
Sampai di kamar Kandara, Darel menyingkirkan guling dari bawa kaki Kandara dan mulai memijit betis dan kakinya perlahan. "Dara. Maafkan kami berdua, karena tidak bisa membantumu untuk membawa mobilnya. Selain tidak tahu jalan, kami belum terbiasa dengan mobil di sini." ucap Derel sambil memijit kaki Kandara yang sangat tegang. Kandara mengangguk mengerti.
Setelah mulai berkurang pegalnya, Kandara mengisyaratkan dengan tangan untuk cukup. "Terima kasih, Darel. Sudah lebih baik." Ucap Kandara dengan wajah memerah.
"Baiklah, nanti di ulang lagi. Jadi biarkan minyak ini di sini saja." Ucap Darel sambil meletakan minyaknya di meja, samping tempat tidur.
Walau pun setelah tiba di villa, Darel tidak membahas peristiwa yang terjadi di Tol, tetapi Kandara khawatir peristiwa itu masih menganjal di hati Darel. Dan itu bisa mengganggu suasana hatinya. "Darel. Mau mendengar cerita tentang peristiwa di Tol, tadi?" Tanya Kandara, karena berharap tidak ada salah paham yang merusak suasana.
"Kau mau menceritakannya?" Tanya Darel, sambil melihat Kandara dengan serius. Kandara mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, tunggu. Aku akan cuci tangan dulu." Ucap Darel dan hendak ke kamar mandi.
"Darel, bersihkan tanganmu dengan tissu basah yang di atas meja itu saja." Ucap Kandara, sambil menunjuk tissu basah di meja. Darel melihat tissu di atas meja dan mengangguk.
"Ooh, Ok. Thanks." Setelah bersihkan tangannya, Darel kembali duduk di pinggir tempat tidur. Kandara sudah menegakan tubuhnya, bersandar pada tempat tidur.
"Begini. Pria yang tadi mengikuti mobil kita namanya Lucha, dia mantan pacarku." Kandara mulai ceritanya. Darel tetap diam mendengarkan. Mimik wajahnya saja yang berubah. Melihat Darel tetap diam, Kandara melanjutkan ceritanya.
"Dia pacarku sebelum aku bertemu denganmu. Dia juga satu Gereja dengan kami. Tetapi dia agak kurang sabar dan cendrung kasar, sehingga Mama kurang menyukainya." Ucap Kandara menjelaskan. Darel terus mendengar cerita Kandara dengan serius.
"Kami pacaran hampir satu tahun, tetapi apa yang terjadi diantara kita berdua 10 tahun lalu itu, membuat kami berpisah. Aku yang biasanya bisa menerima dan memahami semua lakunya, tiba-tiba tidak menerimanya. Ketika dia berlaku tidak sopan kepada teman kantorku, aku tidak terima dan kami berpisah."
"Pertama-tama dia marah ketika mengetahui nomornya diblokir. Tetapi setelah mengetahui aku hamil, dia semakin marah. Mungkin dia merasa aku telah mengkhianatinya." Kandara berkata dengan tenang dan pelan.
"Kalian masih sering bertemu?" Tanya Darel tenang, tetapi serius.
"Tidak juga, kadang bertemu tidak terduga seperti tadi. Karena kami masih sama-sama tinggal di daerah yang sama." Ucap Kandara menjelaskan lagi.
"Lalu kenapa tadi kau tersenyum setelah bertemu dengannya?" Darel tidak bisa menyimpan rasa tidak sukanya, kerena masih memgingat Kandara tersenyum setelah bertemu dengan Lucha.
"Oooh, yang itu. Itu karena ucapan Efra." Ucap Kandara tersenyum.
"Ucapan Efra? Apa katanya?" Tanya Darel, penasaran.
"Om. Kami bersyukur, Om bukan suami Mommy kami." Ucap Kandara, mengulang apa yang dikatakan Efraim. Darel jadi tersenyum mendengarnya.
Kandara tidak menceritakan bagian lainnya untuk menjaga perasaan Darel. "Kau tersenyum juga bukan? Apalagi kau melihat wajah Lucha yang terkejut saat mendengar ucapan Efra." Kandara ikut tersenyum.
Darel merasa lega mengetahui itu, dia langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Kandara. Hal itu membuat Kandara terkejut dan berhenti tersenyum. Darel mengambil tangan Kandara dan meletakan tangannya di atas kepala Darel.
Kandara mengerti dengan sikap Darel, dia langsung mengusap kepala Darel pelan. Perlahan Darel memejamkan matanya sejenak menikmati suasana yang sangat dirindukannya. Ketika tangan Kandara mengelus kepalanya, Darel tahu. Kandara tidak menyimpan marah terhadapnya. Kandara benar memaafkannya.
