Me And You For Us

Me And You For Us
Prewed 1.



Di bagian bumi yang lain ; Kedua anak Kandara telah beranjak besar, mereka sudah mulai bersekolah. Selain Play Grup, mereka mulai belajar di sekolah musik, karena Efraim dan Efrima lebih berminat di dunia musik.


Suara mereka berdua sangat merdu, sehingga hampir setiap hari Minggu mereka bernyanyi di Gereja atau di Sekolah Minggu. Kandara mendukung semua kebisaan kedua anaknya. Mereka seperti Darel, menyukai musik dan cepat tanggap semua yang mereka dengar.


Telinga mereka sangat peka terhadap suara, terutama musik. Melihat ketertarikan kedua anaknya sejak kecil, Kandara membeli mainan berupa alat-alat musik. Mereka dengan cepat menguasai alat-alat musik yang dibelinya.


Terutama Efraim sangat cepat menguasai orgen mainannya. Melihat itu, Kandara mengikuti kursus musik bagi mereka setelah pulang play grup. Bu Selvine dengan senang hati mengantar kedua Cucunya. Bu Selvine sangat senang dan bangga melihat kecerdasan dan kemampuan kedua cucunya. Mereka sangat cepat belajar yang mereka suka.


Mereka sudah bisa membaca dan berhitung dengan baik. Mereka cepat menghapal lagu-lagu yang didengar. Kemampuan berbahasa Inggris dan Korea juga luar biasa, membuat Bu Selvine takjub. Padahal hanya karena sering mendengar lagu yang didengar boleh Kandara.


Akhirnya Bu Selvine juga ikut belajar Bahasa Korea, karena Kandara sering  berbicara dengan mereka menggunakan Bahasa Korea atau Inggris, selain Bahasa Indonesia. Sekarang lebih mudah belajarnya, karena semua tersedia di YouTube. Jadi ketika kedua cucunya belajar, Bu Selvine juga ikut belajar.


Bu Selvine juga membantu Kandara untuk mengantar kedua cucunya ke sekolah atau kursus ketika Kandara berhalangan atau sedang sibuk bekerja. Mereka bergantian mengurus keperluan Efraim dan Efrima.


*((**))*


Di sisi yang lain ; Saat ini, Kandara sedang sibuk di kantor bersama rekan-rekannya, karena lagi banyak proyek yang harus diselesaikan. Toby melihat Kandara dengan seksama, karena ada hal yang akan dibicarakanya dengan Kandara berdua saja. Sehingga Toby mengrim pesan kepada Kandara.


"Dara, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Isi pesan Toby. Kandara tidak membalasnya, tetapi langsung mengangkat wajahnya dari laptop dan melihat Toby. Tetapi Toby tidak melihat kearah Kandara. Dia hanya melihat laptopnya. Dia tahu, Kandara sedang melihatnya.


"Iyaa, Mas." Akhirnya Kandara membalas pesan Toby.


"Nanti pulang aku akan mengantarmu, karena mau bicara berdua denganmu." Pesan Toby lagi.


"Baik, Mas. Nanti aku bilang Mama ngga usah menjemputku." Balas Kandara lagi.


"Ok, makasi." Pesan Toby, mengakhiri chat mereka.


Setelah tiba waktu pulang kerja, Kandara mendekati meja Toby. "Mas. Pulang nanti, Dara ikut mobil Mas Toby, yaa." Ucap Kandara, karena tidak enak tiba-tiba pulang ikut Toby.


"Ooh iyaa, boleh. Mau pulang sekarang?" Tanya Toby, mengerti yang dimaksudkan Kandara.


"Iyaa, Mas. Ngga papa?" Tanya Kandara. Karena semenjak melahirkan, dia sudah jarang lembur karena anak-anaknya masih kecil.


"Kalau Toby pulang, aku juga pulang, deh. Besok baru dikerjakan lagi." Ucap Mala, lalu merapikan mejanya.


"Maaf yaa, Mas Mala." Kandara mengatupkan kedua tangan di dadanya.


"Ngga papa, Dara. Itung-itung, istirahat lebih awal. Ayooo..." Ucap Mala, sambil mengajak mereka pulang. Toby langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar. Kandara juga ikut berjalan keluar dengan diam, karena melihat wajah Toby yang serius.


Setelah Kandara telah duduk di dalam mobil, Toby menjalankan mobilnya pelan. Karena jarak rumah Kandara yang dekat dari Kantor. "Mas Toby, ada apa?" Tanya Kandara penasaran. Setelah melihat ada tempat yang aman untuk menepih, Toby menepikan mobilnya.


"Dara, aku akan menikah." Ucap Toby langsung pada tujuannya. Kandara langsung menatap Toby, seakan tidak percaya. Melihat wajah Kandara yang terkejut dan memerah, Toby melanjutkan.


"Itulah mengapa aku ingin bicara berdua denganmu. Agar nanti aku bicarakan dengan yang lain, kau tidak seperti ini." Ucap Toby lagi. Kandara masih diam menunduk, mencerna ucapan Toby.


