Me And You For Us

Me And You For Us
Keceriaan.



...~•Happy Reading•~...


Di bagian bumi yang lain ; Melihat kondisi Kandara tadi pagi, Bu Selvine menjadi khawatir. Matanya menyiratkan kesedihan yang dalam. Bu Selvine jadi teringat matanya ketika kehilangan Papanya.


'Mungkinkah telah terjadi sesuatu dengan putriku di Seoul? Atau mungkin dia telah mengalami sesuatu selama bertugas di Seoul? Karena wajahnya sangat berbeda, ketika dia berangkat ke Seoul.'  Bu Selvine terus bertanya dan berpikir dalam hatinya.


Hal itu membuatnya tidak ke butik dan mengajaknya makan siang di rumah. Bukan saja hendak menyiapkan makanan yang bergizi untuknya, tetapi juga untuk menyemangatinya.


Bu Selvine sudah membuat soup ayam kampung lengkap dengan sayur-mayur untuk makan siang mereka. Beliau juga telah membuat kue dan puding coklat kesukaannya.


Setelah Kandara tiba di rumah, Bu Selvine telah menyajikan makan siang di atas meja makan. Kandara memeluk Mamanya dengan sayang, ketika melihat makanan yang telah disiapkan untuknya. Hatinya benar-banar terharu, mendapatkan perhatian dan kasih sayang Mamanya.


Setelah makan siang dan Bu Selvine melihat masih ada waktu sebelum Kandara kembali ke kantor. Beliau mencoba menyemangati dengan menasehati putrinya.


"Dara, kau sudah melihat mendung di luar sana? Mendung itu membuat matahari tidak terlihat dan langit menjadi redup. Sangat berbeda ketika sinar matahari terlihat." Ucap Bu Selvine sambil menatap Kandara.


"Mama melihat, hal yang sama sedang terjadi denganmu. Saat ini wajahmu seperti mendung itu. Jadi sekarang dengarkan Mama."


"Ketika mendung, matahari mungkin tidak terlihat, tetapi bukan berarti matahari tidak bersinar. Saat ini persoalan mungkin menyelimuti hatimu, tetapi biarkan cahaya di hatimu tetap bersinar."


Ucap Bu Selvine sambil mengelus tangan Kandara. "Jangan biarkan persoalanmu memadamkan cahaya di hatimu, karena cahaya itulah yang dapat menyinari sekitarmu dan juga agar kau bisa melihat segala sesuatu dengan jelas."


"Berdoalah, agar Tuhan menjaga cahaya di hatimu tetap bersinar. Mama tidak tahu apa yang sedang kau alami. Tetapi Tuhan tahu dan Mama percaya, Tuhan akan menolongmu untuk menyelesaikan semua persoalan yang kau hadapi. Asalkan kau juga tetap percaya dan mengandalkan-Nya." Ucap Bu Selvine, kemudian berdiri meninggalkan meja makan. Kandara ikut berdiri dalam diam, dan merenungi apa yang dikatakan Mamanya. Dia membantu Mamanya merapikan meja makan, mencuci tangannya dan hendak mencuci perangkat makan mereka.


"Dara, biarkan saja. Nanti Mama yang merapikan semuanya. Mama akan mengantarmu ke kantor dan jangan lupa bawa kotak kue itu untuk Mala dan Toby." Ucap Bu Selvine sambil mengambil kunci mobil.


"Iyaa, Ma. Makasiiii." Ucap Kandara terenyuh menerima kasih sayang Mamanya. Sambil mengisi kotak kue ke dalam paper bag, hatinya bersyukur, bisa pulang makan siang bersama Mamanya.


Setelah tiba di kantor, teman-teman satu ruangannya telah kembali dari istirahat dan makan siang mereka. Begitu juga dengan Mala dan Toby.


Kandara mendekati meja Mala dan Toby. "Mas, ini ada titipan kue dari Mama untuk Mas Mala dan Mas Toby." Ucap Kandara sambil menyerahkan kedua kotak kue di tangannya.


"Wuuuaah, makasiii Dara. Titip makasi kami untuk Tante Selvine, ya." Ucap Mala dan Toby senang, menerima kue buatan Bu Selvine. Mereka beberapa kali pernah mencicpi kue buatan Bu Selvine ketika mengantar Kandara pulang. Oleh sebab itu mereka langsung mencicipinya.


Pak Ari yang baru balik dari makan siang dan melihat kotak kue di atas meja Mala, langsung mencobanya. "Wuuaah, ada desserts di sini rupanya. Boleh dicoba, ya." ucap Pak Ari sambil mengambil sepotong kue coklat dalam kotak di meja Mala. "Mmmm... Ini enak sekali, Mala.


