
Setelah tiba di rumah, Kandara ke kamar Efrima sambil mengajak Darel. Karena dia mau memberikan hasil pertemuan dengan kepala sekolah dan gurunya.
"Setelah dijelaskan Kandara..., nanti setelah di Seoul baru Daddy bicara dengan anak-anak., yaa.." Ucap Kandara, dan Darel mengangguk mengerti.
"Ok, deal.. Sekarang tolong dengar aku baik-baik,; aku minta tolong siapkan, bajumu, mama dan anak-anak untuk di bawah, ya.., masing-masing dua pc. Satu untuk tidur nanti malam dan satu lagi untuk pergi besok pagi." Ucap Darel sambil melihat reaksi Kandara,. Kandara mengangguk mengerti.
"Ok,,. semua baju itu tolong dimasukan ke dalam ransel anak-anak, dan dirapikan agar tidak terlalu menyolok.
Sedangkan untuk berangkat, biarkan anak-anak memakai jacket mereka." Ucap Darel.
"Aku minta bantuanmu, karena aku agak cape' jadi ingin istirahat nanti malam." Ucap Darel lagi. Kandara mengangguk mengerti dan lansung keluar kamar untuk menyiapkan yang diminta Darel.
Kandara ke kamar mamanya dan menyampaikan semua yang dikatakan Darel. Bu Selvine mengerti yang dimaksudkan Darel.
Kandara ke kamar anak-anak untuk menyiapkan baju dan ransel mereka.
"Efra,, segera mandi dan pakai baju yang sudah Mommy siapkan." Ucap Kandara sambil meletakan baju yang akan dipakai di atas tempat tidur.
Hal yang sama di lakukan untuk Efrima. Kedua ransel langsung di bawa turun Kandara ke kamar Mamanya. Setelah melihat Pak Darpha dan Bu Richel keluar dari kamar, Kandara minta ijin masuk ke kamar untuk menyiapkan bajunya.
Setelah semuanya rapi dan Kandara menyadari, Darel tidak keluar dari kamar tamu., dia langsung menyiapkan dua gelas air jeruk hangat dan madu di cangkir untuk di bawa ke kamar tamu.
Kandara ketuk pintu pelan, khawatir mereka sedang istirahat. Mikha membuka pintu pelan, ketika melihat Kandara, Mikha meletakan jari di bibirnya karena Darel sedang tidur. Kandara jelaskan secara berbisik.
"Mikha,, ini untuk kalian berdua dan tolong Darel minum ini sekarang ya.. Dan nanti tolong bilang mandinya di kamar Mama saja, aku akan siapkan air hangat." Mikha mengangguk mengerti.
Tidak lama kemudian, Darel telah turun sambil membawa handuk dan bajunya. Melihat itu, Kandara langsung ke kamar Bu Selvine untuk menyiapkan air hangat untuk Darel.
Setelah selesai mandi air hangat, Darel merasa lebih baik. Ketika melihat ransel kedua anaknya di atas tempat tidur, Darel tersenyum. Kandara mengerti yang dia maksudkan.
Darel keluar dan kembali ke kamar tamu untuk merapikan baju kotor ke kopernya.
Ketika melihat Darel telah selesai mandi, mereka semua kumpul di ruang tamu untuk berdoa sebelum berangkat.
Mikha turun membawa koper mereka dan dimasukan ke dalam mobil. Begitu juga dengan koper kedua orang tuanya.
Kandara juga memasukan ransel ke dua anaknya ke dalam mobil.
Pak Darpha memimpin mereka untuk berdoa bersama.
"Yaa,, Bapa...
Terima kasih untuk kasih-Mu bagi kami.
Selanjutnya kami mohon perlindungan-Mu untuk perjalanan kami dari rumah ini sampai ke Bandara dan juga penerbangan kami sampai ke Seoul.
Dalam nama Tuhan Yesus, kami memohon kepada-Mu." "Amiiin.!"
Mereka semua mengaminkan apa yang didoakan Pak Darpha. Bu Selvine merasa lega, setelah menitipkan rumah untuk tetangga dan Pak RT, serta mencabut semua stop kontak, dan hanya menyalakan lampu di teras dan ruang tamu.
Kandara membawa semua kue, roti dan buah yang masih ada di kulkas untuk diberikan kepada rekan-rekan kantornya. Karena mobil mereka akan melewati kantornya, jadi Kandara mengirim pesan kepada Yeni untuk menunggunya di depan kantor.
Setelah melihat Yeni berdiri di pinggir jalan, Kandara tersenyum dan meminta maaf kepada orang tua Darel untuk berhenti sebentar. Karena dia akan bertemu dengan rekan kerjanya.
Setelah Pak sopir berhenti dekat Yeni, Kandara turun membawa kantong yang berisi kue, roti dan buah-buahan dan menyerahkannya. Efraim menjelaskan kepada Grandma dan Grandpa nya tentang apa yang dilakukan mommynya.
Mereka semua mengangguk mengerti.
"Maaf, aku ngga bisa lama karena lagi pada nunggu." Ucap Kandara, sebelum berbalik Mala memanggilnya.
"Astagaaa.., Daraaa.., kau tidak pamit denganku.?" Teriak Mala yang baru keluar dari gedung kantor.
"Ini sudah pamit.., ada titipan dari Mama." Ucap Kandara sambil menunjuk dengan jempolnya ke mobil dan kantong di tangan Yeni.
