
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Setelah perpisahan Kandara dengan Lucha, dia menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menumpuk. Sehingga tidak menyadari banyaknya waktu yang telah dilewati. Dia mulai melupakan semua yang dialaminya belakangan ini.
Dengan hati lapang dia menerima dan menjalani setiap proses hidup yang datang beruntun padanya. 'Mungkin Tuhan sedang mendewasakan diriku.' Kandara membatin dan menyemangatinya.
Seperti pagi ini, Kandara bangun seperti biasanya. Melakukan aktivitas pagi yang rutin sebelum berangkat ke kantor. Membantu Mamanya membersihkan rumah. Tiba-tiba dia merasa pusing, tetapi hanya sebentar dan menghilang. Hal itu sering terjadi beberapa waktu belakangan ini, tetapi Kandara mengabaikannya. Dia berpikir, mungkin karena terlalu lelah.
Setiba di kantor beberapa rekannya sudah masuk kerja, diantaranya Yeni. Ketika melihat Kandara, alis Yeni bertaut. "Dara, kau sedang sakit?" Tanya Yeni.
"Ngga, ada apa Ni?" Kandara balik bertanya, heran.
"Tetapi wajahmu kelihatan pucat." Ucap Yeni diikuti beberapa kepala rekannya yang menengok kepadanya, diantaranya Mala.
"Ooh, mungkin karena tadi, aku merasa agak pusing. Tapi sekarang sudah tidak lagi." Ucap Kandara mencoba tersenyum ketika melihat wajah khawatir Mala.
Ketika sudah duduk di mejanya, Mala mendekatinya dan menatap wajahnya dekat. Kandara sampai mendorong bahunya pelan sambil tersenyum melihat tingkah Mala.
"Tetapi Dara, apa yang dikatakan Yeni itu benar. Pagi ini wajahmu agak pucat. Seharusnya tadi kalau sudah merasa pusing, tidak usah ke kantor." Ucap Mala, dan kembali ke meja kerjanya.
Kandara mengambil ponsel untuk melihat wajahnya. 'Mungkin aku lupa pakai lipstik. Ternyata aku pakai lipstik, tetapi memang kulit wajahku terlihat agak pucat.' Batinnya.
"Bagaimana, benar kan. Wajahmu terlihat pucat bukan karena tidak memakai lipstik." Ucap Mala mengerti apa yang dilakukan Kandara.
"Nanti kalau Pak Ari telah masuk kantor, minta ijin saja. Belakangan ini kita banyak kerjaan, mungkin kau kecapean." Ucap Mala lagi.
"Baiklah Mas, nanti Pak Ari datang aku akan minta ijin. Khawatir juga kalau sering pusing." Ucap Kandara. Mala mengangguk mengiyakan.
Toby yang baru masuk kerja dan mendengar apa yang dikatakan Mala, menyetujui agar Kandara pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Karena Kandara terlihat pucat.
Setelah Pak Ari datang dan masuk ke ruang kerjanya, Kandara juga masuk ke ruangannya untuk minta ijin, mau ke Rumah Sakit. Melihat wajah Kandara yang pucat, Pak Ari mengijinkannya.
Beberapa saat kemudian, Kandara telah mengantri di tempat praktek dr. umum di Rumah Sakit terdekat dengan kantornya. Setelah tiba gilirannya, Kandara masuk memeriksakan kesehatannya.
Dokter bertanya tentang keluhannya dan memeriksa tubuhnya. Setelah selesai memeriksa Kandara, dokter menatapnya dengan tersenyum dan mengatakan: "Selamat ya, Bu. Anda sedang hamil." Kandara langsung membeku.
"Supaya lebih pasti kondisi bayi dan usia kandungannya, saya akan merujuk Ibu ke dokter kandungan." Ucap dokter lagi tanpa melihat Kandara yang sedang terkejut, dan diam membeku.
Ketika dokter melihat pasien yang di depannya tidak bereaksi terhadap apa yang disampaikannya, dokter langsung menepuk bahunya perlahan. Kandara tersadar, mengiyakan dan dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini resep obat yang harus Ibu tebus dan minum. setelah itu, silahkan periksakan diri ke dokter kandungan. Karena usia kandungan Ibu masih muda, jangan terlalu lelah dan hindari stres." Nasehat dokter lagi sambil melihat Kandara.
Kandara hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia keluar dari ruangan dokter sambil berjalan dalam diam ke Apotik yang ada di Rumah Sakit untuk menebus obat yang diresepkan dokter.
Ketika menuggu obat, tiba-tiba Kandara mendengar lagu Melo sedang diputar di TV ruang tunggu Apotik Rumah Sakit. Kandara yang mendengar itu, menatap dalam diam dengan mata berembun. Hatinya menjerit berkali-kali memanggil nama Darel.
'Apa yang harus kulakukan terhadap anak ini, Darel.' Kandara membatin dan hatinya terus menjerit menyebut nama Darel, dengan genangan air mata.
...°-° Kadang hidup mengharuskan kita harus memilih, walaupun itu sulit dan menyakitkan °-°...