Kandara terus mengusap kepala Darel, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tenang dan tampan yang di atas pangkuannya. Tanpa disadari, tangan kiri Kandara menyentuh pelipis Darel dan mengelusnya pelan.
*- Harus ada kepastian sebelum melangkah, agar tidak ada keraguan -*
Kandara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Apakah aku masih bisa mencintai orang lain, jika hatiku telah mencintai anak-anak dan Daddynya?" Tanya Kandara sambil menatap Darel.
Darel langsung mencium perut Kandara dan bangun dari pangkuannya. "Istirahatlah, nanti malam baru kita lanjutkan pembicaraan ini." Ucap Darel. Kemudian Kandara membaringkan tubuhnya. Darel menyelimuti, mencium keningnya dan keluar menuju kamarnya.
Saat tiba di kamar, anak-anak telah tidur di kamarnya. Darel beranjak ke kamar anak-anak dan istirahat di sana. Karena dia tidak mau membangunkan kedua anaknya.
Hari menjelang sore, mereka berjalan-jalan di sekitar villa. Menikmati taman dan juga pohon-pohon rimbun, dengan udara yang sejuk. Mereka menunggu sunset dengan duduk di gazebo dekat kolam renang sambil menikmati snack dan minuman hangat yang telah dipesan oleh Kandara.
Ada beberapa penghuni villa juga yang menikmati sunset dengan duduk di beberapa gazebo di dekat kolam renang. Ada juga yang sedang berenang. Melihat itu, Kandara mengijinkan anak-anak untuk berenang. Tetapi Darel dan Mikha tidak bisa ikut berenang, karena banyak orang yang berenang.
Demi kenyamanan Darel dan Mikha, mereka tidak makan malam di restaurant villa, tetapi di villa mereka. Penampilan Darel dan Mikha terlalu menyolok dan menarik perhatian orang yang berpaspasan dengan mereka. Walaupun mengenakan masker, tidak dapat menutupi pesona mereka. Kulit yang halus, bersih seperti gading, mata yang indah, dengan potongan rambut coklat yang keren. Sehingga mereka tidak bisa berlama-lama di luar.
Setelah makan malam, mereka keluar dengan mobil ke Puncak Pas untuk menikmati perkebunan teh di sepanjang jalan menanjak yang berkeluk-keluk. Mereka juga menikmati jagung bakar/rebus.
Darel dan Mikha sangat senang melihat perkebunan teh dari Puncak Pas. Hal itu membuat Kandara dan Bu Selvine merasa senang, karena Darel dan Mikha bisa menikmati liburan bersama mereka.
Sebelum tengah malam mereka telah tiba di villa. Mereka semua langsung saling memberi salam dan ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Kecuali Mikha yang sudah masuk kamar tetapi masih membuka laptopnya untuk bekerja dan juga berkomunikasi dengan Asistennya. Karena tadi dalam perjalanan ke Puncak Pas, Asisten menghubunginya. Tetapi Mikha tidak merespon dan hanya mengirim pesan, akan menghubunginya.
Sedangkan Darel telah berbicara dengan Asistennya sebelum ke Indonesia, agar mengirim email saja. Kalau tidak urgent, tidak usah menghubunginya. Sehingga jika ada telpon dari orang lain, dia tidak meresponnya. Dia hanya merespon pesan yang dikirim orang tua dan Asistennya.
"Dara. Istrahat dulu, nanti aku menyusul. Ada yang mau aku bicarakan dengan anak-anak." Ucap Darel dan segera masuk ke kamar anak-anaknya.
Anak-anak sudah dalam balutan baju tidur. Darel langsung duduk di atas tempat tidur bersama mereka. "Efra, Efri, besok Daddy dan Uncle akan kembali ke Seoul. Jadi ada beberapa hal yang akan Daddy bicarakan dengan kalian." Ucap Darel mengajak kedua anaknya berbicara.
Mendengar itu, anak-anaknya terdiam. Mereka tidak menyangka begitu cepat akan berpisah lagi dengan Daddynya. Karena terasa baru saja bertemu.
"Kalian sayang Daddy, bukan?" Tanya Darel pelan, mereka mengangguk kuat.
"Kalian juga percaya kalau Daddy sayang kalian berdua?" Mereka kembali mengangguk kuat dengan mata mulai berembun.
"Tetaplah ingat itu, walau pun kita tidak sedang bersama. Jika ada sesuatu yang terjadi atau kalian memerlukan sesuatu, langsung hubungi Daddy." Ucap Darel menatap kedua anaknya dengan sayang.
"Kalau tidak bisa menghubungi Daddy, kalian bisa hubungi Uncle Mikha. Karena ponsel Daddy sering dimatikan jika sedang bekerja." Mereka mengangguk mengerti, lalu memeluk Daddynya.
*- Seorang anak akan mempercayai orang tua yang berkarakter baik -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