
Darel menatap Kandara dengan sayang.
"Tetapi aku tahu, semua itu tidak bisa diceritakan dalam satu malam. Karena 10 tahun bukan waktu yang pendek. Pasti banyak kisah dibalik kejadian yang kita alami. Masih ada banyak waktu untuk kita berdua berbagi cerita dan mengenangnya." Ucap Darel lagi.
"Yang penting sekarang, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi. Dengan alasan apa pun atau karena siapa pun. Ke depan kita akan hadapi semuanya bersama. Mmmm...?" Ucap Darel sambil memandang mata Kandara untuk meyakinkannya. Kandara mengangguk dan memeluk Darel erat.
"Aku tahu, aku sangat menyakitimu. Terima kasih telah memaafkan semua tindakanku malam itu." Ucap Darel, memeluk Kandara dan mencium puncak kepala Kandara, lamaaa...
"Dara, karena besok kau akan bawah mobil lagi, lebih baik sekarang kita berdoa dan beristrahat." Ucap Darel, Kandara mengangguk dan bangun untuk berdoa.
"Daddy yang berdoa untuk kita semua." Ucap Kandara. Darel mengangguk dan bangun, sambil menyatukan tangannya dengan Kandara, dia berdoa.
Ya, Bapa. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami seorang diri menjalani hari-hari hidup kami. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah pertemukan kami lagi dengan tambahan anak-anak yang baik dan sehat. Semua rencana kami ke depan dan istrahat kami malam ini, kami serahkan ke dalam tangan kasih-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amiiin."
"Amiiin." Kandara juga mengaminkannya.
Darel mencium kening Kandara dan membaringkan kembali tubuhnya. Darel menyelimuti Kandara dan memeluknya, dia memejamkan mata dengan hati yang diselimuti rasa sayang dan tenang. Akhirnya mereka tertidur.
*((**))*
Matahari telah terbit di ufuk timur. Sinarnya mulai menghangatkan sekitar villa, menyingkirkan embun pagi. Cahayanya membawa sukacita bagi penghuni villa yang sedang berlibur. Begitu pun dengan penghuni villa mewah yang telah bangun dan menikmati kesejukan udara pagi di jalan setapak di antara rimbunan pohon.
Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya sedang berjalan di sekitar villa. Mereka bisa melihat embun dan kabut yang perlahan menghilang bersama terbitnya mentari. Udara pagi yang segar dan cerah, menyejukan hati.
Darel dan Mikha tidak ikut jalan pagi bersama Bu Selvine, Kandara dan anak-anak. Mereka tetap di villa sambil melakukan olah raga ringan untuk menjaga kebugaran tubuh mereka.
Menjelang waktu sarapan, Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya kembali ke villa untuk menyiapkan sarapan. Kandara telah pesan sarapan untuk mereka semua untuk di bawa ke villa.
Setelah sarapan pagi disiapkan oleh petugas villa, mereka semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama dan bercengkrama. Hati mereka bersyukur untuk kecerian yang bisa mereka nikmati di hari Minggu pagi.
"Mommy, apakah kita akan ke Gereja?" Tanya Efraim setelah sarapan.
"Tidak Efra, hari ini kita tidak ke Gereja. Karena Daddy dan Uncle akan kembali ke Seoul hari ini." Ucap Kandara.
"Kita akan pulang lebih awal, sebelum makan siang. Mommy akan majukan waktu makan siang kita. Jadi setelah ini, mandi dan sekalian rapikan bawaan kalian." Ucap Kandara menjelaskan, dan kedua anaknya mengangguk dan masuk ke kamar.
"Dara, apakah tidak terlalu cepat pulangnya? Kami terbang jam 07.15 nanti malam." Tanya Darel, karena menurutnya tidak usah terburu-buru.
"Tidak juga, Darel. Jalan pulang ke Jakarta hari begini biasanya padat merayap. Kalau kita turun setelah makan siang, mungkin akan terlambat ke Bandara." Jawab Kandara menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu." Ucap Darel. Setelah itu, Darel berbicara dengan Mikha. Mikha mengangguk mengerti, kemudian masuk ke kamarnya.
Darel mendekati Bu Selvine dan berbicara dengannya. "Ma, terima kasih telah mendampingi Dara dan anak-anak, sehingga mereka tumbuh dengan baik. Dara sudah ceritakannya, tadi malam." Ucap Darel sambil menggenggam tangan Bu Selvine.
