Me And You For Us

Me And You For Us
Ada Persiapan.



Darel senang, mengatahui sendiri hubungan persahabatan Manche dan Kandara.


"Dia menyayangimu.. Mari kita berdoa dan beristirahat.." Ucap Darel, sambil menepuk tempat di sampingnya. Kandara naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Darel.


"Sepanjang hari ini sangat melelahkan, aku ingin sekali memelukmu.." Ucap Darel sambil memeluk Kandara yang telah berbaring di sampingnya. Kandara balik memeluknya, karena dia juga merindukannya.


"Dara,, jika nanti kalau aku tidak ada di rumah atau terlambat pulang,, tidurlah di sini.." Ucap Darel sambil mengusap punggung Kandara.


"Kau bawa Efra tidur di kamar Mikha.. pintu kamarnya tidak dikunci. Jangan kalian tidur jadi satu seperti tadi malam., mmmm..?" Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengerti.


"Darel,, maaf sebelumnya.."


"Ada apa,., kenapa minta maaf..?" Tanya Darel, langsung berhenti mengusap punggung Kandara.


"Begini,, kita mau menikah dua hari lagi, tetapi kau tidak membicarakan tempat tinggal." Ucap Kandara, karena hal itu telah menjadi pemikirannya setelah tiba di Seoul.


"Kau mau membicarakan sekarang.? Tidak tunggu setelah menikah.?" Tanya Darel, sambil melepaskan pelukannya dan melihat Kandara.


"Tidak dibicarakan secara detail, tetapi mungkin ada yang kau pikirkan. Garis besarnya saja.." Ucap Kandara, juga melihat Darel.


"Aku belum mau membicarakannya, karena tidak mau kau terlalu banyak berpikir. Ternyata itu sudah ada di pikiranmu. Kau mau yang bagaimana.?" Darel balik bertanya.


"Aku akan mengikuti kata suamiku." Ucap Kandara yakin.


"Benarkah ..? Kalau aku minta kau untuk tinggal di sini kau akan tinggal di sini.?" Tanya Darel, dan terkejut melihat Kandara menggangguk mengiyakan. Darel menatapnya lama dan langsung memeluknya.


"Dara,, aku senang mendengarnya.. tetapi kasihan Mama sendiri di Indonesia. Jadi kalau kau tetap mau tinggal di Indonesia dengan anak-anak, aku akan ijinkan." Ucap Darel, dan membuat Kandara terkejut. Karena dia sudah bersedia jika harus tinggal di Korea.


"Siapa pun yang akan katakan apa pun., tidak perlu kau pikirkan. Karena kalau aku ijinkan, pegang ucapanku... mmm..? Ucap Darel, dan Kandara mengangguk.


"Aku rasa, cukup untuk itu saja dulu, lebih detailnya akan kita bicarakan setelah menikah. Sekarang kita tidur, agar besok kita memiliki tenaga, karena besok akan lebih melelahkan.


*- Segala persoalan bisa diselesaikan, jika dilandaskan niat hati yang baik -*


*((**))*


Hari baru, memiliki berbagai warna dan rasa bagi setiap orang yang masih diberi nafas kehidupan. Begitu pun dengan keluarga Jion yang telah bangun dan bersyukur untuk hidup yang Tuhan berikan.


Darel telah bangun, bersyukur dan berolah raga ringan di dalam kamarnya. Setelah Kandara selesai mandi, Darel bergantian ke kamar mandi.


Kandara menyiapkan baju untuk Darel dan turun menemui keluarga yang lain.


Bu Selvine juga sudah bangun dan bersama Bu Richel membuat sarapan nasi goreng. Dibantu para pelayan, karena Bu Selvine akan membuat lauk tambahan selain telur mata sapi.


Melihat ada daging ayam filet, Bu Selvine mengusulkan agar digoreng dengan tepung yang telah dibumbuhi dan Bu Richel menyetujuinya. Kandara ikut membantu membumbuinya dan digoreng oleh para pelayan.


Kandara memotong tomat, timun, daun selada dan menatanya di meja. Setelah semuanya telah matang, para pelayan menyajikannya di meja makan dan Kandara membantu menatanya. Setelah semua minuman telah tersedia, mereka bertiga duduk di meja makan sambil memunggu yang lain.


"Dara, tolong bangunkan Darel dan anak-anak." Ucap Bu Selvine.


"Darel sudah bangun Ma, tadi sedang mandi mungkin lagi ganti." Jawab Kandara ketika melihat anak-anaknya sudah datang ke ruang makan, begitu juga dengan Mikha dan Pak Darpha.


Mereka saling memberi sapa dan duduk di meja makan. Karena Darel belum juga turun, Kandara hendak berdiri untuk melihatnya. Namun sebelum Kandara beranjak, Darel telah turun dan melangkah ke ruang makan.