"Ok,, trims.. hati-hati." Ucap Mala dan Kandara mengangangkat tangan memberi tanda OK.
*((**))*
Setelah makan siang, mereka langsung ke Bandara. Pak Darpha mengatakan kepada Kandara untuk mengatakan kepada sopirnya untuk ke Terminal Q.
Bu Selvine melihat ke arah Kandara tidak mengerti, Kandara memberikan kode dengan matanya untuk tenang. Bu Selvine mengerti, kode Kandara. Setelah tiba di Bandara, mereka menurunkan koper dan ransel menuju pintu masuk. Tidak lupa Kandara memberikan tips kepada Pak sopir sebagai ucapan terima kasih, telah melayani mereka dengan baik.
Semua surat-surat di pegang oleh Pak Darpha. Sedangkan koper dipegang Mikha dan Kandara, karena Darel sepertinya kurang sehat. Kandara hanya membawa tas kantor berisi semua keperluan wanita dan laptopnya. Anak-anak memegang ranselnya masing-masing.
Setelah di lounge room, Darel tetap duduk dengan anak-anak. Pak Darpha dan Mikha yang mengurus semua keperluan penerbangan.
Melihat kondisi Darel, Bu Richel mendekati dan memegang tengkuknya.
Ternyata sudah mulai hangat. Bu Richel tahu, putranya kurang sehat. Melihat mommynya ambil telpon, Darel mencegahnya.
"Tidak mengapa, Mom.. nanti di pesawat Darel tidur." Ucap Darel sambil memegang tangan Mommynya. Dia tahu Mommynya akan menelpon dokter Lim, untuk datang ke Mansion.
Sebelum masuk bandara, Darel telah meminta Kandara dan kedua anaknya untuk mengenakan masker sepertinya. Hanya untuk berjaga-jaga, karena wajah kedua anaknya mirip dengannya.
Setelah semua urusan Imigrasi telah selesai, mereka di antar ke pesawat. Anak-anak terkejut, begitu juga Bu Selvine. Tetapi Kandara lebih terkejut, karena dia berpikir orang tua Darel menyewa pesawat waktu datang.
Tetapi ketika melihat nama dan logo pesawat, Jion Comp., dia tahu itu pesawat pribadi mereka. Pilot, Co Pilot dan Pramugari telah menyambut mereka di depan pintu pesawat.
"Selamat datang Pak Darpha,., Selamat datang juga Bu Richel. Selamat datang tuan-tuan muda." Ucap mereka sambil menunduk hormat. Begitu juga kepada Bu Selvine, Kandara dan anak-anak.
Setelah semua masuk dalam pesawat dan semua barang telah di masukan ke kabin, Darel langsung masuk ke ruang khusus untuk tidur.
"Mikha, tolong lihat Mama, Dara dan anak-anak ya.., aku tidur sebentar." Ucap Darel. Kandara tidak duduk, tapi mendekati Mikha untuk melihat Darel.
"Aku tidak apa-apa, hanya ingin tidur saja." Ucap Darel ketika melihat Kandara mendekat dengan wajah khawatir. Mikha berbisik kepada Kandara dan mereka kembali ke tempa duduk.
Bu Richel mendekati Darel sambil membawa obat dan air mineral.
"Minum ini dulu, supaya kau bisa tidur." Ucap Bu Richel. Darel mengangguk dan bangun.
"Thank u,, Mom." Ucap Darel, meminum obatnya dan berusaha tidur.
Kandara duduk dengan Efrima, sedangkan Efraim duduk dengan Omanya.
"Mommy,, apakah Grandpa kami kaya sekali.?" Tanya Efrima., karena melihat mereka sendiri dalam pesawat.
"Ssstt.., mommy tidak tahu. Nanti tanya Unclemu." Jawab Kandara sambil meletakan jari di bibirnya.
Mendengar pertanyaan Efrima, Pak Darpha dan Bu Richel tersenyum sendiri. 'Mereka mengira Grandpanya kaya sekali, mereka belum tahu Daddynya' batin Bu Richel. Pak Darpha sangat bersyukur, karena Kandara tidak mencintai anaknya karena kekayaannya.
Setelah pesawat telah take off dan sudah boleh lepaskan sabuk pengaman, Kandara ke tempat Darel dan melihatnya sudah tidur. Kandara duduk di sampingnya sambil meletakan tangannya di tengkuk Darel dan berdoa.
Setelah dua jam lebih penerbangan, Darel membuka matanya dan melihat Kandara tertidur di sampingnya. Dia mengankatnya dan membaringkan Kandara di tempat tidur. Darel keluar melihat anak-anaknya.
Ketika melihat Darel telah bangun, Bu Richel tersenyum dan berdiri mengecek tengkuknya..
"Puji Tuhan.! Sudah berkurang, sekarang tidur lagi dulu., biar mendarat nanti sudah lebih segar." Ucap Bu Richel.
"Iyaa, Mom.." Ucap Darel dan duduk di kursi dan tidur.
Beberapa waktu kemudian, Kandara membuka matanya pelan dan mendapati dirinya yang tidur. Dia langsung bangun dan mencari Darel.
Ketika melihat Darel sedang tidur di kursi, dia memegang tengkuknya.
Kandara bersyukur, panasnya sudah berkurang. Tidak seperti tadi sebelum tidur.
*- Seorang dokter tidak lebih hebat dari seorang Ibu yang mengerti anaknya -*