"Kau dan anak-anak tetap bisa seperti sekarang. Aku akan tetap membantumu dan anak-anak, jika diperlukan." Ucap Toby, mencoba mencerna keterkejutan Kandara.


"Semoga dia menyayangi, Mas Toby." Ucap Kandara yang sudah berlinang air mata.


"Amin. Kau juga, semoga mendapakan orang yang benar-benar menyayangimu." Ucap Toby, dan mengusap pundak Kandara.


Toby telah berbicara dengan kedua orang tuanya tentang keputusan Kandara, sehingga mereka menyerah mengharapkan bermenantukan Kandara.


Sehingga Toby mulai membuka diri dan hati untuk belajar melihat wanita yang lain. Karena dia mengenal Kandara dengan baik, jika sudah memutuskan demikian, dia akan melakukannya. Walaupun hatinya harus berdarah-darah, dia akan menjalaninya.


"Sudaaa... Aku ngga kemana-mana, hanya menikah. Setelah itu masih bisa bertemu di tempat kerja, masih bercanda lagi. Jangan kau buat wajah seperti ini di depan Mala. Bisa-bisa dia melarangku menikah. Heheheee..." Ucap Toby mencoba bercanda untuk memenangkan Kandara.


"Kapan, Mas Toby menikah?" Tanya Kandara yang sudah mengangkat wajahnya.


"Aku akan menikah dua Minggu lagi dari sekarang."


"Astagaaa... Kenapa baru bilang sekarang, Mas?" Tanya Kandara terkejut.


"Yaa, karna baru diputuskan tadi malam. Nanti besok baru aku bicara dengan Mala dan Pak Ari. Karena beberapa hari lagi aku sudah di Jogja untuk persiapannya." Ucap Toby lebih lanjut.


"Mas menikah di Jogja? Aku, Mama dan anak-anak tidak bisa hadir dong." ucap Kandara, makin sedih.


"Kalau aku sudah cuti, jangan kau ikutan cuti juga. Kasihan Malaaa..." Ucap Toby lagi.


"Mas Toby tega sekali, masa dari kami tidak ada yang hadir." Kandara protes dengan wajah sedih.


"Kandaraaa, ini aku mau menikah. Apa jadinya kalau aku lihat kalian? Jangan-jangan malah, bubar grak. Sudalaaa, biarkan saja begitu. Aku ini belum pintar muka kering seperti Mala. Bisa-bisa  celetukan Yeni membuatku, ngga bisa konsen." Ucap Toby, lalu hendak menjalankan mobilnya.


"Sebentarrr, Mas." Kandara berkata sambil memegang tangan Toby untuk menahannya, agar jangan menjalankan mobil dulu.


"Ada apa, Dara?" Tanya Toby, sambil memandang wajah Kandara.


"Mas, berjanji dulu." Ucap Kandara, balik memandang wajah Toby.


"Kau mau aku berjanji, apa?"


"Aku mau Mas berjanji. Walaupun Mas sudah menikah, Mas tetap menjadi Kakakku."


"Iyaaa...!"


"Mas tetap Pani anak-anakku."


"Iyaaa..!"


"Ada lagi...?" Tanya Toby, melihat Kandara yang diam. Tetapi Toby tersenyum dalam hati, melihat diamnya Kandara.


"Itu saja dulu. Karna terkejut, aku belum bisa mikir lagi." Ucap Kandara, dengan wajah sedih.


"Kau itu, jangan kebanyakan mikiiirr..." Toby berkata sambil mengacak rambut Kandara dengan sayang.


"Sudah kubilang, rasa sayangku padamu dan anak-anak, tidak akan berubah. Karna kau telah menjadi adikku." Ucap Toby, sambil memandang mata Kandara untuk meyakinkan dirinya dan juga Kandara.


"Baiklah, Mas. Aku dan anak-anak akan berdoa buat Mas dan acaranya." Ucap Kandara sambil menghapus air matanya.


"Kalau kau bicara begitu lebih baik, aku jadi lega." Toby langsung menjalankan kembali mobilnya.


"Mas, mau kado apa dariku?" Tanya Kandara untuk mencairkan suasana dalam mobil.


"Tidak perlu membelikan kado untukku. Cukup selama aku cuti, tolong lihatin Mala. Karna cutiku lumayan lama. Jika kalian harus kerja lembur dan kau melihat Mala mulai mengangkat wajahnya, ajak dia pulang. Bilang perlu, seret dia kalau tidak mau. Karna itu tandanya, dia akan mimisan." Ucap Toby, serius.


"Oohh iya, Mas. Aku ingat itu." Ucap Kandara.


"Sepertinya, anak-anak belum tidur." Ucap Toby, ketika mobilnya telah tiba di depan rumah Kandara.


"Sepertinya begitu, Mas. Itu masih terdengar, suara Efri." Ucap Kandara.


"Aku akan turun sebentar untuk bertemu Tante dan anak-anak." Toby berkata, lalu membuka mobilnya dan turun. Begitu juga dengan Kandara.


*- Suatu hubungan yang dipaksakan, akan membawa dampak yang buruk -*


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