
Toby tidak tahu, Kandara tidak berani menolak jika diminta berdoa. Dia hanya ingat, kalau di kantor ada acara Ibadah di hari Jumat, Kandara suka diminta untuk pimpin doa dan dia berdoa.
"Kita berdoa menurut keyakinan masing-masing, yaa. Saya akan doa menurut keyakinan saya." Ucap Kandara lagi,ย karena melihat di antara keluarga Toby ada yang berbeda keyakinan. Semua langsung berdiri mengikuti Kandara yang sudah berdiri.
"Yaa, Bapa. Kami bersyukur kepada-Mu, karena hari ini Engkau telah menambahkan setahun usia bagi Ayah Mas Toby. Kami bersyukur karena bisa berkumpul dengan keluaga besar Mas Toby. Kami bersyukur untuk makanan dan minuman yang Engkau berikan bagi kami. Kiranya Engkau memberkati Ayah, Ibu dan Mas Toby beserta keluarga besar. Kiranya Engkau memberkati makanan dan minuman yang akan kami nikmati. Dalam nama Tuhan Yesus, kami bersyukur dan memohon kepada-Mu. Amin."
"Amin... Selamat makan." Saling mengucapkan selamat makan. Mereka semua makan sambil berdiri dan bercengkrama. Bercerita tentang keluarga, makanan dan lainnya.
"Mba', Mas, kenapa tunggu lama-lama lagi. Cepatan diresmikan saja, nanti disambar orang, loh." Ucap Adik perempuan Bu Asri, sambil melihat Toby dan Kandara.
"Sssttt... Jangan sampai didengar Toby, nanti marah. Untuk Dara bisa datang ke sini, itu perjuangan kami." Ucap Bu Asri berbisik. Pak Danny hanya bisa tersenyum, melihat kakak beradik berbicara sambil bersenggolan.
"Jadi benar mereka teman kantor, bukan berpacaran?" Tanya adik Bu Asri lagi, terkejut.
"Iyaa. Hanya teman kantor, tapi Mba'mu mengharapkan lebih." Ucap Pak Danny menjelaskan, sambil tersenyum.
"Ada apa nih, Bu'Le. Bisik-bisik tetangga dari tadi." Ucap Toby yang mendekati mereka bersama Kandara.
"Cepatan disambar." Bisik Adik Bu Asri pelan ke telinga Toby.
"Tenang, Bu'Le. Nanti Toby belajar jadi petir dari Pa'Le, supaya bisa nyambar. hehehe..." Ucap Toby, lalu tertawa.
"Orang tua bicara serius, ditanggapi bercanda." Ucap Bu Asri, sambi memukul lengan Toby.
"Buu, jangan terlalu sering serius, nanti kecantikannya lekas memudar. Ibu harus sering-sering di ruang programmer kami. Ini buktinya, cantiknya, awettt..." Ucap Toby lagi, sambil menunjuk ke arah wajah Kandara dengan tangannya.
Semua langsung tertawa, dan menggantikan topik cerita. Tiba-tiba Toby teringat, sudah malam.
"Ayooo, Dara. Mariii, aku akan mengantarmu pulang. Jangan kemalaman, nanti Mamamu tidak mengijinkan lagi, jika aku dan Mala mengajakmu keluar." Ucap Toby. Tetapi Kandara memberikan kode dengan matanya, jangan dulu. Karena Kandara merasa tidak enak, belum ada yang pamit pulang.
"Siapa itu Mala, Toby." Tanya Bu'Le nya. Karena berpikir, ada yang menyukai Dara.
"Oooh, itu salah satu dari tim kerja kami, Bu'Le. Tim trio kwak kwak." Canda Toby, membuat Kandara langsung tertawa.
"Astagaaa, Dara. Semoga di belakang kita tidak ada yang menyebut kita dengan sebutan trio kwek kwek, yaa." Ucap Toby yang terkejut dengan candaannya sendiri.
"Heheheee, aku juga baru kepikiran. Semoga Yeni tidak pernah berpikir begitu. Mas Mala bisa abisz." Ucap Kandara tersenyum.