"Tidak perlu terima kasih Darel, mereka adalah putri dan cucu-cucu Mama juga. Hanya mereka yang Mama punya. Jadi Mama akan selalu mendampingi mereka." Ucap Bu Selvine sambil menepuk pelan tangan Darel yang sedang menggenggamnya
"Sekarang bekarjalah dengan tenang. Mama bersyukur, Darel sudah tahu tentang Efra dan Efri. Keputusan selanjutnya, Mama serahkan kepada Darel." Ucap Bu Selvine lagi. Darel mengangguk mengerti dan hormat.
"Terima kasih, Ma. Telah menerima Darel dan Mikha di rumah Mama. Tolong doakan rencana Darel untuk Dara dan anak-anak. Semoga semuanya berjalan dengan baik dan lancar." Ucap Darel sambil memandang Bu Selvine dengan tenang dan serius.
Bu Selvine mengangguk dan mengaminkan yang dikatakan oleh Darel sambil menepuk pelan tangan Darel karena terharu. Setelah itu, Bu Selvine dan Kandara hendak kembali ke kamar untuk mandi dan merapikan semua barang bawaan mereka. Tetapi Darel meminta Kandara untuk menunggu setelah melihat Mikha keluar dari kamarnya.
"Dara, tunggu sebentar di sini." Ucap Darel untuk Kandara, agar tetap duduk. Kandara kembali duduk di meja makan dan melihat Darel dengan wajah tidak mengerti.
"Tolong berikan nomor rekeningmu, biar Mikha transfer untukmu." Ucap Darel, tetapi Kandara menolaknya.
"Tidak usah, Darel. Aku masih bisa." Ucap Kandara sambil menggoyang kedua tangannya karena terkejut.
"Jangan menolak, Dara. Aku belum berbuat sesuatu untuk kalian. Jadi terima dan pergunakan untuk kebutuhan kalian." Ucap Darel serius. Melihat keseriusan wajah Darel, akhirnya Kandara memberikan nomor rekeningnya kepada Darel.
"Darel, transfernya jangan banyak, ya. Secukupnya saja, bisa panjang urusannya dengan pihak bank." Ucap Kandara khawatir Darel akan mentransfer dalam jumlah yang banyak.
Darel mengangguk mengerti. "Nanti setelah kembali ke Seoul, aku akan membuat kartu untukmu, agar lebih mudah menggunakannya." Ucap Darel sambil memandang Kandara dan menyimpan nomor rekeningnya.
Setelah makan siang, Kandara menyelesaikan biaya tambahan yang harus di bayar kepada pengurus villa. Kemudian mereka meninggalkan villa untuk kembali ke Jakarta.
Seperti yang dipredikisi Kandara, jalanan sudah mulai padat dengan mobil-mobil berplat nomor Jakarta. Meskipun kendaraannya agak padat, tetapi masih bisa berjalan, belum terlalu macet. Kandara bersyukur untuk hal itu.
Darel dan Mikha memperhatikan jalanan di depan dan pinggir jalan dengan seksama. "Apakah seperti ini setiap hari." Tanya Darel, Kandara menggeleng.
"Hanya pada akhir pekan saja. Hari Sabtu, kendaraan dari Jakarta ke Puncak yang padat, hari Minggu sebaliknya. Seperti sekarang ini, tapi ini masih lumayan lancar." Kandara menjelaskan.
"Kakimu pasti sangat pegal, kalau sering menginjak rem." Ucap Darel khawatir.
"Tidak mengapa, nanti ada yang pijit." Ucap Kandara sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Kandara, Bu Selvine langsung berdehem. Diikuti oleh tawa dan suitan yang lain. Darel langsung mengacak rambut Kandara yang wajahnya sudah memerah.
Darel pun ikut tersenyum mendengar apa yang diucapkan Kandara dan yang lain di belakang. Kandara tersenyum malu, mendengar respon Mamanya. Karena Kandara baru ingat, kemarin Darel minta minyak urut dari Mamanya. Jadi Mamanya pasti mengerti maksud ucapannya kepada Darel.
Padahal ucapan Kandara hanya untuk bercanda, meledekin Darel yang pernah memijit betis dan kakinya. Kandara lupa Mamanya tahu Darel kemaren memijitnya.
*- Ketika mengetahui rasa hati seseorang kepada kita, respon kita juga akan berbeda terhadapnya -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