Setelah menerima obat, Kandara berencana ke butik Mamanya. Tetapi ditengah perjalanan diurungkan niatnya dan langsung pulang ke rumah. Dalam kepanikan dan kekalutan, nuraninya menggerakan akalnya untuk berpikir baik. Karena alangka baiknya berbicara dengan Mamanya di rumah.
Sampai di rumah, Kandara langsung masuk kamar, bertelut dan berdoa : "Ya, Tuhan. Ampunilah kami yang telah bersalah ini. Aku mohon pertolongan-Mu, sangat. Agar aku tidak salah mengambil keputusan. Amin."
Dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dibendung, Kandara memegang dan mengelus perutnya. Kandara mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Bu Selvine. "Ma, Dara sedang di rumah. Bisakah Mama pulang ke rumah?"
"Baiklah, sebentar lagi Mama pulang." Bu Selvine menjawab pesan Kandara.
Bu Selvine langsung merapikan pekerjaannya di butik dan menyerahkan kepada Asistennya. Beliau tahu pasti ada sesuatu yang telah terjadi dengan Kandara. Karena tadi pagi beliau telah mengantarnya ke kantor.
Setelah parkir mobil di halaman rumahnya, Bu Selvine langsung masuk rumah dan ke kamar Kandara. Di sana dia melihat Kandara sedang duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lututnya dan menangis.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Bu Selvine dan mendekati Kandara. Mendengar suara Mamanya, Kandara langsung turun dari tempat tidur dan berlari memeluk kaki Mamanya.
"Mama... Maafkan Dara, Ma." Ucap Kandara dalam tangis. Bu Selvine makin heran melihat putrinya. Bu Selvine mengangkat Kandara dan memeluknya.
"Ada apa, Dara. Bicarakan dengan Mama. Jangan begini, Mama makin bingung. Berhenti menangis dan bicaralah dengan Mama." Kandara menahan tangisnya, menatap Mamanya dengan mata yang sembab dan senggukan.
Mamanya mengangguk dan mengusap pipi Kandara yang basa oleh air mata. Bu Selvine mencoba menenangkannya, dengan mengelus pungungnya.
"Bicarakan dengan Mama, ada apa." Ucap Bu Selvine sambil memegang pipi Kandara. Wajahnya sudah memutih dan dingin. Hal itu membuat Bu Selvine merasa khawatir dan takut.
Kembali Kandara memeluk Mamanya, sambil senggukan dia berkata pelan. "Dara sedang hamil, Ma. Maafkan Dara." Ucap Kandara sambil melepaskan pelukannya dan mengatup kedua tangannya di depan dadanya.
Bu Selvine tertegun diam. Beliau berharap salah mendengar. Tetapi melihat kondisi Kandara, beliau yakin itu yang terjadi.
"Siapa lelaki itu? Lucha?" Tanya Bu Selvine semakin khawatir. Karena beliau tahu, Lucha ada hubungan dengan Kandara dan beliau tidak menyukainya.
Kandara menggeleng lemah. Bu Selvine membawa Kandara duduk di atas tempat tidur dan meminta dia menceritakan apa yang sedang dialaminya. Bu Selvine sedikit bernafas lega, tetapi kembali berpikir. Ada masalah baru yang tidak kalah peliknya.
"Dara bisa memberitahukan dia?" Tanya Bu Selvine berharap, tetapi Kandara menggeleng pelan. "Tidak bisa, Ma. Maafkan Dara." Ucap Kandara kembali mengatupkan kedua tangan di dadanya.
"Tapi kondisimu ini dia harus tahu, Dara. Bagaimana mungkin kau menutupinya? Jangan berpikir bodoh untuk menjadi pembunuh." Kata Bu Selvine tegas.
"Sekarang bangun, bersihkan wajahmu dan ganti bajumu yang sudah basah ini. Kita ke dokter untuk memeriksakan kandunganmu. Yang lain kita pikirkan kemudian." Ucap Bu Selvine lagi sambil turun dari tempat tidur
Ucapan Mamanya bagaikan pukulan yang menghatam kesadarannya. Kandara langsung turun dari tempat tidur dan melakukan yang dikatakan Mamanya tanpa suara.
Bu Selvine tahu, putrinya sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. Beliau harus menyembunyikan kekecewaannya, karena Kandara membutuhkan dirinya lebih dari sebelumnya.
Setelah berada di ruangan dokter kandungan dan mendengar hasil pemeriksaan akhir, Bu Selvine menangis dan memeluk putrinya, erat.
Kandara sedang mengandung bayi kembar yang sudah berusia hampir 8 minggu. Kehangatan dan kasih sayang kepada janin yang dalam kandungan putrinya memenuhi hatinya.
Begitupun dengan Kandara, segala keraguan di hatinya sirna. Yang ada hanya kasih sayang terhadap anak-anaknya. Mereka seakan-akan memberikan kekuatan dan tekad untuk menghadapi semuanya. Mereka berpelukan dalam tangisan, kehangatan kasih sayang ibu dan anak.
°-° Hidup dan kehidupan adalah karunia Tuhan °-°
...~***~...
...~●○¤○●~...