidak mengetahui waktu dengan tepat.


Kandara segera bergegas dengan cepat, karena tidak bisa melihat di luar dan tidak ada petunjuk waktu dalam kamar Darel. Dia harus secepatnya kembali ke hotel, karena ditunggu teman-temannya untuk kebandara.


Diambilnya Note dan pulpen dari dalam tasnya. Kandara menulis pesan untuk Darel di sehelai kertas. Dia melipat dan meletakannya di bawah gelas yang ada di meja tempat minuman.


Sekali lagi Kandara menatap wajah Darel yang sedang terlelap dengan air mata yang mulai tergenang. Wajah yang bisa dilihatnya secara real, yang dikagumi selama ini.


Kandara berbalik, karena hatinya mulai bergolak. Dia menghapus air mata yang mulai menggenangi mata dan pipinya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, sehingga hatinya begitu sedih harus meninggalkan Darel.


Kandara mengenakan tas di bahunya, sambil menenteng sepatu dan paper bag, Kandara berjalan pelan keluar dari kamar. Dia menutup pintu perlahan, agar tidak membangunkan Darel.


Setelah di luar kamar, Kandara mengenakan sepatunya dengan hati yang berat dan air mata yang berlinang. Dia merapatkan jacketnya yang longgar untuk menghangatkan tubuhnya.


...°-° Hanya hati yang tahu semua rasa hati, tiada seorang pun tahu rasa hati seseorang.°-°...


Flash off.


Begitu pun di salah satu kamar Relkha Hotel, sinar mentari dari balik tirai mulai menyilaukan mata. Memberikan isyarat bahwa hari telah siang terang.


Bukan saja sinar mentari, tetapi juga rasa lapar membangunkan Darel yang sedang tertidur lelap. Dia membuka matanya perlahan sambil mengerakan kedua tangannya ke atas melewati kepalanya.


Suatu kebiasaan bangun pagi Darel, dengan menggerakan tubuhnya untuk merenggangkan otot tubuhnya yang kaku karena tidur terlalu lama. Tetapi pagi ini tubuhnya bukan saja kaku, tetapi juga terasa pegal dan sakit.


Darel menyingkirkan selimut dengan kakinya dan hendak bangun. Seketika Darel terkejut dan membeku, karena melihat kondisi tubuhnya yang tanpa busana. Terlihat juga ada bercak darah di penutup kasur yang putih.


Darel segera bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian dia mengumpulkan kesadarannya untuk mengingat apa yang terjadi dengan dirinya tadi malam.


Darel berguman sambil melompat turun dari tempat tidur dan mencari pakainnya. Dia mengenakan pakaiannya yang ada di atas kursi. Karena Kandara telah merapikan dan meletakannya di sana.


Kemudian Darel berjalan ke kamar mandi dan mengetok pintu kamar mandi. Karena dia berpikir, wanita yang bersamanya tadi malam ada di dalam kamar mandi.


"Apakah kau ada di dalam?" Tanya Darel, sambil mengetuk pintunya beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan. Darel mencoba membuka pintunya, dan mengetahui pintunya tidak dikunci. Dia masuk dan memeriksa, ternyata kamar mandinya kosong.


"Kemana gadis itu?" Ucap Darel sambil mengusap wajahnya berkali-kali. Dia segera keluar dari kamar mandi dan melangkah ke balkon untuk mencarinya di sana. Tetapi ketika tidak menemukannya di sana, Darel menjadi panik.


Dia memperhatikan kamarnya bersih, tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis yang bersamanya tadi malam. Tidak ada barang milik gadis itu dalam kamarnya. Dia sempat berpikir, mungkinkah dia sedang keluar untuk sarapan.


Darel makin panik dan khawatir, dia mencengkram tengkuknya dengan keras sambil berjalan kembali ke dalam kamar tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Rasa laparnya hilang entah kemana.


'Kenapa tidurku seperi batu, sehingga tidak mendengar apapun dan tidak menyadari keberadaannya?'  Darel mengomeli dirinya sendiri, beruntun.


Darel menarik rambutnya dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang dan hatinya sangat kesal. Dia makin kesal karena tidak bisa mengendalikan dirinya dan itu sangat mengganggunya


Lidahnya keluh dan tenggorokannya menjadi kering. Dia segera ke meja untuk mengambil air mineral untuk menghilangkan serak dan juga supaya bisa berpikir.


'Kemana gadis itu? Apakah dia sudah meninggalkan kamar ini?' Pikir Darel, sambil melangkah ke meja untuk mengambil minumannya.


Ketika hendak mengambil gelas di atas meja tempat minuman, Darel melihat ada lipatan kertas di bawah gelas minumannya. Dia mengambil kertas tersebut, membuka lipatannya dan membacanya.


...'Darel, Aku tidak akan menuntut atas apa yang kau lakukan padaku. Berhati-hatilah dengan orang yang ada di sekitarmu. Mereka bisa merusak kariermu dan berlaku jahat padamu. Aku membawa jacketmu untuk menutupi bajuku yang robek.' -Dara- From Indonesia....


"Ooh... Nouuu." Teriak Darel, sambil menarik rambutnya. Darel benar-benar tersentak saat membaca pesan Kandara. Dia sangat terkejut ketika mengetahui wanita yang bersamanya tadi malam bukan dari Korea.


Dia berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, tanpa melakukan sesuatu. Kemudian dia berjalan kembali ke meja tempat air mineral.


...°-° Kesadaran diri seseorang, dapat mengontrol perilakunya °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...