"Eeeehh, ada apa ini? Kok', kalian berdua jadi diskusi dan tertawa sendiri?" Protes Bu'Le nya Toby, saat melihat Toby dan Kandara tertawa.
"Ooh, iyaa. Bu'Le, tahu trio kwek kwek, kan?" Tanya Toby.
"Iyaa, tahu. Terus apa hubungannya dengan kalian." Tanya Bu'Le, tidak mengerti, kenapa Toby dan Kandara bicara sambil tertawa.
"Yaaa, kami mirip-mirip mereka. Hanya kami cewe'nya yang satu, niii..." Ucap Toby menjelaskan, semuanya mengerti dan ikut tersenyum.
Beberapa saat kemudian. "Dara, bukan ngusir, yaa. Kau bisa pulang duluan. Jangan tunggu yang lain pulang, mereka tinggalnya tidak terlalu jauh dan juga bisa menginap. Jadi, ngga papa, kalau mau pulang." Ucap Pak Danny yang melihat tadi, isyarat Kandara untuk tetap tinggal dulu. Pak Danny menyadari, Kandara tidak enak kalau mau pulang terlebih dulu.
"Iyaa, Dara. Ayoo, besok kita ada banyak kerjaan." Ucap Toby menguatkan yang dikatakan Pak Danny.
"Iyaa. Maaf semua, saya pulang duluan, yaa." Ucap kandara pamit, sambil meletakan tangannya di depan dadanya.
"Toby, iniii. Bawain untuk Dara. Titip salam buat Mama ya, bilang terima kasih dari kami, sudah ijinin Dara ke tempat kami." Ucap Bu Asri kepada Kandara, lalu menitip kotak makanan ke tangan Toby.
"Waaaah... Makasi, Bu. Nanti Dara sampaikan." Ucap Dara tersenyum dengan mata berembun. Dia tidak menyangka orang tua Toby begitu baik padanya. Kandara berjalan ke mobil Toby dengan hati terharu.
Setelah di dalam mobil, Kandara mengingatkan Toby. "Mas, sudah menanyakan kabar Ibu Mas Mala, belum?"
"Ooh iyaa, belum. Thank u , sudah ingatin." Ucap Toby sambil menghidupkan ponselnya di holder Hp. Kandara juga baru ingat, sudah mengirim pesan untuk menanyakan kondisi Ibunya Mala dan pesannya sudah dibalas oleh Mala.
"Assalamualikum, Mala."
"Wa'alikumsalam."
"Apa kabar Ibumu, apakah sudah baikan?" Tanya Toby.
"Alhamdulillah, sekarang sudah di rumah. Tidak perlu dirawat, hanya perlu istirahat saja. Jadi Ibu minta pulang ke rumah. Maunya istirahat di rumah saja."
"Syukurlah, kalau besok belum bisa ditinggal, minta ijin saja lagi sama Pak Ari. Soal kerjaan, nanti aku dan Dara yang kerjakan dulu."
"Yaappss." Ucap Toby sambil membunyikan klakson mobilnya untuk meyakinkan Mala, bahwa sedang di jalan.
"Kau habis lembur." Tanya Mala, yang mulai merasa bersalah karena tadi harus pulang lebih awal.
"Ngga." Jawab Toby singkat.
"Lalu kau abis dari mana, malam-malam begini?"
"Baru pulang pacaran." Ucap Toby mulai tersenyum. Kandara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Astaga, sejak kapan kau punya pacar. Ternyata, kau diam-diam menghanyutkan, yaa." Ucap Mala.
"Belum hanyut, aku kan jago berenang." Ucap Toby, mulai ledekin Mala.
"Yaaa, bakalan ngga bisa jalan-jalan lagi, dong." Ucap Mala, seakan sedih.
"Makanya, cepatan pacaran juga. Supaya ngga jadi obat nyamuk, kalau lagi jalan denganku."
"Ngapain jadi obat nyamuk. Jadi nyamuk, biar bisa nguing-,-nguuiing ditelinga kalian. Heheheee..." Ucap Mala tertawa.
"Jangan lupa tempel tanda X di sayap, biar aku tahu. Biar nyamuk ngga kena tepuk pramuka. hahahaa... Aaahh, sudaaa... Ngomongin apa sih, kita niiih... Selamat tidur nyamuk." Ucap Toby, sambil tertawa.