Coba yang ini juga, ya." ucap Pak Ari lagi sambil mengambil sepotong kue coklat dalam kotak kue di meja Toby. "Ternyata, sama enaknya, Toby." Ucapnya sambil tersenyum.


Kandara ikut tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Pak Ari. "Makasi untuk desserts nya." Ucap Pak Ari, dan segera masuk ke ruangannya. Mala dan Toby tersenyum sambil menikmati kuenya.


...°-° Suasana hati kita bisa mempengaruhi orang di sekitar kita °-°...


Setelah Pak Ari berada dalam ruangannya, Yeni mendatangi meja Mala dan Toby. Dia ingin tau, apa yang di bawa Kandara untuk Toby. Hatinya sudah garuk-garuk melihat kedekatan Kandara dengan Toby.


Karena Yeni sudah lama menaruh hati kepada Toby, tetapi Toby selalu mengacuhkannya. Dia berpikir, mungkin karena Kandara yang membuat Toby tidak meliriknya. Padahal kalau diperhatikan dengan baik, Kandara berlaku baik bukan hanya untuk Toby saja.


Mereka ada 9 orang dalam satu ruangan. Ditambah dengan Pak Ari sebagai kepala bagian, jadi mereka di dalam satu ruangan ada 10 orang. Diantara mereka, ada 3 orang wanita termasuk Kandara.


"Ada apa denganmu, Yeni? Apa Dessertsmu siang ini, kulit duren?" Tanya Mala mendengar apa yang dikatakan Yeni. Dia tahu, tadi Yeni sedang menyindir Kandara.


"Iyaa. Kenapaaa...?" Jawab Yeni dan balik bertanya kepada Mala.


"Pantesan, mulutmu tajam dan berduri." Ucap Mala sambil senyum kering.


Semua yang ada dalam ruangan tersenyum mendengar ucapan Mala dan melihat Yeni yang melotot kesal.


"Yeniii... Kalau mau kue, cepatan bilang. Tetapi kalau mau Toby, yaa, tahan." ucap Mala makin senyum kering. Yang lain jadi tertawa mendengar ucapan Mala.


Melihat Yeni sedang pelototi dia, Mala makin ngeledekinnya. "Yeniiii... Cepatan bilang. Ntarrr, dua-duanya disambar Rina, nyesal loh." Satu ruangan langsung ketawa pecah.


Pak Ari yang dengar ribut-ribut langsung keluar ruangan, dan melihat Yeni lagi cemberut sedangkan karyawan yang lain pada ngakak. Ini pasti ulah Mala, pikirnya. Karena Pak Ari tahu, Mala suka ngeledekin Yeni.


"Ada apa denganmu, Yeni. Kenapa wajahmu seperti codingan?" Ucap Pak Ari tersenyum.


"Mas Mala tuuu, Pak Ari." Jawab Yeni sambil menunjuk Mala.


"Looh, kok luuu." Ucap Mala sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Bukannya, gueee." Ucap Mala sambil jarinya menunjuk wajah Toby. Satu ruangan langsung tertawa, pecah.


Kandara yang sudah menahan tawa dari tadi, melihat Mala dan Yeni langsung mengambil kotak tissu kosong di atas mejanya. "Ayooo, tidak ada tawa yang gratis. Silahkan di isi, di issiii..." Ucap Kandara sambil mengitari meja rekan kerjanya satu persatu dan menyodorkan kotak tissu.


Ketika sampai di depan Yeni yang masih berdiri, Kandara mencolek dagu Yeni. "Eeeh, eeehh, hampir jatuh cantiknya." Ucap Kandara sambil mencolek dagu Yeni, dan semua yang ada dalam ruangan kembali tertawa ngakak.


Melihat apa yang dilakukan Kandara dan juga melihat wajahnya yang mulai ceria, Toby dan Mala langsung toss, senang. Karena Kandara mulai bercanda dan tersenyum.


"Ayooo, semuanya mulai kerja. Yeniii, fokus pada laptop di depanmu, jangan pada alisnya Mala." Ucap Pak Ari sambil tersenyum, dan masuk ke ruangannya.


Yeni menjulurkan lidahnya ke arah Mala, tetapi Mala dan Toby mengacuhkannya. Mereka berdua melakukan tos, sambil tertawa. Kandara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Kandara mengingat nasehat yang dikatakan Mamanya. 'Jangan biarkan persoalan memadamkan cahaya di hati.'


...°-° Keceriaan akan membawa kesenangan bagi orang lain dan juga diri sendiri °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...