"Darel, lama sekali.., kami sudah lapar." Ucap Bu Richel.


"Tadi telpon dulu, Mom. Ayoo, kita makan dulu, setelah itu baru kita bicarakan." Ucap Darel sambil duduk di samping Kandara.


Setelah mereka selesai berdoa, Darel berbisik kepada Kandara.


"Ada yang diperlukan lagi, Nyonya muda.?" Tanya kepala pelayan


"Tidak, Pak Jae.. Saya hanya mengambil air hangat saja." Jawab Kandara, dan kepala pelayan mengangguk.


"Syukur kita sarapan nasi goreng lengkap pagi ini, karena kita butuh tenaga ekstra hari ini. Kita akan sangat sibuk hari ini." Ucap Darel tersenyum.


"Daddy, Mommy dan Mama, kami bisa menikah besok sore. Mikha tolong bantu Mommy, ya., Darel dan Dara mau ke Relkha mencari ini." Ucap Darel sambil menunjukan jari manisnya.


"Oooh.., ok. Kalau begitu., setelah dari Relkha, antar Dara ke butik Sesi. Kami tunggu di sana untuk lihat baju kalian." Ucap Bu Richel.


"Ok, Mom.. Thank u.." Ucap Darel.


"Mari kita siap-siap ke Gereja, dan pulang Gereja kita lakukan yang sudah kita rencanakan." Ucap Richel.


"Baik, sekalian kita bicarakan dengan Pendeta dan Mommy bisa mengaturnya dengan Mikha." Ucap Pak Darpha.


"Baik., Mom.. Nanti anak-anak ikut Grandma dan Oma, ya., tunggu Daddy di sana." Ucap Darel, dan anak-anak mengangguk mengiyakan.


Kandara mendekati Mikha untuk minta tolong reservasi kamar hotel untuk Manche. Karena Manche telah mengirim pesan bahwa dia telah terbang tadi malam ke Korea. Mikha mengangguk mengerti.


Setelah pulang Gereja, Darel dan Kandara segera ke Relkha Mall untuk membeli cincin pernikhan mereka.


Bu Richel sebelum ke butik, memanggil kepala pelayan dan membicarakan rencananya untuk acara di besok hari.


Di dalam perjalanan, Bu Richel menelpon pemilik toko bunga untuk datang ke Gereja agar bertemu anaknya Mikha.


Bu Richel telah mendiskusikan dengan Mikha dan Pak Darpha seperti apa dekor Gereja yang diinginkannya dan akan disampaikan kepada orang yang akan mendekor nanti.


Darel dan Dara telah tiba di Relkha Mall. Darel tetap menggunakan masker, agar lebih mudah berbaur.


"Kami mau melihat cincin pernikahan." Ucap Darel kepada pelayan yang melayani mereka.


"Ini, desain terbaru kami, tuan." Ucap pelayan sambil memperlihatkan beberapa cincin pernikahan desain terbaru. Karena melihat penampilan Darel dan Kandara, pelayan memberikan cincin desain terbaru.


"Dara,, lihat dan pilih cincin yang kau suka untuk kita." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk. Dia memilih model yang sederhana untuk mereka.


Kandara melihat ke sembarang arah ketika Darel sedang membayar. Karena dia tahu, walaupun sederhana, harganya tidak sederhana. Jadi lebih baik tidak melihatnya, dari pada reaksinya akan memalukan.


Darel hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan Kandara. Darel meminta mereka mengukir nama mereka pada cincin yang telah dibeli.


Setelah membeli cincin pernikahan, Darel dan Kandara menuju butik untuk melihat baju pengantin Kandara.


"Dara, nanti ketika tiba di butik, kau pilih baju yang kau suka, yang cocok dengan tuxedoku, ya." Ucap Darel., karena dia memiliki beberapa tuxedo yang sudah dibelinya di Amerika.


"Kau tidak mengukur.?" Tanya Kandara.


"Tidak, aku sudah punya., jadi tolong pilih bajumu yang cocok dengan punyaku saja. Nanti aku tunjukan warna tuxedoku di sana." Ucap Darel lagi., karena dia ingin memakai salah satu tuxedo yang baru dibelinya.


Setelah tiba di butik, mereka telah ditunggu oleh Bu Richel, Bu Selvine dan kedua anak mereka serta pemilik butik.


"Mom, tolong bantu Dara memilih bajunya, ya.. Darel mau pergi dengan anak-anak.. Apakah sudah menemukan baju untuk anak-anak.?" Tanya Darel, dan Bu Richel mengangguk.


"Baju anak-anak sudah, tinggal kalian berdua. Apakah kau tidak membeli untukmu.?" Tanya Bu Richel, Darel menggeleng dan menjelaskan bahwa dia sudah punya, agar Mommynya tolong mencocokan dengan baju Kandara.


*- Sesederhana apa pun sebuah pernikahan, tetap perlu persiapan -*