"Hahahaaa... Iyaa, sudaaa. Simpan dikit untuk Yeni. hehehee... Hati-hati di jalan." Ucap Mala, mengakhiri pembicaraan mereka. Kandara langsung melepaskan tangannya dari mulut dan tertawa.
"Kalau aku ngga lihat kau lagi nahan ketawa, aku akan layani Mala sampai di rumahmu." Ucap Toby, tersenyum
"Aku berpikir akan, begitu." Ucap Kandara sambil tersenyum menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah, karena menahan tawa.
"Yang pertama-tama ngajari kami kan, kau. Akhirnya aku dan Mala belajar. Eeeehh... kebablasan. Apalagi sekarang ada Yeni, ruang programmer jadi menyenangkan. Makanya, cepat kembali seperti Dara yang dulu." Ucap Toby, serius. Kandara jadi terdiam mendengar yang dikatakan Toby.
"Ooh iya, Dara. Sorry soal doa tadi. Aku ngga nyangka kau mau menerimanya. Aku berpikir dengan bilang begitu, pasti Ibu yang akan berdoa." Ucap Toby lagi melihat Kandara yang terdiam.
"Ooh iya, Mas. Ngga papa. Aku kalau diminta berdoa, ngga berani nolak. Apa Mas ngga pernah berdoa?" Tanya Kandara, polos.
"Astagaaa, Dara. Kalau aku ngga pernah berdoa, bagaimana masih bisa hidup sampai sekarang? Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Dulu pernah diminta berdoa. Ditengah berdoa, berhenti dan langsung, amin." Ucap Toby mengingat yang pernah di alaminya.
"Ooh, aku dulu juga pernah begitu. Tidak bisa berdoa di depan orang banyak. Mas Toby masih bagus, berhenti ditengah jalan. Kalau aku cuma bisa bilang ; Tuhan Yesus, lama diam, langsung amin." Ucap Kandara tersenyum, malu. "Tetapi Alm. Papa kasih tips untukku."
"Apa tipsnya." Tanya Toby, penasaran. Karena tadi sebenarnya dia merasa malu. Hal yang penting dalam hidup, tidak bisa dilakukannya.
"Papa ngajarin, ketika mau berdoa sebelum tidur, diucapkan dengan bersuara. Mau tidur kan, sendiri, tidak ada orang. Karena kita semua pasti bisa berdoa di dalam hati. Tetapi kalau di depan orang suka hilang kata-katanya."
"Jadi dilatih saja di kamar sendiri dengan berdoa bersuara. Nanti lama-lama terbiasa. Tidak perlu merangkai kata yang bagus, karena kita berbicara dengan Yang Maha Tahu. Yang penting hati kita tulus berdoa dan mendoakan orang lain."
"Thank u, telah membaginya untukku." Ucap Toby sambil mengelus pundak Kandara.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah Kandara. Bu Selvine belum istirahat, karena masih menunggu Kandara.
"Selamat malam, Tant. Maaf, kami terlambat pulang. Karena tadi Dara tidak enak pulang duluan. Ini ada titipan dari Ibu." Ucap Toby sambil menyerahkan kotak titipan Ibunya.
"Ngga papa, Toby. Tante mengerti. Bilang Ibumu, terima kasih, ya. Mari masuk." Ucap Bu Selvine, lalu menerima bikisan dari dari Toby.
"Makasi, Tant. Toby langsung pulang saja, karena besok harus masuk kerja pagi." Ucap Toby, langsung berjalan kembali ke mobil.
"Iyaa, titip salam untuk kedua orang tuamu." Ucap Bu Selvine lagi.
"Makasi, Tant." Balas Toby.
"Hati-hati di jalan, Mas." Ucap Kandara.
"Ok, thank u. Tidur yang nyenyak, sampe ketemu besok." Ucap Toby, langsung meninggalkan halaman rumah Kandara.
*- Tidak membutuhkan kata indah untuk menyampaikan rasa hati kepada Tuhan -*
โกโข~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... ๐๐ป Makasih~โขโก